Pintu kantorku diketuk dari luar saat aku baru saja mematikan laptop untuk bersiap pulang. “Ya, masuk!” seruku mempersilakan. Pintu terbuka perlahan. Aku tersenyum ketika melihat Aldebaran mendekati meja kerjaku. “Maaf mengganggu, Bu,” ujarnya sopan seperti biasa. “Ya, Al. Ada apa?” “Maaf jika saya lancang, tapi saya dan ibu saya ingin mengundang Anda makan siang besok.” Keningku berkerut. “Makan siang?” “Tentu saja jika Bu Dewi tidak keberatan,” sambungnya cepat-cepat. “Oh, tentu saja nggak,” jawabku sambil tersenyum. “Aku cuma bertanya-tanya ada acara apa di rumah kalian?” “Tidak ada acara apa-apa, Bu. Ibu saya hanya ingin berterima kasih pada Bu Dewi karena sudah memberikan kesempatan pada saya,” ucapnya tertunduk sungkan. “Astaga, Aldebaran. Itu bukan apa-apa, sungguh. Aku ma

