*** Giliran Mbak Lia yang diperiksa kandungan palsunya. Aku memperhatikan Mas Azam yang justru menungguiku di luar saat Mbak Lia masuk bersama dokter Arga. Dahiku berkerut heran lantaran Mas Azam yang cinta mati pada Mbak Lia kini membiarkan istrinya itu diperiksa tanpa ditemani olehnya. Padahal, aku ingin sekali Mas Azam masuk ke sana dan mengetahui dengan pasti hasil kebohongan Mbak Lia. “Mas kenapa nggak ikut?” tanyaku yang tak lagi bisa menahan rasa penasaran. Mas Azam menggelengkan kepala sembari tersenyum lembut padaku. “Coba lihat bayi kita, Nir,” balasnya mengabaikan pertanyaanku. “Tapi Mas … ” Lelaki yang sudah menarik hatiku itu menggelengkan kepalanya sekali lagi. Tangannya terulur, meminta hasil USG hari ini. Meskipun masih sangat penasaran dengan tingkah Mas Azam, aku

