episode 20.

1269 Kata
Tok Tok Tok . Ketukan pintu menyadarkan Arya dari lamunan masa lalunya. Ia menghela nafas panjang, karena teringat dengan kejadian menyakitkan yang berusaha ia lupakan. " Masuk " perintah Arya pada orang yang mengetuk pintu tadi. Toni muncul dengan wajah khawatir, tadi memang Toni tidak langsung masuk menyusul Arya. Ia memberikan waktu untuk sahabatnya itu menenangkan diri, setelah bertemu penyebab luka di hatinya itu. " Bos waktunya meting, bahan buat persentasi juga dah di bawa Wina tadi. " yang di balas anggukan kepala tak semangat oleh Arya. Toni yang melihat itu merasa cemas, " Lo baik kan Bro? " ucapnya sambil memandang Arya. Seharusnya tanpa ia bertanya pun Toni sudah bisa melihat bagaiman keadaan sahabatnya itu, tapi entahlah ia bingung harus bertanya apa. " Jujur gue kaget " ucap Arya sambil berjalan keluar dari ruangan kerja nya. " Gue bingung... Harusnya gue marah sama dia, tapi entahlah sekarang gue bingung dengan apa yang hati gue rasakan. " aku Arya pada Toni, mereka berbicara sambil berjalan menuju ruang meting. Toni mengerti dan ia juga tahu bagaimana hancurnya seorang Arya ketika mengetahui Sarah tunangannya berselingkuh di saat ia sedang berusaha menyelesaikan pendidikannya. Arya sempat merasa down, tidak menaruh rasa percaya pada perempuan, menganggap mereka sama, bahkan sampai berniat tidak melanjutkan lagi kuliahnya. Ia benar - benar terluka dengan kenyataan yang terjadi. Karena alasan ia kuliah supaya bisa memegang perusahaan sang ayah, sebagai syarat yang di berikan oleh orang tuanya untuk bisa meminang sang kekasih hati Sarah. Bukan karena tak percaya pada kemampuan sang anak mereka hanya ingin melihat seberapa seriusnya ia mengejar apa yang di diinginkannya, karena melihat usia sang putra yang masih muda. Tapi ternyata semua berubah, ketika Sarah memutuskan berselingkuh dengan Rizal, sepupu Arya sendiri. Rizal memang tidak tinggal di Jakarta, ia tinggal di solo karena keluarganya tinggal di sana. Entah bagaimana Sarah bisa memutuskan berselingkuh dengan Rizal, Arya tak menceritakan secara jelas. Cuma yang ia tahu Sarah dan Rizal sudah ke tahap jauh dari pacaran sehat yang Arya lakukan. Sampai sekarang ia juga, masih bingung dengan perasaan yang di rasakan sang sahabat. Ia hanya berharap Arya tidak jatuh lagi seperti dulu. ### " Lia lo gak balik apa, betah amat di tuh mata mandangin layar laptop? " Desi berbicara sambil membereskan meja yang tadi ia gunakan. " Ya masih mendingan gue mandangin layar laptop, dari pada sebelah lo mandangin hp mulu tapi gak ada yang bisa di dihubungin " tawa Camelia terdengar bersama Desi yang juga tertawa. Ha ha ha... " Bener juga sih, maklum jomblo " ejek Desi memandang Laras dengan wajah tak berdosa. " S****n kalian , kalau ngomong suka bener anjir... " ekspresi kesal Laras di sambut tawa bahagia Desi juga Camelia. " Udah lah Ras.. lo persen aja online , entar juga ada yang jemputkan? " Camelia bicara sambil memasukan barang yang ia akan bawa pulang. Laras tak menghiraukan apa yang di katakan ke dua temannya itu. Ia berjalan menuju lift yang di ikuti Desi dan Camelia. Pintu lift terbuka mereka buru - buru masuk ,maklum kalau waktu jam pulang lift biasanya agak penuh. " Lo dah pesan Lia , apa di jemput ? " tanya Laras. " Gak gue nunggu taxi aja deh di depan, lagian gue lagi pengen jalan - jalan dulu kayaknya. Mumet di rumah butuh udara yang seger kayaknya. " jawab Camelia dengan senyum miris. Laras dan Desi prihatin dengan keadaan sang sahabat, tapi mereka juga bingung kalau terlalu ikut campur dengan masalah temannya itu, apalagi ini masalah hati. Mereka hanya bisa mendukung apa yang baik bagi sahabatnya itu. " Butuh teman, mau gue ditemani? " tanya Laras yang di angguki juga oleh Desi. " Gue butuh waktu sendiri dulu " Camelia tersenyum sendu. " Oke .. kalau lo butuh kita selalu ada, lo gak boleh ngerasain sendiri oke? " ucap Desi yang mengingatkan kalau ada mereka yang selalu ada buat Camelia temannya itu. " Lo kuat, Camelia yang kita kenal itu kuat, ceria , terus selalu semangat. Jadi lo gak boleh kelamaan sedih, lo harus bangkit oke cantik.. Eh enggak cantik punya gue lo cukup punya manis aja ya... " Laras mengerlingkan satu matanya mencoba menggoda Camelia. " Ha Ha Ha ... si Laras dasar lagi begini saja lo gak mau cantik nya lo di kasih ke orang dasar.. " Desi tertawa mendengar laras mengganti kata cantik dengan kata manis untuk Camelia. " Iya deh Laras yang Cantik , makasih ya kalian selalu ada buat gue " Camelia memeluk Desi yang ada di sebelahnya, hal itu membuat Laras mengerucutkan bibirnya. " Desi saja yang di peluk ,gue enggak nih? " Laras pura - pura merajuk . " Wah kita lupa kalau masih ada temen cantik kita di sini " kata Desi. " Hus jangan gitu, kamu gak tau kan kalau Laras marah suka petik in buah tetangga... Ha ha ha " Camelia tertawa puas, dapat mengerjai temannya itu. "Heh ... lu kira gue temannya Dora, yang suka naek - naek hah.. " mata Laras melotot galak. " Dah ah lo kelamaan " Desi menarik tangan Laras, supaya mereka bisa berpelukan bersama. Ting. Bunyi pintu lift terbuka menyadarkan mereka kalau masih di dalam lift. " Ya ampun kita masih di lift, gue lupa " Camelia dan dua temannya melepaskan petikannya. " Ha ha ha ... Iya gak sadar, untung gak ada orang. Bisa di sebut teletabis kita nanti. " Desi bergidik geli. " lo beneran gak mau kita temenin. " Laras bertanya lagi pada Camelia. Yang di balas dengan senyum yakin oleh Camelia. " Oke deh kita - kita duluan ya.. " pamit Desi dan Laras sambil melambaikan tangan. Setelah ke dua temannya pergi Camelia berjalan di trotoar jalan, dengan tujuan tak jelas. Ia memang berniat hanya berjalan kaki saja sampai lelah, baru setelah itu ia pulang ke rumah. Tiba di halte bus Camelia memutuskan untuk duduk, karena ia sudah lumayan jauh berjalan. Kendaraan hilir mudik ramai karena waktu memang sudah jam pulang. Di seberang jalan ternyata ada taman yang lumayan ramai, Camelia baru tahu kalau di daerah sini ada taman. Setelah memutuskan ia berencana untuk melihat kesana sebentar saja, siapa tau bisa merilexkan pikirannya yang sedang kacau. Duduk di bangku yang sudah di siapkan, ia duduk menghadap lapangan hijau yang bisa di gunakan untuk anak - anak bermain. menarik nafas berulang kali Camelia, tak dapat menahan air mata yang dari tadi ia tahan, sekuat apa pun ia menyakini semuanya hatinya tidak terluka tapi tetap saja ia tak bisa. " Hiks hiks.." Camelia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, supaya tidak mengundang tatapan aneh orang lain. Cukup lama ia menumpahkan semua isi hatinya, ia merasa jauh lebih lega. " Nih minum... " tiba - tiba ada yang memberikan botol air mineral padanya. Camelia menatap ke arah orang yang memberi botol air padanya , matanya melotot kaget. "Lo... " Camelia menatap wajah di depannya kaget. " Lap dulu tuh ingus ih jorok.. " ucap laki - laki tersebut, setelah meletakan botol air yang tadi belum di ambil Camelia. Camelia yang mendengarnya langsung mengambil tisu di dalam tas yang biasa ia pakai. " Ha ha ha.. lo mau nyambi jadi badut, muka lo item - item begitu " Arya tak tahan melihat muka Camelia yang eyelinernya luntur terkena air mata. Sedangkan Camelia langsung mengambil kaca kecil yang ada di kantong blazer nya. Ia merasa malu karena apa yang di ucapkan Arya memang benar. Melihat Camelia yang menahan malu, dan masih mencoba membersihkan eyeliner yang luntur ia membasahi tisu punya Camelia dengar air yang tadi ia bawa, secara spontan mengangkat wajah Camelia membantu membersihkan wajahnya. Deg Deg. " Jantung gue copot deh kayaknya " batinnya. by Cha88. Terimakasih jangan lupa tekan ♥️ ya makasih.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN