Harum parfum semerbak tercium di dalam toilet. Maudy yang menyemprotkan ke tubuhnya agar dia lebih percaya diri saat berhadapan dengan Uwais. "Maaf ya, Mbak Elvina. Hati Pak Uwais itu kayaknya keras, jadi aku harus buat sedikit meleleh agar dia gak marah-marah mulu sama aku," gumam Maudy di depan kaca besar di dalam toilet tersebut. Wanita itu benar-benar menanggapi dengan serius saran dari rekan kerjanya untuk membuat Uwais menaruh hati padanya. Tidak ada maksud lain, dia hanya takut dipecat. Tetapi kepolosannya malah membuatnya mengikuti saran tersebut. "Yang terakhir, lipstick." Dipakai lipstick di bibirnya. Lalu dia merapatkan bibir atas dan bawahnya untuk meratakan warna lipstick yang baru dipakainya. "Selesai!" serunya. Maudy memasukkan parfum dan lipstick ke dalam pouch yang bi

