episode 25.

1225 Kata
Arya menatap pintu yang baru saja di tutup oleh Camelia dengan bibir menahan senyum, bisa - bisanya Camelia langsung pergi setelah mengomeli dan mengejek Toni, yang membuat Toni tidak bisa membalas Camelia. " Gak usah di tahan kalau mau senyum, lo puas kan ngeliat gue di hina tuh cewek? " tanya Toni dengan nada yang tak santai. Arya yang mendengar ucapan Toni bukannya marah justru tak bisa menahan senyumnya, sehingga tertawa keras di hadapan Toni. Toni yang melihat Arya tertawa keras merasa jengkel melihat apa yang dilakukan sang sahabat. Ia memandang tajam bos sekaligus sahabatnya itu. " Diam gak lo.. ? " ucap Toni marah. " Arya... Tahu ah gue gak mau temenan lagi dengerin curhatan lo lagi ya... " ancam Toni yang berhasil menghentikan tawa Arya walau pun masih ada kedutan di ujung bibirnya. " Ya elah lo ngambekan kayak cewek lagi pms aja lo ? " canda Arya supaya sahabatnya itu tidak marah lagi. Melihat Toni masih memasang wajah di tekuk, Arya berpikir bagaimana caranya supaya asisten sekaligus sahabatnya itu tidak marah lagi. Setelah berpikir sejenak Arya mengambil handphone dari kantong celananya, mengutak - atik sebentar telepon yang ada di tangannya lalu menaruh kembali di atas meja. " Udah lo gak usah ngambek gitu, muka lo gak pantes sok imut " ejek Arya yang membuat wajah sang sahabat bertambah masam. " Ya udah kalau muka lo masih begitu, makanan yang udah gue pesen buat lo gue cancel aja deh... " kata Arya sembari mengambil handphone yang ada di atas meja. Toni yang mendengar Arya memesan makanan untuknya lansung merubah raut wajahnya menjadi senang. " Eh... eh ... Jangan donk bos masa mau di batalin, kasian abang - abang Kurirnya nanti rugi... " cegah Toni pada Arya yang berniat membatalkan pesanan yang ia pesan untuknya. Arya yang melihat raut wajah Toni berubah cengengesan hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan temannya itu. " Ya udah sekarang lo jelas in, kenapa tuh cewek bisa makan siang sama lo di sini? " tanya Toni dengan muka penasaran yang tak bisa di sembunyikan. Baru mau bicara telepon yang ada di meja Arya berbunyi, sehingga Arya mengangkatnya terlebih dahulu. " Halo... " " ... " " Iya itu punya saya, tolong antar ke ruangan saya... " Arya berucap sambil menutup telepon ke tempat semula. Tak lama terdengar suara ketukan pintu. " Buka sana... Makanan lo tuh datang " kata Arya sambil melirik pada Toni. Toni yang mendengar makanan untuknya dah sampai langsung membuka pintu dan mengambilnya, bahkan ia langsung bersiap memakan langsung setelah membuka bungkus makanan yang di pesan Arya dengan senyum mengembang. " Ini buat gue kan ? " tanya Toni pada Arya, setelah mendapat anggukan dari Arya ia langsung memakannya dengan lahap. " Lo bisa cerita sambil gue makan, kenapa tuh cewek bisa di sini " Toni berkata setelah menyuapkan makanan yang ada di hadapannya. Arya yang tak mau pusing dengan sikap temannya itu, mulai menceritakan tentang kejadian di taman waktu itu, ia menceritakan semuanya tanpa ada yang terlewatkan sama sekali. Dan juga tentang permintaan konyol yang ia sebut tentang bayaran untuk Camelia, yang ia buat mendadak itu. " Jadi lo ama tuh cewek dah makan barang hampir seminggu lebih gitu ? " tanya Toni setelah mendengar cerita yang di ucapkan Arya. " Ya gitu deh.. " ucap Arya seraya menganggukan kepalanya. " Trus ada yang berubah gak dari hati lo ? " tanya Toni lagi , merasa penasaran dengan apa yang dirasakan bosnya itu. " Maksud lo ? " tanya Arya yang berpura - pura tak paham atas pertanyaan yang do ajukan Toni. " Gue tahu lo paham, gak usah pura - pura bego lo ya.. " Toni berucap sambil menunjuk tangannya di depan wajah Arya. " Entah lah yang pasti gue ngerasa nyaman kalau deket dia, gue seneng aja kalau liat dia, apalagi kalau bisa liat muka kesalnya itu. Aduh gemesin banget deh.. " Arya seraya membayangkan wajah Camelia kalau sedang marah yang membuat ia terlihat lucu bagi Arya. Toni yang melihat Arya senyum - senyum sendiri, merasa ngeri dengan tingkah teman nya itu. " Gila lo ... senyum - senyum sendiri ? " Toni bergidik takut. Yang di balas muka acuh Arya. ### " Sialan .... " maki Siska sambil melempar handphone yang tadi ia gunakan ke atas meja dengan kasar. " Kamu gak bisa kayak gini Rama, aku tuh cinta banget sama kamu. Jadi kamu gak bisa buang aku gitu aja ... " teriak Siska murka kepada Rama yang tak juga mengangkat telpon darinya, untung ruangan Siska berada kosong karena masih waktu makan siang. Awalnya Siska berniat untuk menelpon Rama, tapi sudah berkali - kali di hubungi tak kunjung di angkat oleh Rama. Entah sedang apa Rama sampai ia tak menjawab panggilan yang Siska lakukan. " Kalau gue gak bisa milik in lo, maka lo gak bisa juga dengan yang lain ... " Human Siska dengan suara tertahan. ### Sedangkan Rama yang Baru saja selesai dengan kelasnya, segera memeriksa ponsel yang dari tadi terus bergetar. SISKA nama yang dari tadi terus menelponnya tak henti. Sebenarnya sudah beberapa hari ini ia mengabaikan semua telpon yang berasal dari Siska, ia merasa sekarang ia paham dengan apa yang ia rasakan untuk Siska. Bukan cinta ternyata hanya perasaan penasaran dan juga nyaman hanya itu. Sedangkan untuk cinta Camelia lah yang memilikinya. Mungkin ia terkesan bodoh karena dulu tak bisa mengenalinya, tapi sekarang ia sadar dengan apa yang ia rasakan setelah Camelia tak mau lagi, bertemu dengan nya bahkan memutuskan hubungan dengannya. Ia pikir tak masalah selama masih ada siska tapi ternyata itu tak membantu, ia tetap memikirkan Camelia. Tapi sekarang yang awalnya ia pikir Cinta untuk Siska tapi ternyata sekarang tak berasa apa - apa, malahan hambar. Benar - benar tak berasa. Menghembuskan nafas berkali - kali guna mengurangi rasa sakit yang ia rasa, nyatanya tak berkunjung reda malahan tambah sakit dan kosong yang ia rasa. Rama mendudukan dirinya di meja yang telah biasa ia gunakan atau meja miliknya yang ada di ruang dosen, ia menyandarkan tubuhnya lelah. Entah lelah karena apa yang pasti saat ini lahir dan batinya sedang tidak baik. " Pak Rama kenapa sedang tidak 3nak badan ? " tanya salah satu dosen yang sedang berada di ruangan yang sam dengan Rama. Rama yang mendengarnya terkejut kaget, karena tak menyadari kalau bukan hanya dirinya yang berada di ruangan tersebut. " Ah .. Tidak pak, saya hanya sedang memikirkan mahasiswa saya yang akan bimbingan saja.. " ucap Rama menyangkal pernyataan dari sesama rekan kerjanya itu. " Oh kira in saya lagi sakit, soalnya dari tadi saya panggil pak Rama tidak merespon ... " ucap rekannya itu dengan rasa tak enak. " Ini pak saya hanya ingin memberikan surat pengumuman yang saya dapat dari pak dekan tadi, katanya nanti akan di bahas saat rapat " ucapnya seraya menyerahkan kertas putih pada Rama lalu undur diri pada Rama. " Kalau begitu saya ke kelas dulu pak ... mari " pamitnya undur diri meninggalkan Rama ,setelah mengucapkan terima kasih . Rama menghembuskan nafas supaya bisa berkonsentrasi , sebab akan tidak bagus kalau kinerjanya menurun sebab ia tak fokus dalam mengajar, karena masalah yang sedang ia hadapi. " Aku harus secepatnya menyelesaikan semuanya supaya cepat selesai. " tekad Rama pada dirinya sendiri. " Kita Akan bersama lagi Lia ... Kamu selamanya milik aku. " Gumam Rama dalam hati. by Cha88. Terima kasih sudah mampir jangan lupa tekan ♥️ ya makasih.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN