Sudah lama sekali aku tidak bermimpi, entah mulai sejak kapan. Tapi malam ini sebuah memori di masa lalu menghampiriku dalam bentuk mimpi. Memori yang selama belasan tahun berusaha aku lupakan. “Dewi mohon jangan pergi, Pa … paling nggak tunggu sampai Dewi selesai UAS,” mohonku pada pria tua yang sangat aku sayangi. Papa tersenyum, dia mengelusku yang sedang bergelayut di bahunya. “Papa dan Mama juga nggak ingin pergi, Sayang. Tapi kamu kan tahu Papa sama Mama nggak boleh mengabaikan urusan pekerjaan.” Aku merengut. “Sebenarnya kan Papa bisa pergi sendiri, atau pergi sama Om Adhi. Biar Mama di sini saja nemenin Dewi,” protesku. “Wah, bisa kurus nanti Papa sepulang dari Jepang,” gurau Mama sambil menarik hidungku. Bibirku bertambah maju mendengarnya. Mama sangat menyayangi Papa, meski

