*** Tak sempat kupeluk raga putriku tercinta, tetapi ia telah lebih dulu disambut Mbak Lia. Tak kusangka hari di mana aku melahirkan akan menjadi petaka paling menyakitkan sekaligus menjadi hari terindah dalam hidupku. Pagi tadi, tepat Tiga Puluh Tujuh minggu bayiku lahir ke dunia. Apa yang aku harapkan tidak sesuai kenyataan. Entah kenapa, Ibu yang selalu siaga mendadak harus kembali ke rumahnya karena Ayah mertua kami membutuhkan keberadaannya sehari yang lalu. Kemudian, Mas Azam? Iya, dia ada bersama kami pagi tadi. Meski begitu, dirinya selalu saja sibuk bersama Mbak Lia. Baiklah, kembali akan kuceritakan apa yang telah terjadi padaku pagi tadi. Perutku mulai terasa sakit kala aku sedang mengistirahatkan diri usai mandi. Sulit sekali rasanya membawa perut sebesar ini tanpa bantua

