24 "Aku nggak ngelarang kamu buat ketemu Nadia, tapi harusnya kamu ngomong dulu ke aku. Sesuai perjanjian kita!" tegas Imran untuk kesekian kalinya. Dia lelah terus berdebat dengan perempuan bergaun biru, yang tengah memandanginya dengan tajam. "Aku mamanya!" desis Dian. "Ya, itu nggak bisa dipungkiri lagi. Tapi, kalau ngerasa sebagai Mama, kemarin-kemarin, kamu ke mana aja?" "Aku sibuk." Imran berdecih. "Saking sibuknya, jangankan datang, nelepon seminggu sekali pun nggak. Apa kamu nggak punya pulsa?" "Aku memang salah, dan sekarang aku baru sadar jika aku membutuhkan Nadia." "Baguslah kalau begitu." "Makanya, Mas harus ngizinin aku ketemu dia." Imran melirik kaca depan rumah ibunya di mana gadis kecil berbando merah tengah mengintip. "Aku tanyakan lagi ke Nadia. Tadi dia

