“Beeelll!” Bell tersentak terkejut mendengar namanya dipanggil. Dia berhenti berlari dan menoleh ke semua penjuru arah. Tapi dia tidak melihat siapapun. Napasnya tersengal karena terus berlari tanpa tahu arah. Dia bersandar pada pohon besar dan tubuhnya langsung luruh terduduk. Dia menyeka keringat yang membasahi keningnya sembari menatap waspada sekitarnya. “Apa aku harus membalas panggilan itu? Suaranya mirip sekali dengan vampir s***s itu, tapi bagaimana kalau itu tipuan? Seperti di film-film, hantu menggunakan suara dari teman untuk menipu mangasanya.” Bell mulai paranoid sendiri. Batinnya belum siap harus kembali terjebak di tempat seperti ini dan dikejar sulur-sulur gila. Memutuskan untuk tidak menjawab panggilan itu, Bell kembali berdiri dan kini berjalan pelan dengan mata waspad

