Kekhawatiran Bimo

1427 Kata
Bara dan Dara sudah mengantar satu per satu anak-anak yang tadi ikut dengan mereka main, kembali ke masing-masing orang tua mereka. "Kakak mau mampir dulu?" ujar Dara ramah, Bara mengangguk dan mengikuti langkah Dara berjalan ke arah rumahnya. "Biasanya sampai jam berapa ibumu di balai desa?" "Tidak pasti kak, soalnya minggu ini di tempat kita akan mengadakan acara khusus untuk anak yatim piatu." Bara mengangguk lantas duduk setelah Dara mempersilakan dirinya masuk ke dalam rumah, ia menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sembilan. "Kamu tak apa di rumah sendirian?" "Haha, ini sudah biasa kak. Lagian kadang Dara sendiri yang pulang lebih malam dari ini." ujar Dara lantas menyeduhkan minuman untuk Bara. "Diminum kak." "Makasih." Bara menyeruput sedikit kopi panas buatan Dara, tapi matanya tak berkedip sama sekali memandangi gadis yang duduk di sampingnya. "Dara..." panggil Bara lirih sembari meletakan kembali cangkir kopinya ke atas meja. "Dua bulan lagi kita lulus, apa rencanamu?" Dara memandang lekat wajah Bara, ia nampak berfikir mendengar itu. "Sebenarnya Dara ingin sekali melanjutkan kuliah kak." Bara mengangguk paham. "Ada yang ingin aku sampaikan." ujar Bara sambil memperbaiki duduknya menghadap Dara. "Mulai besok aku akan home schooling, karena setelah lulus nanti aku langsung ke England." tubuh Dara terhenyak mendengar itu, entah kenapa ada rasa tak rela setelah mengetahui dirinya mungkin tak akan bertemu dengan pemuda menyebalkan di hadapannya. "Hanya tinggal dua bulan kenapa harus home schooling?" Bara terkekeh pelan mendengar pertanyaan dari Dara. Gadis yang di hadapannya tak tahu saja, semua itu adalah konsekuensi yang harus Bara terima karena ia telah mengganggu kesenangan seseorang yang berpotensi dalam apapun di hidupnya. "Aku ingin kamu fokus dalam belajar dan bisa menjadi peringkat yang pertama untuk kelulusan nanti." alibinya. "Ta-tapi..." Bara menarik lengan Dara agar duduk mendekat di sebelahnya. "Dara..." Bara menggenggam erat jemari Dara lantas mengusap lembut punggung tangannya dengan jemarinya. Pemuda itu mengecup lama punggung tangan Dara setelah ia memastikan kalau Dara tak melakukan penolakan. "Terima kasih untuk tahun lalu, karena kamu mau mengalah demi aku." Bara tersenyum teduh lantas menyelipkan anak rambut Dara ke belakang telinganya. "Selama ini, setelah menyadari sikapku yang egois padamu. Aku benar-benar malu pada diriku sendiri, terutama padamu." ujarnya menyesal. "Maaf telah membuatmu tertekan selama ini... Aku-" "Kakak nggak perlu minta maaf." sahut Dara memotong perkataan pemuda yang di hadapannya. Bara tahu, Dara adalah gadis baik dan tulus. "Makasih..." ujarnya tulus, mereka saling pandang dan tersenyum satu sama lain. Bara benar- benar bersyukur, ternyata selama ini Dara tak menaruh rasa benci atau dendam padanya setelah ia mengancamnya waktu itu. "Dara..." panggil Bara lirih, pemuda itu mengusap lembut pipi Dara, ia menatap lekat gadis yang di hadapannya itu penuh arti. "Maukah kamu menjadi kekasihku?" Dara terkejut mendengarnya. "Ka-kak Bara..." "Ssstttt...." Bara menutup mulut Dara dengan jari telunjuknya. "Aku tak memintamu menjawab sekarang, aku hanya ingin kamu tau tentang apa yang aku rasakan padamu Dara." ujar Bara. "Aku mencintaimu Dara." gadis itu melotot, ia semakin terkejut mendengar Bara mengatakan itu. Matanya menatap memaku tatapan Bara mencari-cari sesuatu di sana, tapi ia tak temukan sebuah kebohongan di sana. "Aku mencintaimu setelah pertama kali kita bertemu." Dara semakin terpaku, ia membisu tak menjawab. "Setelah hari itu, otakku penuh dengan wajahmu, matamu, bibirmu, senyum ramahmu dan juga tatapan kesalmu saat kamu melihatku." ujarnya sambil tertawa pelan. "Aku tak suka orang lain menatapmu penuh arti. Aku marah orang lain menyakitimu. Meskipun saat itu aku merasa itu perasaan aneh yang belum pernah aku rasakan, tapi..." Bara menghela nafas panjang ia menarik tubuh Dara untuk memeluknya, gadis itu tak menolak sama sekali meskipun ia tak mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya. "Hatiku panas ingin sekali menghajar siapapun saat aku tau, kamu tersenyum manis pada lelaki lain." ujarnya sambil menopangkan dagunya di puncak kepala Dara, ia semakin mengeratkan pelukannya agar Dara mengerti apa yang ia rasakan sekarang ini. "Aku cemburu, aku cemburu melihatmu bersama lelaki lain." Dara meremas baju Bara saat jemarinya menempel di d**a Bara. "Aku juga cinta sama kak Bara." ujarnya lirih, tapi Bara masih bisa mendengarnya dengan jelas. "Aku juga cinta sama kak Bara." gadis itu mengulangi perkataanya lagi. Bara tersenyum lebar ia mengecup puncak kepala Dara begitu dalam lalu kembali memeluknya. "Terima kasih sayang..." Bara bahagia bukan main, cintanya terbalas setelah ia memendamnya hampir setahun ini. Ia akhirnya berani mengungkapkannya karena Bimo memberi keputusan telak kepada Bara agar ia melanjutkan sekolah ke negeri Britania Raya. Memang Bara mampu menolaknya, tapi setelah ia tahu alasan apa yang membuatnya harus melanjutkan kuliah di sana membuatnya pasrah dan menuruti permintaan sang Papa. Tak apalah, asalkan sekarang Dara menjadi miliknya, itu sudah cukup buat Bara. Setelah malam itu, Bara tak lagi berangkat ke sekolah karena ia langsung ikut home schooling sesuai saran Bimo. Tapi bukan berarti ia tak menemui Dara lagi, karena di akhir pekan keduanya akan jalan bersama sesekali mengajak anak-anak kecil di daerah tempat Dara tinggal. Hubungan mereka berjalan lancar tanpa ada suatu kendala sama sekali, hingga dua bulan berlalu dan Dara berhasil meraih peringkat pertama di kelulusan sekolahnya. Bara bahkan sempat memberinya selamat meskipun itu lewat telepon. Karena pemuda yang menjadi kekasihnya itu langsung terbang ke negara, yang sempat ia bicarakan setelah ujian akhir di sekolahnya. Jangan tanyakan bagaimana perasaan Dara saat ini. Meskipun ia bahagia, tapi gadis itu juga merasa sedih karena tak bisa merayakan kelulusan bersama kekasihnya. Terakhir mereka berjumpa adalah satu bulan yang lalu, malam hari setelah hari di terakhir mereka ujian sekolah. Karena malam itu Bara ingin menemuinya setelah esoknya pemuda itu terbang meninggalkannya. Hueekk... hueeekkk... Hari berlalu Dara yang pengangguran sampai sekarang karena belum menemukan universitas yang pas sesuai impiannya, membuatnya ingin tidur bermalas-malasan hingga siang karena ini hari minggu. Tapi itu hanya impian belaka karena pagi ini tubuhnya serasa lemas, perutnya bak di aduk-aduk, kepalanya berputar-putar membuatnya harus terduduk lemas di kamar mandi. Dara memuntahkan semua isi di dalam perutnya, meskipun itu hanya cairan bening saja. "Kamu baik-baik saja Dara?" ujar ibu yang khawatir mendengar Dara sedari pagi muntah-muntah. Ia memijat tengkuk Dara berharap dapat membantunya. "Nggak papa bu, mungkin Dara masuk angin." "Ya sudah, ibu buatin teh hangat dulu ya..." Dara mengangguk, ia kembali merebahkan tubuhnya di ranjang setelah merasa perutnya tenang dan tak mengeluarkan cairan lagi. Entah kenapa di saat seperti ini, Dara sontak memikirkan kabar Bara. Kekasihnya itu sudah tiga minggu lebih tak mengirim kabar untuknya, nomor telepon yang ia hubungi selalu tak aktif membuat Dara khawatir dan susah tidur karena kepikiran. Dara tak tahu saja, pemuda yang ia pikirkan sudah bolak balik keluar masuk rumah sakit. Penyebabnya adalah tubuhnya lemas karena malnutrisi, Bara sudah hampir sebulan ini tak bisa makan enak dan tidur nyenyak karena lambungnya bermasalah. Dirinya juga mengalami muntah-muntah hingga ia harus di rawat di rumah sakit. "Abang nggak mau makan lagi yank?" Riana menghela nafas panjang mendengar pertanyaan suaminya yang baru saja masuk dan duduk di sofa dalam ruangan rawat inap Bara. "Sebenarnya abang mau makan mas, hanya saja lambungnya yang menolak jadi dia memuntahkan semua makanan yang baru ia telan." ujar Riana sambil mengusap pelan rambut Bara yang nampak sedang tidur. Bimo mengerutkan alis mendengar penjelasan istrinya, ia beranjak dan melangkah mendekati Riana. "Bang... Bang..." Bimo menggoyang pelan lengan Bara, putranya itu mengerjapkan matanya pelan lantas memandang papanya. "Jujur sama papa... Kamu di sini nggak pacaran kan?" Riana menatap Bimo tak mengerti, ia menoleh ke arah putranya karena ia juga ingin tahu jawabannya. "Nggak pa, Bara nggak mau pacaran dengan siapapun di sini." ujar Bara lirih. "Baguslah..." Bimo lantas kembali ke sofa dan duduk bermalas-malasan di sana. "Kenapa mas Bimo nanyain itu ke abang?" "Ya nggak papa sih yank, hanya saja keluhan abang membuat mas ragu dan berfikir." jawab Bimo. "Apa itu mas?" "Yang abang rasain sekarang mirip dengan mas rasain dulu." "Maksudnya...?" Bimo menepuk pahanya dan itu di mengerti langsung oleh Riana. Istrinya itu dengan sigap beranjak dan duduk di pangkuan Bimo. "Maksudnya, mas juga begitu pas kamu hamil Bara Bela dan Ai." "Hah?" Bimo memeluk erat pinggang istrinya lantas tersenyum. "Iya sayang, yang mengalami morning sickness saat kamu hamil mereka adalah suamimu ini. Makanya kamu sehat dan bisa aktifitas dengan bebas dan makan apapun, sedangkan mas harus mengalami hal yang sama seperti abang rasain sekarang." "Ya tapi, abang kan nggak punya pacar mas." "Maka dari itu mas nanyain hal itu tadi, takutnya abang nakal dan hamilin anak orang." Riana mengangguk paham dan memeluk erat leher suaminya. Mereka melanjutkan bincang-bincang hal lainnya, tanpa mereka sadari bahwa Bara mendengar semua percakapan mereka. Bara menggulirkan tubuhnya ke samping memunggungi orangtuanya, matanya membuka dan otaknya langsung kepikiran dengan kekasihnya. "Dara..." ujarnya lirih, sangat lirih.. Jemarinya meremas sprei ranjang pasiennya, ia bahkan menitikan air mata begitu merindukan kekasihnya yang sudah hampir sebulan ia abaikan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN