Bab 12 - Tetap Tidak Menerima Kebaikan Ruben

1691 Kata
Ruben tersadar pembicaraan ini di dengar Amira, segera mendekati gadis itu, diraih tangan sang gadis, “Bisa kita bicara berdua di dalam rumahmu?” dia meminta kesediaan Amira untuk mereka bicara berdua di dalam rumah. Amira menghela napas, terpaksa menganggukan kepala, lantas membiarkan Ruben membawanya ke dalam rumah. Saat di dalam, dia cepat melepas tangan Ruben, lalu memandang pria ini dengan sorot manik penuh pertanyaan mengenai motor yang dibeli sang presdir untuk dia. “Mira,” terdengar suara duda tampan ini, “Orang-orangku sudah merusak motormu yang merupakan kendaraan untukmu kemana-mana, termasuk mengantar Andungmu kontrol ke rumah sakit.” Ujarnya tahu apa yang dipertanyakan Amira, “Jadi aku belikan motor baru untukmu.” Amira menghela napas, baru paham mengapa sang presdir membelikan motor untuknya. Dia sendiri sudah mengikhlaskan motor yang rusak dan hilang entah di mana, lantas menerima keadaannya yang kemana-mana jalan kaki dan naik kendaraan umum. “Tuan,” terdengar suaranya, “Anda tidak perlu melakukan itu. Saya sudah ikhlaskan motor saya tersebut.” “Jangan terus bersikeras menolak bantuanku, Amira!” Ruben sedikit menghardik gadis ini, “Kamu butuh bantuanku, karena kondisi kamu saat ini sedang sakit, lantas juga butuh kendaraan pribadi untuk memudahkanmu bolak-balik menemui Andungmu itu.” “Tuan, saya sudah bilang tidak mau menerima apa pun darimu!” Amira jadi tersulut emosinya sehingga balik menghardik sang presdir. “Tapi kamu bolehin aku memborong jualanmu. Itu artinya kamu menerima sesuatu dariku kan?” “Aku jualan, anda memborongnya, berarti anda membayar jualanku. Itu tidak dihitung menerima sesuatu yang cuma-cuma dari anda demi penebusan sesal anda tersebut!” Ruben terkesiap mendengar jawaban Amira yang panjang, tepat, dan tegas. Tidak lama terdengar helaan napas, wajahnya pun terlihat serba salah berbaur gregetan. Dia merasa betapa kerasnya hati Amira menolak segala bentuk tanggungjawabnya tersebut. Kalau perempuan lain, pasti akan menerimanya, karena berpikir mengapa tidak mengambil kesempatan emas yang diberikannya. Lantas Amira berani melawan keinginannya, sedangkan yang lain, termasuk Irma mantan istrinya, tidak demikian. Perlawanan ini tidak bisa Ruben membalas dengan kemarahan atau tindakan sarkas. Entah kenapa hatinya tidak tega memberikan balasan setiap sang gadis melawan keinginannya. Sementara di teras, Alta membawa Nurdin ke halaman saat terdengar suara pasangan itu mulai sedikit meninggi. Sang asisten sudah menduga pasti Amira akan menolak motor pemberian Ruben, mengingat tingginya harga diri gadis itu. “Sudahlah.” Terdengar suara Ruben di mana kembali sambil menghela napas, “Semua terserah kamu saja.” Ujarnya tidak terus memaksa Amira mengikuti keinginannya, “Sekarang,” dipandang gadis itu, “Boleh aku menumpang mandi dan ganti pakaian? Aku harus ke Bens Company untuk kerja biar melunasi motormu itu.” Amira terkesiap mendengar ini, lantas memandang sang presdir dengan heran. Masa sih seorang billionaire membeli motor dengan kredit? “Kenapa memandangku seperti itu, Mira?” Terdengar suara sang presdir yang terheran melihat Amira memandangnya dengan keheranan. “Memangnya billionaire seperti anda, membeli skuter matic dengan kredit?” Tuing, Ruben terkesiap diberi pertanyaan itu, lantas mentertawakan dirinya yang asal bicara tadi. Namun pertanyaan Amira tidak salah, karena sepengetahuan sang gadis, kaum billionaire tidak pernah membeli apa pun dengan kredit. Padahal tidak demikian. Kaum billionaire pun membeli sesuatu dengan kredit, meski ada yang langsung dibayar tunai. “Iya, Mira.” Sahut sang presdir dengan konyolnya, “Aku beli skuter kamu itu dengan cara kredit.” “Masa sih? Bukannya bisa beli tunai pakai black card?” “Meski pakai black card, tetap namanya aku beli dengan kredit, nona Mira. Bank membayarkan dulu, nanti bulan depan, aku ganti dana itu ke bank.” “Ooo.” Amira percaya saja, sebab belum mengetahui sepenuhnya seperti apa keuangan para billionaire. “Mengenai permintaanmu numpang mandi,” dialihkan pembicaraan, “Mank kamu mau mandi di kamar mandi rumah kontrakan ini yang sempit? Yang mengambil air mandi dari ember plastik 80 liter dengan gayung plastik harga super ekonomis?” Ruben mendengar ini tersenyum geli, sebab Amira menjelaskan detail isi kamar mandinya. Sang gadis sekali lagi tidak salah, karena sang presdir kan billionaire, pastinya mandi di kamar mandi super luxury. Namun si nona tidak tahu bahwa Ruben adalah pria low profil. Tidak masalah baginya mandi di kamar mandi sederhana seperti di rumah kontrakan ini, asalkan kamar mandinya bersih dengan air yang jernih. “Hais, dia malah tersenyum geli.” Amira menjadi gemas karena Ruben tersenyum geli. “Hehehe.” Terdengar kekehan sang presdir, “Kamu ternyata lucu dan menyenangkan.” Dijawil sedikit hidung mancung Amira, “Sudah jangan banyak memberiku pertanyaan saat ini, karena aku ada miting sama klienku di Bens Company.” Diminta si nona tidak lagi bertanya ke dia, “Apa aku boleh menumpang mandi dan bersiap untuk kerja, tuan putri?” “Silahkan.” Sahut Amira singkat, “Ah ya, mengenai skuter itu, aku tetap tidak menerimanya. Anda paham, tuan Diablo?” dia kembali mengungkit mengenai motor yang dibeli Ruben. “Terserah!” sahut Ruben dengan bibir sedikit ditarik ke belakang, lantas bergegas pergi untuk menemui Alta. Dia tahu Alta pasti membawakan pakaiannya untuk berangkat miting di Bens Company. Amira menghela napas, “Pria mengesalkan.” Dirutuki Ruben, “Kamu pikir dengan memberiku segala kemewahan bisa mengembalikan mahkotaku yang kamu ambil paksa itu?” dia teringat lagi bagaimana sang presdir memperkosanya, “Ah sudahlah, dipikir terus, sakit hatiku.” Ujarnya tersadar tidak seharusnya mengingat peristiwa itu, lantas keluar dari rumah, segera mengemas semua makanan yang dibeli Ruben ke dalam tas kain yang dipunyanya. Ruben datang lagi, di mana menenteng satu stelan jas yang dikemas dalam cover jas, dan travel bag miliknya, di dekati Amira yang tampak sedang berpikir. “Mira.” Amira mengalihkan pandangan ke sang presdir yang menenteng dua barang tersebut. “Ya sudah anda ke kamar mandi saja, kan sudah diizinkan.” Ujarnya menyuruh pangeran ke kamar mandi, kenapa menemuinya. “Anda mau minta izin apalagi sekarang?” dia merasa ada sesuatu yang ingin disampaikan ke dia karena sang presdir tidak beranjak pergi. “Apa kamu masih ada beberapa potong roti?” “Udah aku bikin semuanya wat Anda makan nanti di jalan.” sahut Amira sambil mengambil tas kain yang ukurannya lebih kecil, “Nih ada di dalam sini.” Dipamerkan tas itu ke sang presdir, “Sudah sana anda lekas mandi, biar ngga telat mitingnya.” Diusir pria ini. Sang presdir tersenyum geli, cepat dikecup sayang pipi si nona, lantas ngibrit masuk ke dalam rumah sebelum sang gadis menjeritinnya. Amira tampak geram sambil mengusap pipinya, “Dasar anda menyebalkan!” dirutuki pria itu yang masih saja berani memberinya ciuman mendadak, seperti yang dilakukan saat dia di IGD Carter Hospital. Alta yang di halaman teras melihat semua ini sedikit tersenyum geli sambil geleng kepala. Feelingnya mengenai sang atasan tersentuh cinta mulai terlihat jelas, karena si bos sabar menghadapi kebencian Amira. Lantas sang presdir tidak segan menumpang mandi di rumah kontrakan ini, lalu berani memberi kecupan sayang mendadak ke nona malang itu. Sekitar setengah jam, dari dalam rumah terdengar suara Ruben, “Mira!” Amira yang sedang menyeduh dua gelas kopi hitam dan satu gelas thumbler teh manis hangat, mendengar suara Ruben, tapi tidak diperdulikan. “Amira!” kembali terdengar suara sang presdir lebih lantang, “Amira! Sayang!” kali ini digunakan kata sayang, “Sayang!” Amira mulai gatal telinganya mendengar kata sayang itu, tapi tetap tidak memperdulikan Ruben. Dia melambaikan tangan ke Alta yang melihat ke dia akibat teriakan-teriakan Ruben, minta sang asisten mendekatinya. “Ya, nona.” Alta segera menghadap si nona. “Bisa anda bawa semua barang ini?” Amira menunjuk dua tas kain di meja, “Tuan anda memborong jualan saya tadi.” Dijelaskan isi tas tersebut, “Jadi tolong dibawa ke mobilnya. Lantas jangan lupa nanti sampai di rumahnya, semua makanan dalam tas dihangatkan.” “Baik, nona.” Alta paham dimana wajahnya sedikit tersenyum geli karena Ruben memborong dagangan Amira. “Amira!” kembali terdengar suara Ruben dengan lantang, “Sayang! Hallo!” kini nada suaranya sedikit kesal karena sedari tadi tidak digubris Amira. “Sayang, tolong aku dong!” “Anda kenapa memangnya?” kini Amira terpaksa menyahut sebab sang presdir minta pertolongannya. Suara dia pun lantang, membuat Alta sedikit mengernyitkan wajah. “Kamu ke aku dulu, sayang!” seru tuan muda tak kalah lantangnya dari dalam rumah. “Bentar!” Amira jadi gregetan karena sang presdir terus memakai kata sayang sebagai kata ganti namanya. “Pak Alta.” Dia segera beralih ke Alta, “Lantas bawa juga tas yang ini.” Ditunjuk tas berisi sekotak roti untuk ngemil Ruben, “Isinya roti untuk tuan Ruben ngemil di mobil.” Ujarnya, “Ah ya,” dia beralih ke satu gelas thumbler miliknya, “Ini air teh manis hangat untuk minum tuan anda itu. Jangan kasih dulu kopi atau kopi krimer ke dia ya. Perutnya masih bermasalah gegara a*****l.” Imbuhnya sambil memasukan gelas itu ke dalam tas berisi sekotak roti. “Amira, sayang!” kembali terdengar suara Ruben, “Hadoh, aku kok dicuekin sih?” dia nelangsa karena sang gadis tidak juga menemuinya yang ada di kamar nona tersebut. “Iya, Ruben Diablo yang bawel!” sahut Amira lantang, dimana akibat senewen mengatai sang presdir itu bawel. “Dari tadi iya aja sih?” tanya tuan muda itu, “Buruan kenapa tolong aku!” didesaknya Amira segera menemuinya. “Ish, bawel banget ni manusia!” desis Amira gregetan, “Bentar!” dia belum beranjak menemui Ruben, “Pak Alta, lantas dua gelas kopi ini wat anda dan Pak Nurdin.” Dia kembali ke Alta di mana menunjuk dua gelas kopi hitam. “Sayang!” kembali terdengar suara lantang Ruben, “Ayo dong, nanti aku telat miting nih!” dia terus memaksa Amira menemuinya. “Iyalah, aku tolong anda!” sahut Amira geram dan lantang sambil bergegas masuk ke dalam rumah. Alta melihat semua ini tersenyum geli, dibenaknya mulai terbayang jika kelak Tuhan menikahkan Ruben dengan Amira, pasti tiap hari akan ada adegan sang presdir minta dimanja si nona. Kenapa begitu? Sikap sang gadis yang perduli menetralkan efek a*****l dalam perut atasannya membuat si bos tahu bisa minta dimanja gadis itu. Dia lantas mengalihkan pandangan ke meja, di mana ada tiga tas kain di sana. Senyumnya kembali terlihat, merasa penilaian Bruce tidak salah kalau Amira calon istri yang tepat untuk Ruben. Namun apakah Amira mau dinikahin Ruben?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN