*** Pagi pertama setelah kemarin rumah tangga ini diporak-porandakan oleh masalah. Seperti yang telah direncakan, semalam Mas Azam benar-benar pindah ke kamarku. Begitu juga dengan Najla. Dia kami bawa bersama box bayinya. Tak kusangka tidurku akan sedamai ini hanya dengan pelukan mesra dari Mas Azam. Pagiku terasa berbeda ketika membuka mata yang kulihat adalah dirinya. Suamiku tercinta. Kutatap lembut wajahnya yang masih terlelap. Senyumku terbit kala matanya bergerak lambat, menandakan akan segera terbuka. “Pagi,” sapanya manis, semanis senyum yang baru saja kulihat di kedua sudut bibirnya. Aku mengangguk singkat. “Pagi juga, Mas,” balasku. Syukurlah, semalam Mas Azam tertidur cukup nyenyak, meski kadang masih kudapati ia gelisah. Aku memeluknya erat kala kegelisahan itu mengham

