Leon … aku tidak bisa menggambarkan tentang dia saat ini, dia sangat berantakan, wajahnya kuyu dan pandangannya suram. Namun saat aku membuka pintu, aku melihat sepercik rasa senang di matanya. “H-hai,” sapanya gugup, sama sekali seperti bukan Leon yang penuh percaya diri. “Aku membawakanmu makanan,” katanya menyodorkan piring di tangannya. Nasi goreng daging dengan toping telur mata sapi setengah matang. Pria itu mengingat dengan jelas makanan kesukaanku. “Aku nggak lapar!” “Boleh aku masuk?” pintanya memohon. Aku menggeser tubuhku ke samping sedikit. “Kamu sudah membuka jendela? Baguslah. Udara cukup segar untuk dilewatkan,” gumamnya sambil melangkah masuk. Meletakkan piring nasi goreng di atas meja rias, kemudian menghampiri jendela. Berdiri membelakangiku. “Ada yang harus aku

