Empat Puluh Lima

1972 Kata

*** Mata Mbak Lia menatap nyalang kepadaku setelah aku sampai di ruang tamu. Ia menunjukku dengan kasar lantaran kesal kutinggalkan begitu saja. Tak ada kata maaf yang ingin kuucapkan kepadanya. Aku hanya ingin menyelesaikan ini lebih cepat seperti yang Mas Azam inginkan. Kulirik amplop coklat yang masih utuh itu, lalu kuambil setelah aku mendudukkan diriku pada kursi yang sama dengan yang sebelumnya kududuki. Perlahan kubuka. Terhenti hanya ketika aku menatap Satu persatu orang-orang yang ada di ruang tamu. Ibu, Mas Azam dan Mbak Lia. Sementara itu, buah hatiku masih tertidur nyenyak di kamar Mas Azam dan Mbak Lia. Aku menarik napas dengan dalam, lalu perlahan aku keluarkan. Sesaknya masih sangat terasa, tapi aku tidak ingin menunda perpisahan ini terlalu lama. Aku tidak ingin menola

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN