*** Sesampainya di kamar rawatku, air mata kembali jatuh membasahi pipi. Banyak sekali yang membebaniku saat ini. Akibatnya, aku melupakan sesuatu. Aku lupa Mbak Rani tidak mengenal Mbak Lia dengan layak. Aku lupa yang Mbak Rani ketahui adalah hanya aku istri satu-satunya Mas Azam, tapi di sana tadi dirinya tampak biasa saja. Mbak Rani bahkan tidak terkejut saat Mas Azam dan Mbak Lia berperan sebagai sepasang suami istri yang tampak saling perhatian di depanku. Aku pun akhirnya merasa tak nyaman. Entah harus mulai dari mana aku bertanya. Namun, aku harus tetap menjelaskan segalanya pada Mbak Rani agar dia tidak bingung dan canggung. “Kenapa, Nir? Kamu baik-baik saja, kan?” tanya Mbak Rani. Untunglah dia memulai pembicaraan ini. Aku jadi punya topik untuk bertanya mengenai perasaan Mb

