Kafe yang kami kunjungi tidak terlalu ramai, aku bahkan tidak pernah tahu ada tempat seperti ini di daerah sini, padahal letaknya termasuk dekat dari kantorku. “Gimana? Nggak buruk kan?” Leon mengerling. Aku hanya mengangkat sebelah alis sambil melihat sekeliling. Jauh dari kata buruk, tempat ini justru sangat nyaman dan menyenangkan. Ya, pria yang sedang duduk di depankulah yang menyeretku ke sini, memaksa untuk bersantai sebentar setelah menyelesaikan latihanku. Dilihat dari bentuknya, kafe ini terlihat seperti kios-kios pada umumnya, terletak di pinggir trotoar dan berdempetan dengan kios lainnya. Namun pemilik kafe memberikan ciri khas yang membuatnya tampak berbeda, sebuah kanopi minimalis berwarna hitam dengan sentuhan putih pada tepiannya yang melengkung, menghias bagian muka kaf

