Brakk
" Ayam ayam.."
" Astagfirulollah "
Mereka yang ada di dalam ruangan serempak kaget, bagaimana tidak kaget Camelia menutup pintu ruangan yang mereka tempati dengan kasar. Biasanya pintu memang jarang di tutup, supaya memudahkan untuk keluar masuk karyawan tapi hari ini , pintu itu jadi sasaran kekesalan Camelia.
" Lo kenapa sih Lia? itu pintu punya salah apa ama lo? " Laras memelototkan matanya tajam pada si pelaku, sementara si pelaku hanya diam sambil menekuk wajahnya kesal.
Merasa tak ada balasan dari lawan bicaranya Laras kembali bicara, " lo PMS " tapi tetap tak mendapatkan jawaban.
Laras memandang ke arah Desi, tapi yang di tatap hanya menggelengkan kepalanya tanda tak tahu. Menghembuskan nafas Laras berkata " terserah " lalu ia melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai.
Sementara Camelia masih merasa kesal, ia merasa setelah ini kehidupan kantornya yang nyaman akan berakhir ,dengan kedatangan bos gilanya itu.
Ia pikir laki - laki itu sudah melupakannya, tapi ternyata ia mengingatnya, " Apa katanya tadi judes dan sexy. Dasar cowok gila " batinnya.
Ting.
Bunyi pesan masuk menghentikan makian dalam hati Camelia. Satu pesan dari sang Kakak ,
" Nanti siang kakak tunggu di cafe depan kantor kamu , Dek.. " isi pesan yang Siska kirim.
Camelia menghela nafas lelah, kenapa hidupnya tiba- tiba melelahkan begini? batinnya bicara. Masalah dengan sang kakak dan Rama pacarnya yang ia kira sudah selesai, tampaknya belum selesai menurut mereka.
" Oke hari ini harus selesai pokoknya " tekadnya dalam hati. Camelia mengirimkan balasan untuk sang kakak dengan menyetujui ajaknya. Lalu ia juga mengirimkan pesan " Ayo kita ketemu di cafe depan kantor ku " isi pesan yang ia tujukan untuk Rama.
Semua harus di selesaikan sekarang juga menurut Camelia. Sebab ia sudah bosan terus membahas sesuatu yang membuat hatinya sakit. Mau mereka terima atau tidak ia akan melakukan apa yang menurut ia benar.
Jam makan siang pun tiba. " Gue duluan ya " pamit Camelia dengan terburu - buru. menekan tombol lif yang akan membawa ia sampai ke lobi, ia berjalan dengan agak terburu - buru supaya bisa menyelesaikan semuanya segera.
Toni yang akan makan siang dengan Arya melihat Camelia yang sepertinya terburu - buru, memandangnya dengan tersenyum geli. Arya yang melihatnya penasaran apa yang di lihat sahabatnya itu.
" Napa lo waras kan? " tanya Arya yang akan membuka pintu mobil yang sudah sampai di depannya.
" Ar.. liat sana ke depan, siapa tuh yang masuk ke cafe? " bukannya tersinggung Toni malah menanyakan hal yang aneh bagi Arya.
Arya yang penasaran pun mengalihkan pandangannya ke depan, " Apa sih gue gak liat apa - apa ? " balas Arya cuek.
" Awas gue mau pergi makan " balas Arya cepat.
Belum sempat Arya membuka pintu mobil, Toni langsung menarik tangan Arya untuk pergi menuju cafe yang tadi ia maksud.
" Pak ... Parkir kan lagi mobil pak Arya " ucap Toni cepat kepada salah satu security di lobby kantor.
" Lo mau bawa gue kemana sih , Ton..!" tanya Arya kesal.
" Diam nanti lo tahu sendiri, gue lagi bawa lo menuju jodoh lo biar gak galau terus. " ucap Toni sambil menarik tangan Arya menyeberang jalan lalu kemudian masuk ke cafe.
Toni yang mencari gadis yang ia cari ke seluruh area cafe yang lumayan ramai, karena waktu menunjukan waktu makan siang jadi cafe hampir penuh. Ia melihat gadis yang di cari sedang duduk semeja dengan seorang wanita, mungkin temannya pikir Toni.
" Ayo.. Diam nurut saja ya, jangan banyak tanya. " Toni mengultimatum teman sekaligus bosnya itu supaya menurut.
Arya yang melihat ada Camelia, mengerti kenapa sahabat anehnya ini menariknya kesini. Mereka duduk tak jauh dari meja yang di duduki Camelia.
Camelia yang kini berhadapan dengan kakaknya tak berniat berbicara lebih dulu, sedangkan Siska yang melihat respon sang adik dingin sedikit agak canggung, untuk mengurangi rasa canggung akhirnya ia berniat memesan makanan dulu karena sudah waktunya makan siang.
Melambaikan tangan berniat memesan makanan," kamu makan apa Lia? " Siska menawarkan sang adik untuk memesan.
" Orange jus sama mie goreng seafood " Lia mengatakan pesanannya kepada pelayan yang sedang mencatat pesannya.
" Saya spaghetti sama lemon tea cukup "
" Silakan di tunggu pesanannya mbak.. " ucapnya sopan setelah selesai mencatat pesanan yang di maksud.
" Apa yang ingin kakak bicarakan? " tanya camelia mulai tak sabar karena sang kakak tidak juga bicara.
" Maaf tadi agak macet jadi aku terlambat Lia " ucap Rama yang baru saja datang mengagetkan ke dua kakak beradik itu.
" Rama.. "
" Siska... " ucap keduanya bersamaan.
Siska kaget karena melihat Rama juga datang kesana.
Keduanya saling tatap lalu bersamaan menatap ke arah Camelia yang duduk sambil memakan makanannya.
Rama yang datang terlambat karena terjebak macet, bernafas lega karena hanya terlambat beberapa menit saja, ia berharap Camelia masih menunggunya di dalam. Setelah melihat kalau Camelia masih menunggunya ia langsung menghampiri meja yang di tempati gadis yang ia anggap masih kekasihnya.
" Duduk Ram.. Masih ada kursi yang kosong," Camelia melirik kursi yang kosong di depannya.
Mau tak mau Rama mendudukan dirinya di kursi sebelah Siska. Rama dan Siska tampak gelisah, sedangkan Camelia tidak peduli dengan apa yang mereka rasakan.
Di mejanya Arya dan Toni penasaran, melihat gelagat dua orang yang duduk di depan Camelia.
" Ko gue kepo ya mereka kenapa? " celetukan Toni di balas anggukan Arya.
" Kayaknya ada sesuatu deh sama mereka, soalnya dari gestur tubuhnya agak lain ya kan bro ... " Toni masih berkomentar.
" Kenapa kak Siska gak bicara, katanya kakak mau bicara " pancing Camelia setelah selesai dengan makan siangnya.
Tapi tak ada tanggapan dari dua orang di depannya ini, Camelia yang sudah bertekad akan menyelesaikan masalah ini sekarang akhirnya angkat bicara.
" Baik lah .. Karena kak Siska tak mau bicara maka aku saja yang bicara." Camelia menarik nafas sebentar " Aku berharap mulai saat ini jangan bawa -bawa aku , atau libatkan aku dalam masalah yang menyangkut kalian. Mau hubungan kalian lanjut silahkan mau apa pun silakan aku gak peduli, karena bagaimana pun hubungan aku dan Rama sudah berakhir. Jadi jangan libatkan aku lagi." matanya menatap dua orang di depannya malas.
" Tidak .. hubungan kita belum berakhir Lia, sampai kapan pun kamu akan tetap jadi pacar aku " ucap Rama cepat. " Kamu tenang saja sayang Siska tidak masalah ko kalau kita tetap menjalin hubungan ya Sis...? " Rama menatap Siska yang ada di sampingnya.
" Jadi sampai kapan pun kamu tetep pacar aku. " Rama berusaha menggenggam tangan Camelia, tapi di tolak Camelia.
" Kamu pikir aku mau sama kamu? orang yang berani maen di belakang aku dengan kakak kandung ku sendirinya .. " suara Lia naik satu oktaf tanpa ia sadari.
" Tapi gak.... _"
" Lia benar Rama bagusnya berakhir saja, supaya hubungan kita juga jelas. Gak sembunyi - sembunyi terus. " Siska memotong ucapan rama, dengan berkata apa yang ingin ia katakan ketika mengajak sang adik untuk bertemu.
Ia Dia memang berniat menyuruh sang adik untuk mundur, karena ia sangat mencintai Rama yang dulu merupakan kekasih sang adik.
Bukan hanya Rama yang menyukai Siska ,, Siska pun sebenarnya menyukai Rama saat pertama bertemu. Melihat sang adik yang sangat di perhatikan dan di manja oleh Rama Siska merasa ingin merasakan juga.
Bak gayung bersambut rupanya Rama juga menyukai dirinya yang merupakan kakak Lia pacar Rama sendiri.
by cha88.