Ruben memandangi Amira yang sudah ditangani dokter Djarot, dan kini terbaring lemah di bed IGD tidak sadarkan diri. Kedua tangannya menggenggam lembut tangan gadis ini, sesekali diremasnya, bahkan dicium sayang. Entah mengapa kali ini hati sang presdir benar-benar dipenuhi penyesalan, sehingga mencemaskan si nona.
“Maafkan aku, Mira,” pelan terdengar suaranya yang untuk kesekian kali minta maaf ke Amira, “Aku janji akan menebus semua kesalahanku ke kamu,” Kembali dia mengatakan berjanji menebus semua kesalahannya ke Amira, “Aku pasti menyembuhkan semua lukamu, membelikanmu motor baru, dan jika memang nenekmu sedang di ICU membutuhkan biaya, maka aku akan mengcover semuanya sampai beliau sehat.”
Pelan Alta masuk ke dalam bilik, di mana dia baru selesai melakukan panggilan telpon ke tangan-tangannya untuk mengerjakan tugas baru dari sang atasan. Kedua mata sang asisten melihat Ruben masih menjaga Amira, di mana si bos masih dirundung penyesalan, kesedihan, dan kecemasan.
Melihat ini, dia ikut merasa menyesal sudah membawa Amira ke dalam pembalasan dendam Ruben tersebut. Amira tidak tahu apa pun mengenai penghinaan yang dilakukan Erika ke Ruben, karena tidak mengenal mereka berdua. Amira hanya gadis sederhana yang bekerja serabutan termasuk menjadi shuttle car driver demi mempertahankan kehidupannya dan sang nenek.
Ruben mulai menyadari kehadiran Alta karena hidungnya mencium wangi parfum yang biasa dipakai sang asisten. Pelan diletakan tangan Amira ke permukaan bed, lantas memutar badannya ke arah asistennya.
“Tuan.” Alta pelan mendekat ke si bos.
“Apa kamu sudah tahu di mana neneknya Amira dirawat?”
“Sudah, tuan.” Sahut Alta, “Di rumah sakit Sentosa, dan nenek beliau dirawat di ICU, menunggu untuk operasi ginjal.”
“Astaga!” Ruben terhenyak mendengar ini, lantas, “Mengapa, mengapa aku merusak gadis malang itu?” dia kembali dipenuhi rasa sesal, “Gadis itu sebenernya berakhlak baik karena berbakti ke neneknya. Lantas dia tidak ada memanfaatkan rasa bersalahku untuk minta ini dan itu, malah menolak janjiku yang pasti bertanggungjawab ke dia.”
Alta hendak bersuara, tapi kedua matanya melihat Amira siuman, cepat dia colek lengan Ruben.
“Tuan, nona siuman.” Diberitahu si bos kalau nona malang itu siuman.
Ruben segera memutar badannya agar menghadap ke Amira, lantas terlihat lega karena gadis itu memang siuman. Cepat dia meraih satu tangan sang gadis, digenggam dengan lembut.
“Syukurlah kamu bangun.”
Amira terlihat bingung, lantas kedua maniknya menyisir ke sekitar, baru kembali memandang Ruben,
“Sepertinya,” terdengar suaranya yang pelan dan lemah, “Aku masih di IGD.” Ujarnya mengenali di mana saat ini berada.
“Memang masih di IGD.” Sahut Ruben pelan mengusap sayang wajah Amira, “Tadi kamu pingsan saat turun dari bed ini karena bersikeras mau menemui nenekmu yang dirawat di ICU.” Diceritakan mengapa sang gadis masih berada di IGD Carter Hospital.
Mendengar sang presdir menyebut neneknya, si nona bergegas bangun dari permukaan bed,
“Andung!” terdengar suaranya yang panik, “Andung, maafkan Mira. Mira segera ke Andung.” Dia pun kembali hendak mencabut infusan dan selang nasal, tapi kembali dicegah Ruben, “Tuan!” pekiknya memandang kesal sang presdir, “Nenekku butuh aku!”
“Aku tahu.” Sahut Ruben dengan suara tenang dan lembut, “Tapi kondisimu saat ini terluka, dan fisikmu lemah. Baiknya kamu berobat dulu sampai stabil, baru menemui nenekmu.”
“Bagaimana bisa kulakukan itu, Tuan?” Amira menghardik sang presdir, yang mana itu hanya bisa dilakukan oleh Bruce kakek tuan muda itu. Jika yang lain melakukan itu, dipastikan akan kena semburan lahar panas pangeran billionaire itu. “Nenekku butuh segera di operasi ginjalnya! Dan aku belum,”
“Belum mendapatkan dana untuk operasi itu?” sela Ruben cepat.
Amira terkaget mendengar ini, dipandang sang presdir, “Dari mana anda tahu itu?”
“Dari mananya tidak penting kujawab.” Sahut sang presdir, “Kamu tenang ya, aku bantu kamu mengatasi masalah itu. Kamu juga tenang, aku kirim orangku untuk menjaga nenekmu.” Dibujuknya Amira dengan tulus, “Ayo sekarang patuh, kamu istirahat.” Dipegang kedua lengan si gadis, hendak dibaringkan kembali ke bed, tapi nona ini memukul kedua tangannya itu, “Amira?!” dia menjadi gregetan ke Amira.
“Jangan sentuh aku!” hardik si nona dengan galak, “Tidak usah pula ikut campur urusan sakit nenekku!” imbuhnya melarang sang presdir mengulurkan bantuan untuk Santi.
Ruben mengamati si nona, benarkah semua kata-kata tadi, atau hanya sekedar basa-basi untuk membuatnya semakin bersalah sehingga bisa dimanfaatkan?
“Kenapa memandangku terus, Tuan?” Amira tersadar diamati sang presdir, lantas, “Ooo, anda pikir perkataan saya pura-pura belaka?” otak cerdasnya menangkap makna tersirat tatapan si tuan muda itu, “Anda pikir saya akan membuat anda terus dihimpit sesal, lantas saya bisa minta apa pun dari anda?”
Ruben terhenyak mendengar ini, kedua maniknya langsung memandangi si gadis. Tidak menyangka gadis itu berotak cerdas, dan punya kemampuan membaca bahasa tubuh lawan bicara.
“Sudahlah,” terdengar suara Amira sambil menghela napas, “Anda wajar mencurigai saya.” Ujarnya, “Tapi saya tidak seperti kecurigaan anda. Pantang bagi saya memanfaatkan rasa bersalah seseorang untuk mendapat keuntungan!” imbuhnya tegas mengatakan siapa dirinya.
Ruben kembali terhenyak, dia tidak menduga sang gadis dengan berani berkata tegas dan tajam ke dia.
Amira tidak memperdulikan kekagetan sang presdir, segera mencabut infusan dan selang nasal, lantas mendorong Ruben menjauh darinya, tapi cepat dihalangi oleh Alta saat dia hendak turun dari bed.
“Minggir!” terdengar hardikannya di mana memandang sang asisten dengan galak, “Minggir! Saya harus segera menemui nenek saya!”
***
Amira dengan kondisi masih terluka akhirnya sampai di rumah sakit tempat Santi dirawat. Dia kemari dengan ojek dari pangkalan yang ada di luar Carter Hospital. Dia pun berangkat dengan berpakaian seragam pasien IGD Carter Hospital.
Sedangkan Ruben tidak menyusulnya, hanya mengutus Senno ajudan pria itu mengikutinya. Sang presdir gengsi untuk terus membujuk nona tersebut, tapi hatinya dipenuhi kecemasan sebab tahu kondisi sang gadis sangat-sangat tidak bagus. Sudah dianiaya, diperkosa, diberhentikan dari tempat kerja, lantas sang nenek dirawat pula di ICU. Jika terjadi sesuatu yang buruk lagi, bagaimana dia bisa tenang?
Setelah mengutus Senno, dia kembali ke penthousenya bersama Alta. Ingin menenangkan diri di sana tanpa Lotta putri tunggalnya yang tinggal di rumah Bruce. Putrinya dimomong si kakek dan Anna adiknya.
Kembali ke Amira, dia berpapasan dengan dokter Harun yang baru keluar dari lift. Sang dokter terkejut melihat gadis ini menggenakan seragam rumah sakit lain, lantas tampak wajah terhias beberapa red borderlines, dan tubuh terseok lemah.
“Mira!” sang dokter segera mencengkram kedua sisi lengan gadis ini, dibawa menjauh dari lift, “Kamu kenapa? Mengapa luka-luka?” ditanya ada apa dengan sang gadis.
“Saya tidak apa-apa, dokter.” Sahut si nona tidak mau mengatakan apa yang terjadi, “Maaf dok, saya mau ke Andung.” Dilepas cengkraman kedua tangan si dokter, tapi pinggangnya ditangkap satu tangan pria itu, “dokter!” rengeknya memandang sang dokter.
dokter Harun tidak menggubris itu, main menggendong tubuh gadis ini, “Kamu diam,” imbuhnya saat sang nona hendak memekik, “Biar aku menolongmu.” Imbuhnya lagi membawa si nona ke IGD.
“dokter!” terdengar suara sang gadis, “Saya mau ke Andung, mengapa membawa ke IGD?”
“Kamu terluka, Mira, maka aku obatin dulu!” sahut si dokter terus membawa Amira ke IGD.
Amira menjadi serba salah karena hari ini bertemu dengan dua pria yang memaksanya untuk menurut. Lantas karena dokter Harun menggendongnya, mengundang perhatian banyak orang, termasuk petugas medis di ground saat ini. Kejadian ini pun dilihat Senno yang berhasil mengikuti si gadis.
***
Ruben yang berada di teras depan kamarnya ditemani Alta menghela napas, karena si asisten baru saja memberikan laporan dari Senno mengenai Amira.
‘Ternyata,’ bisik hatinya, ‘Dia ke rumah sakit menemui pacarnya yang dokter.’ Dia mengambil kesimpulan dari laporan Alta, ‘Mengapa dia berbohong kalau neneknya dirawat di ICU?’
Alta tidak mengamati si bos karena masuk beberapa pesan singkat dari Senno di ponsel.
‘Hais!’ desau hati sang presdir, ‘Mengapa aku perduli sama dia? Dia bohong atau tidak biarkan saja. Dia mau terima bantuanku atau tidak juga terserah dia.’ Dia menjadi kesal ke diri sendiri yang memikirkan Amira yang dinilai keras kepala dan sombong.
Untungnya sang gadis tidak suka menghina orang lain, baik dengan kata atau perbuatan. Sifat ini yang membuat dia menaruh perhatian ke nona malang tersebut.
“Tuan.” Terdengar suara Alta menegur si bos karena sudah selesai menerima semua pesan dari Senno.
“Ternyata,” Ruben malah bicara lain tidak merespon teguran si asisten, “Gadis itu bukan hanya keras kepala, tapi membohongiku.” Entah kenapa dari mulutnya keluar kembali rasa kesalnya akibat mendengar Amira digendong dokter Harun.
“Membohongi anda mengenai apa, tuan?”
“Dia bersikeras meninggalkan IGD Carter Hospital demi membesuk neneknya yang di ICU, tapi kata Senno, dia bertemu dokter tampan. Lantas dokter itu menggendong dia, dibawa ke IGD. Berarti dia ke rumah sakit bukan membesuk neneknya, tapi bertemu pacarnya untuk diobatin.”
Alta menghela napas, “Anda keliru, tuan.” Ujarnya merasa pikiran si bos mengawur.
“Keliru gimana?”
“Tuan, di sana rumah sakit bukan hotel.” Alta mulai memberi jawaban, “Lantas Nona Amira datang ke sana untuk membesuk neneknya. Kemudian di depan lift bertemu dokter itu yang selama ini menangani nenek beliau. Sang dokter mlihat nona berseragam rumah sakit lain dan tubuh terhias red borderlines, sudah tentu spontan saja menggendong nona untuk segera diberi pertolongan.”
Ruben menyimak semua penjelasan tersebut, lantas memandang Alta ingin menegaskan benarkah semua itu?
“Tuan, dokter itu bukan pacar Nona Amira.” Alta memberi jawaban seolah paham si bos minta kepastian apakah dokter yang menggendong Amira adalah pacar si gadis atau bukan.
Tuan presdir terkesiap, kemudian menghela napas,
“Pacar dia atau tidak, apa perduliku?” ujarnya singkat sambil mengalihkan pandangan ke depan.
Alta tidak berkomentar hanya mengamati si bos, merasa ada yang aneh dalam diri atasannya ini. Dia merasa atasanya cemburu, bukan kesal. Apa mungkin sang presdir terpicut ke sang gadis?