“Non Dewi, hati-hati!” Aku terpaku di tengah jalan raya, ketika secara tiba-tiba seseorang mengangkat dan membuatku berpindah tempat. Kemudian sebuah truk melintas cepat melindas tempatku berdiri beberapa detik yang lalu. “Lain kali kalau mau nyeberang lihat kanan kiri dulu ya, Non.” Seorang wanita, yang tidak bisa kulihat wajahnya berkata khawatir, memelukku dengan sangat erat. Saat mencoba melihat wajah wanita itu, aku terbangun dan menyadari apa yang terjadi barusan hanya sebuah mimpi. Meski jantungku berdetak kencang dengan napas yang memburu, aku tetap berbaring sambil mengatur napas, menunggu terjaga sepenuhnya. Kemudian bangkit dari ranjangku yang nyaman dan menuju toilet, aku butuh mencuci muka, menyegarkan wajah dan pikiranku dengan air dingin. Sejak bertemu dengan Tante Monic

