Amira memegang erat kartu debit miliknya, wajahnya tampak murung setelah mengecek saldo di rekeningnya di ATM rumah sakit, karena ada uang senilai 5 juta. Uang tersebut dikirim oleh Babah Bu Cin tetangganya yang didatangi oleh dia untuk meminjam uang, agar Santi bisa segera di operasi.
Amira tidak ada pilihan selain mendatangi pria itu yang adalah rentenir, sekaligus memiliki bisnis rumah bordil di Jakarta Barat. Dia pun terpaksa setuju untuk bekerja sebagai cleaning service di salah satu rumah bordil milik pria tersebut agar bisa disetujui permohonannya meminjam dana operasi untuk sang nenek.
Lantas rentenir tersebut berjanji selama tiga minggu mengirim sepuluh juta ke rekening gadis itu agar bisa mengangsur biaya operasi dan pengobatan nenek sang gadis. Babah Bu Cin tidak menuntutnya untuk mengembalikan uang pinjaman tapi dia harus mau bekerja di rumah bordil itu selama tiga bulan sebagai ganti pinjaman.
Amira menghela napas, segera ke loket administrasi untuk meminta form rincian operasi Santi untuk dibayarkan DP terlebih dulu.
“Mbak Hanum.” Disapanya Hanum petugas administrasi, “Maaf, boleh saya minta form rincian biaya operasi dan pengobatan nenek saya yang tiga puluh lima juta itu? Lantas saya juga minta surat perjanjian untuk bisa mengangsur semua biaya tersebut sesuai ketentuan rumah sakit.” Dijelaskan mengapa menyapa sang petugas.
Hanum tersenyum mendengar ini, “Mbak, sudah tidak perlu semua itu.”
“Maksudnya apa, mbak?” Amira tercekat mendengar perkataan Hanum tersebut.
“Semua itu sudah diselesaikan.”
Amira terheran mendengar ini, “Sudah diselesaikan gimana, mbak?” tanyanya memandang kebingungan ke Hanum, “Saya baru bawa uang lima juta untuk DP semua biaya itu.”
Hanum kembali tersenyum, “Mbak, pokoknya semua sudah beres,” Kekehnya, “Sekarang mbak segera menemui Pak Kusnadi dirut rumah sakit ini di lantai dua.”
***
Ruben berdiri di teras depan rumah petakan yang disewa Amira. Tuan presdir selepas menyelesaikan semua administrasi dan pembayaran untuk Santi, minta ke Gang Kluwek untuk mengetahui benarkah Amira tinggal di sana bersama sang nenek. Dia beruntung karena Amira tidak di rumah. Coba kalau iya, pasti Amira akan mengusir tuan presdir dengan kasar.
Anehnya sang pangeran yang arogan ini tidak merasa tersinggung atas sikap Amira, hanya gemas karena hanya gadis itu yang berani menolak pertanggungjawabannya. Bahkan hanya si nona yang berani beradu sikeras saat berdebat, lantas membuatnya mengalah.
Pelan terdengar helaan napas Ruben yang menyaksikan betapa sangat sederhananya rumah yang disewa Amira. Lokasinya pun dalam gang yang jalannya hanya bisa dilalui dengan Motor dan Sepeda. Kemudian dia melihat di teras kecil ini ada satu meja panjang dari kayu yang catnya sudah bluwek. Di atas meja tertaruh beberapa bangku plastik tanpa sandaran yang bukan barang baru.
Pelan sang presdir mendekati meja itu, lantas menempelkan telapak tangan kanannya ke permukaan meja. Saat itu terbayang olehnya saat Amira berjualan nasi uduk demi menyambung hidup dan menanggung biaya berobat Santi. Seketika hatinya merasa mengilu, tidak menduga akibat dendamnya ke Erika membuat Amira babak belur. Bagaimana ke depannya gadis itu bekerja demi menyambung hidup dan membiayai berobat Santi.
Meski saat ini dia sudah membiayai penuh berobat Santi, tapi hanya sebatas itu. Lantas bagaimana dengan biaya hidup sehari-hari gadis itu yang sedang menderita luka luar dan dalam?
“Tuan.” Terdengar suara Alta dari arah belakang sang presdir.
“Sudah kamu pinjam kunci cadangan pintu rumah Amira dari Ibu kontrakannya?” sang atasan hanya menyahut tanpa melihat ke asisten tersebut, karena saat ini raut wajahnya pilu, tidak mau dilihat sang asisten.
“Sudah, Tuan.” Sahut Alta yang ditugaskan menemui Ibu kontrakan rumah petakan yang disewa Amira untuk meminjam kunci cadangan rumah si gadis.
“Buka pintunya, saya mau masuk ke dalam rumah ini.”
“Baik, Tuan.” Alta paham, segera membuka pintu rumah dengan kunci cadangan tersebut, lantas membiarkan si bos masuk ke dalam rumah setelah melepas alas kaki mereka.
Sesampai di dalam, kedua manik indah Ruben menyisiri ke sekitar di mana tempatnya berpijak adalah ruang depan merangkap ruang keluarga. Ruangan ini dibatasi dinding dari papan Gypsum yang dicat berwarna cream. Lantas ada lorong jalan kecil menuju dua kamar yang berdempetan, Dapur, dan kamar mandi.
Ruben perlahan melangkahkan kaki ke jalan kecil itu sambil kedua matanya terus mengamati. Dia berhenti di depan satu pintu kamar yang terpasang hiasan boneka kain yang dirangkai jadi satu, lantas di bagian depan boneka ada huruf yang tersusun menjadi nama Amira.
Pelan sang presdir meraih satu boneka, sekelebat dalam pikirannya terbayang si pembuat hiasan itu yang adalah Amira. Sejurus kemudian senyumnya muncul menghias wajahnya yang tampak semakin pilu. Dia merasa tangan Amira kreatif karena membuat hiasan tersebut dengan rapih dan bagus.
Alta yang menggiringi sang bos melihat juga hiasan itu, tampak pilu, karena atasannya ini sedang menyesali diri sudah merusak Amira gadis sangat sederhana kehidupannya.
“Alta.” Terdengar suara tuan presdir, “Apa kamu pinjam juga kunci-kunci lain rumah ini?” dia sedikit memutar pandangannya ke sang asisten.
“Ada, Tuan.” Sahut pria itu, “Anda hendak masuk ke dalam kamar Nona Amira?” lantas feeling si atasan ingin masuk ke dalam kamar Amira.
Sang presdir menganggukan kepala, dia kemari tidak sekedar memastikan benar atau tidak Amira tinggal di sini, tapi ingin mengetahui kehidupan sang gadis dari isi rumah ini.
Alta segera membuka pintu kamar Amira, dan membiarkan sang atasan masuk ke sana. Dia pun menemani si bos yang kini mengamati kamar berukuran kecil untuk pria billionaire seperti dia. Kamar ini hanya ada satu jendela kecil tanpa tralis kokoh berukiran indah.
Di kamar ini tidak ada spring bed, hanya ada kasur gulung Palembang ukuran 100x195cm yang digulung rapih dan disandarkan ke dinding dekat meja lipat stainless. Di atas meja tersusun rapih jam weker bentuk Doraemon dan kaleng bekas biskuit yang dibungkus kertas kado motif bunga dan diisi beberapa alat tulis.
Pada dinding depan meja terpasang pigura dari bahan daur ulang yang diisi foto Amira dan Santi. Lantas di sudut lain ada lemari plastik empat susun, di mana bagian atas tertaruh kipas angin mini.
Melihat semua ini kembali terdengar helaan napas sang presdir. Tuan muda untuk pertama kali masuk ke dalam rumah petakan sangat sederhana seperti ini, dan tidak menyangka gadis yang dirusaknya punya kehidupan memprihatinkan. Meski tidak semua orang yang menyewa rumah petakan berkehidupan seperti Amira.
“Tuan.” Terdengar suara Alta menegur si bos yang berkali menghela napas karena melihat semua yang ada di rumah ini, “Anda baik saja?” ditanya si bos.
“Bagaimana bisa baik saja, Alta?” sahut tuan presdir, “Amira jauh berbeda dari perempuan-perempuan yang pernah melayani saya di ranjang. Kehidupan Amira benar-benar memprihatinkan, dan saya merusaknya membuat kehidupan itu menjadi tragis.” Ujarnya menuturkan penilaiannya setelah melihat sebagian isi rumah ini.
Pelan dia duduk di permukaan lantai kamar yang bersih kesat.
“Tuan!” Alta terkejut melihat yang dilakukan si bos, “Anda kenapa duduk? Apa anda tidak enak badan?” dia cepat berjongkok dihadapan sang atasan.
“Saya baik saja,” sang presdir tersenyum getir, “Hanya ingin duduk di lantai dan merasakan saat Mira duduk di sini.” Ujarnya sambil mengusap sekali ubin lantai berwarna broken white. Setelah berbicara itu, alam pikirannya mulai terbayang sosok cantik Amira yang tanpa luka-luka di badan. “Tuhanku,” terdengar suaranya lirih, “Kecantikan gadis itu sangat indah alami,” Dia memuji kecantikan lahiriah yang dimiliki Amira, “Aku mohon bisa mengembalikan kecantikannya yang kurusak.” Dia pun memanjatkan harapan agar bisa memperbaiki jiwa raga Amira yang babak belur, “Sekaligus menopang hidup dia dan neneknya.” Imbuhnya menambahkan harapan ke Tuhan.
Alta mendengar kalimat terakhir tercenung, lantas kedua maniknya mengamati sang atasan lebih teliti.
“Ada apa, Alta?” tuan presdir merasa diamati asistennya.
“Anda mau menopang hidup Nona Amira dan Bu Santi neneknya?”
“Iya, Alta. Ada yang salah dengan itu?”
“Bagaimana anda menopangnya? Dengan mengiriminya uang setiap bulan?”
“Tidak Alta. Itu akan menghina harga diri Mira.”
“Lantas dengan apa, tuan? Menikahi beliau?”
Ruben terkesiap diberi pertanyaan itu, lantas pandangan kedua matanya terlihat dipenuhi pertanyaan “Menikahinya?”. Apakah dengan cara itu dia menopang hidup Amira dan Santi?
***
Amira keluar dari ruangan Pak Kusnadi di mana wajahnya terlihat kebingungan. Sang dirut sudah mengatakan bahwa semua biaya operasi dan perawatan pasca operasi untuk Santi sudah dicover oleh Ruben Diablo. Sang gadis langsung bertanya siapa Ruben Diablo, karena dia tidak mengenal nama itu.
Pak Kusnadi menjadi heran, lantas bertanya bukan kah Ruben Diablo adalah suami Amira, karena saat pria itu mendatanginya, mengenalkan diri sebagai suami si nona. Amira terkejut mendengar ini, sejak kapan dia menikah, apalagi dengan Ruben Diablo?
Saat hendak bertanya lebih jauh, Pak Kusnadi segera menyergahnya, minta dia menerima semua kebaikan itu demi Santi. Dia pun berjanji semua pertemuan mereka dirahasiakan dari siapa pun, karena dia pun berjanji hal yang sama ke Ruben Diablo.
“Siapa Ruben Diablo?” terdengar suara Amira karena dia belum pernah mendengar nama itu. “Mengapa dia mengcover semua biaya berobat Andung?”
Gadis ini memang tidak mengenal Ruben Diablo, sebab hanya seorang perempuan biasa yang setiap hari bekerja keras untuk Santi dan dirinya sendiri sebagai driver antar jemput, juga berjualan nasi uduk dan beberapa lauk siap saji di depan halaman rumah petakan yang dikontraknya. Dia pun tidak ada berlangganan koran, hanya membaca berita-berita dari situs news di internet dengan ponsel sekennya.
Dia pun tidak menyadari pria yang menganiaya dan memperkosanya adalah Ruben Diablo, karena saat itu dia dipenuhi kemarahan ke sang presdir, sehingga tidak berkenalan dengan pangeran tersebut. Bahkan Ruben sendiri lupa memperkenalkan namanya ke Amira, akibat dipenuhi dendam ke Erika, lantas panik telah merusak Amira yang dikiranya Erika.
Namun sekelebat terlintas sosok Ruben yang menganiaya dan memperkosanya. Dia tersentak kaget, lantas,
“Apa dia Ruben Diablo?”