Livia merasa sangat bahagia karena selama satu minggu ini dia menghabiskan waktu berduaan dengan Orion di pulau yang sangat indah itu. Dia juga sangat lega melihat sikap Orion yang tidak mempedulikan Sagita meskipun mereka sudah menikah.
Pada awalnya, begitu mendengar Orion akan melangsungkan pernikahan dengan Sagita, Livia merasa sangat cemas. Dia takut Orion akan tertarik pada gadis itu dan meninggalkannya. Tapi setelah melihat penampilan Sagita, Livia yakin bahwa Orion tidak mungkin tertarik padanya. Livia jelas merasa dirinya jauh lebih cantik dan anggun dibanding Sagita.
Sikap dingin yang ditunjukkan Orion pada Sagita semakin menambah keyakinan Livia bahwa Orion tidak mungkin tertarik padanya. Kendati demikian, Livia tak tenang jika membiarkan Orion berbulan madu berduaan dengan Sagita, itulah sebabnya dia memutuskan untuk menyusul mereka ke pulau itu.
Setelah satu minggu bersenang-senang dengan Orion di pulau, mereka pun memutuskan untuk kembali. Setelah sempat berbincang-bincang dengan Sagita, Livia merasa kasihan pada gadis itu. Dalam pemikiran Livia sekarang, tidak ada salahnya mencoba menjalin persahabatan dengan Sagita. Walau bagaimanapun Sagita pasti sangat menderita dengan pernikahan ini, sama seperti dirinya dan Orion. Livia merasa, mereka bertiga hanyalah korban dari keserakahan dan keegoisan orangtua mereka.
Setelah selesai membereskan semua barang-barangnya, Livia keluar dari penginapan dan menunggu kedatangan Orion dan Sagita yang akan menjemputnya. Livia tersenyum lebar begitu melihat kedatangan mereka. Mereka bertiga bergegas pergi ke bandara dengan diantar sopir yang menyewakan mobilnya pada mereka.
Di dalam mobil, Orion duduk di kursi depan di samping sopir, sedangkan Livia dan Sagita duduk di kursi belakang.
Livia memperhatikan pemandangan yang dilewati melalui kaca mobil. Tak dia pungkiri pulau ini memang sangat indah dan asri. Suatu hari nanti, dia bertekad akan datang dan berlibur lagi di sini. Tentu saja bersama Orion. Jika sekarang mereka datang ke sini karena bulan madu Orion dan Sagita, kelak Livia akan kembali ke sini untuk berbulan madu dengan Orion jika mereka menikah. Sayangnya harus menunggu selama satu tahun hingga keinginannya itu bisa tercapai. Tidak masalah, Livia akan berusaha sabar menanti.
Livia menoleh ke arah samping, pada Sagita yang sejak tadi hanya terdiam sambil menundukan wajah. Namun, setelah Livia perhatikan gadis itu sejak tadi terus tersenyum sendiri seolah hal bagus baru saja terjadi pada dirinya.
Awalnya, Livia tak ingin peduli. Hingga dia teringat semalam Orion menginap di rumah kayu bersama Sagita, tiba-tiba pemikiran buruk terlintas di benak Livia. Membuat hatinya memanas karena berpikir sesuatu telah terjadi pada Orion dan Sagita sehingga gadis itu tampak semringah pagi ini.
“Sagita,” panggilnya. Sagita mengangkat kepala, lalu menoleh pada Livia.
“Ya. Kenapa, Livia?” Tanya gadis itu sambil tersenyum ramah seperti biasa.
“Bagaimana tidurmu semalam? Nyenyak?” Tanya Livia, basa-basi tentu saja. Tapi jika Sagita cerdas, sebenarnya ada makna tersirat dari pertanyaan Livia tersebut.
Sagita tanpa ragu mengangguk, “Sangat nyenyak,” jawabnya.
Livia terpaku, sekarang otaknya semakin dipenuhi pikiran negatif. “Apa kau mimpi indah semalam?”
Sagita menggelengkan kepala, “Tidak. Hanya saja semalam aku tidak kesepian lagi.”
Livia terbelalak setelah mendengar jawaban Sagita. Sagita yang menyadari ekspresi wajah Livia yang berubah begitu mendengar jawabannya, cepat-cepat meralat. Dia sadar jawabannya bisa menimbulkan kesalahpahaman.
“Maksudku, kemarin kan aku selalu sendirian di rumah kayu, tapi semalam ada Orion juga. Jadi, aku tidak merasa sendirian. Aku ini sebenarnya penakut.” Sagita terkekeh di akhir ucapannya.
Livia mengangguk-anggukan kepala sambil ber-oh pendek. “Kau dan Orion pasti banyak mengobrol ya semalam?” Livia kembali menyelidiki kejadian apa yang membuat Sagita riang, mengingat belakangan ini gadis itu tak pernah seceria itu. Sebaliknya, Sagita yang selalu dilihat Livia adalah sosok gadis pendiam yang murung dan tak banyak bicara.
“Tidak. Semalam kami langsung mengemasi barang masing-masing. Mandi lalu langsung tidur.”
Livia kembali ber-oh pendek. “Hm, kalian tidur satu ranjang?”
Sagita terbelalak, untuk kedua kalinya Livia menanyakan hal itu seingat Sagita. “B-Begitulah. Seperti yang kau tahu hanya ada satu kamar di rumah kayu itu. Di kamar juga tidak ada sofa yang bisa dijadikan tempat tidur. Jadi, kami tidur seranjang.” Sagita tak ingin berbohong karena itu dia menjawab yang sejujurnya. Tapi sungguh gadis itu tak bermaksud memanas-manasi Livia, namun jika melihat dari raut wajah Livia yang berubah drastis seolah sedang menahan kesal, Sagita tahu jawabannya membuat Livia berpikir yang tidak-tidak tentangnya dan Orion.
“Kenapa kau bertanya seperti itu, Livia?”
Baik Sagita maupun Livia tersentak begitu suara Orion mengalun. Rupanya diam-diam pria itu mendengarkan pembicaraan mereka.
“Aku harap kau tidak berpikir yang tidak-tidak tentangku dan Sagita.”
Livia tiba-tiba terkekeh sambil mengibas-ngibaskan tangannya, “Tentu saja tidak. Kau ini bicara apa, Orion? Aku kan hanya bertanya karena penasaran saja. Lagi pula ...” Livia menoleh pada Sagita. “Aku percaya pada kalian berdua, terutama pada Sagita,” katanya sambil tersenyum hingga kedua matanya menyipit.
Sagita balas tersenyum meski kini suasana terasa begitu canggung.
“Kau sudah mengenalku dengan baik, Livia. Jadi jangan pernah berpikir yang tidak-tidak tentangku.”
Orion tampaknya masih tersinggung, terlihat dari nada suaranya yang terdengar ketus dan dingin. Livia yang menyadari itu bergegas memeluk kekasihnya dari belakang, mengabaikan sang sopir yang menatap mereka melalui kaca spion tengah.
“Tidak, sayang. Aku tidak pernah mencurigaimu. Aku tahu kau pria yang setia. Maaf jika pertanyaanku tadi menyinggung perasaanmu,” ucap Livia dengan sengaja mengecup pipi Orion.
“Ya, ya, baiklah.”
“Kau marah padaku?”
Orion menggelengkan kepala, “Tidak. Kau tahu aku tidak pernah bisa marah padamu.” Orion mengatakan itu sambil mengusap-usap puncak kepala Livia. Tanpa pria itu sadari tindakannya membuat Sagita menghela napas berat. Gadis itu memalingkan wajah ke arah kaca mobil, lebih memilih melihat pemandangan sekeliling dibandingkan kemesraan dua sejoli itu.
“Kembalilah ke tempat dudukmu. Sebentar lagi kita sampai di bandara.”
“OK.” Sekali lagi Livia mengecup pipi Orion, sebelum dirinya kembali duduk tenang di kursinya.
Livia tiada henti tersenyum semringah, kekhawatiran yang tadi sempat menggelayuti hatinya, kini menguap entah kemana. Dia kembali menoleh ke arah Sagita yang sedang menatap pemandangan sekitar. Dia telusuri penampilan gadis itu yang sederhana seperti biasanya. Hingga tanpa sengaja tatapannya tertuju pada pergelangan tangan Sagita. Dirinya tersentak menemukan sebuah gelang yang mirip dengan gelang miliknya, melingkar di pergelangan tangan gadis itu.
Livia sangat terkejut melihat Sagita memakai gelang itu. Dia yakin kemarin Sagita tidak membeli gelang apa pun. Saat mereka berjalan-jalan di pusat desa kemarin, Sagita tidak pernah berpisah darinya. Lalu kapan tepatnya Sagita membeli gelang itu?
Livia heran bukan main, hingga dia pun menyadari sesuatu. Mereka bertiga memang selalu bersama, tapi Livia ingat ketika di kedai makanan, Orion sempat berpisah dengan mereka dengan alasan pergi ke toilet. Livia curiga Orion yang membelikan gelang itu untuk Sagita.
Kecurigaannya semakin besar ketika Livia kembali mengingat sikap Orion tadi malam yang terlihat mencurigakan. Untuk pertama kali Orion menolak ikut pulang bersamanya ke penginapan mereka dan lebih memilih ikut dengan Sagita pulang ke rumah kayu. Meski Orion beralasan dirinya harus mengemasi barang-barangnya di rumah kayu, Livia semakin yakin memang Orion yang membelikan gelang itu untuk Sagita. Meskipun Livia yakin Orion tidak mungkin tertarik apalagi jatuh cinta pada Sagita, tapi melihat hal ini membuatnya mulai kembali cemas. Livia bertekad di dalam hati, tidak akan membiarkan hal ini terulang kembali. Dia tidak akan membiarkan Orion pergi meninggalkannya apalagi hanya karena seorang gadis norak seperti Sagita.
Sikap Sagita yang begitu ceria hari ini semakin menambah keyakian Livia bahwa Orionlah penyebabnya. Livia mendengus dalam hati, berpikir dia harus melakukan sesuatu agar Sagita tidak pernah berpikir bisa merebut Orion darinya.
***
Di bandara, mereka kini duduk menunggu sampai waktu penerbangan. Masih tersisa sekitar satu jam. Livia duduk di samping Orion, tepat di tengah-tengah Sagita dan Orion. Dengan sengaja Livia menyandarkan kepalanya di bahu pria itu dengan kedua tangannya yang melingkar posesif di lengan Orion. Orion tak berkomentar apa pun, dirinya tak terlihat keberatan dengan sikap manja kekasihnya.
Sesekali Livia melirik ke arah Sagita yang duduk tepat di sampingnya. Walau kemarin Sagita jelas-jelas menjawab tidak sedang menyukai pria mana pun, hanya dengan melihat raut wajahnya yang murung setiap kali melihat kemesraan Orian dan dirinya, Livia tidaklah bodoh. Dia sadar Sagita berbohong. Bagaimana cara Sagita menatap Orion sudah sangat menggambarkan gadis itu sedang jatuh cinta. Ya, Livia sadar Sagita jatuh cinta pada kekasihnya.
Livia tersenyum puas manakala melihat Sagita sejak tadi memalingkan wajah ke arah lain karena tak ingin melihat kemesraan mereka berdua.
Sagita yang seperti sedang melamun sambil menonton televisi itu tersentak saat ponselnya bergetar dalam saku celana. Cepat-cepat dia mengambil ponsel itu, tersenyum lebar saat menyadari ayahnya yang menelepon.
“Hallo, ayah,” ucap Sagita dengan wajah berbinar senang.
Orion yang mendengarnya, seketika menoleh. Menyadari raut penasaran di wajah Orion, dengan sengaja Sagita mengeraskan volume suara pada ponselnya agar Orion pun bisa mendengar percakapan mereka. Sagita meletakan ponsel di tengah-tengah dirinya dan Orion, yang mana artinya tepat di depan Livia.
“Sagita, kau di mana sekarang? Katanya kalian pulang hari ini?” Tanya Edrick.
“Ya, ayah. Kami sedang di bandara, menunggu penerbangan,” jawab Sagita, berkata jujur.
“Kalian belum masuk pesawat?”
“Belum. Masih ada waktu satu jam lagi.”
“Hm, begitu. Ayah senang sekali akhirnya kalian pulang. Ayah merindukanmu, Sagita.”
Sagita terkekeh, dia pun sebenarnya merasakan hal yang sama, begitu merindukan orangtuanya terlebih sang ayah.
“Ayah dan Ibu sudah menyiapkan kejutan untukmu dan Orion. Nanti begitu tiba di Indonesia, kalian mampir ya ke rumah.”
Sagita menoleh pada Orion, meminta pendapat. Begitu melihat Orion menganggukan kepala, Sagita tersenyum lebar. Senang tentu saja karena Orion tak menolak.
“Tentu saja, nanti dari bandara kami langsung pulang ke rumah.”
“Ibumu heboh di rumah setelah mendengar kabar kalian pulang hari ini. Seharian ini dia sibuk menyiapkan kamar pengantin untuk kalian berdua.”
Sagita terperangah hingga mulutnya tanpa sadar terbuka, “Ya ampun, ibu berlebihan seperti biasa.”
Di seberang sana suara kekehan Edrick mengalun, “Untuk yang satu ini ayah juga mendukung tindakan ibumu. Kami memang harus menyiapkan kamar pengantin untuk kalian mengingat kalian langsung berangkat ke pulau sehabis pesta kemarin?”
Sagita mengangguk-anggukan kepala, meski dia tahu sang ayah tak mungkin bisa melihat responnya ini.
“Bagaimana bulan madu kalian di sana? Menyenangkan?”
Sagita yang sejak tadi tersenyum ceria, seketika terdiam. Raut wajahnya pun berubah muram. Dan reaksinya ini tertangkap jelas oleh Orion.
“Sagita, kenapa diam?” Nada suara Edrick terdengar mulai mencurigai sesuatu yang tak beres terjadi pada putri semata wayangnya dengan sang menantu saat berbulan madu.
“Kalian berdua tidak bertengkar kan di sana?”
“Tidak. Kami tidak bertengkar kok, Yah. Semuanya baik-baik saja.” Akhirnya Sagita menyahut.
“Benarkah? Kau tidak sedang berbohong, kan?”
Sagita tertawa, “Tentu saja tidak, ayah. Memangnya kapan aku pernah membohongi ayah.”
“Ya, ya, bagus. Ayah selalu mengajarimu untuk jadi anak yang jujur. Kalau terjadi apa-apa antara kau dan Orion, langsung ceritakan pada ayah.”
“Siap!” Jawab Sagita tegas.
“Sekarang mana Orion?”
Sagita menoleh pada Orion, begitupun dengan pria itu sehingga tatapan mereka kini saling bertemu.
“Orion ada di sini, sedang duduk bersamaku,” jawab Sagita.
“Berikan ponselmu padanya, ayah ingin bicara dengannya.”
Sagita menurut, dengan lirikan mata memberi isyarat pada Orion untuk menerima ponselnya. Orion tak membantah, dia pegangi ponsel Sagita dan mulai angkat bicara.
“Hallo, Om. Apa kabar?” Orionlah yang pertama kali menyapa.
“Om? Apa-apaan itu? Panggil aku, ayah. Aku ini ayahmu sekarang, Orion,” kata Edrick sambil terkekeh di seberang sana.
Orion ikut terkekeh geli, “Ah, iya. Maksudnya apa kabar ayah dan ibu?” Orion meralat ucapannya.
“Kami baik,” sahut Edrick. “Bagaimana bulan madu kalian? Menyenangkan?”
“Sangat. Kami bersenang-senang di sini,” sahut Orion sambil melirik ke arah Sagita yang sedang memutar bola mata.
“Baguslah kalau begitu. Tadinya aku dan Alan khawatir kalian bertengkar di sana. Tapi sepertinya kekhawatiran kami tidak benar. Kalian terlihat akur dan menikmati bulan madu.”
“Kami baik-baik saja.” Orion kembali menyahut.
“Kami mengerti mungkin butuh waktu bagi kalian untuk saling mencintai. Tapi Orion, aku harap kau menepati janjimu.”
Orion mengernyitkan dahi, tampak kebingungan, “Janji?” Gumamnya.
“Janjimu saat di altar. Kau bilang akan berusaha membahagiakan Sagita.”
“Oh, janji yang itu. Tentu saja, aku akan berusaha menepatinya.”
“Ya. Aku percaya padamu, Orion,” sahut Edrick yang sukses membuat Orion bungkam seribu bahasa.
“Bagiku, Sagita merupakan harta yang paling berharga. Dia tidak sebanding dengan harta kekayaan, kekuasaan atau apa pun yang kumiliki sekarang. Sagita itu putriku satu-satunya yang paling berarti bagiku. Jadi Orion, kuserahkan dia padamu. Tolong kau jaga dan bahagiakan dia. Jangan membuatnya menangis apalagi menderita.”
Bibir Orion masih terkatup rapat seolah lidahnya kelu sekadar untuk mengeluarkan suara.
“Jika kau tidak puas dengan putriku atau merasa tidak sanggup membahagiakannya, daripada kau memaksakan diri yang kelak menyebabkan putriku menderita. Lebih baik kau kembalikan dia padaku. Kau mengerti, Orion”
“Ya, tentu aku mengerti, Yah,” jawab Orion, kentara begitu gugup.
“Karena kalau kau menyakitinya, aku tidak akan pernah mengampunimu.”
Dan Orion seketika menahan napas, dia tidak pernah berpikir pernikahan kontraknya dengan Sagita akan menjadi masalah rumit seperti ini. Jika sampai orangtuanya dan orangtua Sagita tahu mereka hanya melakukan pernikahan kontrak, entah bagaimana reaksi mereka. Orion mulai resah dan khawatir.
“Oh iya, Orion.”
Orion yang sempat melamun itu tersentak, ketika suara Edrick kembali menginterupsi.
“Iya, kenapa, Yah?” Tanya Orion.
“Malam pertama kalian lancar kan di sana?”
Sagita membekap mulut mendengar pertanyaan ayahnya yang terlalu berani, sedangkan Orion tanpa sadar meneguk ludah.
“H-Haruskah kita membahas ini?” Sahut Orion, sambil terkekeh pelan.
Edrick pun tergelak dalam tawa, “Maaf, maaf. Hanya ingin memastikan kalian akan segera memberi kami cucu. Kau tahu, kami sangat ingin cepat-cepat menggendong cucu. Maklum kami hanya punya satu putri.”
Orion kembali terkekeh sambil melirik ke arah Sagita yang wajahnya sudah memerah layaknya kepiting rebus.
“Jadi berusahalah, Orion. Kami mengandalkan kalian,” tambah Edrick, begitu ceria menyemangati putri dan menantunya.
“Tentu. Kami akan berusaha.”
“OK. Ditunggu kabar baiknya ya.” Edrick yang ramah kembali tertawa. “Ya sudah, aku tutup dulu teleponnya. Kalian juga sebentar lagi akan bersiap masuk ke pesawat, kan?”
“Iya, Yah,” jawab Orion.
“Sampai bertemu di bandara. Nanti kami akan menjemput kalian.”
Setelah mengatakan itu, sambungan telepon pun terputus karena Edrick yang memutuskannya.
Livia yang mati-matian menahan emosi sejak tadi, tiba-tiba merebut ponsel Sagita yang masih berada di genggaman Orion. Dirinya dengan wajah memerah, menatap ke arah Orion lalu bergantian menatap Sagita.
“Jadi, sekarang bagaimana?” Tanyanya, penuh emosi. “Aku mencoba memahami pernikahan kalian hanya sebuah kesepakatan. Tapi jika sampai pernikahan ini menjadi serius, aku tidak akan pernah bisa menerimanya.”
Livia meletakan ponsel Sagita dengan kasar di atas kursi yang didudukinya, sedangkan dirinya sendiri bangkit berdiri.
“Orion, aku tidak bisa menerima ini,” katanya, sebelum melangkah pergi begitu saja dengan lelehan air mata yang mulai meluncur dari pelupuk mata.
Orion dengan sigap menyusul Livia, meninggalkan Sagita yang terpaku seorang diri di kursinya dengan tatapan yang tertuju pada ponselnya yang tergeletak kesepian di atas kursi.