episode 24.

1251 Kata
" Selamat siang mbak Win... " suara sapaan terdengar oleh gadis manis yang sedang duduk di meja kerjanya. " Siang juga Lia.., di bilang in kalau manggil itu yang komplit Lia... WINA bukan Win... " Omel Wina dengan bibir cemberut pada gadis yang ternyata Camelia. " He he he... Sama saja lah , biar akrab gitu mbak.. " tak merasa bersalah Camelia menjawab dengan senyum lebarnya. Sedangkan Wina hanya bisa pasrah, karena bosan dengan jawaban yang ia dengar dari gadis di depannya itu. " Masuk saja sana, si bos ada ko di dalam Seperti biasakan ? " Wina bertanya setelah melihat tempat makanan yang di pegang Camelia. " Ya biasa mbak.. " jawab Camelia dengan mengangkat makanan yang ia bawa tinggi - tinggi. " Oke deh sip... Saya juga mau makan.. Lapar, kasian dah pada demo di dalam.. " ucap Wina seraya memegang perutnya, yang memang sudah sangat lapar. " Ha ha ha .. oke deh mbak, saya masuk ya mbak. Nanti si bos pingsan lagi " canda Camelia dengan wajah di buat khawatir pada sekertaris Arya itu. Camelia melangkahkan kakinya ke dalam ruangan yang ada di depannya, sudah hampir seminggu setiap siang ia akan datang membawa makanan yang akan ia makan bersama dengan Arya. Terkadang ia masih kesal dengan kejadian yang terjadi malam itu, kejadian yang mau tidak mau harus ia lakukan walau pun terpaksa .Ia masih mengingat apa yang terjadi malam itu. " Semuanya tidak gratis cabe.. tapi... " ucap Arya dengan menjeda kalimatnya. " Tapi mulai besok kamu harus dan wajib makan siang sama saya selama satu bulan penuh.. " ucapnya dengan menampilkan seringai yang menjengkelkan baginya saat itu. " TIDAK... " ucap Camelia kaget saat itu. Ia tak terima tentu saja, siapa yang mau makan siang dengan bos nyebelin kayak Arya begitu. Walau pun ia tampan tapi sifat jahilnya itu sangat membuat ia menjadi darah tinggi. Berbagai penolakan ia berikan untuk membatalkan niat bos g**a nya itu, tapi di tolak mentah - mentah. Ia malah berkata kalau Camelia tidak mau makan siang bersamanya setiap makan sinaga, maka ia sendiri yang akan menjemputnya. Camelia tentu saja bingung, bagimana kalau ada orang kantor yang mengetahui dirinya makan siang bersama Arya, wah bisa gawat dan jadi bahan ghibah. Dan tentu saja dua temannya itu akan menginterogasi dirinya. Bisa - bisa dia di bejek - bejek, karena gak bilang - bilang kenal dengan Arya bos mereka itu. Dan setelah ia berjuang tawar menawar dengan Arya, hingga tetes darah penghabisan akhirnya ia di izin kan mengganti BAYARAN yang di pinta oleh Arya, dengan ia harus membawa dan mengantarkan makan siang untuknya dan tentu saja ia harus menemaninya juga. Kurang asem memang bosnya itu, mentang - mentang punya jabatan, seenaknya saja nyuruh - nyuruh, dan untungnya ia diperbolehkan membeli makanan tidak harus memasak juga,. Kembali ke keadaan sekarang, Camelia menghembuskan nafasnya supaya menormalkan wajahnya dan mencoba memperbanyak stok standarnya dulu, sebelum bertemu dengan Arya. Setelah di rasa cukup, Ia mulai mengangkat tangannya mencoba untuk mengetuk pintu besar yang ada di depannya itu. Tok tok tok. Camelia mengetuk pintu tersebut, dan setelah mendapat jawaban dari yang mempunyai ruangan. Ia menggerakan gagang pintu supaya pintu terbuka. Perlahan pintu terbuka menampakan Arya yang sedang fokus pada berkas - berkas yang ada di meja kerjanya. Ia sibuk membolak - balikan kertas tersebut, ia tak boleh ceroboh sebab banyak orang menggantungkan hidup dari perusahaan orangtuanya ini. Melirik sebentar untuk melihat siapa yang datang, Arya berkata tanpa mengalihkan mata dari berkas yang sedang ia baca. " Duduk dulu Cabe, saya belum selesai " Camelia yang mendengar Arya memanggil cabe menggerutu kesal. " Cabe ... cabe dia pikir gue nih cabe rawit apa ? " mulut Camelia misuh - misuh, lantaran kesal. Sedangkan Arya yang mendengarnya hanya mengangkat bahu acuh tak acuh. " Dah jangan ngomel. Duduk atau mau saya pangku? sini - sini duduk di sini.. " ucap Arya yang mulai menggoda Camelia, sambil tangannya menepuk - beluk pahanya seraya menaik turunkan alisnya. Camelia yang mendengar itu memelototkan matanya marah, mendengar ucapan Arya tadi. " Kenapa itu matanya pake melotot, tebakan saya bener ya? Kamu mau di pangku saya..?. " Arya belom bosan menggoda Camelia. Entahlah Arya tak mengerti ia sangat suka ketika melihat Camelia merasa jengkel pada dirinya, ekspresinya itu menggemaskan menurut Arya. " Buruan deh ah mau makan siang gak sih nih...? " Camelia mulai merasa jengah dengan kelakuan Arya yang suka mengusilinya itu. " Oke deh ayo... Gak sabar ya pengen makan bareng orang ganteng ? " Goda Arya sambil beranjak dari kursi kebesarannya, menuju sofa yang sedang di duduki Camelia. " Tapi saya beli Riceball ya pak, soalnya lagi ada promo lumayan diskon..." ucap Camelia dengan cengiran yang ia tunjukan. " Dasar cewek dengar diskon seneng banget. " ucap Arya sambil menerima kotak Riceball yang di berikan Camelia. Lumayan komplit isinya ada ayam si air, capcay dan dambel goreng ati. " Lumayan " batin Arya, makanannya terlihat lezat. Brak... Pintu yang di buka kencang mengagetkan Arya dan Camelia yang baru saja akan memulai makan. " Astagfirulollah.." " K*****t ... " Ucap Arya dan Camelia bersamaan, sedangkan si pelaku menatap keduanya kaget sekaligus tak percaya. " Toni... Lo mau gue pecat hah.. Dasar asisten gak ada ahlak.. " teriak Arya marah, lantaran ia terkejut mendengar bunyi pintu yang di buka dengan keras. Toni yang mendengar teriakan Arya pun tersadar dari rasa kagetnya melihat pemandangan yang ada di depannya. Bagaimana tak terkejut melihat Camelia si cewek judes berada di ruangan bos sekaligus sahabatnya itu. Tapi tak lama senyum misterius muncul di bibirnya, dengan ekspresi wajah yang menampilkan perasaan tak enak untuk siapa pun yang melihat. " Ho ho ho.... Apa ada yang gue lewatkan ketika gue pergi ?" tanya Toni dengan ekspresi menjengkelkan bagi keduanya. " Diem deh lo.. " Camelia memelototkan matanya ke arah Toni lantaran jengkel. Sedangkan Arya seakan tak peduli dia malahan asik dengan ricebaall yang tadi di bawakan Camelia. " Eh eh eh.. Lo gak sopan ya sama gue, gue ini asistennya Arya lo, jadi jabatan gue lebih tinggi dari lo... Mengerti " balas Toni jumawa. " ASISTEN lo denger ASISTEN... " ucap Toni menegaskan kata asisten pada Camelia. Camelia yang mendengarnya hanya memutar matanya malas, " bodo amat, emang gue peduli.. " ucapnya tak acuh. Arya yang mulai jengah pun memandang Toni tajam.. "Lo mau apa ke sini? " tanya Arya tak sabar, sambil tangannya membukakan kotak riceball punya Camelia dan memberikannya pada Camelia. " Makan... " ucap Arya tegas, supaya Camelia tidak membalas ucapan Toni ucapan Toni lagi. Kemudian pandangannya beralih pada Toni. " Lo belum jawab pertanyaan gue Ton ? mau apa lo kesini ? " tanya Arya lagi karena tidak mendapat jawaban dari Toni. Toni yang mendengarnya menghampiri Arya dan mendudukan pantatnya di sofa singel samping Arya. " Tadinya gue mau nyerahin laporan yang gue dapat dari kantor cabang yang ada di Bandung, sekalian mau ngajakin lo makan siang.. Eh tapi tahunya lo lagi makan siang masa si judes... " ucap Toni dengan nada meledek di akhir kalimatnya. " Judes ..... Judes ... mang kalau gue judes apa masalahnya buat lo ? " Camelia mendelik judes pada Toni, seraya membereskan sisa makannya dan Arya untuk di buang ke tempat sampah. Baru saja Toni akan menjawab, Camelia lebih dulu beranjak pergi. " Sudah kan pak Arya.. saya males ketemu orang kurang satu kilo bisa - bisa saya stres mau balik saja, lagian kan sudah selesai makannya. Bye... " Camelia pergi setelah mengucapkan itu pada Arya dengan wajah kesal. by Cha88. Terima kasih sudah mampir jangan lupa tekan ♥️ ya makasih.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN