*** Mas Azam masih memelukku erat meski waktu sudah berlalu sekitar setengah jam sejak Mbak Lia meninggalkan rumah. Kami pun masih berada di posisi yang sama yaitu saling mendekap di ruang tamu. Syukurlah, Mas Azam tidak seperti lelaki kebanyakan yang akan menghabiskan waktunya di luar sembari minum-minuman. Aku senang dia membutuhkanku saat ini. “Mas, sebaiknya Mas istirahat di kamar aja ya,” ucapku lembut. Hatinya masih sangat rapuh meskipun air matanya tak lagi membasahi pipi. Mas Azam menggeleng lemah. “Biarkan kita di posisi ini dulu, Nira. Mas masih membutuhkan pelukkanmu,” bisiknya. “Azam, sebaiknya kalian istirahat di kamar saja. Nira juga pasti capek nangis terus dari tadi,” tegur Ibu yang sejak tadi masih berada didekat kami. Mas Azam mengembuskan napasnya dengan berat.

