Bab 10 Rahasia Tuan Presdir Terbuka

2275 Kata
Pagi ini sebenarnya cerah karena matahari di angkasa bersinar indah tanpa menyengat dunia. Namun tidak dengan hati Ruben, karena dia melihat Amira berjualan nasi uduk di teras rumah kontrakan sang gadis. Padahal gadis itu masih berstatus sakit. Ruben bisa melihat semua ini karena Senno yang tetap ditugaskan menjaga Amira melapor ke Alta bahwa kemarin siang si nona belanja banyak bahan masakan di Pasar Minggu, lantas pagi-pagi sekali sang ajudan melapor lagi bahwa gadis itu berjualan nasi uduk di teras rumah kontrakan sang gadis. Mendengar ini Ruben bergegas ke lokasi untuk melihat benarkah gadis itu berjualan nasi uduk. Ketika melihat dengan kedua matanya, sang presdir menjadi mengilu. Beberapa hari silam gadis itu dibikinnya babak belur, lantas saat ini mulai jualan untuk menyambung hidup, juga untuk mengumpulkan uang agar dikembalikan ke dia dengan mengangsur. Sang presdir meremat kedua tangannya kuat-kuat, mengapa si gadis begitu keras kepala memaksakan diri menolak pertanggungjawaban dia? Lantas seharusnya nona itu istirahat sambil menjaga Santi, mengapa malah berjualan nasi uduk. Sedikit jauh di belakang Ruben, tampak Bruce juga melihat Amira berjualan nasi uduk. Sang opa melihat Ruben tergesa meninggalkan penthouse tanpa Alta dan para ajudan, langsung menanyai Alta, lalu bersama si asisten dan ajudannya menyusul si cucu. “Alta,” terdengar suara sang raja memanggil Alta disisinya, “Ini gadis yang tepat untuk jadi istri baru Ruben.” Ujarnya yang merasa kagum dengan sikap Amira yang pantang menyerah dengan keadaan. Bahkan pantang menerima pertanggungjawaban Ruben hanya demi memperbaiki kehormatannya. “Ruben butuh istri seperti Amira, karena gadis itu sangat bertanggungjawab atas keluarganya. Dalam keadaan sakit, dia mampu berjualan nasi uduk demi keluarganya.” Alta tersenyum mendengar ini, “Tuan, nona Amira mana mau sama tuan muda?” “Itu semua tergantung Ruben, Alta. Kalau Ruben gigih menunjukan ketulusan bertanggungjawab ke Amira, pasti hati gadis itu mau menerima Ruben kelak jadi suaminya.” “Mengenai ini tidak bisa diberi jawaban, tuan. Tuan muda itu punya arogan tingkat dewa. Buktinya dua hari lalu beliau memilih tidak mendekati nona, tidak juga membesuk Bu Santi. Baru hari ini terbirit menemui nona. Bruce tersenyum geli mendengar penjelasan Alta karena tahu dua hari kemarin Ruben memang tidak mendekati Amira, tidak pula membesuk Santi. Sang Presdir takut jika mendekati si nona, maka akan menambah kebencian gadis malang tersebut ke dia. Namun dia tetap mengawasi si nona dan Santi, juga menyuruh Alta membuka rekening baru lantas uang dari sang gadis disimpan di sana untuk tabungan masa depan nona malang tersebut. Dia pun ke dealer untuk memilih sendiri motor matic yang akan diberikan ke Amira. Sebenarnya Amira beruntung karena Ruben adalah pria bertanggungjawab meski arogan. Lantas juga sang presdir tersentuh hati ke Amira, karena dimatanya sang nona sangat berbeda dari kebanyakan perawan di dunia ini. Amira tidak mau menerima apa pun dari dia, tidak minta ini dan itu pula. Sang gadis pun mampu mengatakan kebenaran mengenai hancurnya perempuan saat dinodai pria sebelum menikah. Ruben menghela napas, lantas sekali lagi mengesampingkan sisi arogannya, di dekati Amira yang sedang membuat pesanan pembeli. “Hehehe.” Terdengar kekehan Bruce yang melihat aksi Ruben tersebut, “Alta, lihat tuanmu itu yang punya arogan tingkat dewa.” Ditegurnya Alta yang juga tampak tersenyum geli melihat cucunya mendekati Amira, “Sekarang demi penyesalan dan tersentuh hati, disisihkan kearogannya itu.” “Saya lihat itu, tuan.” Kekeh Alta semakin tersenyum geli mendengar perkataan sang raja, “Tuan, nona Amira itu sangat cantik melebihi para perempuan yang pernah diicip tuan muda. Pola pikir nona juga lebih maju dari pada perempuan kebanyakan, lantas pantang menyerah sama keadaan. Jadi tuan muda bukan hanya menyesal, tapi tersentuh hati.” Bruce tampak tersenyum mendengar semua ini, karena dari pengamatannya selama ini, itu lah yang terjadi sama Ruben. Sang pangeran di masa masih kuliah, pernah jatuh cinta, tapi sayang sang kekasih meninggalkannya demi pria lain karena orangtua si pacar berhutang ke pria tersebut. Sejak putus dari si pacar, Ruben fokus kuliah dan mengembangkan Bens Company, tidak tertarik menjalin hubungan cinta dengan siapa pun. Tidak tertarik pula bermain dengan perempuan di night club dan ranjang. Tahun demi tahun dilakoni semua itu hingga usia menikah pun tiba. Minda pun mencarikan jodoh untuk Ruben, tujuannya agar cucu sang raja ini ada yang mengurus, dan tidak lagi workoholic, selain nantinya mengendalikan sang istri untuk bersekutu dengannya membujuk si cucu menyerahkan gelar putra mahkota ke Jeff. Ruben menolak perjodohan itu karena mengetahui maksud Minda yang inginkan dia menyerahkan gelar putra mahkota ke Jeff, lantas melakukan tindakan gegabah dengan menikahi Irma yang hanya dikenalnya sambil lalu saja. Saat ini, Ruben dipertemukan Tuhan dengan Amira-gadis sederhana dari keluarga berpendidikan tinggi yang menjadi tulang punggung Santi yang jatuh miskin dan kena sakit ginjal. Semua dalam diri Amira, meski mereka bertemu karena peristiwa salah culik tersebut, membuat hati Ruben bukan saja dipenuhi penyesalan, tapi tersentuh hati. Bahkan dimata sang presdir, Amira punya banyak misteri indah yang harus dia cari tahu. Ini sangat menantang bagi sang pangeran tersebut. Kembali ke Ruben, pria itu sudah di dekat Amira, kedua maniknya mengamati sang gadis yang memberikan pesanan ke pembeli, lantas menerima sejumlah uang untuk membayar pesanan tersebut. Senyumnya terlihat saat ini, karena dimatanya Amira begitu cantik pagi ini. Meski hanya menggenakan dress terusan hingga di atas lututnya dengan model klasik khas dress era tahun 60-an. Dress itu milik Santi saat masih muda, diberikan ke sang nona yang ukuran tubuhnya sama dengan si nenek saat muda. Meski dress itu sudah berusia sangat lama, dan modelnya kuno, tapi saat dipakai si nona, membuat kecantikan alami sang gadis bersinar cerah. Lantas juga tampak Amira sedikit menghias wajahnya dengan make up natural untuk menyamarkan bekas luka cambuk dari Ruben. Bibir mungil yang ranum si nona teroles lipstick soft pink yang dibaur lip balm, membuat bibir itu terlihat segar dan seksi. Kemudian dari tubuh gadis itu tercium harum parfum eau de toilette tiruan dari parfum C*****l No. 19 yang asli. Membuat aura sensual si gadis terlihat indah. Terakhir, rambut panjang ikal milik si nona dikunci ekor kuda dengan karet berwarna soft pink berhias satu korsase bunga mawar kecil. Semua yang terlihat tersebut membuat Ruben sangat ingin memeluk dan mesrain Amira, karena menyulut hasrat lelakinya yang menyukai perempuan yang pandai dandan tanpa mengubah kecantikan alami dalam diri. Amira tersadar diamati sang presdir karena hidungnya yang sensitif mencium harum parfum unisex lembut sensual dari badan pria itu. Harum yang sangat diingatnya, karena si pemakai memperkosanya hingga dia pun mencapai puncak kenikmatan. Malam itu, bukan hanya Ruben yang mendapat puncak nirwana, tapi juga Amira. Itu yang membuat sang nona langsung merasa lemas, kesadaran diri menurun, lantas dari oasenya juga meleleh air surga berbaur red liquid. Sejak itu pula, si gadis selalu teringat kejadian malam itu yang diluar dugaannya, sekaligus menjatuhkan dia dalam kehinaan. Kenikmatan cinta didapat karena diperkosa, bukan karena malam pengantin dengan sang suami. Amira jadi membenci Ruben, juga diri sendiri. Pelan si nona mengalihkan pandangan ke Ruben, tampak olehnya sang presdir tersenyum lembut dan tulus. Dia menghela napas, menjadi kesal, ‘Mau apa pria ini kemari? Apa masih memaksaku mau menerima pertanggungjawaban dia?’ Lantas mengalihkan pandangan ke pekerjaannya yang sedang meramu pesanan pembeli yang lain. Ruben melihat reaksi Amira sedikit menghela napas, tapi memahami mengapa si nona melakukan itu. Dia menyabar-sabarkan diri, lantas mengalihkan pandangan ke semua dagangan sang gadis yang tersusun rapih di meja kayu di depan mereka. Tampak olehnya di sana ada bermacam lauk seperti, irisan telur dadar, bihun goreng, oseng tempe manis, semur tahu kentang, telur balado, ikan tongkol bumbu kuning, jengkol balado, aneka gorengan seperti bakwan-tempe-tahu, nasi uduk, nasi putih biasa, dan krupuk yang dikemas dalam plastik-plastik ukuran seperempat kilogram. “Mira.” Terdengar suara ibu yang sedang menunggu pesanannya dibikin Amira, “Beberapa waktu lalu, saya melihat dua pria kemari.” Diajak si nona bicara. Ruben tercekat mendengar ini, sedikit melihat ke ibu itu, lantas mengalihkan pandangan ke Amira yang saat mendengar itu jadi melihat ke si ibu. “Iya saya melihatnya sendiri, Mira.” Suara si ibu kembali terdengar, “Soalnya saya baru pulang dari menjemput Dudi di sekolahnya.” “Oo!” terdengar suara Amira, “Mungkin teman di tempat kerja saya, bu Ida.” Ujarnya menduga yang datang teman di Drive Indo dulu. Ruben tercekat lagi, ditatap si nona dengan tidak percaya, mengapa ada teman pria yang mengunjungi gadis itu? Bukannya menurut Ibu Lastri pemilik kontrakan, Amira orangnya tertutup meski supel, tidak punya teman pria, hanya teman perempuan. Jadi yang datang ke kontrakan Amira, hanya teman perempuan. Kalau pun ada teman pria, Bu Lastri tahu Amira tidak akan membawa si teman ke dalam rumah untuk hal-hal m***m. Paling hanya untuk membesuk Santi, itu pun di ruang depan dan pintu rumah terbuka lebar. Lantas Amira di Gang Kluwek ini disegani karena sikapnya sopan tidak genit, dan dinilai sangat berbakti ke Santi. “Saya rasa,” terdengar lagi suara si ibu, “Bukan teman kerjamu, Mira.” Ujarnya menampik jawaban Amira, “Karena penampilannya necis seperti pria tajir di Sinetron-sinetron.” Imbuhnya menjelaskan bahwa pria yang dilihatnya bukan pekerja kasar, tapi pria kaya raya. Amira tercekat mendengar ini, pikirannya langsung teringat Ruben, membuat kedua maniknya mengarah ke pria itu. Ditatapnya dengan sorot mata bertanya, “Apakah kamu kemari?”. Ruben sedikit menelan salivanya, dirutuki si ibu karena bisa-bisanya mengatakan kedatangannya dan Alta kemari. Salah dia, karena tidak menyadari bahwa Amira tinggal di rumah kontrakan sederhana di dalam gang sempit, pastinya siapa pun yang berkunjung ke warga setempat akan terlihat. Lantas cepat atau lambat akan disiarkan dari mulut ke mulut. Jadi, meski dia menyumpel mulut Bu Lastri dengan satu amplop berisi uang tunai, mulut warga tetap bisa membicarakan kedatangannya itu ke Amira. “Mbak Mira,” Ruben cepat bersuara, “Itu,” ditunjuk sebungkus nasi uduk ditangan Amira, “Apa sudah selesai mbak racik?” tanyanya mengalihkan perhatian si nona, “Kalau sudah, baiknya cepat dibungkus, biar tidak dingin nasinya.” Imbuhnya dengan senyum grogi di wajah. Namun perkataan sang presdir membuat si ibu melihat ke dia, lantas diamati sejenak dengan serius. “Mira,” terdengar suara si ibu menegur Amira yang segera membungkus nasi di tangan, “Ini pria yang saya lihat itu.” Ujarnya mengenali Ruben yang dilihatnya kemari beberapa hari silam, “Iya, bapak ini, Mira.” Imbuhnya ketika si nona memandangnya dengan raut wajah terkejut, sambil menunjuk Ruben yang tampak gemas mendengar ocehannya. Ruben segera mengambil bungkusan nasi dari tangan Amira, lantas menyimpan dalam kantong kresek putih, kemudian dikasih ke si ibu. “Silahkan, bu.” Ujarnya polos banget sambil tersenyum, “Ibu tidak usah bayar, ya.” Imbuhnya mengatakan si ibu tidak usah bayar pesanan itu, “Saya yang bayar.” Imbuhnya lagi. “Anda?” terdengar suara si ibu keheranan memandang sang presdir. “Tapi,” “Anda pengen ditambah apa nasinya?” sela Ruben menghentikan suara ibu tersebut, sambil otak cerdasnya memikirkan apa pelengkap nasi uduk yang bisa diberikan ke si ibu. “Krupuk ya, bu?” dia menemukan jawaban ketika matanya melihat toples plastik berisi bungkusan-bungkusan krupuk. Cepat diambil satu bungkus, dimasukan ke dalam plastik ditangan si ibu. “Masih kurang ya, bu?” tanyanya karena ibu itu melongo dengan ulahnya. Matanya cepat menyisir ke semua lauk di meja, lantas melihat keranjang berisi gorengan. Cepat diambil dua potong bakwan dan tempe dengan pencapit kue, lantas dimasukan ke dalam plastik di tangan ibu tersebut yang bertambah melongo melihat kelakuannya. Amira menghela napas paham mengapa Ruben melakukan itu agar si ibu tidak terus membuka rahasia pria itu yang datang ke rumah ini. Sedangkan Ruben memandang si ibu, dimana kedua matanya menyuruh ibu itu pergi. Satu tangannya pun pelan dikibas ke depan, isyarat agar sang ibu pergi. Si ibu menghela napas, lantas pergi. Ruben pun cepat beralih ke empat orang pembeli yang menanti giliran dilayani Amira. “Maaf semuanya.” Terdengar suaranya, “Maaf, semua yang dijual mbak Amira, sudah saya borong.” Ujarnya mengatakan memborong semua dagangan Amira, “Silahkan kembali kemari besok ya.” Imbuhnya mengusir halus semua pembeli itu. “Yah!” terdengar suara satu gadis kecil yang sedari tadi sabar menunggu giliran, “Kok diborong? Ika kan pengen nasi uduknya kak Mira.” Dia memandang kesal Ruben. Sementara tidak jauh dari rumah ini, tampak Bruce terkekeh-kekeh geli melihat aksi Ruben itu yang kini diprotes Ika si gadis kecil yang setia membeli dagangan Amira yang rasanya sangat enak itu. Sedangkan Alta tersenyum geli karena seumur hidupnya baru melihat sang atasan beraksi melayani pembeli nasi uduk kaki lima. Selama ini melayani pembeli kelas kakap di semua bisnis sang presdir yang super mewah super mahal. Itu pun sang atasan tidak langsung melayani, karena ada tim marketing si bos. “Ooo!” Ruben tersentak mendengar protesan Ika, “Sayang, besok aja ya beli nasi uduk mbak Mira.” Dicoba bernegosiasi dengan gadis kecil itu yang masih berada di sini, sedangkan pembeli lain pergi dengan raut wajah kesal, “Om sudah memborongnya, sayang.” Dijelaskan mengapa minta Ika menurut ke dia. “Tapi om,” terdengar suara Ika sambil memandang Ruben dengan wajah mewek, “Dari kemarin Ika ngga makan nasi uduknya Kak Mira, karena kakak tidak jualan.” Diungkapkan isi hatinya. “Ika,” Amira cepat bersuara sebelum Ruben menanggapi, “Kak Mira bungkusin satu porsi ya wat Ika.” Ujarnya cepat mengambil sehelai kertas nasi dan daun pisang, “Ika mau nasi yang biasa kan?” diajak si gadis kecil bicara sambil meramu nasi yang diidamkan si kecil itu. “Iya Kak.” Sahut Ika semangat, “Kakak mank baik!” dipuji Amira, “Ngga kayak bapak itu.” Imbuhnya menunjuk Ruben sambil memasang wajah manyun, “Ika ngga boleh beli nasinya Kak Mira.” Imbuhnya lagi mengapa kesal ke sang presdir. Ruben mendengar ini sedikit menarik bibirnya ke dalam, gemas kena omelan gadis kecil itu. Diliriknya Amira, ingin tahu gadis itu akan menanggapi seperti apa ocehan nona kecil tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN