Ruben melihat pandangan kedua mata Amira seperti bertanya apakah dia waras saat ini karena mengatakan sang nona adalah miliknya sebab sudah diperawani olehnya? Dia menghela napas, mulai tersadar sudah mengatakan diluar akal sehatnya.
Akal sehatnya mengatakan si nona bukan miliknya meski sudah diperawaninya. Bahkan akal sehat itu mengatakan dia tidak mengenal sang gadis sama sekali, hanya berkewajiban menebus semua kesalahannya ke nona tersebut.
Pelan diraih tangan kanan gadis ini, digenggam lembut olehnya.
“Mira,” terdengar suaranya yang bernada rendah dan lembut, “Maaf, aku bersuara lantang, dan mengatakan hal tidak pantas ke kamu.” Dia minta maaf, sudah emosi akibat tidak suka ada pria lain di dekat Amira.
Giliran Amira yang menghela napas, dilepas genggaman tangan sang presdir, lantas mengambil amplop di meja, disodorkan ke tuan muda tersebut.
“Ambilah ini.” Ujarnya singkat minta pangeran mengambil amplop tersebut.
“Ini apa?” Ruben belum mengambil amplop tersebut, tapi feeling pasti berisi uang tunai.
Amira tidak menyahut hanya meraih tangan sang presdir lantas menaruh amplop tersebut di permukaan tangan pria itu.
“Aku tahu,” terdengar suaranya, “Namamu Ruben Diablo, dan kamu mencover biaya operasi dan pengobatan nenekku.” Ujarnya mulai menjelaskan mengapa memberikan amplop tersebut ke Ruben, “Jadi aku minta kamu menemuiku, agar aku bisa memberikan uang yang kupunya saat ini sebagai angsuran awal semua dana yang kamu keluarkan untuk nenekku.”
Ruben mendengar ini tersentak kaget, lantas, “Kamu pinjam uang dari siapa?” dia mengajukan pertanyaan diluar dugaan, “Aku tahu kamu baru kehilangan pekerjaanmu di Drive Indo,” imbuhnya saat si nona terkesiap dengan pertanyaannya, “Apa kamu meminjam uang dari dokter Harun?” tanyanya dengan pandangan menyelidik, menduga sang gadis meminjam uang dari dokter Harun.
“Dari mananya,” terdengar suara Amira yang bernada dingin, “Tidak perlu kamu tahu.”
“Aku harus tahu, Mira.” Ruben sedikit menghardik sang gadis, “Kamu saat ini dalam kesulitan keuangan sangat serius, jika kamu meminjam dari siapa pun, maka kamu akan terbeban untuk mengembalikannya. Sementara kondisimu sedang sakit.”
“Kamu tidak usah perdulikan itu.” Amira memandang sang presdir dengan dingin, “Tadinya uang ditanganmu akan kubayarkan sebagai DP ke rumah sakit ini.” Dia menjelaskan mengapa bisa ada uang tersebut, “Tapi Pak Kusnadi dirut rumah sakit ini mengatakan semua biaya sudah kamu cover. Maka aku berikan uang DP ini ke kamu.”
Ruben menghela napas mendengar penjelasan Amira. Dia merasa gadis ini memang serius menolak semua bentuk pertanggungjawaban darinya. Diletakan amplop tersebut ke meja tepat di depan Amira, lantas ditatap si nona dengan wajah nelangsa.
“Mira,” terdengar suaranya, “Tidak bisa kah kamu sedikit saja mengizinkan aku bertanggungjawab ke kamu?” dia pun bertanya ke sang gadis dengan suara lirih, “Aku tahu bagimu keperawanan sangat suci, hanya kamu berikan ke suamimu nantinya, tidak bisa dikembalikan suci oleh Aku yang mengambilnya yang bukan suamimu.”
“Sebenarnya bisa, jika kamu mendekam di penjara seumur hidupmu.”
“Tidak juga bisa, Amira! Kamu tetap tidak perawan.”
“Jika begitu, kamu tidak usah melakukan apa pun, karena yang hilang tidak bisa kamu kembalikan.”
“Bisa, asal kamu mengizinkanku bertanggungjawab penuh atas hidupmu dan nenekmu.”
“Aku tidak mau, tuan!” Amira mulai meleleh air matanya, “Aku dulu menyaksikan betapa menderitanya batin perempuan yang diperkosa brutal atau tidak. Mereka jatuh harga diri, dijadikan pula bahan pembicaraan di masyarakat.” Dia menuturkan apa yang pernah dilihatnya saat masih kuliah di Fakultas Hukum di mana memfokuskan diri membela kaum perempuan korban-korban KDRT atau pun dari masyarakat.
Ruben menyimak semua penuturan ini dengan pandangan menyelidik, mengapa Amira mengatakan itu. Siapa Amira sebenarnya? Apakah Amira seorang Pengacara? Mengapa gadis ini ada banyak misteri menarik dalam hidupnya?
“Kini,” masih terdengar suara sang nona, dimana air matanya berlinang, “Aku mengalami sendiri. Aku diculik, dianiaya, dan diperkosa.” Ujarnya dimana mengalami sendiri apa yang dialami para perempuan yang dibela olehnya dan teman-temannya dulu semasa kuliah. “Aku hancur seperti mereka. Aku tidak punya muka untuk memandang masyarakat. Bahkan aku merasa sangat bersalah ke nenekku yang mendidikku menjaga kehormatan keperawananku.” Diluapkan semua sesak hatinya di mana memandang Ruben dengan air mata berlinang.
Mendengar ini hati Ruben sangat mengilu, dirutuki dirinya yang terbakar dendam sehingga merusak Amira sampai seperti ini. Tubuh gadis itu penuh luka cambuk, lantas kesucian sang nona diambil olehnya.
“Jadi,” masih terdengar suara Amira, “Aku tidak mau menerima apa pun pertanggungjawaban dari kamu. Aku juga memutuskan tidak membuatmu mendekam di penjara, anggap saja itu untuk membalas kebaikanmu mau meminjamkan uang untuk pengobatan nenekku.”
Ruben memejamkan matanya sejenak setelah mendengar perkataan ini. Dia yang arogan tidak bisa tersinggung dengan semua perkataan Amira. Hatinya merintih karena melakukan perbuatan sangat nista ke sang gadis.
“Lantas,” Amira masih bicara, dimana mengatur napasnya yang terasa sesak akibat meluapkan isi hatinya, “Aku segera mengembalikan dana dari kamu itu.” Ujarnya lirih, “Maka ambilah uang 5 juta untuk angsuran awal dana itu.” Didorong amplop di meja hingga ke depan Ruben.
Mendengar ini, Ruben meremat kedua tangannya yang tertaruh di atas kedua p***nya, tampak raut wajahnya pilu penuh penyesalan. Baru Amira yang menolak pertanggungjawabannya. Selama ini jika memang dia tanpa sengaja melakukan kesalahan, dengan arogannya memberikan sesuatu ke korbannya, lantas melanggang lega, karena sang korban menerima dengan senang hati.
“Tuan.” Amira menegur Ruben, “Terima kasih anda sudah berbaik hati mengcover biaya pengobatan nenekku.” Dia mengucapkan terima kasih karena Ruben tanpa diminta sudah mengcover biaya pengobatan , “Anda tenang saja, saya segera mengangsur dana itu. Nanti saya akan memberikan itu ke Pak Alta asisten anda. Saya sudah punya nomor ponsel beliau yang saya minta dari Mas Senno.”
Dhuar, Ruben merasa dunianya runtuh seketika. Dia tidak menyangka sama sekali Amira benar punya harga diri sangat tinggi. Diamati gadis itu yang menyeka air mata dari wajah.
“Ish!” tiba-tiba terdengar rintih sang nona, dimana merasa badannya meriang. Akibat emosi, menaikan suhu tubuhnya yang terluka luar.
Ruben terkesiap, lantas menjadi cemas, cepat mendekati Amira, “Kamu kenapa, Mira?” dia pun melihat sang nona mengernyit sakit, “Kamu merasa sakit kah? Di mana yang sakitnya? Bilang saja, Mira.” Dia feeling luka di badan Amira mulai dirasa sakit oleh sang gadis. Kedua tangannya segera menyentuh beberapa luka dibagian kulit tubuh nona malang ini sambil kedua matanya mengamati luka tersebut.
“Jangan perdulikan aku, tuan!” terdengar suara hardikan gadis ini, dimana mengibas tangan sang presdir dengan kedua tangannya, lantas ditatap sengit pria itu, “Anda,” dia mengacungkan jari telunjuk tangan kanannya ke arah tuan muda tersebut, “Tidak usah perdulikan saya, baiknya anda temukan nona Erika, lantas lampiaskan kemarahan anda yang gagal itu karena dilampiaskan ke saya.”
Ruben terhenyak mendengar ini, lantas, “Aku tidak akan melakukan itu karena lebih penting mengobati dan menyembuhkanmu.”
“Tidak usah mengatakan itu, tuan Ruben Diablo!” pekik Amira sedikit lantang suaranya, “Saya tidak menerima semua bentuk pertanggungjawaban dari anda, karena anda mengambil sesuatu yang paling berharga dari saya!”
Sementara tidak jauh dari mereka, Bruce yang ditemani Alta mendengar semua percakapan tersebut dari tablet yang dipegang sang asisten. Tadi saat Ruben hendak berangkat kemari, Alta sempat diam-diam menempelkan alat penyadap di dalam lipatan kerah belakang kemeja atasannya itu. Ini atas perintah sang raja yang ingin mengetahui apa yang dibincangkan tuan presdir dengan Amira.
Tampak Bruce menghela napas berkali-kali selama mendengar percakapan Ruben dan Amira tersebut, merasa sang cucu benar membuat kesalahan fatal. Namun dia merasa Tuhan ada rencana terselubung untuk membenahi kehidupan si cucu yang amburadul setelah menceraikan Irma yang tertangkap basah bergumul panas di ranjang dengan pria lain hingga mengandung.
Amira segera menjauh dari Ruben, diraih tasnya, lantas bergegas meninggalkan tuan presdir itu. Wajahnya sudah basah dengan kristal-kristal air mata yang sarat kepedihan, kebencian, dan perasaan hina.
Ruben terdiam sambil memandangi kepergian sang gadis. Hatinya sangat terpukul karena merusak gadis yang berakhlak baik, yang merupakan tulang punggung Santi penderita sakit ginjal. Betapa ingin dia mengejar Amira, memeluk gadis itu, tapi sisi arogannya membuat dia diam terpaku memandang kepergian nona malang tersebut.
+++
Amira duduk meringkuk di salah satu sudut tangga di ruang jalur evakuasi rumah sakit. Tampak dia menangis tersedu-sedu tanpa suara. Diluapkan emosinya saat ini dalam tangis lirih.
Tanpa sesadar dia, dari celah pintu ruangan yang terbuka setengahnya, tampak Ruben mengamati dia. Pria itu sepeninggalan Amira menjadi tidak tenang, lantas menghubungi Senno, bertanya apa melihat Amira. Sang ajudan mengatakan nona itu ke ruang jalur evakuasi. Mendengar ini, hati sang presdir menjadi berpikir Amira akan melakukan tindakan konyol semisal bunuh diri. Maka secepatnya dia susul ke sana.
Saat membuka pintu ruangan, tampak olehnya si nona duduk meringkuk di sudut tangga, menangis pilu tanpa suara.
Hatinya jadi ikut menangis, jiwanya semakin dibelit penyesalan. Betapa ingin dia memeluk gadis ini, lantas membawanya ke dalam kehidupannya. Namun dia tidak bisa melakukan itu. Dia punya trauma menikah, lantas sikap Amira ke dia masih keras. Kemudian dia belum membicarakan ini dengan Bruce, juga Lotta putrinya.
Sementara di ICU, Santi duduk terdiam di bed. Ruben sudah menemuinya, dan dengan satria mengakui sudah merusak Amira. Sang presdir pun berlutut minta pengampunan si nenek, berjanji bertanggungjawab atas hidup sang gadis dan sang nenek.
Santi saat itu tidak bisa berkata apa pun, karena semua sudah kejadian. Lantas dia melihat Ruben bersikap satria, berani mengakui berbuat salah, dan mau memperbaikinya. Bagi Santi, sikap sang presdir menunjukan pria itu berakhlak baik. Namun dia tahu di mata Amira, tuan muda ini b******k.
Akhirnya Santi hanya mengatakan, Ruben harus lebih sabar menghadapi Amira. Minta sang presdir terus tanpa lelah membujuk Amira dengan kelembutan dan ketulusan. Santi mengatakan Amira punya hati yang lembut dan tidak tegaan. Jika dilimpahkan kelembutan dan ketulusan, Amira bisa melunak.
Mendengar ini sang presdir merasa lega karena Santi bisa menerima ikhlas pengakuannya, dan memberinya kesempatan memperbaiki keadaan Amira. Namun dia pun menyadari pada akhirnya, hanya menikahi sang gadis, maka keadaan buruk Amira bisa hilang. Apa mungkin itu dilakukannya?