Bab 7 Sama-Sama Tidak Lega

1561 Kata
Ruben sudah sampai di Playgroup tempat Lotta belajar. Kedatangannya membuat Bruce sang kakek dan Anna adiknya sedikit surpraise, karena sebelumnya Alta mengabari dia tidak datang. Namun mereka tidak bertanya karena melihat raut wajah sang presdir murung, meski memasang senyum agar tidak terlihat sedang murung. Kini Ruben membantu putri kecilnya ini membangun istana dari pasir. Kegiatan yang sangat disukai putrinya sedari dulu, selain membuat bermacam-macam bentuk dari Salju saat mereka liburan ke Los Angeles, atau ke Spanyol di waktu musim dingin. ‘Mira,’ terdengar suara hatinya, ‘Aku lega kamu sudah menemui Pak Kusnadi,’ Ujarnya karena Senno sudah memberikan kabar terbaru bahwa Amira sudah menemui dirut rumah sakit Sentosa. ‘Mira, ini sebagian kecil dari tanggungjawabku ke kamu,’ imbuhnya mengatakan bantuan ke Santi hanya sebagian kecil dari tanggungjawabnya yang merusak Amira, ‘Ke depannya, aku akan memberi lebih banyak lagi ke kamu dan nenekmu, terserah kamu mau menerima atau tidak nantinya. Aku hanya berharap kamu memaafkanku, berkenan kita berteman.’ Ruben lantas menghela napas, teringat saat dia mengobrol sama Alta, ‘Alta bilang jika aku memberikan apa pun ke Mira, selayaknya menjadikan dia istriku,’ bisik hatinya, ‘Apa mungkin aku menikahinya? Meski aku tidak mencintai Irma, tapi pengkhianatan dia membuatku menceraikannya. Bagiku perceraian itu menyakitkan,’ Ujarnya mengingat hancur pernikahannya yang dulu, ‘Tuhan,’ disebut nama Tuhan, ‘Ada apa sebenarnya denganku? Mengapa aku terus dipenuhi penyesalan, juga merasa sangat ingin menopang hidup Mira dan neneknya. Apakah hanya demi penyesalan? Atau kah aku terpikat aura cantiknya?’ dia mempertanyakan Tuhan mengenai apa yang dirasa saat ini setelah menyadari merusak Amira. Bruce yang sedari tadi mengawasi Ruben, merasa ada yang dipikirkan cucunya itu. Raut wajah sang cucu terlihat lega, tapi juga bergalau. Apakah cucu sulungnya itu sudah berhasil menghajar Erika Khapoor, lantas menyesal? Bruce tahu mengenai sakit hati Ruben ke Erika, dan dia tidak bisa mencegah sang cucu untuk menghajar Erika. Pelan Bruce mendekati Alta asisten cucunya ini. “Alta.” Ditegur si asisten yang terlihat sibuk mengerjakan sesuatu di tablet di mana duduk di salah satu gazebo taman ini. Alta mengenali suara Bruce, segera berhenti kerja, memutar pandangannya ke tuan besar itu. “Saya, Tuan Besar.” Dia pun segera berdiri, “Anda perlu sesuatu kah?” tanyanya sopan. Bruce duduk di salah satu bangku, satu tangannya mengambil tablet di meja, di cek apa yang terlihat di screen alat tersebut. Tampak di sana beberapa foto model skuter matic tahun-tahun terbaru, beserta spesifikasinya. Alta melihat yang dikerjakan tuan raja ini, sedikit menelan salivanya. Feeling pasti sang raja akan memberinya pertanyaan mengenai foto-foto di tablet yang terlihat opa atasannya itu. Dalam keluarga Diablo, Bruce adalah raja, karena mewarisi semua kekayaan Keanu Diablo ayahandanya, berikut perusahaan raksasa sang ayah yaitu Diablo Company. Bruce punya dua istri, yaitu Gisela dan Minda. Gisela memberikan satu anak yaitu Ellio, sedangkan Minda memberikan satu anak pula adalah Jeff. Gisela adalah ratu di keluarga Diablo, maka Ellio adalah putra mahkota. Namun karena Minda, Gisela meninggal tragis, lantas Ellio dicoret dari keluarga Diablo, lantas gelar putra mahkota diberikan ke Ruben, tidak ke Jeff. Bruce tahu istri kedua dan putra keduanya ambisius ingin menguasai semua kekayaan dan perusahaan tersebut, sehingga tidak membiarkan itu terjadi dengan menjadikan Ruben sebagai pewarisnya. “Alta.” Terdengar suara Bruce memanggil sang asisten, dihadapkan screen tablet ke pria itu, “Ruben mau beli skuter matic?” diberi pertanyaan mengenai apa yang ada di layar itu. “Iya, Tuan besar.” Sahut Alta sambil menelan salivanya, “Untuk Nona Amira,” Imbuhnya polos. Tidak sadar menyebut nama Amira korban atasannya itu. “Nona Amira?” Bruce terheran mendengar nama itu, “Siapa dia? Mengapa Ruben membelikannya skuter matic? Apa dia pekerja di Bens Company yang dinilai Ruben berprestasi sehingga layak diberi skuter matic?” Alta kembali menelan salivanya, sedikit merutuki dirinya yang kelepasan menyebut nama Amira. “Alta.” Terdengar lagi suara Bruce, di mana tangan sang raja mengisyaratkan agar Alta duduk untuk menjelaskan ke dia. Bruce tidak pernah mencampuri urusan pribadi dan pekerjaan Ruben, tapi dia selalu mengawasi sang cucu. Dia pun menjaga cucu kesayangannya ini agar tidak dicelakai Minda, Jeff, dan musuh-musuh keluarga Diablo. Alta menghela napas pelan, terpaksa mematuhi perintah tuan raja itu, lantas menceritakan singkat mengapa Ruben ingin membelikan skuter matic untuk Amira hingga selesai. Selepas itu tampak Bruce menghela napas, “Saya tidak bisa menyalahkan Ruben,” ujarnya, “Erika memang menghinanya keterlaluan, sehingga Ruben berusaha membalasnya dengan menyakitkan. Tapi yang kena Amira, gadis yang mirip Erika.” Alta menghela napas, merasa Ruben terkena apes. Maksud hati balas dendam, apa daya mencelakai orang tak dikenal. “Syukurlah kalau Ben bertanggungjawab ke gadis itu.” Bruce tampak lega, “Lantas, hanya skuter matic yang diberikan Ruben untuk nona itu sebagai ganti skuter matic si nona yang dirusak orang-orangnya?” “Tuan muda membiayai penuh pengobatan nona dan nenek beliau.” “Maksudmu apa nih?” Alta pun memberikan penjelasan jawabannya itu ke Bruce, lantas memandang tuan raja yang menghela napas. “I see.” Bruce paham, “Sangat tragis nasib gadis itu,” dia menjadi pilu, “Dia juga gadis yang punya harga diri tinggi, karena hanya inginkan Ruben mendekam dalam penjara karena menculiknya, menganiayanya, dan memperkosanya.” Alta menghela napas mendengar ini, hatinya yang sedari kemarin pilu, bertambah pilu. “Apa,” terdengar lagi suara Bruce memandang Alta, “Penilaian Ruben mengenai gadis itu?” “Awalnya mencurigai beliau, tapi lantas tersentuh. Tuan muda melihat sangat nyata Nona Amira bukan perempuan kebanyakan yang akan memanfaatkan rasa bersalahnya.” “I see.” Bruce paham, lantas memainkan tangannya minta Alta lebih ke dekatnya, kemudian dibisiki sesuatu. *** Amira duduk sendirian di salah satu bangku meja Kantin rumah sakit, sedang memakan semangkuk bubur kacang hijau. Dia sedari kemarin belum sama sekali mengisi perutnya, membuat dia yang sedang sakit meriang. ‘Jika,’ dia bicara dalam hatinya sambil melumat bubur dalam mulutnya, ‘Ruben Diablo pria b******k itu,’ dia masih terpikir Ruben Diablo yang memberikan bantuan dana untuk pengobatan Santi, ‘Aku harus berusaha mengembalikan semua dana itu ke dia. Aku tidak sudi menerima pertolongannya. Dia pikir dengan menolong Andung, kehormatanku yang diambilnya bisa kembali?’ tampak kedua maniknya dipenuhi kemarahan dan kebencian ke Ruben. Tidak lama, Senno mendekati Amira. “Nona Amira.” Terdengar suaranya menyapa sopan sang gadis. Gadis ini berhenti menyuap bubur, mengalihkan kedua maniknya ke Senno, lantas, “Kamu siapa?” dia tidak mengenal Senno. “Nona, saya Senno salah satu ajudan Tuan Ruben Diablo.” Sahut Senno dengan sopan, “Maaf nona, ini saya bawakan obat-obatan anda dari Carter Hospital.” Diletakan satu plastik berisi obat-obatan Amira. Amira terheran mendengar ini, dicek isi plastik, lantas terhenyak. Pikirannya langsung teringat sosok Ruben yang merusak dia. ‘Jadi,’ bisik hatinya, ‘Pria b******k itu bernama Ruben Diablo?’ dia baru mengenal nama pria yang merusaknya, ‘Jadi dia yang mengcover semua biaya Andung di rumah sakit ini?’ dia pun tersadar sang presdir yang membiayai penuh berobat di rumah sakit ini. “Nona,” Senno kembali bersuara, “Tuan muda juga menitipkan pesan agar anda kembali ke Carter Hospital untuk melanjutkan mengobati luka-luka anda.” Ujarnya menyampaikan pesan Ruben ke Amira, “Mengenai nenek anda, beliau sudah mengutus Mbak Siti dan Mbak Ida untuk mengurus dan menjaga beliau.” Amira terhenyak mendengar ini, tidak menyangka Ruben benar-benar menepati perkataannya, bertanggungjawab ke dia. Dia pun baru menyadari Ruben bukan pria kaya sembarangan, karena dengan mudah melakukan aksi bertanggungjawab ke dia. “Mas Senno,” terdengar suara Amira, “Tolong sampaikan ke Tuan Ruben, saya mau bertemu beliau di sini,” ujarnya menitipkan pesan ke Senno untuk Ruben, “Bisa kan saya menitipkan pesan itu melalui mas Senno?” “Bisa, nona.” Sahut Senno, lantas mengeluarkan ponselnya, “Baiknya, saya langsung menyampaikan ke Pak Alta asisten beliau, agar anda bisa menyampaikan langsung ke beliau,” ujarnya segera mendial nomor Alta, tidak lama panggilan telponnya terhubung dengan ponsel sang asisten, “Maaf Pak Alta.” “Ya Senno, ada apa?” terdengar suara Alta, di mana pria ini sengaja berada disisi Ruben yang sedang membantu Lotta membangun istana pasir. “Apa kamu sudah menemui Nona Amira?” Di hadapan Ruben, tampak Bruce memasang telinga agar tahu apa yang dibicarakan Alta dengan Senno. “Sudah, Pak,” terdengar lagi suara Senno, “Nona Amira ingin bertemu dengan Tuan Ruben di rumah sakit tempat neneknya nona dirawat saat ini.” Ujarnya menyampaikan pesan Amira, di mana tampak gadis itu kembali melahap bubur kacang ijo sambil menyimak pembicaraan ini. “Nona Amira ingin bertemu Tuan Muda?” tanya Alta sedikit mengeraskan suaranya agar terdengar sama Ruben yang diketahuinya juga memasang telinga menyimak pembicaraan yang ada. Tahu-tahu Ruben berdiri, lantas meraih ponsel yang menempel di telinga kanan Alta, lalu bicara sama Senno. Alta dan Bruce diam-diam tersenyum melihat Ruben cepat beraksi saat mendengar Amira ingin bertemu sang tuan muda tersebut. “Senno,” terdengar suara sang presdir memulai pembicaraan dengan Senno, “Apa kamu di dekat Mira? Jika iya, kasih ponselmu ke dia, saya ingin dengar suaranya.” Diturunkan perintah ke sang ajudan. “Baik, Tuan,” Senno paham, lantas menurunkan ponsel dari telinganya, ditegur Amira, “Nona, maaf, ini Tuan Ruben,” ujarnya sambil menyodorkan ponsel ke sang nona. “Tidak perlu Mas Senno.” Terdengar suara nona ini yang bernada dingin, “Katakan saja ke dia, saya ingin bertemu di sini,” dia tegas menolak bicara sama Ruben. Ruben mendengar suara Amira, terlihat gemas. Seumur hidupnya hanya Amira perempuan yang menolak bicara sama dia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN