episode 16.

1255 Kata
Pandangan mata itu menatap jauh keatas sebuah jendela yang berada di lantai dua, lampu yang masih menyala menandakan yang punya kamar masih terjaga. Rama merenungi apa yang sudah terjadi pada dirinya, setelah ia tadi di usir oleh Beni, ia masih berada di samping mobil miliknya yang ada di luar rumah itu. Apa alasan yang membuat ia bisa berpaling dari Camelia? Apa yang membuat ia bisa menyukai Siska ? Pertanyaan itu yang coba ia tanyakan pada dirinya. Sekarang pertanyaan itu yang sering terlintas di kepalanya. " Apa gue beneran cinta sama Siska? atau hanya sekedar suka saja?. Rama menarik rambutnya frustasi dengan keadaanya saat ini, sambil menatap kearah kamar yang Camelia tempati. Camelia bangkit dari duduknya, setelah puas menangis. Lagi dan lagi Camelia harus menangisi kisah yang menurutnya sudah usai. Sekuat apa pun ia bertahan tapi ternyata, hatinya belum sekuat yang ia pikir. " Ayo lah Lia ,lo bisa " semangat Camelia sambil menghapus air mata yang dari tadi tidak berhenti turun. " Lo bukan cewek lemah, yang harus terpuruk hanya gara - gara cinta. " ulangnya lagi. Setelah merasa lebih Camelia beranjak untuk membersihkan tubuhnya yang terasah lengket dan lelah. ## Sudah sebulan lamanya Arya dan Camelia bekerja di perusahaan yang sama tapi tak pernah bertemu. Bukan karena mereka yang tak pernah bertemu, tapi lebih tepatnya Camelia selalu menghindar dari bertemu dengan sang bos besar. Dimana pun ia melihat Arya maka ia akan bersembunyi, aneh bukan tapi itu yang di lakukan Camelia. Bagi Camelia Arya masih lah sosok yang menurutnya menyebalkan, sebab ia masih mengingat apa yang terjadi ketika di pendakian saat itu. Sehingga kalau Camelia mengingatnya ia sangat kesal terhadap sosok sang atasan. Tapi sepertinya hari ini ia tidak bisa melarikan diri atau bersembunyi sebab sosok yang ia hindari tepat berada di hadapannya. Duduk manis di kursi kebesarannya sedang menatapnya cuek. Sudah setengah jam berlalu, Camelia berdiri di hadapan sang bos besar yang sedang memeriksa laporan yang ia bawa tadi. Dalam hati ia mengutuk pak Teguh yang sudah membuat ia harus berada di ruangan yang ia hindari, ia merasakan kakinya sudah pegal dan kesemutan gara - gara berdiri terlalu lama. Sedangkan mahluk tampan yang membuat ia harus berdiri masih anteng memeriksa laporan yang ia bawa. Eh tampan rasanya otaknya sudah tidak waras karena mengatakan hal yang sangat tidak masuk akal, batin Camelia. Arya sebenarnya menyadari kalau Camelia sudah pegal, tapi jiwa usilnya selalu saja muncul kalau bertemu dengan gadis di depannya ini. Sifat Arya yang biasanya dingin dan cuek selalu terganti dengan sifat usilnya yang tak tertahan. Ehem.. Deheman yang keluar dari pria di depannya membuat camelia berusaha menegakan lagi badan ya. " Laporan nya sudah bagus, dan anggarannya juga sudah sesuai, tolong sampaikan pada pak Teguh, laporan yang ini tidak masalah tapi yang selanjutnya harap di percepat. Supaya pembangunan segera bisa di lakukan. " Arya berucap dengan menatap wajah Camelia dengan insten. Camelia yang di tatap seperti itu sedikit gugup dan berusaha untuk menghindari tatapan mata di depannya. " Ba_ baik pak , saya akan sampaikan pada pak Teguh " Camelia berusaha menjawab, walau pun tetap gugup. " Baik lah kamu boleh keluar ". ucapan Arya membuat Camelia bernafas lega dan berniat memutar tubuhnya. " Camelia " panggil Arya kembali yang membuat camelia menghentikan langkah kakinya. " Saya pak " Camelia yang memutar kembali tubuhnya. " Kamu sangat manis kalau penurut, tapi saya lebih menyukai sifat judes kamu lebih sexy " kedipan mata Arya menutup kalimat yang ia ucapkan untuk Camelia. Camelia yang mendengarnya mematung, lalu kemudian ia berkata " Dasar sinting " ucapnya ketus, sambil berlalu keluar ruangan tempat bosnya berada dengan kesal. Arya yang mendengarnya malah tertawa terbahak - bahak sambil memegangi perutnya. Baru kali ini ada yang mengatainya sinting dan itu adalah karyawannya sendiri. Camelia yang masih bisa mendengar suara tawa Arya, keluar dengan wajah di tekuk, Wina yang sedang mengerjakan laporan yang menjadi tugasnya saja kaget ketika mendengar suara tawa bosnya. " Lia kenapa si boss? " tanya Wina penasaran saat Camelia melewati meja kerjanya. " Bosnya sinting mbak Win, ih ko mbak Win betah sih jadi sekretarisnya !!" . " Masa sih, orang ganteng gitu kok sexy lagi " Wina tak percaya dengan ucapan Camelia tentang bosnya. " Ganteng dari mana orang kayak Jerapah begitu ko " kukuh Camelia tak mau terima. " Jerapah.. ko Jerapah sih Lia. Kamu nih ngaco aja" . Camelia yang sudah kesel tambah kesal, mendengar Wina terus membela Arya. " Dah ah aku mau turun, bisa ubanan kalau lama - lama di sini. " Camelia pergi dengan wajah masam yang tak bisa di sembunyikan. Sepanjang perjalan kembali ke ruangannya Camelia masih saja mengomel, hingga tak menyadari kalau ia sudah melewati arah yang salah. Brukk Camelia terjatuh sehingga pantatnya mengenai lantai. " Sorry ... Sorry saya gak sengaja, kamu tidak apa - apa? " tanya seseorang sambil mengulurkan tangannya bermaksud membantu Camelia untuk berdiri. " Tidak ap... Kamu ngapain di sini ? " tanya Camelia dengan tak santai. Tini yang di tanya seperti itu merasa bingung kenapa ia di tanya seperti itu, ia kan sedang bekerja tentu saja. Gadis aneh batinnya.Tapi kemudian ia memelototkan matanya ia kenal dengan gadis ini. Gadis yang ia jumpai ketika di pendakian beberapa minggu lalu. Belum sempat Toni menjawab, gadis di depannya berkata kembali. " Tadi temannya yang sinting, sekarang ketemu lagi yang gila.. Aduh mau jadi apa kantor ini kalau penghuninya orang stres semua. " Camelia berjalan sambil menggerutu. " Siapa yang sinting, trus siapa yang gila" Toni menggaruk kepalanya yang tidak gatal. " Tapi kenapa gadis judes itu di sini? jangan bilang kalau dia kerja di sini. " Kata Toni " Wah seru kayaknya nih " senyum aneh muncul di bibir laki - laki itu. " Wina ... Bos ada kan? " yang di balas anggukan dari Wina. Brak Suara pintu di buka kasar mengagetkan Arya yang sedang mengerjakan sesuatu di laptopnya. " Hai pak bos, ini laporan yang lo minta " Toni memberikan laporan yang di minta bosnya sekaligus temannya tadi pagi. " Eh iya lo pasti gak akan percaya gue baru ketemu siapa barusan " ucap Toni semangat sambil mendudukan pantatnya di kursi depan Arya. " Siapa emangnya " Arya menjawab tanpa minat. " Si cewek judes.." melihat Arya mengenyeritkan kening Toni kembali bicara, " yang gak sengaja nabrak lo di gunung " sambung Toni semangat. " Oh.. " jawaban singkat yang Arya berikan membuat Toni aneh ,apakah temannya itu lupa. Arya yang faham lalu berkata " gue dah tahu kali, dia kerja di sini bagian keuangan anak buahnya pak Teguh " jawab Arya sambil tangannya tak berhenti bekerja. Toni memelototkan matanya terkejut " Kok bisa ,kapan lo tahu? " tanya Toni tak sabar. "Gue ngeliat dia pas hari perkenalan gue sebagai direktur saat itu " Arya menjawab enteng pertanyaan Toni. " Eh kok lo gak bilang ke gue sih " " Kenapa? " tanya Arya heran. " Gak kenapa - kenapa sih, cuman dia itu lucu kalau lagi marah. Ha ha ha " Toni tertawa geli membayangkan Camelia yang mukanya merah kalau marah. Arya yang mendengarnya pun, secara tak sadar memukul kepala Toni dengan berkas yang ada di depannya , " Jangan ganggu dia ..punya gue " Arya menekankan kata punya gue supaya Toni tidak mengganggu Camelia. Ha ha ha " Tenang aja Bro gue juga gak akan nikung lo dari belakang kali, gue cuman suka jailin dia aja gak lebih. Dia bukan tipe gue, tipe gue yang manja - manja gimana gitu." Toni tertawa senang sang sahabat mulai menyukai lawan jenis lagi. " Semoga jodoh lo Ar... " bisik batin Toni. by cha88.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN