Cahaya jingga menemani perjalanan pulang Camelia bersama rombongan sang ayah. Camelia berdecak kagum melihat pemandangan yang ada di depannya, pe.pandangan yang tak pernah ia dapat saat berada di kota besar tempat tinggalnya.
Camelia berjalan dengan kamera yang berada di tangannya ,ia berniat untuk mengambil beberapa gambar yang menurut ia bagus,.Tak henti - hentinya ia mengeluarkan kata " wow ,indahnya, menakjubkan" . Itulah kata - kata yang keluar dari mulut mungil gadis itu.
Camelia tidak menyadari kalau sedari tadi ada dua pasang mata yang memperhatikannya, dengan pikiran yang berbeda - beda.
"Ar.. Menurut loe dia jomblo apa punya pacar ? " pertanyaan itu Toni tunjukan untuk Arya.
" Emang kenapa kalau dia jomblo ? " tanya Arya memicingkan mata menatap Toni curiga.
Melihat respon Arya yang mencurigakan, Toni lanjut berkata " Ya siapa tau dia mau sama gue, lagian juga gue gak nolak kok. Dari pada sama Maya gue di gantung mulu dah kayak jemuran aja gue " pancing Toni yang ingin melihat respon Arya lagi.
Arya yang melihat itu langsung menatap tajam Toni " Enak saja gak boleh, gue gak biarin loe deketin tuh cewek.!! " ucap Arya spontan, sambil berkacak pinggang.
" Ha ha ha .." Toni yang sejak awal memang berniat mengerjai temannya sangat puas dengan jawaban yang di berikan oleh Arya, ia masih tertawa melihat respon sang sahabat.
" Akhirnya ya Tuhan ... Sahabat gue dah move on gak galau - galau lagi " tawa bahagia Toni menyadarkan Arya atas ucapannya tadi.
" Gak tuh biasa aja, gue cuman gak mau aja ia di permainkan buaya rawa kayak loe aja ." kilah Arya ,mencoba menyangkal apa yang di ucapkan ia tadi.
Ia juga mengutuk mulut s****n yang malah mengeluarkan kata - kata itu secara tidak sadar.
" Alah lagu loe, gak mau ngaku.. ntar di ambil orang nyesel loe " tambah Toni bermaksud memanasi sang sahabat.
" Terserah " ucapan Arya sambil berlalu. Ia berjalan mendekati Camelia yang masih asik dengan kamera dan ponselnya untuk mengambil gambar.
" Mulut loe bisa ngomong begitu Ar.. Tapi hati loe berkata lain, semoga loe bisa cepet melupakan cewek s****n yang udah hianatin loe. " ucapnya sambil tersenyum. Lalu mengikuti langkah Arya yang mendekati Camelia.
" Sini gue foto in, " ucap suara yang mengagetkan Camelia, yang sedang serius mengambil gambar.
Camelia berbalik ke belakang untuk melihat suara siapa yang mengagetkannya. Setelah tahu ia memasang muka galak untuk orang yang sudah ada di belakangnya itu.
" Ngapain loe ganggu aja ," jawab galak Camelia pada cowok yang ada di depannya.
Arya bukannya marah karena mendapat jawaban galak dari Camelia, malah terkekeh geli mendengar nada suara galak Camelia.
Arya tidak menjawab tapi malah mendekati Camelia yang masih melihat judes pada Arya. Setelah sampai di depan Camelia ia malah melipat tangannya di d**a, seolah menantang Camelia.
Karena tidak mendapatkan tanggapan dari Camelia, ia pun sedikit menunduk untuk berbisik di depan wajah Camelia.
" Jangan galak - galak nanti suka lho " ucap Arya, sambil mengedipkan sebelah matanya pada Camelia, lalu menegakkan kembali tubuhnya.
Camelia yang mendengarnya pun memelototkan matanya karena kaget, ia terkejut atas tindakan Arya .
" Dasar Jerapah.. Amit - amit gue suka sama loe " ucap Camelia sambil tangannya mengetuk ketukan tangannya ke kepala , sambil bergidik ngeri.
" Denger ya Jerapah, gue gak akan suka sama loe " ucap Camelia sambil pergi dengan menghentak - hentakan kakinya ,karena kesal.
Sedangkan Arya masih mencerna kata Jerapah yang di katakan Camelia. Jerapah siapa, apa yang di maksud Jerapah itu ia. Arya seperti orang bodoh tersenyum - senyum sendiri begitu mengerti dengan panggilan Camelia padanya.
" Ciee Ciee Ciee ... yang dapat panggilan baru, Jerapah romantisnya " ledek Toni sengaja untuk menggoda Arya.
Arya yang biasanya akan memasang wajah datar, kali ini ia tersenyum malu - malu yang menurut Toni sangat menggelikan.
" Geli b*****t gak pake senyum - senyum juga kali, kayak anak perawan mau malam pertama aja loe " ucap Toni lagi yang merasa geli akan sikap Arya.
Sedangkan Arya ia bodo amat, tidak mendengarkan apa yang di ucapkan Toni, karena sedang merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya.
Sepanjang perjalanan pulang Camelia memasang wajah masam, bahkan sang ayah merasa bingung. Padahal tadi ketika mereka akan turun gunung, dia sangat bersemangat.
" Apa yang terjadi pada anak gadisnya ini? " batin Beni sang ayah.
" Kamu kenapa sayang? Kok dari tadi cemberut terus ?" tanya Beni karena sudah tidak tahan dengan sikap diam Camelia.
Camelia yang mendengar pertanyaan sang ayah hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum untuk jawab pertanyaan Beni. Ia mencoba menutup matanya yang tak mengantuk, supaya ayahnya tidak bertanya lagi.
Beni yang melihat putrinya yang menutup mata jadi berpikir putrinya itu mengantuk pikirnya.
###
Rama dan Siska baru saja sampai di depan gerbang rumah siska, Rama menghentikan mobilnya di luar pagar rumah, supaya bisa langsung pulang.
Ia merasa sangat lelah setelah pergi ke bioskop dan makan malam dengan siska.
" Makasih sayang, aku seneng banget hari ini. Akhirnya kita bisa jalan tanpa merasa cemas lagi.. " ucap Siska sambil memeluk Rama.
Rama yang mendengarnya kata " Cemas " yang di ucapkan siska pun tau maksud dari kata itu, tapi ia tak mengatakan apa pun selain tersenyum, dan membalas pelukan yang Siska berikan padanya.
" Aku turun ya, takut orang rumah khawatir terus nyariin.. !!" ucap Siska lagi.
" Oke, mimpi indah " Rama berusaha bersikap biasa seperti yang biasa ia lakukan.
" Kamu hati - hati ya.. Jangan ngebut bawa mobilnya.. " kata Siska mengingatkan sambil mencium sebelah pipi Rama, sebelum membuka pintu mobil untuk turun.
Tapi bersamaan dengan itu, dari arah depan mobil yang di naiki Camelia dan sang ayah Juga sampai bahkan melewati dan melihat mobil yang berisi Rama dan Siska, begitu keduanya yang melihat dengan jelas siapa yang ada di dalam mobil itu.
Beni terkejut melihat Siska mencium pipi Rama, yang di ketahui Beni sebagai kekasih putri bungsunya, bukan putri sulungnya. Beni merasa ada sesuatu yang aneh terjadi, dan melirik sang putri bungsu yang hanya menampilkan raut wajah sendu.
Rama dan Siska yang masih kaget bingung harus melakukan apa. Sedangkan Camelia yang melihat hal itu, hanya menatap datar kemudian mengalihkan pandangannya kearah depan.
Mobil Beni berhenti setelah di halaman rumah. Camelia yang turun terlebih dahulu, pamit pada sang ayah untuk masuk lebih dulu.
" Ayah lia masuk duluan ya, ngantuk plus capek banget nih.. ?" ucap lia dengan nada yang tidak semangat.
" Iya sayang istirahat lah, kamu pasti capek.. lagian besok kamu kerja kan.. ?" ucap Beni, yang di balas anggukan kepala oleh Camelia.
Siska yang melihat sang ayah seperti menunggunya langsung bergegas keluar untuk menemui sang ayah. Rama yang berniat turun di cegah Siska.
" Kamu pulang aja ya.. Biar aku yang bicara sama ayah.. " ucap siska. Rama yang berniat akan turun mengurungkan niatnya ketika mendengar ucapan siska.
" Baiklah aku pulang dulu ya.. kalau ada apa - apa hubungi aku, oke !!" kata Rama yang di balas anggukan semangat oleh siska.
by cha88.