“Bukankah mereka berdua benar-benar aneh?” tanya Vera pelan sambil menoleh ke kursi belakang. Rizal ikut melirik ke belakang melalui kaca spion tengah. Berbeda dengan Rizal dan Vera yang fokus dengan perjalanan pulang mereka, Wira dan Nadin justru kompak tertidur di kursi belakang. Kepala mereka yang nyaris menempel membuat siapa pun merasa gemas. “Apa Nadin pernah bercerita tentang Wira?” “Eum, entahlah, yang jelas Wira mengingatkan Nadin pada masa lalunya.” “Masa lalunya?” tanya Rizal yang seolah minta dijelaskan lebih banyak. “Nggak, bukan apa-apa.” Vera memilih menghentikannya. Ia khawatir tidak seharusnya ia menceritakan perihal itu pada orang lain. Karena Vera adalah satu-satunya orang yang dapat mengerti lengkap bagaimana Nadin bisa berdamai dengan masa lalu. “Jujur saja say

