Bab 13 - Presdir Bucin

2033 Kata
Amira sudah berada di dalam kamarnya, di mana ada Ruben yang berkacak pinggang memandangnya dengan gemas. “Anda perlu apa, tuan Diablo?” terdengar suara sang gadis sambil melipat kedua tangan ke d***, membalas pandangan sang presdir dengan wajah gregetan. Sang pangeran menunjuk 2 helai dasi di atas meja lipat, membuat si nona melihat ke sana, lalu memandangnya dengan heran. “Itu dasi.” Amira bersuara seolah mengatakan mengenali barang yang ditunjuk Ruben. “Iya, memang itu dasi.” Ruben mendengar ini menjadi gemas, “Tolong kamu pilihkan salah satu dasi itu yang cocok dengan pakaianku saat ini.” Ujarnya meminta Amira memilih satu dasi untuknya sambil memamerkan penampilannya saat ini yang menggenakan jas berwarna coklat muda, dipadu celana panjang berwarna coklat tua. Amira menghela napas, merasa kesal dipanggil hanya untuk memilihkan dasi yang cocok dipakai sang presdir ganteng. Didekati kedua dasi itu, diamati sejenak, lantas mengambil dasi bermotif gradien gold tua dan coklat muda, diberikan ke tuan muda itu. “Ini pilihanmu?” tanya Ruben polos banget, tanpa mengambil dasi yang disodorkan Amira. “Iya. Anda tidak srek?” “Sangat srek.” Sang presdir tersenyum, lalu melepas jas dari badannya, diletakan di salah satu lengannya, lantas, “Sekarang, tolong pasangkan dasi itu ke leherku.” Ujarnya meminta sang gadis memasangkan dasi tersebut ke lehernya. Amira tercengang, “Aku, tuan?” ditunjuk dirinya sendiri. “Iya, kamu.” “Tuan, aku ini rakyat kecil, yatim piatu pula, mana pernah memasang dasi untuk billionaire macam anda.” “Andungmu,” terdengar suara sang presdir, “Menikah sama pengusaha terkemuka di Padang.” “Lantas?” “Beliau mendidikmu bermacam-macam ketrampilan, pasti salah satunya memasang dasi. Tujuannya kelak kamu menikah sama billionaire, kamu bisa memasangkan dasi ke leher suamimu dengan bagus. Menambah kharisma suamimu di depan kliennya.” Oceh sang presdir panjang banget sambil kedua matanya dimainkan naik turun, isyarat kalau dia lah sang billionaire yang diangankan Santi untuk menjadi suami Amira. Amira tercengang mendengar ini, lantas spontan saja mengeplak lengan sang presdir. “Anda ini introgasi Andung ya? Ish, mengesalkan!” dia memasang wajah cemberut dimana kedua tangannya dilipat ke d**a, sehingga dasi terjepit di antara lipatan tangan tersebut. “Hehehe.” Ruben cengegesan, mana dia menanyai kehidupan Santi. Melihat roman Amira, dia menjadi gemas, dijawil sayang hidung si gadis. Bikin nona ini kesal, mengeplak lagi lengannya. “Hehehe.” Terdengar kembali cengegesannya yang merasa senang membuat nona malang ini kesal. Dia tadi hanya mengarang cerita saja agar Amira mau mengikatkan dasi untuknya. Ini juga karena dia melihat ada pesan singkat di ponsel si gadis di meja lipat yang isinya seseorang minta diajarin mengikat dasi agar sukses interview kerja. Dia bisa membaca pesan itu karena ponsel si nona tidak dikunci password. “Ayo Mira,” terdengar lagi suara sang presdir, “Lekas pasangkan dasi untukku, biar aku tidak telat miting sama klienku.” Ditunjuk dasi yang masih terjepit di antara lipatan tangan Amira yang menempel di d*** gadis itu. Amira menghela napas dengan kesal, lantas menuruti keinginan tuan muda ini. Dikancingkan kerah kemeja lantas dinaikan ke atas kerah itu, baru memasangkan dasi di sana. Dia memang bisa mengikat dasi, karena Santi mengajarinya. Sang nenek mengatakan agar kelak dia menikah sama pekerja kantoran, bisa memasangkan dasi untuk suami. Lantas karena tangannya trampil bikin hasta karya, dia pun mengasah ilmu dari Santi itu dengan membaca tutorial bermacam cara mengikat dasi dari guugli. Ruben mengamati sang nona yang mulai menjalin dasi menjadi satu ikatan yang bagus. Tampak dia tersenyum, merasa perkataan asalnya tadi benar, Santi memang mengajari nona ini mengikat dasi. Betapa ingin dia mendekap si nona saat ini, lantas dihadiahkan ciuman super mesra di bibir sang gadis. Ingin disampaikan betapa dia bangga si gadis punya banyak ketrampilan bagus. Amira sudah selesai mengikat dasi, lantas merapihkan kerah kemeja. Dia pun merapihkan ke seluruhan kemeja di badan sang presdir, baru dipasangkan jas, lantas menegur pria itu yang terus tersenyum melihat semua yang dikerjakannya. “Dah selesai tuan.” Ruben spontan meraih pinggang Amira dengan satu tangan, lantas dicium sayang kening gadis ini. Amira tertegun, karena lagi-lagi diberi ciuman dadakan sama pangeran tersebut. Kedua maniknya lalu memandang sang presdir yang menatapnya dengan sorot mata kagum dan terharu. Dia tidak bisa melakukan apa pun selain memandangi pria itu. “Terima kasih, tuan putriku yang cantik.” Terdengar suara sang presdir mengucapkan terima kasih, “Doakan aku agar mitingnya berjalan mulus ya, agar aku bisa memanjakanmu dan Andungmu apa pun yang kalian inginkan.” Amira menghela napas mendengar ini, merasa Ruben menjadi korslet otaknya setelah memperkosanya. Ruben tersenyum melihat gadis ini menilainya korslet, karena memang pada kenyataan begitu. Otaknya bukan hanya dipenuhi penyesalan, tapi juga ada rasa cinta yang tak pernah diundang oleh dia. Lantas dilepas tangannya dari pinggang sang nona, lalu bicara ke gadis tersebut. “Mira, aku titip barang-barangku ya di kamarmu ini.” Dia mengatakan menitipkan travel bag dan lainnya di kamar Amira. Amira tercengang, lantas kembali dengan spontan mengeplak lengan tuan presdir ini. “Ish, anda ini ya!” dia menjadi gregetan lagi, “Anda tahu saya benci anda, kenapa seenaknya ke saya, seolah saya ini wanitanya anda.” “Kamu memang wanitaku.” Sahut sang presdir dengan suara tenang dimana kembali meraih pinggang sang nona dengan satu tangannya, lantas menempelkan kening mereka, ditatap nona malang ini dengan pandangan pria jatuh cinta, “Aku sudah mengatakan sangat jelas kan, aku sudah memilikimu, maka kamu milikku. Hanya milikku.” “Anda korslet rupanya. Apa hanya karena anda mengambil mahkota saya, bisa mengklaim saya milik anda?” “Tentu saja, karena di dunia ini, pada akhirnya, perempuan yang diperkosa, akan menjadi milik si pelaku.” Amira menghela napas, merasa percuma berdebat sama Ruben yang arogan ini, lantas dilepas tangan sang presdir dari pinggangnya, spontan saja merapihkan jas bagian depan pria ini yang sedikit kusut gegara ketempelan tubuhnya. “Sudahlah, jangan banyak bicara lagi.” Terdengar suara si nona kini beralih merapihkan letak dasi dan kerah kemeja yang dipakai sang presdir, “Anda baiknya segera berangkat ke perusahaan anda itu.” Ujarnya sedikit mengesampingkan rasa bencinya, mengingat tuan muda ini sudah memborong dagangannya. “Siap, permaisuriku.” Sahut Ruben tanpa sadar memanggil permaisuriku ke Amira, “Ah ya, aku sudah transfer uang pembayaranku ke rekeningmu ya.” Diberitahu bahwa sudah mengirim uang untuk semua dagangan yang dibelinya dari sang gadis. “Lantas, please, mulai besok, kamu istirahat saja sampai sembuh.” Imbuhnya meminta nona ini tidak dulu berjualan nasi uduk dan lauk pauk. “Please, demi Andungmu, juga aku.” Diangkat dagu sang nona agar melihatnya. Amira kembali menghela napas, “Iyalah, aku nurut kali ini.” Dia terpaksa menuruti keinginan sang presdir. “Udah sana lekas berangkat kerja.” Ruben segera mengamit tangan Amira di lengannya, dibawa keluar dari rumah ini. Begitu mereka sampai di teras, tampak Senno dan satu wanita berusia 30-an tengah merapihkan peralatan makan bekas jualan Amira. Kening sang gadis berkerut, lantas menegur sang presdir. “Tuan.” “Ya, sayang?” Ruben mengalihkan pandangan ke nona ini. “Siapa perempuan itu?” Amira menunjuk perempuan yang di dekat Senno. “Ooo dia?” tuan muda melihat yang ditunjuk nona ini, “Dia namanya Ria, dan kutugaskan menjadi asistenmu mulai hari ini dan selamanya.” Amira tercengang, spontan melepas genggaman tangan Ruben, dikeplak lengan presdir ini. “Kamu itu apa-apaan sih?” dimarahin sang presdir, “Aku kan benci kamu, ngga mau menerima apa pun darimu!” “Aku tidak perduli itu. Aku perdulinya kamu wanitaku, dari sekarang kulengkapin, dan kuberi lebih dari ajudan untuk mengurusmu.” “Tuan,” Amira sedikit merentakan badannya di tempat, “Please deh, jangan hapus kebencianku ke kamu dengan melimpahkan ini itu ke aku. Hal lain, aku bukan perempuan materialistis.” “Aku tidak akan menghapus kebencianmu itu, hanya melakukan apa yang harus kulakukan untuk wanitaku yaitu kamu.” Sahut Ruben pelan mengusap sayang wajah Amira yang mewek kesal, “Ingat, aku sudah memilikimu, maka kamu wanitaku untuk selamanya.” Amira kembali merentakan badannya, bertambah kesal, tapi tidak berani menyembur sang presdir mengingat di sekitar banyak orang melihat mereka. “Terserahlah!” Amira akhirnya kembali mengalah, “Sudah sana lekas berangkat, pusing kepalaku kamu masih di sini.” Diusirnya sang presdir dari sisinya. Ruben tersenyum geli, kali ini dia lebih berani action ke Amira. Semua ini berkat Alta, dimana sang asisten memintanya tidak meninggalkan sang gadis, meski ditolak atau dijudesin. Yang dibutuhkan nona malang itu, Ruben selalu di dekat sang gadis, yang mana melimpahkan ketulusan nyata. “Senno! Ria!” terdengar suara sang presdir memanggil kedua pekerjanya. Kedua orang itu segera menghadap sang pangeran. “Ria,” pria itu bicara lebih dulu ke Ria, “Mulai hari ini, kamu urus Amira sebaik mungkin. Apa pun yang dimintanya, kamu penuhin. Ingatkan juga dia untuk minum obat-obatnya.” “Baik tuan.” Sahut Ria paham perintah tuan pangeran. Ruben menghela badan Amira agar mereka berhadapan, dipandangi gadis ini, hatinya merasa berat harus meninggalkan sang nona untuk berangkat kerja. “Aku berangkat ya,” terdengar suaranya yang bernada terpaksa, “Kamu kalau mau membesuk Andung, biar Senno mengantarmu pakai motor baru itu.” “Mank anda rela, saya duduk berdekatan sama dia?” Amira entah kenapa bertanya seperti ini, “Anda kan pencemburu.” Imbuhnya. Lantas terkesiap, merutuki dirinya kenapa mengatakan semua itu. Tuing, Ruben terhenyak mendengar sindiran ini, lantas, “Alta!” dipanggil asistennya sendiri. “Saya, tuan.” Sahut sang asisten segera menghadap tuan muda. “Kamu hubungin Elroy, minta dia antar salah satu mobil saya kemari. Minta juga Ujo atau Karjo jadi drivernya, lantas minta Axel dan Marko ikut bersama salah satu dari mereka. Biar jadi ajudan tambahan untuk Mira.” “Baik, tuan.” Sahut Alta mengulum senyum gelinya karena si bos cepat menanggapi sindiran Amira, “Tuan, apa tidak sebaiknya anda belikan mobil baru untuk nona? Kalau pakai salah satu mobil anda, nanti apa kata orang ke anda? Masa wanita anda pakai mobil anda, harus dibelikan mobil sendiri oleh anda.” Tuing, Amira terkejut mendengar ini, mengapa sang asisten mengatakan semua itu. Dia cepat melihat ke Ruben, ingin tahu apa tanggapan sang presdir. “Usulmu diterima!” terdengar suara pangeran ganteng itu, “Sementara kirim saja dulu salah satu mobil saya untuk Amira kemana saja, tanpa harus berdempetan sama Senno di motor.” Amira tercengang mendengar ini, Ruben dengan mudahnya menyetujui usul Alta, dikeplak lagi lengan sang presdir. “Kamu apa-apaan sih? Aku tidak mau dibelikan mobil. Tidak mau juga pakai mobilmu. Sudah tidak mengapa Senno mengantarku pake motor, lagian semua orang yang membonceng di motor pasti dempetan. Dah kamu jangan negatif dan posesif mulu bikin aku tambah kesal ke kamu.” Ruben hendak menukas, tapi disalip lagi sama gadis itu, “Sudah Pak Alta!” dipanggilnya Alta yang kembali mengulum senyum geli melihat reaksinya, “Anda tidak perlu mengusulkan tuan anda belikan mobil untuk saya. Anda usulkan saja agar dia berhemat, karena kehidupan masih panjang, butuh dana.” “Baik, nona.” Sahut sang asisten, “Lantas gimana dengan perintah tuan yang satunya, nona?” “Tidak usah kirim mobilnya untuk saya. Saya bisa di antar Senno pake motor, atau naik taksi online ditemani Ria. Titik, tidak pakai koma, habis perkara! Anda paham, pak Alta?” Amira melototin Alta, persis gaya para istri billionaire mengomelin para pekerjanya. “Paham, nona, paham.” Sahut sang asisten mau tidak mau tersenyum geli. “Good!” Amira menjadi lega, “Dah kamu angkut tuanmu ini ke kantornya. Dari tadi ngga berangkat juga, katanya ada miting.” Kicaunya sambil menunjuk Ruben seperti gaya istri pejabat tinggi. “Nona, tuan masih betah bersama anda.” Amira terkesiap, lantas memutar pandangan ke Ruben, melihat wajah sang presdir tersenyum geli karena aksinya tadi. “Alta benar, permaisuriku.” Terdengar suara sang presdir, “Aku masih betah bersamamu. Bukan masih, selalu betah bersamamu.” Amira menjadi gregetan, dicubit kuat-kuat kedua pipi sang presdir. “Adududu!” terdengar pekikan tuan muda ini, “Sayang, kok dicubit sih? Apa yang salah aku mengatakan betah bersamamu?” Amira menguatkan cubitannya, tidak suka mendengar ini. Akhirnya satu tangan Ruben cepat menarik tekuk sang gadis, lantas meraup bibir ranum nona tersebut. Membuat nona malang ini tertegun, lantas melepas cubitan dikedua pipi sang presdir. Kedua manik si nona memandang pria ini, hatinya kali ini tidak ketakutan. Hatinya mulai berdebar aneh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN