*** Kami bertiga sudah duduk di dalam mobil Mas Azam. Mbak Lia berada di depan, tepat di samping Mas Azam yang sedang menyetir. Sementara aku duduk di belakang kursi Mbak Lia. Sejak tadi, keduanya terlibat obrolan manis seputar bayi. Aku hanya diam menyimak. “Aku beneran nggak nyangka Mas, menjadikan Nira sebagai madu justru memberi kita rezeki sebesar ini. Aku senang banget bisa hamil, Mas,” ucap Mbak Lia sembari mengusap perut ratanya. Kuakui, Mbak Lia bersandiwara dengan sangat baik. Dia membohongi Mas Azam tanpa takut mendapat karma di masa depan. Kulihat Mas Azam mengangguk antusias. Senyumnya terbit menghiasi wajahnya yang tampan. Lagi-lagi, dalam kesulitan ini, aku jatuh hati kepadanya. Sungguh, tidak masalah Mas hatiku pedih menyadari kebohongan Mbak Lia asal itu bisa membuat

