Empat Puluh Tujuh

1628 Kata

*** Percakapanku dengan Ibu terhenti begitu mendengar suara tangisan dari putriku. “Bu, dia nangis,” ucapku. Kami berdua pun menghampirinya. Tak habis haruku melihat buah hatiku yang lucu ini. Gemas sendiri aku dibuatnya. Rasa sayangku pun serasa berlimpah untuknya. “Uhhh, anak Bunda. Kenapa, Nak? Lapar ya?” bujukku agar ia tak menangis lagi. “Ahhh kangen sama bundanya kayaknya,” Ibu turut bicara. Senyumnya rekah karena lega. Aku tahu itu karena aku pun merasakan hal yang sama. “Coba Nir kasih mimic, mungkin dia lapar,” kata Ibu. Aku pun buru-buru mengeluarkan sumber makanan putriku. Namun, hatiku sedih ketika tiba-tiba saja ia menolaknya. Ibu meringis. “Mungkin karena semingguan ini dia nggak makan dari kamu, Nir,” ucapnya. Aku mengangguk sendu. Rasa bersalah kurasakan pada bayik

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN