Ruben mengamati Amira yang mendekat ke Ika, lantas gadis ini dengan satu tangan mengusap lembut wajah bocah itu yang tampak masih kesal ke dia.
“Sayang,” terdengar suara gadis ini, “Om itu sudah membeli semua jualan kakak.” Ujarnya sambil menunjuk sekilas Ruben, “Jadi para pembeli lain, termasuk Ika, tidak bisa membeli jualan kakak.” Dijelaskan mengapa Ika tidak bisa membeli nasi uduk yang sudah diborong sang presdir.
“Tapi Ika dari kemarin pengen makan nasi uduk bikinan kakak. Ika suka banget, kak. Apalagi gorengan tahunya, enak banget.” Ika dengan polos mengemukan pendapatnya mengapa bersikeras ingin beli nadi uduk jualan Amira.
“Kalau begitu, Ika bisa bilang ke om ini,” Amira kembali menunjuk Ruben yang terus mengamati mereka berdua, “Om, bolehkah Ika beli satu bungkus aja nasinya? Ika suka banget. Boleh ya, om.”, semoga hati om ini tersentuh lantas Ika boleh beli satu bungkus.” Diajarkan bocah itu untuk mengatakan keinginan dengan sopan ke Ruben. “Jika om ini tidak kasih izin, Ika tidak boleh memaksa, karena tidak semua yang Ika inginkan bisa Ika dapatkan. Paham, sayang?” imbuhnya menambahkan pelajaran akhlak ke Ika.
“Emm.” Ika menganggukan kepala, “Tapi kok kak Mira bisa kasih nasi uduk ke Ika?” diberi pertanyaan ke Amira karena heran bukan kah nasi itu sudah diborong Ruben, “Kakak kan tidak bilang ke om itu kasih nasi ke Ika.”
Amira terkesiap dengan pertanyaan polos Ika, otak cerdasnya langsung disetting untuk memberikan jawaban yang baik ke si bocah dan tidak menyinggung Ruben. Meski dia membenci sang presdir, tapi masih menghargai pria itu yang berkenan membiayai Santi di rumah sakit.
“Emm,” Amira tampak masih memikirkan jawaban untuk Ika, “Ika, om ini belum bayar apa yang dibelinya dari kakak.” Dia pun menemukan jawaban yang tepat, “Jadi kakak bisa kasih satu bungkus wat Ika.” Imbuhnya memasang senyum manis ke Ika.
Ruben mendengar ini tersenyum karena jawaban Amira tepat. Dia belum membayar semua dagangan si nona, sudah tentu masih milik gadis ini, dan bisa dijual satu bungkus ke Ika. Lantas dia tersentuh karena nona malang ini ternyata punya kemampuan mendidik akhlak anak ke hal baik dengan kelembutan dan ketulusan.
Sudah tentu Amira punya kemampuan itu, karena belajar dari Santi yang mengasuh dan mendidiknya dengan kelembutan dan ketulusan.
Amira segera melanjutkan membungkus pesanan Ika, lantas diberikan ke bocah itu.
“Makasih kak Mira.” Ika menyambut dengan wajah riang, lantas menyodorkan uang dua puluh ribu ke Amira.
Amira mengambil uang itu, lantas diberikan uang lima ribu ke Ika sebagai kembalian.
“Ika,” Amira menegur Ika, “Ayo sebelum kamu pulang, minta maaf ke om ini.” Dia minta si bocah meminta maaf ke Ruben, “Tadi Ika mengatai beliau tidak baik, itu perbuatan tidak baik, sayang. Om ini seumur dengan ayahnya Ika kan? Ayo minta maaf, bilang, “Om, maafin Ika ya. Ika tadi tidak sopan ke om.” Ayo sayang, Tuhan suka Ika bersikap baik ke orangtua.”
Ika menganggukan kepala, lantas mendekati Ruben yang semakin tersenyum melihat sikap Amira tersebut. Lantas si bocah pun mengikuti instruksi nona malang tersebut sambil mencium sedikit punggung tangan sang presdir.
“Anak baik.” Terdengar suara Ruben di mana mengusap sayang kepala Ika, “Om juga minta maaf tadi galak ke Ika.” Dia pun minta maaf karena menyadari galak ke si bocah.
“Iya, om.”
Setelah itu Ika pun meninggalkan tempat ini dengan wajah riang sambil menenteng satu plastik berisi nasi uduk dan gorengan tahu kesukaan dia. Melihat si bocah menjadi riang, Amira tersenyum lega, lantas mengalihkan pandangan ke Ruben. Dia terkesiap karena sang duda tersenyum ke dia, lantas meraih pinggangnya, dibikin mereka berhadapan sangat dekat.
Dia menjadi ketakutan, sehingga meronta agar lepas dari pelukan tuan pangeran tersebut, tapi satu tangan pria itu meraih wajahnya, kening mereka pun dibikin bertempelan. Dia menatap sang duda dengan wajah cemas, teringat peristiwa saat dianiaya pria itu. Lantas dia sedikit mencium bau a*****l dari hembusan napas tuan muda.
Sepertinya sang pangeran lupa gosok gigi dan berkumur dengan antiseptik. Dimaklumi karena setelah mendapat kabar mengenai Amira kembali jualan nasi uduk, dia hanya sempat memakai pakaian saja, lantas terbirit kemari menemui sang gadis.
“Jangan takut, Mira.” Terdengar suara Ruben yang melihat ketakutan Amira tersebut, “Aku tidak akan mengasarimu.” Dia membujuk sang nona agar tidak takut berhadapan samanya. Bibirnya mencium sejenak kening gadis malang ini, lantas kembali ditatapnya, “Kenapa kamu jualan nasi uduk lagi?”
Amira menghela napas, ternyata sang presdir kemari untuk menanyainya.
“Tuan,” terdengar suaranya, “Aku harus mempertahankan hidup Andung dan diriku di dunia ini, jadi aku berjualan lagi agar dapat uang untuk itu.”
“Bukan kah uangmu yang 5 juta sudah kamu berikan ke aku? Lantas dari mana kamu dapat modal untuk kembali berjualan?”
“Saat aku di PHK, Pak Djarat memberiku pesangon. Jadi dengan itu aku bisa berjualan lagi.”
“I see.” Ruben paham, “Baiknya kamu berhenti berjualan. Pulihkan dirimu demi Andungmu itu.”
“Anda tidak berhak mengaturku, tuan.”
“Aku ada hak untuk itu, Mira. Aku yang mendapatkan mahkotamu, maka seperti yang kubilang, kamu sudah milikku. Karena milikku, aku mau kamu pulih untuk Andungmu itu.”
“Anda tidak waras rupanya.” Amira menghela napas pendek, “Sudah, aku mau mengemasi semua jualanku yang Anda beli itu.” Dilepas tangan Ruben dari pinggangnya, lantas bergegas mengemas semua dagangannya.
Ruben menghela napas, sudah dua kali dia mengatakan bahwa Amira adalah miliknya karena sudah mendapatkan mahkota sang gadis. Amira pun mengatakan dia tidak waras, karena memang yang dikatakannya hal tidak waras. Apakah dengan mengambil keperawanan perempuan, sudah bisa dikatakan memilikinya?
“Mira!” terdengar suaranya, ”Bisa aku minta satu porsi untuk dimakan di sini?” dikemukan mengapa memanggil Amira, “Aku dari semalam belum makan apa pun.” Imbuhnya memberitahu kondisi perutnya yang dari semalam belum diisi makanan, hanya dipenuhi minuman termasuk bir kalengan.
Setelah bertemu Amira terakhir kali, pikiran sang presdir kacau balau, membuat dia meneguk minuman bera*****l.
Amira menghela napas, “Anda tunggu di sini dulu.” Ujarnya meminta tuan muda menunggu di teras ini, lantas mengambil tas slempangnya yang diletakan dibawah meja kayu, kemudian hendak melangkah meninggalkan teras.
“Kamu mau kemana?” Sang presdir cepat meraih tangan Amira, ditatap gadis ini dengan sorot mata bertanya.
“Sudah diam saja lah,” Amira melepas tangan pria itu, “Anda tunggu di sini, jangan kemana-mana dulu.” Ujarnya sekali lagi minta sang presdir menantinya, lantas bergegas pergi.
Bruce dan Alta melihat ini saling berpandangan, mau kemana Amira dengan tergesa begitu? Tidak lama mereka mendapat jawaban, karena melihat sang nona memberikan satu kaleng s*** putih ke Ruben.
“Kamu,” terdengar suara sang presdir di mana memandang Amira yang menyodorkan sekaleng s*** tersebut, “Pergi membeli ini untukku?”
Amira menganggukan kepala, “Napas anda tercium bau a*****l.” Ujarnya, “Pantas anda tidak makan apa pun dari semalam, karena perut anda sudah penuh minuman itu.” Imbuhnya lagi. “Lekaslah anda minum s***nya, biar perut anda nyaman, dan bisa diisi dengan makanan.”
Ruben tersenyum mendengar ini, merasa Santi benar, bahwa Amira memiliki hati yang lembut dan tidak tegaan. Dia ambil s*** tersebut, lantas diminumnya sampai habis. Amira segera mengambil kaleng yang kosong dari tangan pria itu, lantas diberikan satu plastik ke sang presdir.
“Apa ini?”
“Anda segera muntah, jadi setelah itu gosok gigi dan berkumur dengan antiseptik, baru makan.” Sahut sang gadis, “Ambillah.” Disorongkan plastik itu ke Ruben, “Di dalamnya ada handuk kecil untuk mengeringkan wajah anda nanti.” Imbuhnya menjelaskan tambahan isi plastik tersebut yang ada sikat gigi, pasta gigi, dan obat kumur.
Kembali sang presdir tersenyum, diambil plastik itu, lantas,
“Terima kasih, tuan putri.” Diucap terima kasih dengan menyebut Amira sebagai tuan putri.
Amira hanya tersenyum tipis, segera ke meja kayu, tidak lama dia membuat tiga tangkup roti tawar tanpa kulit dilapisi mentega dan meses. Ruben mulai eneg, segera masuk ke dalam rumah, tidak lama membuang isi perutnya ke dalam kakus. Senno yang di dapur segera keluar dari rumah. Sedari tadi dia tidak berani keluar sebab mendengar suara sang atasan. Ajudan ini pun mendekati Alta dan Bruce.
“Senno,” terdengar suara si kakek menegur sang ajudan, “Ruben kenapa tergesa masuk ke dalam rumah?”
“Saya, tuan besar.” Sahut Senno, “Tuan muda membuang isi perutnya di kamar mandi. Sepertinya beliau masuk angin.”
Alta menghela napas, tahu kalau itu lebih dari masuk angin, tapi akibat efek a*****l.
“Alta.” Bruce memanggil Alta, “Apa Ruben semalam ada makan?”
Alta menggelengkan kepala, “Tuan muda hanya minum bir, tuan. Untuk menghilangkan pikiran kacaunya akibat membuat nona Amira menangis di hari terakhir mereka bertemu di rumah sakit. Lantas pagi ini pun beliau tidak sarapan.”
“I see.” Si kakek paham, “Mira tahu mengenai itu, pantas dia beli s*** putih untuk Ruben.” Dia menjadi paham mengapa Amira memberikan sekaleng s*** untuk Ruben, “Good wife.” Dipuji tindakan sang gadis.
Kembali ke teras rumah kontrakan, Ruben datang ke sana sambil mengeringkan wajah dengan handuk kecil pemberian Amira, dan menenteng plastik berisi sikat gigi, pasta gigi, dan obat kumur. Kedua matanya melihat ada meja lipat di sisi bangku plastik, dan di sana tertaruh baki berisi sepiring roti dan air putih. Keningnya sedikit berkerut melihat semua ini, ditegurnya Amira yang tampak menggigit sebagian roti ditangan si gadis.
“Mira.”
“Ya?”
Ruben menunjuk baki tersebut, “Semua itu untuk?” dipandang si gadis yang melihat jari telunjuknya yang mengarah ke baki.
“Untuk anda.” Sahut Amira singkat, “Saat ini perut anda baiknya diisi roti dulu, tidak nasi uduk. Nanti setelah perut anda nyaman, baru bisa diisi makanan berat.”
“I see.” Ruben paham, “Jadi kamu tidak sekedar membeli s***, sikat gigi, pasta gigi, dan obat kumur, untukku?”
“Iya.” Sahut si nona, “Sudah, lekas anda isi perut anda dengan roti itu.” Imbuhnya menyegerakan memakan rotinya, lantas membuat beberapa tangkup lagi roti yang tersisa, dikemas dalam kotak plastik persediaan lapaknya.
Ruben menaruh plastik ditangan ke lantai, lantas duduk di bangku plastik, dan mulai memakan roti bikinan Amira. Kedua matanya terus mengamati gadis itu yang terlihat mulai mengemasi semua lauk dan nasi yang diborong olehnya ke dalam kotak-kotak plastik food grade dan bungkus nasi.
Dia tampak tersenyum, merasa Santi benar-benar mendidik baik Amira. Dia pun mulai bersyukur salah menculik, karena jadi mengenal sang gadis yang bukan hanya memiliki harga diri tinggi, tapi hati yang lembut dan sangat mengurus keluarga. Bahkan gadis ini dalam kebencian, bisa perduli menolong dia yang terpengaruh a*****l.
Betapa ingin saat ini dia memeluk dan mencium mesra bibir gadis itu, tapi ditahannya, mengingat hati sang gadis masih terluka.
Dia terkesiap saat hatinya ingin memeluk dan mencium mesra gadis itu ketika melihat semua yang dikerjakan sang gadis untuk dia.
‘Tuhan,’ terdengar suara hatinya, ‘Apa yang terjadi padaku? Apakah karena menyesal, aku terpikat gadis ini? Atau kah karena aura dalam dirinya yang sangat cantik membuatku tersentuh rasa cinta?’
Lantas disentuh d***nya dengan satu tangan seolah merasakan detak jantungnya yang saat ini mulai dirasuki cinta. Cinta yang tidak diundang olehnya.
“Tuan.” Terdengar suara Amira menegur Ruben, di mana mendekati pria ini yang melihat ke dia. “Maaf, saya baru teringat sesuatu.”
“Kamu teringat apa?” Ruben meraih satu tangan sang gadis, digenggamnya dengan lembut.
“Emm,” Amira cepat melepas genggaman tangan sang presdir, “Anda lupa bertanya ke saya, berapa harga-harga semua jualan saya itu.” Dijelaskan maksudnya bicara sama pria itu yang tampak menghela napas karena dia melepas genggaman tangan sang pangeran.
“Tidak perlu kutanyakan itu,” sahut Ruben paham, “Kamu cukup mengemas semuanya, nanti aku bayar ke rekeningmu.”
“Ke rekeningku? Anda punya no rekeningku?”
“Tidak perlu kamu tanyakan itu.” Sang presdir kembali meraih tangan Amira, digenggamnya lagi. “Kamu tinggal hitung total harga saja.” Imbuhnya minta sang gadis menghitung total harga belanjaannya.
“Baik, tuan.” Sahut Amira melepas genggaman tangan sang presdir, tapi kali ini tidak berhasil karena digenggam erat pria itu. “Tuan.” Ditegur duda ganteng ini, “Anda meminta saya mengemas dan menghitung total harga, jadi mohon lepaskan tangan saya.” Ujarnya sopan.
Ruben menghela napas, lantas dilepas menggenggam tangan Amira, dibiarkan gadis ini mengerjakan yang dimintanya.
‘Sabar lah,’ bisik hatinya menyabarkan diri karena Amira masih menolak berdekatan dengannya. ‘Tidak mudah baginya memaafkanku.’ Dia paham perasaan sang gadis yang masih terluka.
Lantas dikeluarkan dompet dari saku belakang celana panjangnya, ditaruh ke baki, baru melanjutkan memakan sepotong roti yang tersisa. Kedua matanya terus mengamati Amira yang mulai menghitung total harga semua belanjaannya.
Lantas datang Alta bersama Nurdin Kepala Cabang dealer motor tempat Ruben membeli motor untuk Amira. Mana Bruce? Beliau kembali ke mobilnya yang diparkir depan Gang Kluwek.
“Tuan muda.” Sang asisten menegur Ruben.
Sang presdir mengalihkan pandangan ke asisten tersebut, lantas berdiri menghadap sang asisten dan Nurdin.
“Alta.” Ditegur asistennya, “Maaf, beliau ini siapa?” ditunjuk sekilas Nurdin yang belum dikenalnya, karena yang ke dealer asistennya.
“Beliau ini Pak Nurdin, kepala cabang dealer motor tempat anda membeli motor baru untuk nona Amira.” Sahut Alta memberikan jawaban. “Beliau menghubungi saya, karena mengenali nama anda sebagai pembeli. Lantas beliau ternyata kemari untuk mengantar sendiri motor tersebut.” Diterangkan mengapa Nurdin dihadapan Ruben, “Kebetulan anda sedang di sini.”
“Dari mana kamu tahu saya di sini?” Ruben memandang asistennya.
“Kan tadi pagi setelah saya melaporkan mengenai nona, anda terbirit kemari.”
Ruben terkesiap mendengar ini, lantas menghela napas.
Sedangkan Amira yang melihat kedatangan Alta dan Nurdin, juga mendengar pembicaraan tersebut, menjadi bertanya-tanya dalam hatinya. Benarkah sang presdir membelikan motor untuknya?