Bab 8 Tidak Ingin Dekat Kamu

1724 Kata
Ruben tergesa keluar dari jipnya yang sudah di parkir di basement rumah sakit tempat Santi dirawat, lantas dengan langkah panjang bergegas menuju pintu utama basement ini. Dia hanya ditemani Epoy kepala ajudannya, Kun, Hansue, dan Jack. Alta disuruh ke Bens Company melanjutkan tugas-tugasnya sebagai presdir. Wajah sang presdir tampak gregetan karena Amira membuatnya yang arogan tidak berdaya. Hanya gadis itu yang membuat kearoganannya hilang. Dia juga merasa sang gadis mulai menekannya dengan bersikap angkuh ke dia. ‘Kalau saja kamu itu b******k seperti Erika,’ bisik hatinya saat sudah berada di dalam ruangan tempat di mana pos security, ruang cleaning service, dan elevator berada, ‘Sikapmu itu akan kubalas dengan menyakitkan. Apa mentang-mentang aku merusakmu, kamu bisa menolak bicara sama aku di telpon, lantas kamu bisa memintaku menemuimu di sini? Keterlaluan!’ Dia merutuki Amira. Sementara di luar ruangan, tampak Bruce ditemani Alta dan beberapa ajudan. Si Opa tersenyum geli melihat Ruben gemas gregetan karena Amira menolak bicara dengan si cucu di telpon, lantas si nona minta cucunya itu menemui di sini. Sang cucu tidak bisa menolak semua itu, terlepas karena merasa bersalah merusak gadis malang itu. Namun ada yang lain dalam pikiran sang presdir, yaitu, Amira bukan perempuan sembarangan. Gadis itu bukan hanya menjaga kehormatan keperawanannya, punya harga diri tinggi, tegas, dan pemberani. Dia tidak perduli Ruben billionaire terkemuka yang sangat dihargai semua orang. “Tuan besar.” Terdengar suara Alta menegur sang raja, “Kenapa anda melakukan ini?” dia memandang si raja, karena semua yang dikerjakan Senno atas skenario raja tua itu. “Saya ingin tahu bagaimana reaksi dia ke Ruben yang ternyata membantu biaya berobat neneknya.” Sahut Bruce dengan senyum di wajahnya, menjelaskan mengapa membuat skenario ini. “I see.” Alta paham, “Menurut saya, nona pasti tidak mau terima, dan akan berusaha mengembalikan dana itu ke tuan muda.” Ujarnya feeling Amira menolak bantuan Ruben tersebut, “Karena sedari kemarin, beliau tidak mau sedikit pun menerima pertanggungjawaban Tuan muda. Lantas Senno mengatakan beliau sama sekali tidak meminum obat-obatan yang anda kirim dari IGD Carter Hospital.” Bruce mendengar ini hanya tersenyum. Dia mulai melihat jelas karakter Amira yang sesungguhnya yang dirasa membuat Ruben tersentuh, sehingga sifat arogan cucunya hilang. “Kita susul Ruben, Alta.” Terdengar suara sang raja mengajak Alta menyusul Ruben, lantas berjalan lebih dulu menuju ruang dalam basement itu. Sedangkan Ruben sudah berada di ground, langsung menelpon Senno yang masih setia menjaga Amira deminya. Entah kenapa dia sangat takut Amira mengalami celaka lagi, karena kondisi fisik dan psikis gadis itu jauh dari bagus. Dia baru kali ini melakukan hal itu. Selama ini jika dia perawani perempuan, ditinggalkan saja. Karena dia tidak menganiaya dan memperkosa perempuan itu yang mana bekerja di club malam. “Senno!” panggilan telponnya terhubung dengan ponsel sang ajudan, “Mira di mana sekarang? Masih di kantin kah?” dia langsung bertanya di mana Amira. “Nona di taman belakang gedung A, tuan.” Sahut si ajudan yang terus menjaga Amira dari jauh. Tampak di taman belakang, Amira duduk sendiri di salah satu bangku besi yang ada di sana. Gadis itu pun sedang membaca sesuatu di ponsel. “Nona, sedang mantengin ponselnya, tuan.” Imbuh si ajudan dengan polosnya memberitahu apa yang dilakukan Amira. Ruben terkesiap mendengar ini, lantas, “Apa dia lagi chatting sama dokter Harun?” tanyanya spontan saja terpikir sang nona sedang chattingan sama dokter Harun. “Saya tidak tahu itu, tuan.” Sahut Senno polos, “Hanya tahu sedari duduk di kursi taman, nona mantengi ponselnya, tidak ada mengetik keypads ponselnya.” Diceritakan apa yang dilihatnya sedari tadi. “Apa saat ini dia hanya sendirian?” “Tadi sih sempat ada satu dokter mendekatinya.” Sahut Senno polos memberi jawaban, “Dokter itu membawa satu plastik, lantas menyuntikan obat di infusan yang terpasang di punggung tangan kiri nona, lalu pergi.” Mendengar ini, langkah Ruben terhenti di selasar jalan menuju taman belakang gedung A. “Apa katamu?” Ruben bersuara di mana raut wajahnya terheran, “dokter itu menyuntikan obat di tangan Mira? Apa Mira tidak bilang sedang perawatan di Carter Hospital ke dokter itu?” “Sepenglihatan saya tidak, tuan muda, karena obat-obatan yang dikirim Pak Alta disimpan nona dalam tasnya.” “Alta mengirim obat-obatan ke Mira?” Ruben terperanjat mendengar ini, lantas menepuk keningnya, “Astaga! Mengapa aku bodoh? Mengapa saat Mira meninggalkan Carter Hospital, aku tidak minta Alta mengirim obat-obatannya? Hanya mengutus Senno menjaganya?” dia mulai tersadar lupa tidak mengirim obat ke Amira, padahal gadis itu dalam keadaan sakit, “Hais, pantas Mira tambah marah ke aku.” Imbuhnya mengira kemarahan sang gadis bertambah karena hal itu. Senno bengong mendengar ini, “Tuan, tapi kata Pak Alta, anda yang mengirim obat-obatan itu.” Ruben tersentak kaget mendengar ini, lantas menghela npas, “Ya sudah tidak mengapa Alta melakukan itu.” Desaunya merasa Alta menyelamatkan mukanya, “Ya sudah juga, saya segera menemui gadis keras kepala itu.” Ujarnya lantas mengakhiri panggilan telpon. Dia menyimpan ponsel di saku depan celana panjangnya, lantas mengusap wajahnya dengan kesal, “Dams!” terdengar makian menyembur dari mulutnya, “Kenapa aku merutukinya? Aku yang merusaknya, melupakan dia masih sakit pula, hal wajar dia menolak bicara sama aku. Wajar jika dia minta aku temui di sini, karena dia masih sakit.” Dia mulai tersadar telah salah merutuki Amira. Dia segera kembali melangkah, ingin segera bertemu Amira. Hatinya dipenuhi penyesalan yang kian bertambah. Saat berada di depan taman, kedua matanya menyisir ke sekitar mencari Amira, lantas segera mendekati gadis itu yang masih membaca sesuatu di ponsel. Dia menjadi penasaran, dipanjangkan lehernya agar melihat apa yang dilihat sang gadis di ponsel. Ternyata membaca berita harian dari situs news terkemuka Ibukota berbahasa Inggris. Tema yang dibaca si nona adalah berita mengenai hukum. Ruben merasa surpraise tidak menduga perempuan sangat sederhana mantan shuttle car driver membaca berita tersebut. Lantas bukan kah kebanyakan perempuan membaca berita gosip, fashion, dan selegram? Amira tidak begitu. Sedari kecil dibiasakan Santi untuk membaca berita yang sarat ilmu pengetahuan mengenai sosial, politik, hukum, kebudayaan, dan sastra. Sang nenek juga memberinya buku cerita yang sarat makna kehidupan, tidak semata romantis atau yang penuh derita dan air mata. Amira mulai menyadari tidak sendirian lagi, berhenti membaca, lantas memutar pandangan ke arah sisi kanannya, kemudian menghela napas menemukan Ruben melihat ke dia. Dia segera mengembalikan pandangan ke depan. “Terima kasih anda berkenan menemui saya.” Terdengar suaranya yang bernada dingin mengucapkan terima kasih karena Ruben berkenan datang menemuinya. Ruben menghela napas mendengar nada suara Amira, lantas duduk di sebelah gadis itu. Namun si gadis cepat pindah duduk ke bangku lain. Sekali lagi sang presdir menghela napas, merasa nona ini tidak mau duduk berdampingan dengannya. Dia pun menyabar-sabarkan diri menghadapi sikap sang gadis yang masih menunjukan kemarahan dan kebencian. “Mira,” terdengar suaranya di mana memandang nona itu yang cepat mengambil tas dari sisinya, lantas menyimpan ponsel di sana, “Aku sudah memenuhi permintaanmu untuk menemuimu.” Ujarnya, “Sekarang bicaralah apa yang kamu inginkan dariku.” Imbuhnya minta sang gadis mengatakan ingin apa dari dia. Amira tidak bersuara, hanya mengeluarkan satu amplop besar yang tampak tebal isinya, lantas ditaruh ke meja tepat depan Ruben duduk. Sang presdir terheran melihat ini, “Ini apa, Mira?” ditanya si nona. Sang gadis masih belum bersuara, hanya mengeluarkan satu plastik berisi obat-obatan dari Carter Hospital, kembali diletakan ke meja tepat di depan putra mahkota tersebut. Sang duda menghela napas, karena melihat ada logo Carter Hospital di plastik tersebut. Diambil plastik itu, lantas mengecek isinya, ternyata semua obat masih utuh jumlahnya dalam setiap strip obat. Kembali dia menghela napas, lantas menaruh kembali plastik tersebut ke meja. “Kenapa kamu tidak minum obatnya?” terdengar suara sang presdir yang sedikit lirih, “Kamu masih sakit, butuh semua obat ini.” Ditunjuk plastik berisi obat di meja. “Tidak perlu.” Sahut Amira mulai terdengar suaranya, “Aku sudah dikasih obat sama dokter Harun.” Dia tetap menolak meminum obat dari Carter Hospital karena itu dari Ruben. Ruben mendengar Amira menyebut nama dokter Harun terkesiap, lantas raut wajahnya berubah menjadi kesal. “I see.” Terdengar suaranya, “Jadi kamu memilih diobatin pacarmu itu?” tanyanya entah kenapa menyebut sang dokter pacar si nona. “Pacarku?” Amira terheran mendengar ini, “Maksudmu, dokter Harun pacarku?” ditatap Ruben yang terlihat thunder cloud raut wajahnya. “Iya!” sahut sang presdir dengan suara ketus, wajah ful thunder cloud, “Karena kemarin dia menggendongmu dari depan lift hingga ke IGD kan? Lantas membawamu membesuk nenekmu dengan kursi roda.” Imbuhnya mengungkapkan apa yang diketahuinya dari Senno, membuat dia meradang jika mendengar nama dokter itu. “Kalau bukan pacarmu, mengapa dokter sebaik itu ke kamu. Dia bisa memanggil petugas medis membawakanmu brankar atau kursi roda.” Imbuhnya lagi merasa kesal dengan yang dilakukan sang dokter yang menurutnya tidak lazim dalam dunia medis. Padahal sebenarnya tidak masalah jika dokter melakukan itu saat memang situasi emergency, di mana pasien berkondisi lemah, tidak akan kuat bertahan sampai petugas membawakan brankar atau kursi roda. Yang jadi masalah, Ruben terpikat kecantikan Amira, lantas sang presdir merasa dokter Harun kesemsem sama gadis itu. Kemudian sang presdir merasa duluan mendapatkan mahkota sang gadis, maka tidak mau pria lain mendekati gadis itu. Walau perasaan ini datang begitu tiba-tiba saat menyesal sudah merusak si nona. Amira terkesiap mendengar ini, lantas, “Anda mengawasi saya? Hais, anda ini maunya apa sih? Masih belum puas menganiaya dan memperkosa saya?” “Aku menjagamu, nona!” terdengar suara Ruben sedikit tinggi, “Kamu bersikeras meninggalkan IGD Carter Hospital dalam keadaan luka-luka dan tubuh lemah! Kalau di jalan kamu mendadak pingsan gimana? Kalau orang yang menolongmu baik, kalau tidak? Kamu cantik, lagi lemah, apa bukan itu mangsa empuk?” disemburkan semua kecemasannya yang salah diartikan oleh Amira. “Sudahlah!” Amira menghentikan perdebatan mereka, “Yang jelas, dokter Harun bukan pacarku. Beliau dokter yang sedari awal menangani sakit nenekku.” Ujarnya menegaskan bahwa dokter Harusn bukan pacarnya, “Kalau pun pacarku, apa urusannya dengan kamu?” ditatap sengit Ruben. “Tentu ada urusannya denganku!” sahut sang presdir kesal, “Aku yang perawani kamu, maka kamu milikku, bukan milik pria lain!” ujarnya mengatakan isi pikirannya saat ini yang entah mengapa setelah mendapatkan keperawanan Amira, merasa gadis itu miliknya, tidak boleh dimiliki pria lain. Amira tersentak kaget, diamati tuan muda ini lebih teliti, apa pria ini tidak waraskah karena mengatakan semua itu?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN