Setelah ku pikir-pikir, aku berniat menelepon Mas Eric untuk kesini dan menyaksikan langsung semua ini, agar ke depannya aku tidak dituduh menfitnah Mira sembarangan.
Aku gegas mengambil phone dan menelepon Mas Eric.
Tiiittttt...... Tiiittttt.... Tiiittttt
Syukurlah ponsel Mas Eric langsung berdering,
"Hallo Mas, bisa jemput aku di Hotel Gr*nd M*ti*ra ngak ?" tanyaku
"Loh Mama ngapain kesana? Bukannya tadi Mama mau belanja yah? Kok Mama malah dihotel? " aku ditanyai Mas Eric dengan berbagai pertanyaan
Sepertinya Mas Eric agak terkejut saat mendengar aku minta dijemput diHotel ini. Karena sebagai seorang Aparat Kepolisian sudah pasti ia mengetahui seluk beluk Hotel ini.
"Ceritanya panjang Pa, makanya Papa kesini dulu sekalian jemput Mama disini, biar nanti Papa tau sendiri bagaimana ceritanya sampai Mama disini" ucapku
"Oke Papa kesana juga sekarang. Mama hati-hati disana ya" ucap Mas Eric sedikit cemas
"Ia Pa, Mama tunggu. Papa juga hati-hati ya, sampai ketemu Pa" ucapku sambil mematikan telepon
*****
Tak terasa 20 menit kemudian Mas Eric datang dengan wajah penuh kecemasan.
"Gimana Ma? Mama ngak apa-apa kan? "tanya Mas Eric sambil memegang kedua pundakku
"Mama ngak apa-apa kok Pa. Sebelumnya Mama minta maaf karena ngak cerita sama Papa. Tadi itu Mama ngikutin Mira, soalnya kemarin Mama dengar dia telepon dan janjian sama seseorang yang dia panggil Om. Dan tadi waktu Mama ikutin mereka malah menuju kesini dan sekarang mereka dilantai 2 kamar nomor 221. Mama curiga makanya Mama ngajak Papa kesini biar Papa juga bisa tau semua nya sendiri" ucapku seraya menjelaskan semuanya
Kulihat Mas Eric sepertinya syok mendengar penjelasan ku. Dia terlihat bingung dan cemas sampai tak bisa berkata apapun. Pasti dalam pikiran nya pun diliputi banyak tanda tanya yang tak habisnya. Mas Eric langsung mengiyakan dan langsung mengajakku menuju lantai 2. Sebelum itu, Mas Eric meminta kunci cadangan kamar itu agar bisa langsung dibuka sendiri nantinya.
Setelah mendapatkan kunci cadangan dari resepsionis, aku dan Mas Eric langsung menuju lift. Saat pintu lift terbuka, kami langsung masuk dan aku segera menekan angka 2 untuk menuju kamar yang telah diinformasikan resepsionis.
Tringggg.....
Lift pun terbuka, aku menggenggam kuat tangan Mas Eric, begitu pula Mas Eric. Kami menelusuri lolong Hotel dan mencari kamar 221. Saat kami tiba didepan kamar tersebut, Mas Eric langsung menancapkan kunci cadangan tersebut dan.....
Krekkkkk.... Pintu pun terbuka.
Dengan mata kepala kami menyaksikan langsung apa yang Mira perbuat dalam kamar ini..... Sebuah adegan dewasa yang tak seharusnya ia lakukan diusianya yang masih dini, ia sedang bergumul tanpa menggunakan sehelai benang pada tubuhnya dengan pria tua yang seumuran dengan Mas Eric.
Luruh sudah kepercayaan ku pada Mira selama ini. Tak terasa air mataku lolos begitu saja, kurang apa kasih sayang yang ku berikan padanya? Padahal ia bukan anak kandung ku. Kulihat wajah Mas Eric memerah seperti menahan emosi yang luar biasanya. Begitu pula Mira yang langsung menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya, sedangkan lelaki tua itu langsung cepat-cepat menggunakan celananya.
Mas Eric langsung berjalan menuju lelaki tua itu dan....
Bughh... Bughh... Bughh...
Tiga pukulan mendarat mulus di wajah lelaki itu. Kulihat darah segar mengalir dari sudut bibirnya.
"B*ngs*t!! Kep*r*t kau!! Apa yang kau lakukan pada keponakan ku ? Hahhh? "ucap Mas Eric lantang dengan penuh amarah yang memuncak
Aku hanya bisa berdiri mematung seakan bingung hendak berbuat apa. Kenapa Mira tega menyakiti hati kami terutama Mas Eric yang begitu menyayangi nya layaknya anak kandungnya? Sejak kapan ia melakukan semua ini? Dan untuk apa juga ia melakukan ini? Ya Tuhan.... Hatiku remuk bagaikan dihantam beban yang begitu amat berat.
Kulihat Mas Eric masih dengan amarah nya memukuli lelaki itu tanpa ada perlawanan . Kulihat juga Mira hanya bisa memeluk lututnya sambil menangis sesegukan dengan bahu yang tergoncang.
Menyesal kah ia? Takut kah ia? Untuk apa? Tidak kah ia berpikir sebelum melakukan semua ini? Dimana letak harga dirinya sebagai seorang perempuan? Tidak kah ia berpikir bagaimana tanggapan Mas Ady dan Mbak Tety saat tau anak perempuan nya berbuat demikian? Menyesal pun tak ada gunanya lagi, ibarat kata "Nasi sudah menjadi Bubur"
Setelah puas memukuli lelaki itu, Mas Eric berjalan menuju Mira dan memungut pakaian Mira dan melempar ke arah Mira ditepi ranjang.
"Cepat pakai pakaian mu atau ku seret kau keluar tanpa menggunakan pakaian " perintah Mas Eric lantang pada Mira yang masih menangis sesegukan
Mira lekas mengambil pakaian nya dan berlari ke kamar mandi sambil menggunakan selimut pada tubuhnya.
Tak lama kemudian, 2 orang satpam masuk ke kamar ini. Mas Eric langsung memerintahkan mereka agar segera menyeret keluar lelaki tua itu.
Aku berjalan menuju Mas Eric, dan berniat menenangkan Mas Eric.
"Sudah Mas, semua sudah terjadi. Mama juga ngak nyangka Mira bisa berbuat sejauh dan setega ini" ucapku menenangkan Mas Eric
Mas Eric hanya bisa tertunduk dan diam sambil meremas rambutnya. Terdengar tarikan napas panjang berulang kali dari mulut nya
"Apa yang akan Papa katakan pada Mas Ady, Ma ? Apalagi Mbak Tety yang begitu berharap agar Mira bisa sekolah dengan baik disini" ucap Mas Eric mengeluarkan unek-unek nya
"Kita pulang dan selesaikan ini semua dengan kepala dingin. Jangan gegabah dan kebawah emosi, berdoa Pa biar semua baik-baik saja" ucapku
Mas Eric hanya bisa terdiam dan bahunya tergoncang , sepertinya ia sedang menangis.
Tak lama Mira keluar dengan mata nya yang sembab dan rambut yang amburadul. Sambil tertunduk dan meremas ujung bajunya ia berjalan mengambil tas nya di atas nakas.
"Ayo Pa, kita pulang yah" ajak ku
Aku menggenggam jemari Mas Eric sambil melangkah keluar dari kamar ini. Sesampai di pintu, Mas Eric berbalik dan melihat Mira yang masih berdiri mematung didekat ranjang.
"Kamu mau pulang atau masih menunggu lelaki b*jing*an itu? " ucap Mas Eric memelototi Mira
Terlihat Mira yang ketakutan langsung berjalan pelan dan mengikuti kami untuk pulang...
*****
Sepanjang perjalanan, kami semua diam dengan masing-masing pikiran kami.
Setibanya dirumah Mas Eric lekas membuka pintu. Mas Eric masuk terlebih dahulu dan aku mengikuti dari belakang Mas Eric, dan saat Mira masuk.....
Plakkk.... Plakkk....
Dua tamparan keras mendatar mulus di pipi Mira sampai meninggal kan jejak jari-jari Mas Eric. Mira hanya bisa memegangi pipinya yang memerah sambil menangis. Saat Mas Eric mau menampar nya lagi, aku langsung menghalangi.