14 Dinner

2059 Kata
Dinner Jet pribadi mendarat sempurna di atas landasan, mereka sudah ditunggu oleh mobil jemputan yang akan membawa mereka langsung ke penginapan di Burj Al-Arab Hotel. Penginapan mewah dengan kamar suite menawan, dengan kolam renang, pantai pribadi, dan spa mewah. Johan sudah memesan kamar khusus sesuai perintah Devan. Dengan sedikit ragu, Cecilia mendekat ke arah Devan, saat iris birunya menangkap banyaknya pria mata keranjang yang menatapnya intens. Devan melirik Cecilia sekilas, yang tampak risih ditatap oleh banyak pria disekitarnya. Rahangnya langsung mengeras. "Kemari!" Titah Devan, penuh penekanan. Dengan berat hati, Cecilia berjalan mendekati Devan, lalu mengapit lengan kekar pria itu. "Cepat sedikit, Jo!!" "Baik, Sir." Johan melangkah lebih cepat menuju resepsionis, untuk mengambil kunci kamar yang sudah disiapkan sebelumnya. Devan menatap bengis setiap pria yang tertangkap basah menatap Cecilia secara terang-terangan. "Jangan menjauh dariku!" Cecilia mengangguk pasrah, dari pada dia harus merasakan tidak nyaman di tatap oleh banyak pria, lebih baik merapatkan sedikit tubuhnya pada Devan. Dengan jengkel, Devan langsung menarik pinggul Cecilia hingga tubuh mereka menempel sempurna. Ia memeluk erat pinggang Cecilia hingga wanita itu sedikit sesak. Cecilia mendongak, menatap Devan. Ternyata, pria m***m itu sedang melemparkan tatapan lasernya pada setiap pria yang tertangkap basah menatapnya. "Silahkan, Sir." Ucap Johan setelah memegang kunci ditangannya. Devan dan Cecilia kembali mengikuti langkah Johan menuju kamar yang sudah di pesan sebelumnya. Dengan tangan Devan yang tidak lepas dari pinggul Cecilia. Pemandangan laut lepas langsung memanjakan maniknya, iris biru terang itu memandang laut dengan senyum mengembang. "Bereskan kopermu." Titah Devan membuat Cecilia menatapnya heran. "Apa yang kau lakukan disini?" Cecilia bingung. "Istirahat, tentu saja." "Kenapa dikamar ini? Bukankah ini kamarku?" Devan tertawa mendengarnya. "Kamarmu? Ini kamar kita bersama!" Ujarnya, menyeringai penuh arti. "What? No, no, no!" Cecilia mengibaskan telapak tangannya, menolak mentah-mentah pernyataan pria m***m itu. Bisa habis dirinya jika satu kamar dengan pria menyebalkan itu. Devan menaikkan satu alisnya, tersenyum remeh. "Kau ingin kamar sendiri? Silahkan pesan dan bayar sendiri." Cecilia menatap gemas pria yang duduk tenang di sofa. "Tapi kenapa kita harus satu kamar, Devan?" "Anggap saja itu perintah." "Astaga, Tuhan, bisa gila lama-lama aku disini." Cecilia meremas udara untuk menyalurkan rasa gemas dan kesalnya. Dengan kaki yang di hentakkan keras Cecilia menggeret satu persatu koper ke arah lemari. "Jangan berisik, cepat bereskan saja semua koper itu!!" Cecilia menyalin seluruh isi koper dengan wajah tertekuk masam. Semoga saja pria m***m itu tidak berbuat macam-macam padanya nanti. "Kau ingin istirahat atau mau jalan-jalan keluar?" Devan melirik sekilas pada Cecilia, lalu kembali menatap laptop di pangkuannya. "Aku mau tidur saja, aku masih lelah." Jawab Cecilia disela-sela kesibukan tangannya. "Oke, nanti malam kita akan dinner di luar." Beritahu Devan. "Hem." Selesai dengan semua koper itu, Cecilia mengganti bajunya dengan sweater panjang 'kenapa sandra tidak memasukkan celana pendekku' batinnya menggerutu. Untung saja sweaternya besar hingga sebatas paha. Masih dengan rambut sedikit basar, Cecilia duduk di sofa yang menghadap laut membaca novel online di ponselnya. "Kau tidak tidur?" "Nanti, rambutku masih sedikit basah." Cecilia menolehkan kepalanya sekilas. Devan menghentikan pekerjaannya sejenak, ia pergi membasuh wajahnya dan mengganti baju serta celananya. "Jika kau lapar pesan saja makanan." Seru Devan saat keluar dari kamar mandi. "Hem, nanti saja aku masih belum lapar." Cecilia masih tetap fokus membaca cerita novel melalui aplikasi di ponselnya. Begitu rambutnya sudah agak mengering, Cecilia merebahkan tubuhnya dengan nyaman di atas ranjang. Matanya mulai terpejam, menikmati angin sepoi-sepoi yang berhembus melalui jendela kamar. Devan menatap pergerakan Cecilia dalam diam, saat dirasa wanita itu sudah terlelap, ia menyalakan AC dan menutup jendela serta gorden. Devan kembali meneruskan pekerjaannya. Cukup lama berkutat dengan laptopnya, ia mengucek matanya dan merentangkan otot tangannya saat pekerjaannya sudah selesai semua. Devan menutup laptopnya lalu melangkah ke arah ranjang dan bergabung dengan Cecilia di sana. Bunyi bel pintu yang terus berbunyi, membangunkan Cecilia dari tidurnya. Ia menatap jengah pada pria m***m yang masih asyik terlelap menempelkan wajahnya di atas dadanya. "Devan! Bangun!" Cecilia mendengus sebal, menggoyangkan seluruh tubuhnya agar Devan menyingkir dari atas tubuhnya. "Ck, diamlah Cecil." Devan berdecak, makin mengeratkan pelukannya pada tubuh Cecilia, agar berhenti bergerak. "Ya Tuhan, Devan! Itu bel pintu berbunyi sejak tadi! Bangun dulu, aku mau buka pintu." "Pengganggu!" Rutuk Devan kesal, dengan malas ia mengangkat sebagian tubuhnya dari atas tubuh Cecilia. Cecilia memutar bola matanya malas. "Kau itu berat Devan, sadar diri sedikit!" Cibirnya ketus. Devan membuka sedikit matanya. "Cerewet!" Balasnya sinis. Cecilia menendang selimut dengan kasar lalu beranjak dari ranjang dengan mulut yang terus mengumpat, kemudian membuka pintu dan mendapati seorang pria yang mengantarkan gaun dan juga jas. "Selamat sore, Miss. Saya ingin mengantarkan pesanan Tuan Devan." Ucap pria itu dengan senyum ramahnya. "Oh iya, terima kasih banyak." Balas Cecilia tidak kalah ramah. Ia mengambil alih gaun dan jas dari tangan pria itu, matanya menatap intens gaun dan jas itu dengan wajah bingung. Baru saja ingin bertanya, ternyata Devan sudah tidak ada di atas ranjang. Cecilia mengangkat kedua bahunya acuh, ia menggantung pakaian yang diterimanya tadi ke dalam lemari. Hari sudah sangat sore, Cecilia harus bergegas mandi, mengingat pria itu tadi bilang akan mengajaknya dinner di luar. Sambil menunggu, Cecilia membuka pitu kaca yang mengarah ke balkon kamar Hotel. Ia berdiri, menatap lurus ke arah laut lepas sambil tersenyum manis, rambutnya berterbangan. Matanya terpejam, menikmati hembusan angin yang menerpa kulit dan wajah cantiknya. Devan yang baru saja keluar dari kamar mandi mengerutkan dahinya bingung, menatap punggung wanita yang hanya diam menghadap ke arah laut. Ia kemudian menghampiri wanita itu dengan langkah pelan. "Sedang apa kau disitu? Kau tidak berniat untuk bunuh diri bukan?" Devan memicingkan matanya curiga. Dengan wajah kesal, Cecilia membalik tubuhnya, menatap Devan sambil berkacak pinggang. "Kau benar-benar pengganggu!" Dengus Cecilia jengkel, dengan langkah lebar ia melewati tubuh Devan menuju kamar mandi. "Dimana jasku yang tadi diantar?" Tanya Devan saat Cecilia ingin membuka pintu kamar mandi. "Di lemari, aku menggantungnya di sana." Cecilia menolehkan kepalanya sejenak. "Nanti kau pakai gaun yang tadi diantar bersama jasku." Titah Devan sambil membuka pintu lemari. "Oke." Teriak Cecilia dari dalam kamar mandi. Cecilia dan Devan sudah rapi dan sudah siap untuk pergi dinner. Segala sesuatunya sudah disiapkan oleh Johan untuk dinner mereka malam ini. Bel pintu kamar kembali berbunyi, Devan yang membukanya kali ini. "Semua sudah siap, Sir." Lapor Johan memberitahu. Devan mengangguk, lalu menoleh ke arah Cecilia yang masih duduk di sofa. "Ayo, Cecil." "Aku malas keluar sebenarnya, Dev. Aku risih diperhatikan oleh pria-pria mata keranjang itu." Gerutu Cecilia dengan wajah cemberut. Johan tertawa melihat wajah menggemaskan Cecilia. "Ada yang akan mengawal anda nanti,Nona. Anda tidak perlu khawatir." "Jika kau tidak ikut menatap mereka, tidak akan seperti itu jadinya." Devan ikut berkomentar. "Aku hanya risih diperhatikan, aku tidak seperti itu." Sanggah Cecilia tidak terima disalahkan. "Keras kepala! Ayo cepat apa kau tidak lapar?" Tanya Devan datar. "Tentu saja aku lapar." Cecilia nyengir lebar. Seperti yang dikatakan oleh Johan tadi. Saat ini mereka berjalan beriringan di dampingi oleh beberapa pria berbadan besar dengan kacamata hitam yang bertengger di hidung. Cecilia menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya, saat tiba di lokasi tempat mereka akan dinner. Sebuah meja dan dua buah kursi beralaskan permadani, ditemani dua buah obor menyala, serta lilin di atas meja, tepat disisi Hotel dipinggir pantai dengan pemandangan laut lepas. Amat sangat romantis. Cecilia menoleh, menatap Devan yang juga sedang menatapnya. "Anggap saja ini kencan pertamamu, mengingat kau belum pernah kencan sebelumnya." Kalimat Devan barusan langsung membuat Cecilia merasa tersindir sekaligus kesal setengah mati. Cecilia mendaratkan bokongnya pada salah satu kursi yang tersedia dengan kasar. "Ternyata kau bisa romantis juga, aku pikir keahlianmu hanya bisa membuat orang kesal saja." Cibirnya dengan suara ketus yang kentara. "Oh tentu saja, kau akan shock jika tau seberapa romantisnya aku." Balas Devan dengan wajah bangga. "Ya terserahlah, aku heran kenapa tunanganmu itu betah berhubungan lama dengan pria menyebalkan sepertimu." Devan tergelak kencang. "Atas dasar apa kau sebut aku menyebalkan, huh? Bahkan, kau belum mengenalku dengan baik." "Tentu saja dari kelakuanmu itu, selain menyebalkan kau juga m***m!" "Hei..... aku ini lelaki sejati dan tentu saja sangat normal. Semua pria akan melakukan hal yang sama seperti aku. Kau saja yang kolot tidak pernah berhubungan dengan pria manapun." Devan sewot, tidak terima dituduh seperti itu. Cecilia hanya diam, malas menyahuti omongan pria itu. Makanan khas arab menjadi menu utama, tidak ada yang bersuara selama mereka menikmati makanan. "Ingat Cecil, jika bersamaku namamu akan berubah menjadi Grace Maria, tunanganku. Jangan sampai salah jika memperkenalkan dirimu nanti jika ada yang bertanya." Peringat Devan sambil menyesap wine. "Oke." Cecilia mengangguk. "Besok aku ada tender, kau akan ikut bersamaku. Setelah itu kita akan ke kantor cabangku yang ada disini." Kata Devan memberitahu. Cecilia menoleh sejenak. "Memangnya sebelumnya kau tidak pernah pergi berdua dengan tunanganmu ke salah satu acara?" Tanyanya heran. "Hem, belum pernah, selama ini kami sibuk dengan kegiatan kami masing-masing. Dia juga sibuk dengan kaum sosialitanya." "Hah? Selama kalian berhubungan belum pernah jalan berdua begitu maksudmu?" Cecilia menatap Devan dengan alis hampir menyatu. Devan meminum sejenak wine-nya lalu menatap lekat Cecilia. "Kami hampir jarang bertemu, hanya jika di mansion saja itupun jika kami tidak sibuk." Jawabnya sambil mengingat kembali perjalanan cintanya. "What? Bukankah kemarin tunanganmu kecelakaan saat ingin menyusulmu? Saat kau sedang perjalanan bisnis ke Roma?" Cecilia menatap serius ke arah pria yang duduk disampingnya sekarang ini. "Dari mana kau tau soal itu?" Devan mengangkat satu alisnya menatap Cecilia penuh selidik. "Eum, aku bertanya pada Sandra waktu itu kenapa tunanganmu bisa koma." Cicit Cecilia pelan. "Kau benar, tapi dia tidak pernah ikut denganku dalam acara apapun. Dia hanya akan berbelanja saja di negara yang kami kunjungi. Aku akan sibuk dengan semua bisnisku begitupun dengan dia sibuk dengan acaranya sendiri." "Cih, hubungan macam apa itu? Aku baru tau ada orang berhubungan seperti itu. Walaupun aku tidak pernah berpacaran sekalipun. Tapi, aku melihat pasangan lain di sekitarku, dan tidak ada yang berhubungan seperti kalian berdua. Bahkan temanku di NY-NY hampir setiap malam dijemput oleh kekasihnya." Cecil berkomentar seraya menggeleng tidak habis pikir. "Itu karena kekasih dari temanmu tidak punya pekerjaan lain!" Geram Devan dengan wajah tertekuk masam. "Devan dengarkan aku baik-baik, setiap pasangan itu harus punya waktu berdua apalagi kalian akan menapak kejenjang pernikahan. Tidak bisa kalian hanya sibuk dengan dunia kalian masing-masing, mau jadi apa nanti rumah tangga kalian kedepannya? Nahkan kau lebih benyak menghabiskan waktumu berdua dengan Johan dari pada dengan tunanganmu itu. Kalian harus bisa merubah konsep hubungan kalian berdua, salah satu dari kalian harus ada yang mengalah! Kau lihat saja bagaimana keharmonisan kedua orangtuamu, dengan usia mereka yang sudah tidak muda lagi saja, mereka masih bisa kemanapun berdua dan menunjukkan sikap romantis mereka didepan orang banyak. Sementara kau? Bertemu saja jarang" Cecilia menatap serius Devan, berharap pria itu mengerti apa yang ia maksudkan. Menurutnya, sungguh aneh cara berhubungan antara Devan dan tunangannya. Yang pria sibuk mencari uang, sementara yang wanita sibuk menghabiskan uang. Devan sedikit terhenyak mendengar semua ucapan Cecilia, jika dipikir-pikir memang benar yang dikatakan oleh wanita ceroboh itu. "Jangan sok tau, kau bisa berbicara seperti itu karena tidak mengalami apa yang kami berdua rasakan." Cecilia mengangkat kedua bahunya acuh. "Aku hanya memberi saran saja padamu, jika kau tidak ingin mengikutinya juga tidak masalah." "Aku memberikan semua fasilitas pada Grace, karena dia dari keluarga yang broken home. Dia tidak mendapatkan kasih sayang utuh dari kedua orangtuanya. Oleh karena itu, aku membiarkannya untuk menyenangkan dirinya sendiri." Devan menopang dagunya dengan kedua tangannya, tatapannya lurus ke arah laut. Cecilia tertawa hambar. "Bahkan aku belum pernah merasakan itu semua, Dev." Cecilia tersenyum kecut, "aku sangat senang waktu Daddymu berkata jika aku boleh memanggilnya dengan sebutan Daddy, begitupun dengan Mommymu. Simpel bukan? Hanya panggilan saja, aku sudah sangat bahagia, Dev. Karena seumur hidup, aku belum pernah mengucapkan kata itu. Apalagi, saat aku tau bahwa hobi Mommymu dan aku sama, kami sama-sama menyukai bunga dan membuat kue. Jujur saja itu sangat berarti untukku, Dev. Mungkin untuk kalian akan terdengar sangat aneh, tapi percayalah itu adalah momen yang paling aku tunggu seumur hidupku." Cecilia menarik nafas pahit dari hidungnya dan membuangnya dengan pelan. Devan mengalihkan tatapannya pada wanita ceroboh yang duduk disampingnya, maniknya menangkap gurat kesedihan yang terlihat sangat jelas dari iris biru terang itu. "Bersenang-senanglah sampai waktunya nanti tiba, kau bisa menikmati kebersamaan dengan kedua orangtuaku, selama Grace belum bangun dari komanya." Devan berucap dengan senyum penuh arti. "Tentu saja, aku akan memanfaatkan waktu yang aku miliki untuk bisa merasakan memiliki orang tua. Aku tidak akan membuang jauh kesempatan itu, Dev. Itu adalah salah satu mimpi yang aku miliki." Jawab Cecilia semangat dengan senyum yang mengembang sempurna.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN