Perjalanan dari sekolah sampai ke rumah Dara, biasanya bila ia jalan sendiri maka akan membutuhkan waktu hampir empat puluh menit.
Hal itu tidak berlaku untuk Bara.
Dengan kaki jenjangnya serta tubuhnya yang atletis, meskipun kedua lengannya masih saja membopong tubuh mungil Dara. Pemuda itu hanya membutuhkan separuh waktu dari biasanya.
Telinga mereka tidaklah tuli, saat banyaknya orang sedang membicarakan mereka, rasa-rasanya Dara ngin menenggelamkan diri untuk menutup rasa malu serta kesalnya, karena Bara sama sekali tidak mau menurunkannya meskipun ia meronta dan membentaknya.
"Turunin kak..." rengeknya, akan tetap sama. Bara dengan wajah datarnya menggeleng tak menuruti permintaannya.
"Eh...!?" ia terkejut saat sudah mulai pasrah dengan keinginannya, Bara menurunkannya tanpa memberi aba-aba terlebih dahulu hingga akhirnya tubuhnya oleng dan jatuh terduduk di depan rumahnya.
Tak punya perasaan, pemuda itu sedikit pun tak ada niatan membantunya berdiri bahkan dengan seenaknya melangkahi kakinya dan masuk ke dalam rumah Dara seolah dia tak memiliki rasa canggung sama sekali dan beranggapan itu rumah dia sendiri.
Dara yang melihatnya campur kesal, mulutnya menganga membuka dan menutup beberapa kali tak percaya akan hal itu.
"Menyebalkan." gerutunya, ia pun bangkit sendiri sambil menepuk dan membersihkan debu yang menempel di rok sekolahnya lalu menghentakan kaki mengikuti langkah Bara.
"Kakak bisa nggak kalo masuk rumah tu salam dulu?" protesnya.
"Sudah."
"Kapan?"
"Pas masuk." ujarnya polos sambil menunjuk ke arah pintu.
"Kok aku nggak denger?" Bara mengendikan kedua bahu tanpa menjawab pertanyaan Dara.
"Buruan ganti baju, kita jalan sekarang." perintahnya lagi.
"Nggak, nggak mau." sahutnya cepat sambil menggelengkan kepala.
"Oke..." Bara keluar dari dalam rumah membuat Dara mengerutkan alis tak mengerti dengan jalan pemikiran Bara.
Drrtt...
"Hallo..."
Temanmu sudah ijin sama ibu, kalian pergilah karena malam ini ibu ada acara di perkumpulan balai desa.
"Huh? Ta-tapi bu."
Nggak papa, ibu nggak mau kamu sendirian di rumah Dara.
"Baik bu." jawabnya pasrah karena ibunya juga termasuk orang yang keukeuh dengan pendiriannya dan tak mudah goyah meskipun Dara memiliki ribuan alasan untuk menolak.
"Buruan ganti baju, aku tunggu di depan."
"Astaganaga..." ia terkejut bukan main, melirik Bara kesal sambil mengusap dadanya.
"Bisa nggak sih kak, kalo masuk rumah orang tu salam dulu." seru Dara kesal.
"Sudah."
"Kapan?"
"Pas masuk tadi."
"Nggak mungkin, aku sama sekali tak mendengar kakak salam. Yang ada kakak sudah kaya jin tomang yang pergi dan datang secara tiba-tiba." ujar Dara ketus membuat Bara mendelik tak suka.
"Aku sudah salam Dara."
"Nggak, nggak ada." sahut Dara tak percaya.
"Aku salam di dalam hati." Dara yang hendak menjawabnya lagi hanya bisa melongo memandangi punggung Bara yang kembali keluar dari dalam rumahnya.
Apa orang tampan dan datar sepertinya akan selalu menyebalkan seperti itu.
"Orang aneh..." gerutunya.
"Aku masih bisa mendengarmu Dara." gadis itu hanya bisa menghela nafas pasrah, ia lantas mengganti baju santainya setelah ibunya menelepon untuk kedua kalinya.
*****
Bara hanya bisa menghela nafas panjang mengikuti langkah kecil gadis yang terlihat antusias melihat berbagai jenis permainan di pasar malam.
Bukan karena Dara yang memintanya ikut bermain berbagai wahana permainan di sana.
Tapi tubuh Bara yang tinggi dan kekar untuk seusianya, ia malah nampak bak bodyguard karena Dara sengaja mengajak anak-anak kecil tetangganya dengan alasan semakin rame semakin seru, jadi Dara tak akan takut lagi.
Bara menurut saja, mungkin dengan begini ia bisa menjerat hati gadis yang mengganggu hati dan pikirannya akhir-akhir ini.
"Kak Bara sini..." dengan langkah gontai ia menyusul segerombol manusia pendek alias anak-anak kecil karena Dara mengajak lebih dari lima orang anak kecil dari usia enam sampai sepuluh tahun.
"Kita cobain itu ya...?" tanya Dara antusias, hingga ia tak sadar menggenggam jemari Bara sambil menunjuk wahana kincir angin ala pasar malam.
Tubuh Bara mematung tak bergerak memandangi tautan jemarinya, membuat Dara yang tadi ingin menyeretnya agar jalan lebih cepat. Ia pun ikut memandangi arah mata Bara melihat.
Wajah Dara memerah, gadis itu yang malu karena sikapnya sendiri pun mencoba mengurai tautan jemari mereka.
"Biarkan seperti ini." ujar Bara, lantas menggiring anak-anak kecil yang mereka ajak tanpa melepaskan genggaman tangannya.
"Anak-anak mau main itu?" ujar Bara meskipun datar, tapi tak membuat mereka takut. Kelima bocah itu bersorak riang saat Bara mengatakan boleh main apa saja dari semua wahana di sana asal jangan berpencar.
Semua itu tak luput dari pandangan Dara, ia sangat takjub dengan sikap kedewasaan Bara yang seolah dirinya berperan menjadi bapak kelima anak itu dan dia ibunya. Eh...!?
"Dara...?"
"Apa kamu juga ingin main bersama mereka?"
"Ya?" mata Dara mengerjap perlahan memandangi wajah tampan di hadapannya, otaknya yang berkhayal menjadi seorang istri dari pemuda di hadapannya membuat dia seperti orang linglung saat Bara yang gemas mengecup bibirnya.
"Melamun lagi..." ujar Bara yang terkekeh geli memandangi wajah polos Dara.
"Dara?"
"Ya pa?"
"Pa...? Siapa yang kamu panggil pa?" ujar Bara heran.
Nah kan, otaknya masih jalan-jalan di angkasa.
Bara mulai mengerti, sepertinya Dara sedang memikirkan hal m***m lagi. Ia menyeringai lantas menunduk tepat di wajah Dara.
"Mama, apa kamu ingin bermain sama anak-anak?"
Dara mengangguk, ia pasrah dan masih berada di dunia khayalannya saat Bara menariknya bersama mendekati kelima bocah yang sudah mengantri di loket.
Dara nampak tertawa lepas saat ia ikut duduk di bangku lain tapi tetap mengawasi kelima bocah yang masih ia anggap anaknya sendiri.
Sampai lima kali putaran dalam permainan itu, mereka akhirnya turun dan berencana untuk pulang.
"Sayang, kita pulang sekarang. Kasian anak-anak sudah mengantuk." ujar Bara menatap Dara yang masih betah di dunia khayalnya, membuat tawa Bara hampir pecah.
"Baiklah." Dara tersenyum lantas memandangi ke lima bocah yang sudah berdiri di samping mereka.
"Anak-anak kita pulang sekarang." serunya penuh riang, tak sadar ia tertawa lepas membuat Bara terpana dengan kecantikan alami yang tersembunyi di balik kaca mata tebal miliknya.
"Ayo pa..." Dara lantas merangkul lengan kiri Bara membuat pemuda itu tersentak lantas memandangi tangannya. Ia menatap Dara yang kebingungan karena Bara masih saja diam tanpa niat bergerak sama sekali.
"Pa....!?" panggilnya ke Bara sambil melambaikan tangan di depan wajah Bara.
"Oh, ekhem.. Ayo ma." jawab Bara yang sedikit gelagapan karena ketahuan melamun.
"Kok kak Bara sama kak Dara manggilnya papa mama sih?" ujar salah satu bocah yang sedari tadi memperhatikan drama kedua remaja itu.
"Iya, kok kak Dara manggil kak Bara papa...?"
Mendengar pertanyaan dari para anak kecil itu hampir saja membuat Bara tertawa terbahak-bahak. Ia menggigit pipi bagian dalam menahan rasa geli dalam hatinya. Dia penasaran bagaimana reaksi Dara setelah mendapat pertanyaan itu.
Dan benar saja, Dara mengerutkan alis memandangi ke lima bocah kecil itu lantas memandangi Bara yang sudah ia rangkul lengannya begitu posesif. Tak butuh waktu satu menit, wajahnya sudah memerah sampai ke telinga serta lehernya.
Ia malu setengah mati menyadari apa yang dipikirnya tadi hanya khayalanynya yang terasa nyata.
Ia lantas menarik kembali tangannya dan menyalipkan rambut ke belakang telinga salah tingkah sendiri.
"Ma... Ayo pulang, kasian anak-anak nungguin tu..." ujar Bara dengan senyum menyebalkan sengaja menggoda Dara yang sudah ingin kabur dari hadapannya.
Dara mendelik sebal beranjak dari hadapannya serta kelima bocah kecil tadi, membuat Bara tergelak tanpa ia tahan lagi.
"Kak..." salah satu bocah kecil itu menarik ujung kaos Bara.
"Yaa...?" ujar Bara masih dengan tawa renyahnya.
"Ayo pulang, mereka nungguin." ujar bocah itu lagi sambil menunjuk segerombol bocah lainnya yang sudah menyusul Dara melangkah lumayan jauh.
Bara mengangguk lantas menggendong bocah kecil berumur lima tahun itu menyusul dia.
"Apa kakak cocok mendapatkan kak Dara kalian?" tanya Bara sambil tersenyum menatap bocah dalam gendongannya.
"Cocok kak, Akbar mendukung kalian." serunya begitu antusias membuat Bara kembali tergelak dan melangkah cepat menyusul pujaan hatinya.
Kita memang cocok Dara. Kamu akan menjadi mama dan aku papa untuk anak-anak kita kelak.... Ujar Bara dalam hati dengan wajah menyeringai saat tatapannya bersibobrok dengan Dara yang kesal padanya.