Arya dan Toni yang berniat hanya untuk mengikuti Camelia, tidak menyangka akan mendengar pembicaraan yang menurut mereka agak pribadi.
Mereka terkejut tentu saja, siapa yang menduga gadis judes dan galak itu ternyata di hianati oleh pacar dan kakak kandungnya sendiri.
" Tidak Siska bukan begini waktu kita memutuskan untuk berpacaran di belakang Lia, apa kamu lupa? " Rama kaget dengan apa yang di ucapkan Siska lain dengan kesepakatan mereka dulu.
" Tapi Ram ... Ada bagusnya kalau Lia mundur, kita bisa leluasa untuk jalan bareng, kita gak perlu menyembunyikan hubungan kita dari orang lain. Apa kamu gak mau hubungan kita berjalan kayak pasangan lain? " Siska tak mau kalah, mulai meninggikan suaranya.
" Tidak aku gak mau hubungan aku sama Lia berakhir. " suara Rama yang mulai emosi, mengundang tatapan ingin tahu dari beberapa pengunjung cafe, menatap ke arah meja mereka.
Camelia yang mulai bosan angkat bicara, " Sudah lah terserah kalian mau berbuat apa, yang jelas Rama kita putus dan mulai sekarang jangan pernah hubungi aku lagi, karena aku tidak akan pernah memaafkan penghianatan yang kalau lakukan. Jadi jangan pernah ganggu aku lagi. " Lia menegaskan kata putus dan penghianatan di kalimatnya supaya Rama mengerti.
" Dan aku berharap semoga kalian tidak merasakan apa yang aku rasakan. " Camelia berucap lirih di akhir kalimatnya, dengan memandang kecewa pada keduanya. lalu beranjak meninggalkan cafe tersebut.
Dia tak peduli dengan tanggapan orang - orang yang mendengar atau melihat apa yang terjadi dengan mereka. Ia terus berjalan meninggalkan Rama yang memanggil namanya.
" Lia ... Lia.. "
" Rama... " Siska langsung menarik tangan Rama yang berniat akan meninggalkan dirinya.
Rama yang emosi langsung melepaskan tangannya dengan kasar bermaksud akan menyusul Camelia kembali. Tapi rupanya Siska tidak menyerah ia menggenggam tangan Rama dengan kedua tangannya, dan langsung membawa Rama keluar cafe setelah meninggalkan uang beberapa lembar.
Menarik tangannya menuju mobil Rama yang terparkir di halaman cafe tersebut.
" Buka kuncinya? " perintah siska mulai kehilangan kesabaran. Rama yang masih berdiri menatap ke arah dimana kantor Camelia berada.
" Rama buka kuncinya !" Siska berusaha mengalihkan perhatian Rama supaya tertuju pada dirinya.
Siska yang melihat Rama masih tidak juga membuka kunci mobil, mengambil paksa kunci mobil yang masih di pegang oleh Rama.
Bip Bip...
Lalu mendorong Rama supaya masuk kedalam mobil, Rama yang sudah tidak melihat keberadaan Camelia lagi menurut saat tangannya di tarik oleh Siska.
Ia menyandarkan badannya di kursi penumpang, sedangkan siska di biarkanya menyetir mobilnya.
Sepanjang perjalanan tak ada satu pun yang mengeluarkan suara, keduanya sibuk dengan pikirannya masing - masing.
Mobil baru berhenti setelah sampai di sebuah bangunan yang merupakan tempat kerja Siska. Siska bekerja sebagai karyawan di sebuah bank milik pemerintah.
" Kita harus membicarakan tentang hubungan kita nanti, kita harus memperjelas semuanya. " tekan Siska pada kata semuanya. " Aku tunggu di cafe biasa tempat kita bertemu, jangan sampai tak datang. " setelah mengatakan itu Siska keluar dari mobil, karena waktu istirahatlah sudah habis.
Rama yang masih di dalam mobil semakin bingung dengan perasaannya.
Arghhh .
Teriak Rama sambil memukul setir mobil, karena kesal. " Apa sih sebenarnya maunya hati gue kanapa semua jadi seperti ini. " Rama marah dengan dirinya sendiri yang tidak bisa mengerti dengan keinginan hatinya.
Setelah tidak menemukan jawaban untuk pertanyaan yang ia tunjukan pada dirinya Rama memutuskan untuk kembali ke kampus, karena jam membakarnya belum selesai.
Rama kira tadi ketika Camelia mengajak untuk bertemu, Camelia akan memaafkannya tapi ternyata untuk memperjelas status putus yang di inginkan Camelia.
Padahal ia berharap hubungannya dengan Camelia akan baik - baik saja, tapi ternyata Camelia terlanjur kecewa dengannya. Hatinya sakit saat melihat tatapan kecewa yang terlihat dari mata milik Camelia.
Sepertinya memang sudah benar - benar melukai perasaan gadis yang masih ia sukai itu.
" Maaf Lia... Aku bener - bener minta maaf " gumamnya lirih.
###
Arya yang masih ada di cafe tersebut, tidak melanjutkan makan siang seperti yang semula di niatkannya. Entah rasanya ia sudah tak berselera, pada hal makanannya masih banyak baru beberapa sialan saja yang masuk. Keburu di sajikan drama lokal yang pemerannya gadis judes yang ia suka jaili.
" Lo gak makan Bro? " tanya Toni karena melihat makanan Arya masih banyak.
" Kenyang gue " ucap Arya tanpa minat. Toni yang mendengar itu bersorak girang, " Ya udah buat gue aja, kata nyokap gue jangan buang - buang makanan.. Mubazir " Toni langsung menggeser piring Arya yang masih banyak, karena yang punya tak mengharuskannya.
Arya yang melihatnya tak berkomentar sedikit pun. Melihat kelakuaan temannya itu.
Keduanya fokus pada kegiatan masing - masing. Arya masih kepikiran tentang Camelia, ia merasa heran kenapa gadis itu sering terlintas dalam pikirannya. Ia merasa ada yang aneh dengan dirinya, tapi ia tak tahu apa, cinta rasanya terlalu cepat ia mengatakan kalau ia mencintai gadis itu.
Bertemu saja baru beberapa kali, masa ia sudah jatuh cinta rasanya tidak mungkin. Ia akui setelah kandasnya pertunangan ia dengan dengan sarah dua tahun lalu, ia agak susah untuk jatuh cinta. Mungkin ia terlanjur kecewa karena di hianati sang pujaan hati yang lebih memilih, Rizal yang merupakan sepupu Arya.
" Ah kenapa ia jadi teringat masa lalu " batin Arya.
" Hey bengong mulu , balik ayo! " ajak Toni yang sudah menghabiskan dua porsi makanannya dan juga Arya.
Arya yang berniat berdiri merasa heran melihat Toni mengarahkan tangannya pada Arya, " Kenapa lo? " tanya Arya heran. melihat kearah tangan Toni.
" Minta duit dompet gue ketinggalan di meja " ucapnya dengan muka sok polos.
" Asem lo, lo yang makan gue yang bayar " kata Arya , sambil mengeluarkan beberapa uang lembar merah kepada Toni dari dompetnya. Yang di balas senyum lebar dari sahabat dan juga asistennya itu.
" Terima kasih pak boss " ucapnya dengan senang, sambil berlalu menuju kasir.
Sedangkan Arya sambil menunggu Toni ia berjalan menuju luar cafe, berniat menunggu Toni di depan cafe.
Sambil menunggu ia bermain ponsel sekedar melihat apakah ada email yang masuk pada telepon genggamnya itu.
Tapi suara seseorang mengalihkan ia dari kegiatannya itu.
" Arya.. " panggilan tak asing itu. Mengalihkan ia dari handphone yang ada di tangannya kearah asal suara.
Deg.
Detak jantungnya seakan berhenti menemukan sosok yang pernah menggoreskan luka di hati, bukan hanya luka di hati tapi membuat seluruh keluarganya kecewa dengan apa yang di lakukan sosok yang sedang tersenyum manis di depannya ini.
" Kamu Arya kan? apa kabar? " tanyanya beruntun sambil berjalan mendekati Arya yang masih terkejut dengan keberadaan Sarah di sini.
" Yuk bro, kita balik ke kantor " menyadarkan Arya dari keterkejutannya terhadap sosok yang ada di depannya.
Toni yang melihat Arya memandang ke arah depan mengalihkan pandangannya, melihat siapa yang membuat bosnya itu terkejut.
" Sarah.. " ucap Toni kaget memandang ke arah dengan dengan memelototkan matanya, karena terkejut.
Arya yang tersadar setelah mendengar suara Toni langsung berjalan.
" Buruan Toni ,ini sudah waktunya masuk kantor " kata Arya berusaha untuk tidak peduli dengan kehadiran sosok tersebut.
Toni yang melihat Arya berjalan pergi lansung menyusul sang sahabat, tetapi sebelum melangkahkan kakinya ia memandang ke arah wanita yang sudah membuat hati sang sahabat hancur.
" Harusnya lo gak usah pernah kembali kesini lagi.. " Toni berucap sambil berjalan pergi, meninggalkan Sarah yang mematung, melihat sikap sang mantan tunangan acuh padanya.
" Sorry ... Aku menyesal, aku berjanji akan memperbaiki semuanya kembali. " ucapnya entah pada siapa.
by Cha88.
Terimakasih sudah mampir jangan lupa tekan ♥️ ya makasih...