Empat Puluh Dua

2126 Kata

*** Tangisku baru saja berhenti setelah pintu kamar rawatku kembali terbuka. Menampakan wajah Ibu yang masih tampak sangat lembut meskipun aku telah dianggap tak becus menjaga cucunya. Mungkin Ibu tak mempermasalahkan kejadian itu karena sekarang dia sudah mendapatkan seorang cucu lain dari Mbak Lia yang sesungguhnya adalah anak yang aku kandung selama Sembilan bulan ini. “Loh kok Nira nangis?” tanya Ibu. Matanya menatap curiga ke arah Mbak Rani yang aku tahu betul tak dikenali oleh Ibu. Aku mengusap sisa air mataku. Kepalaku mengangguk singkat. “Nira nggak apa-apa, Bu. Oya, kenalin Bu, ini Mbak Rani. Dia rekan kerja Nira di Madrasah,” terangku. Mbak Rani mengulurkan tangannya pada Ibu mertuaku. Mereka pun akhirnya berjabat tangan. Semua normal kecuali keterkejutan Ibu yang coba unt

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN