Di dalam ICU rumah sakit Sentosa, di salah satu bed, tampak Santi terbaring lemah, di mana dibeberapa tubuhnya terpasang alat medis. Perlahan perempuan itu terbangun dari tidur, lantas telinganya mendengar suara Amira menyapanya.
“Andung.”
Kedua maniknya yang berwarna kecoklatan langsung mencari sosok sang cucu. Saat menemukannya, dia terkesiap, karena tampak di wajah cucunya beberapa red borderlines. Beruntung saat ini sang cucu sudah berganti pakaian dengan dress terusan. Dokter Harun yang membelikan melalui tangan Suster Ida asisten sang dokter.
“Mira,” terdengar suaranya yang bernada cemas, “Kamu kenapa, nak? Mengapa wajahmu ada luka?” diulurkan satu tangannya agar menyentuh wajah cantik sang cucu seperti dia waktu muda.
Amira cepat meraih tangan itu, digenggamnya sambil memasang senyum manis ke sang nenek.
“Mira tidak apa-apa, Andung.”
“Tidak apa-apa gimana? Wajahmu ada luka, nak.”
“Ooo ini,” Amira memutar otak cerdasnya agar bisa memberi jawaban yang tidak menambah kecemasan sang nenek, “Tadi Mira kurang berhati-hati mengemudikan motor saat menuju kemari.” Ujarnya tidak mengatakan dianiaya Ruben, “Motor Mira disrempet mobil, hingga jatuh ke bahu jalan.”
Dokter Harun yang menemani gadis ini menghela napas. Dia tahu luka di badan Amira adalah luka cambukan, bukan luka akibat kecelakaan kendaraan di jalan raya. Dia sempat bertanya mengapa ada luka-luka itu, siapa yang menganiaya si gadis. Tapi Amira mengatakan dia kecelakaan saja, karena gadis itu tidak mau urusan pribadinya yang dianiaya dan diperkosa Ruben diketahui orang.
Santi mendengar jawaban Amira menghela napas. Dia tahu sang cucu mengarang cerita, karena mengenali luka di wajah itu bukan luka karena jatuh dari motor.
“Andung,” terdengar lagi suara Amira, “Gimana perasaan Andung sekarang? Maaf Mira tidak menemani Andung.”
Santi menghela napas, dia merasa sudah terjadi sesuatu yang serius dengan Amira, tapi sang cucu tidak mau mengatakan ke dia. Kalau pun mengatakan, apa bisa sang nenek tenang? Apa setelah itu kondisi nenek ini tidak akan lebih menurun?
Amira melihat sang nenek yang dipanggilnya dengan Andung yang adalah kata lain dari nenek yang berlaku di beberapa daerah di Sumatera Barat, pelan menghela napas. Merasa bersalah tidak baik menjaga diri, sehingga jatuh ke tangan Ruben.
“Mira,” terdengar suara Santi di mana melepas genggaman tangan Amira dari tangannya, “Andung lebih baik, nak.” Ujarnya menjawab yang ditanyakan sang cucu, “Baiknya Mira pulang, dan istirahat.” Diminta si cucu pulang untuk beristirahat, “Kamu sudah berobat ke IGD kan sebelum kemari?” imbuhnya saat sang cucu beraksi dengan menghela napas.
“Iya, Mira sudah ke IGD tadi.” Sahut Amira pelan, “Kebetulan di sana ada dokter Harun,” imbuhnya mengalihkan sedikit pandangannya ke sang dokter yang setia menemaninya, “Jadi beliau cepat mengobati Mira.” Imbuhnya lagi mengatakan dokter lajang itu yang mengobatinya.
“Terima kasih, dokter.” Santi melihat ke dokter Harun sambil mengucapkan terima kasih, lantas beralih lagi ke Amira, “Kalau begitu, Mira pulang, lekas istirahat.”
“Mana bisa, Andung?” sahut Amira menghela napas, “Sudah biarkan Mira tetap di sini menunggui Andung.” Imbuhnya tegas menolak perintah sang nenek, “Mira lebih tenang bersama Andung saat ini.” Imbuhnya lagi sambil meletakan kepala disisi lengan atas si nenek.
Tanpa sadar, bilur air matanya bergulir pelan dari kedua sudut manik indahnya yang berwarna kecoklatan.
‘Maafkan Mira, Andung.’ Bisik hatinya, ‘Mira bukan saja gagal mendapatkan pinjaman untuk pengobatan Andung, Mira juga dapat musibah. Mira tidak lagi perawan.’ Diungkapkan sesak hatinya saat ini.
Santi melihat ini menghela napas, pelan satu tangannya membelai helaian rambut indah Amira yang berwarna hitam kecoklatan karena sang cucu lahir dari Anwar yang tidak sepenuhnya dari Minang. Imron sang ayah blasteran Italy dan Padang, lantas Santi blasteran Jerman dan Padang.
“Istirahatlah cucuku.” Terdengar suara lembutnya menghibur hati cucunya yang bersedih saat ini karena satu hal yang tidak bisa dikatakan ke dia, “Istirahatlah yang tenang. Andung bersamamu, sayang. Selamanya bersamamu.”
Mendengar ini, guliran air mata kian meleleh keluar dari kedua manik indah Amira. Betapa ingin gadis ini mengatakan kejadian yang dialaminya tadi ke sang nenek, tempat dia biasa bercerita banyak hal. Namun dia sadar neneknya sedang sakit, jika bercerita, pasti kondisi sang nenek akan ngedrop.
Dokter Harun melihat semua ini merasa hatinya nyeri. Dia juga menyesali mengapa Amira menolak tawaran untuk menjadi istrinya? Jika menerima pastinya Amira tidak akan mengalami luka-luka di badan seperti ini.
***
Ruben memandangi dirinya di depan cermin besar di dalam dressing room kamarnya. Tampak dia sudah berpakaian rapih menggenakan stelan kemeja biru muda dipadu celana panjang blue dongker. Wajah tampannya terlihat murung. Semalaman tidak bisa tidur sama sekali, pikirannya teringat Amira yang menjadi korban salah targetnya.
“Pagi, tuan.” Terdengar suara sapa Alta di mana muncul sosoknya yang juga sudah rapih dengan pakaian kerjanya.
Ruben sedikit menghela napas, lantas, “Alta, apa ada laporan terbaru dari Senno mengenai Amira?” dia mengalihkan pandangan ke sang asisten yang merapihkan dressing room karena tergeletak beberapa stelan kemeja dan celana panjang di sini.
“Ada Tuan.”
“Apa itu?”
“Nona Amira sudah kembali ke rumahnya di antar dokter Harun.”
“Apa?!” Ruben terkejut mendengar ini, “Dia di antar dokter itu?” ditanya lagi sang asisten, “Hais, kenapa dokter itu sangat baik ke dia? Apa memang pacarnya?” entah kenapa dia sekali lagi tidak suka mendengar dokter Harun di dekat Amira.
“Maaf tuan, mengapa anda mengatakan itu? Maaf, apa anda tersentuh hati ke nona Amira?”
Ruben terkesiap diberi pertanyaan tersebut, lantas terlihat berpikir. Sekelebat dalam ingatannya muncul saat dia begitu panik ketika Amira mengalami luka di liang oase gadis itu. Dia pun menggendong si gadis dari kamar hotel hingga ke mobil, bahkan sampai ke dalam bilik IGD. Dia pun berteriak minta petugas medis segera menangani sang gadis.
Kemudian dia menjadi kacau balau pikirannya, terus dipenuhi penyesalan. Saat melihat wajah si gadis terbaring pucat di bed IGD, dia merasa gadis itu begitu cantik, sehingga berjanji akan bertanggungjawab sepenuhnya memulihkan sang gadis.
Lantas ketika gadis itu keras kepala tidak mau menerima tanggungjawabnya, dia tidak tenang, mengutus Senno mengawasi si gadis. Lalu entah kenapa merasa tidak suka mendengar ada pria lain dekat dengan nona tersebut.
Dia menghela napas, “Tidak mungkin,” ujarnya menepis kemungkinan tersentuh hati ke Amira, “Tidak mungkin itu,” Diulang perkataannya dengan sorot manik kebingungan, “Saya tidak kenal dia, tidak mungkin tersentuh hati ke dia. Apalagi dia perempuan keras kepala dan mengesalkan.”
“Tuan, maaf, Nona seperti itu karena anda menganiaya dan memperkosanya.”
Ruben terhenyak mendengar perkataan Alta, ditatap asistennya itu.
“Di dunia mana pun,” terdengar lagi suara sang asisten, “Tidak ada perempuan yang lembut ke pria yang menganiaya dan memperkosanya. Jadi anda tidak bisa mengatakan Nona Amira itu keras kepala dan mengesalkan.”
Sang presdir terkesiap kena teguran asistennya ini. Sang asisten memang berani menegurnya jika dirasa punya pemikiran keliru, ini yang membuat tuan presdir tetap menjadikannya asisten.
Ruben menghela napas, “Sudahlah,” ujarnya, “Saya mau sarapan, lantas ke rumah sakit itu untuk memastikan kalau nenek dia dirawat di ICU,” imbuhnya menghentikan pembicaraan mengenai hatinya saat ini ke Amira. “Ah ya, kamu jangan lupa segera belikan motor matic terbaru untuk Amira. Lantas juga kirimkan pakaian atau apa pun yang dia butuhkan ke rumahnya itu.”
“Baik, Tuan.” Alta merekam semua pesan tersebut ke dalam otak cerdasnya, “Em Tuan, Nona Anna telpon saya.”
“Apa katanya?”
“Apa Tuan hari ini sempat ke sekolah Nona Lotta?” sahut Alta, “Hari ini di sekolah Nona Lotta diadakan acara untuk orangtua bermain bersama anaknya dalam banyak games agar lebih mendekatkan orangtua dengan anak-anaknya.”
Ruben menyimak penjelasan ini, lantas menghela napas,
“Kamu telpon Anna,” terdengar suara tuan presdir, “Hari ini saya tidak bisa ikut acara itu. Pikiran saya masih kacau.”
***
Amira menghela napas karena polisi menolak pengaduannya yang dianiaya dan diperkosa karena tidak ada keterangan jelas mengenai siapa Ruben, kejadiannya terjadi di mana, apa ada saksi, dan lainnya.
Gadis ini setelah sampai di rumah, segera mandi lantas ke kantor polisi terdekat. Dia mau menghukum tuan presdir seberat mungkin, tapi apa daya laporannya ditolak. Padahal polisi sudah melihat luka-luka di beberapa bagian tubuhnya.
Sang gadis kini melangkah gontai keluar dari kantor polisi,
“Ternyata,” terdengar pelan suaranya, “Orang miskin seperti aku tidak bisa mendapat keadilan dari Tuhan.” Dia menyesali Tuhan karena tidak membuat polisi berkenan menolongnya.
Padahal Tuhan memberikan keadilan baginya karena Ruben bertanggungjawab atas semua kejadian yang dialaminya.
Amira menghela napas, “Apa boleh buat saat ini menunda menghukum pria sableng itu, karena Andung membutuh secepatnya operasi.” Dia terpikir lebih baik mementingkan Santi daripada menghukum Ruben. “Tapi aku sudah tidak ada pekerjaan?” dia teringat sudah kehilangan pekerjaan, “Gimana mendapatkan uang untuk operasi Andung?”
Sementara di rumah sakit, Ruben datang bersama Peter ajudannya yang lain. Dia disambut Alta yang langsung memberinya satu map file berisi copy catatan medis Santi, biaya operasi, dan lainnya.
“Makasih.” Sang presdir mengambil map tersebut, lantas mencari tempat duduk, baru membaca berkas-berkas tersebut. Tidak lama raut wajahnya terlihat penuh penyesalan.
“Alta!” terdengar suaranya bernada cemas, “Antar saya ke Dirut rumah sakit ini,” Ujarnya minta Alta mengantar ke dirut rumah sakit.