Dubai
Dengan langkah pelan, Devan memasuki kamar yang ditempati Grace. "Hey, honey. Dua minggu lagi kita akan menikah. Kau masih belum ingin membuka matamu, hem?" Helaan nafas pahit keluar dari bibirnya.
Devan mengambil ponselnya, mencari kontak nama Martin lalu menghubunginya, meminta dokter pribadi keluarganya untuk datang ke mansionnya.
Duduk Devan langsung tegap, saat Martin sudah tiba di ruang kerjanya. "Kau sudah memeriksanya?" Tanya Devan tak sabaran menatap Martin penuh harap.
"Sudah, Sir." Martin mengangguk pelan.
"Bagaimana perkembangannya?" Tanya Devan to the point.
"Belum ada perubahan, Sir. Sepertinya, Nona Grace masih betah dalam tidurnya." Setelah menjelaskan, Martin menunduk dalam.
Devan tersenyum masam. "Dua minggu lagi kami akan menikah. Apa tidak ada cara agar dia cepat sadar?" Ia mengusap wajahnya frustasi, helaan nafas pasrah terdengar jelas dari bibirnya.
"Tidak ada, Sir. Kita hanya bisa berharap dan berdoa untuknya saja." Balas Martin menyesal.
Devan memejamkan matanya pedih. "Baiklah, kau boleh pergi." Pria itu mengibaskan tangannya, agar Martin segera keluar dari ruangannya. Kepalanya mendadak sakit mendengar penjelasan Martin barusan.
Selepas kepergian Martin, Johan masuk ke dalam ruang kerja Devan. "Persiapan perjalanan bisnis anda ke Dubai sudah siap, Sir. Malam ini anda bisa berangkat." Ucap Johan hati-hati, mengingat mood Devan pasti sedang turun setelah bertemu Martin barusan.
"Berapa lama aku akan berada di sana, Jo?" Devan melirik sekilas pada Johan.
"Sekitar sepuluh hari, Sir. Selain menghadiri tender, kita juga akan menyelesaikan masalah korupsi yang ada di cabang sana dan juga menghadiri beberapa undangan pesta lainnya."
"Baiklah, Jo. Pastikan semuanya aman." Perintah Devan. "Ah ya, ajak juga Cecil bersama kita." Ucapnya lagi, menyeringai.
"Apa anda yakin, Sir?" Tanya Johan memastikan.
"Sure, aku tidak ingin dipusingkan dengan tingkah cerobohnya saat aku tidak ada nanti." Alibi Devan, kembali menyeringai penuh makna.
"Baik, Sir." Johan menunduk, lalu melangkah pergi dari ruang kerja Devan.
Seperti yang sudah Devan perintahkan tadi, saat ini Johan sudah berdiri di depan Cecilia untuk memberitahu wanita itu.
"Ada apa, Jo?" Cecilia bingung saat Johan mengetuk pintu kamarnya.
"Begini, Nona. Sesuai perintah Tuan Devan, anda akan ikut dengan beliau untuk perjalanan bisnis ke Dubai malam ini, selama sepuluh hari." Papar Johan menjelaskan.
"What? Kenapa aku harus ikut bersamanya, Jo?" Cecilia bertanya dengan wajah kaget sekaligus kesal setengah mati.
"Saya tidak mengerti, Nona. Sebaiknya anda bersiap sekarang." Johan berucap dengan tegas.
Cecilia memejamkan matanya geregetan. "Dimana dia?" Tanyanya menggeram gemas.
"Tuan Devan sedang beristirahat, Nona. Sebaiknya anda tidak perlu mengganggunya." Peringat Johan.
"Huh, baiklah." Cecilia menghembuska nafas pasrah.
Cecilia mulai mengepak pakaian yang akan dibawanya selama ikut dalam perjalanan bisnis ke Dubai, dibantu oleh Sandra. Sedari tadi, bibirnya terus saja mengoceh tidak terima dengan perintah sepihak yang dilayangkan oleh Devan padanya.
Sandra pun sudah diberikan perintah oleh Devan sebelumnya, untuk membantu Cecilia packing dengan arahan yang Johan berikan. Sandra mulai memasukkan satu per satu kebutuhan wanita cantik itu ke dalam koper. Mulai dari pakaian casual, gaun, perhiasan, tas hingga sepatu dan juga beberapa gaun tidur, bikini serta pakaian dalam milik wanita itu.
Setelah semuanya sudah siap, Sandra langsung membawa koper Cecilia keatas rooftop, karena Devan akan menggunakan Helikopter pribadi menuju bandara.
Cecilia langsung membersihkan tubuhnya setelah selesai mengemasi semua barang bawaannya. Rasanya, ia sudah seperti akan pindahan saja. Mengingat mereka akan tinggal selama sepuluh hari, tentunya tidak sedikit pakaian yang ia bawa beserta semua t***k bengek-nya. Bahkan, bawaannya lebih banyak dari pada waktu ia pindah ke sini.
Sebelum berangkat, mereka makan malam terlebih dahulu, karena perjalanan yang cukup jauh dan memakan waktu hampir tiga belas jam dalam pesawat.
"Sandra saya titip, Grace. Pastikan semuanya terpenuhi. Jika ada perkembangan, langsung segera hubungi saya." Titah Devan tegas.
"Baik, Sir." Sandra membungkukkan badannya sopan.
Devan dan Cecilia melangkah, menuju rooftop untuk menaiki Helikopter yang sudah menunggu kedatangan mereka. Dengan hati-hati, Cecilia mulai menaiki tangga Helikopter, jantungnya berdetak cepat karena ini adalah pengalaman pertama dalam hidupnya.
Setelah duduk dengan nyaman, Devan memasangkan seatbelt dan penutup telinga pada Cecilia. Ketika dirasa sudah cukup, Devan memberikan kode pada Johan yang ada di kursi depan dengan anggukan kepala. Helikopter mulai menyala, suara bising teredam di telinga Cecilia, karena wanita itu memakai penutup telinga.
Helikopter mulai mengudara, Cecilia tidak melepaskan tatapan matanya pada keindahan kota New York di malam hari melalui jendela. Setibanya di bandara, mereka beralih dengan Jet pribadi milik Devan. Sejak tadi, Cecilia dibuat tercengang dengan kemewahan yang pria itu miliki. Berapa banyak kekayaan yang dimiliki oleh Devan, pikirnya. Bahkan Jet pribadi Devan pun sudah seperti hotel terbang saja.
"Tidurlah jika kau mengantuk, disebelah sana ada kamar." Tunjuk Devan pada sebuah pintu dengan dagunya. "Sudah ada beberapa pakaian tidur di lemari, tinggal kau pakai saja." Beritahunya yang diangguki oleh Cecilia.
Cecilia berjalan pelan dengan langkah gontai, sebab ia sudah sangat mengantuk. Perlahan, Cecilia membuka pintu kamar, matanya kembali melotot sempurna. Dengan mata berpendar kagum, Cecilia memasuki kamar yang sungguh luar biasa mewahnya. Cecilia segera membuka lemari dan mengambil baju tidur yang sudah tersedia di sana. Setelah membersihkan tubuhnya, Cecilia langsung menghempaskan tubuhnya di atas kasur empuk dan menutup sebagian tubuhnya dengan selimut, tidak perlu waktu lama ia sudah tertidur lelap.
"Istirahat lah, Jo. Aku juga akan istirahat sekarang." Titah Devan yang diangguki oleh Johan dengan cepat. Mereka baru selesai membahas pekerjaan pukul dua belas malam.
Devan memasuki kamar yang ditempati oleh Cecilia dengan seringai tipis di wajahnya. Pria itu langung merebahkan dirinya setelah selesai membersihkan tubuhnya. Hanya dengan memakai boxer saja, Devan kembali menarik wanita ceroboh itu ke dalam pelukannya. Membenamkan wajahnya disela d**a Cecilia adalah kesukaannya sekarang, selain wangi menurutnya juga empuk lebih empuk dan wangi dibandingkan milik Grace.
Cecilia terbangun, hembusan nafas seseorang dapat ia rasakan disela dadanya. Matanya menyipit menyesuaikan cahaya yang masuk, tubuhnya terasa berat dan kaku. Dengan kesadaran yang mulai penuh, Cecilia menurunkan pandangannya. Keningnya berkerut saat menatap kepala pria yang sedang asyik tertidur di atas dadanya. Sedetik kemudian matanya langsung melotot horor, menyadari siapa yang seenaknya saja tidur sambil memeluknya.
"Devan!" Pekik Cecilia geram, mencoba untuk mendorong kepala pria itu menjauh dari dadanya.
"Hem." Devan hanya bergumam berat lalu kembali meletakkan kepalanya di tempat ternyamannya.
"Astaga!! Bagun!!" Cecilia mengguncang bahu Devan keras, sehingga pria itu mengerang tidak suka.
"What??" Gerutu Devan dengan wajah kesal.
Cecilia menganga melihat kelakuan pria m***m itu. "Bangun, Devan. Menyingkir dari atas tubuhku!" Ia kembali mengangkat kepala Devan menjauhkan dari dadanya.
Devan berdecak, mengangkat wajahnya dan menatap kesal wanita yang berada dibawahnya saat ini. "Kenapa kau selalu saja berisik?!"
Cecilia mendengkus kesal. "Apa yang kau lakukan? Kenapa seenaknya kau tidur di atas tubuhku?" Raung Cecilia, wajah terlihat sangat emosi.
"Apa? Aku sedang tidur, apa lagi memangnya?" Devan menjawab acuh lantas menyingkir perlahan dari atas tubuh Cecilia dengan perasaan tidak rela.
Cecilia menatap tajam pria itu. "Kau bisa tidur dimana pun, asal jangan di atas tubuhku!"
Devan mengangkat kedua bahunya cuek. "Aku suka tidur di sana." Tunjuk Devan ke arah d**a Cecilia dengan dagunya.
"Jangan seenaknya Devan!" Cecilia menggeram dengan tatapan yang menyorot tajam.
"Baiklah, nanti aku akan mengatakan padamu sebelum aku ingin tidur, anggap saja itu perintah dariku yang tidak boleh dan tidak bisa kau bantah!" Balas Devan dengan entengnya.
"Apa? Perintah macam apa itu?"
"Ya, perintah dariku, itu saja." Devan tertawa geli melihat wajah marah Cecilia yang terlihat menggemaskan di matanya.
Dengan wajah yang sudah memerah dan amarah yang hampir meledak, Cecilia beranjak dari kasur mengabaikan Devan yang sedang menertawakannya.
'Dasar pria sinting, gila, m***m!!'
Cecilia memasuki kamar mandi dengan sumpah serapah yang tidak berhenti dia lontarkan dalam hatinya untuk pria m***m itu.
Berkacak pinggang didepan cermin, Cecilia memijit pelipisnya yang mendadak pening seraya membuang nafasnya dengan kasar. Lantas, mendesah pelan begitu sadar jika ia lupa membawa pakaian gantinya. "Semoga saja pria m***m itu sudah keluar kamar."
Hanya dengan menggunakan bathrobe, Cecilia keluar dari kamar mandi. Dan sialnya, pria menjengkelkan itu masih ada di atas kasur tidur tengkurap. Cecilia menggeleng pelan, tidak mengerti bagaimana mungkin Grace bisa bertahan dengan pria m***m itu selama ini.
Tanpa mau ambil pusing, Cecilia mengambil pakaian yang sudah tersedia di lemari tanpa menyadari seseorang sedang menatap tubuhnya penuh minat.
Devan beranjak dari tidurnya, menyadarkan tubuhnya di sandaran ranjang lalu berdehem keras membuat Cecilia kaget dan tanpa sadar menjatuhkan pakaiannya.
"Ekhem!!"
"Astaga!! Tidak bisakah kau tidak membuatku kaget, Devan?" Cecilia mendengus jengkel lalu membungkuk untuk memunguti kembali pakaiannya yang terjatuh. Tanpa sadar, bagian dadanya yang polos terekspos dengan jelas dikedua mata Devan.
"Kau ingin menggodaku, huh?" Devan menggeram tertahan sebab matanya sudah salah fokus sekarang.
"Hah!?" Cecilia bingung mendengar ucapan Devan yang ambigu itu.
Devan menunjuk bagian yang membuat matanya hanya fokus memandang bagian itu saja dengan dagunya. "Itu"
Cecilia mengikuti arah pandang Devan, selanjutnya langsung menutupnya dengan tangannya. Wajahnya sudah memerah malu, Cecilia membalik tubuhnya berjalan dengan langkah lebar menuju kamar mandi meninggalkan Devan yang masih tercengang takjub dengan dua gundukan besar yang baru saja dilihatnya. Kedua tangannya tanpa sadar terangkat seakan ingin meremas keduanya.
Dengan cepat, Devan menggeleng menghilangkan pikiran kotor dari otaknya. "Bisa tegang terus si junior." Ia melirik ke bawah menatap iba miliknya yang mulai mengeras dibalik boxernya. "Sabar junior itu bukan sarangmu." Gumam Devan frustasi, ia mengusap wajahnya dengan kasar.
Jantung Cecilia rasanya mau copot. Ia tidak tau akan di letakkan dimana wajahnya saat bertemu dengan Devan nanti. Bisa-bisanya ia begitu ceroboh tadi. "Masa bodo! Anggap saja tidak pernah terjadi apapun." Gumamnya jengkel.
Cecilia segera memakai pakaiannya dengan cepat, ia hanya perlu menghindari tatapan pria m***m itu saja. Begitu selesai, Cecilia langsung melesat keluar dari kamar tanpa menoleh kembali ke arah Devan.
"Selamat pagi, Nona. Bagaimana tidur anda semalam?" Johan tersenyum sopan.
"Buruk, Jo. Kenapa juga pria itu harus tidur satu kamar denganku." Keluh Cecilia dengan wajah terlipat masam.
Johan hanya tersenyum samar mendengar keluhan Cecilia. "Anda ingin sarapan sekarang, Nona?" Tanyanya mengalihkan pembicaraan.
"Boleh, Jo." Cecilia mengangguk, masih saja lemas.
"Baiklah, Nona. Silahkan anda tunggu sebentar." Johan menundukkan kepalanya lalu pergi dari sana untuk memberitahu bagian dapur.
Devan sudah berpakaian dengan pakaian santainya. Setelah berperang berdua saja dengan juniornya tadi dikamar mandi, wajahnya sudah kelihatan lebih segar. Pria itu mendaratkan bokongnya tanpa ragu disebelah Cecilia, membuat wanita itu mendadak gugup kembali.
"Kau sudah meminta sarapan pada Johan?"
"Hem." Cecilia memalingkan wajahnya ke arah jendela pesawat.
Devan tersenyum kecil, 'polos dan menggemaskan.' Batin Devan tertawa.