Mendadak aku merasa muak mendengar ucapan Bram, membuat tanganku terkepal menahan gejolak amarah yang tiba-tiba muncul. “Apa maumu sebenarnya, Bram?” ketusku. “Asal kamu tahu aku bukan lagi Dewi yang dulu, yang dengan seenaknya bisa kamu permainkan. Jangan pernah coba-coba mendekatiku lagi!” Lalu kuputuskan panggilan telepon dan langsung mematikan ponselku. Aku tidak mau perasaanku terganggu karena ulah pria berengsek itu. Rasa sesak dan nyeri yang tadi sempat kurasakan masih tertinggal. Aku menekan d**a, menarik napas panjang-panjang dan mencoba mengembuskannya secara perlahan. Rasanya sakit sekali jika ingat kejadian-kejadian di masa laluku. Dan bodohnya, aku baru merasakan hal itu sekarang. Cinta membuatku buta, terus mendamba pria yang tidak pernah menganggapku. Apa pun yang sudah

