Rasa Sakit

3595 Kata
Langit tiba-tiba mendung, hujan turun sangat deras, Runa terus menerobos hujan. Hatinya terus bergumam "Aku tidak mengerti dengan yang kak Larbi lakukan? Aku sudah dijauhi banyak orang karena kesalahpahaman mereka tentang aku, bahkan sebagai gadis bisu, aku tidak ada teman lain kecuali kak Gandi dan kak Mary. Mereka pasti akan menyiksaku karena setahu mereka sekarang aku adalah pacar kak Larbi. Aku harus bagaimana? Kenapa aku pun tidak bisa bicara untuk membela diri?" Runa masih meneteskan air mata dan berhenti di tengah hujan. Tiba-tiba ada sebuah payung yang menghadang hujan, Runa berbalik dan melihat Gandi ada di hadapannya membawa payung itu. Tangan Gandi yang satu meraih tubuh Runa dan menarik Runa untuk datang kepelukanya.  "Aku tahu kamu sangat marah dengan Larbi tapi aku tidak tahu alasannya apa? Aku seperti melihat kalian berdua memiliki ikatan batin yang kuat, jangan pernah memendamnya sendiri, aku tahu saat merasakan sakit kamu tidak bisa berteriak ataupun memaki orang lain, kamu hanya bisa menangis. Aku juga ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi? Tapi sekarang, keluarkan airmatamu sebanyak yang kamu bisa! Aku akan selalu ada untukmu Runa." Tangan Gandi yang besar membelai rambut Runa yang panjang dan berhasil membuat Runa bisa meluapkan emosinya. Tangan Runa memeluknya dengan sangat erat dengan bajunya yang basah kuyup, dari kejauhan Larbi hanya bisa melihat, ada yang aneh dengan perasaan dan hatinya, entah mengapa seperti ada jarum yang sengaja menusuk dadanya. Leon melihat mata Larbi dan ekspresi wajahnya, sepertinya ada sesuatu yang lain, yang membuat Larbi merasa bingung dengan dirinya sendiri, tanpa sadar Larbi memegang dadanya dan berjalan meninggalkan pemandangan itu. "Apa yang menyebabkan aku seperti ini? Aku merasa ada luka yang tidak aku mengerti, mungkin, luka itu salah karena tidak ada hak disana untuk bersemayam. Gadis itu perlahan mengambil sedikit demi sedikit pandangan mataku, membuat kebencianku sedikit demi sedikit memudar, aku seperti kehilangan kebiasaanku untuk emosi. Walaupun tidak sepenuhnya hilang, tapi aku merasa ada yang aneh dengan diriku." Larbi menggerutu dalam hatinya. Sepanjang perjalanan itu Larbi terus diam, membuat Leon sedikit khawatir. Walaupun kebiasaan diam, bukanlah hal asing bagi seorang Larbi, tapi raut wajahnya kali ini sangat aneh seperti ada rasa sedih yang terpancar disana. Saat duduk di sebuah kursi dekat Jendela di kelasnya, Larbi terus memandang keluar dengan tatapan kosong. Leon mencari Adi dan menceritakan semua kepadanya. "Lihat! Dia seperti itu, aku tidak mengerti. Dia tadi mengakui berpacaran dengan Runa, tapi setelah Runa menangis tanpa alasan dan berpelukan dengan Gandi, dia merasakan sedih dan terus diam melihat keluar jendela," jelas Leon bersandar di pintu kelas. "Aku tidak yakin mereka berpacaran, tapi aku yakin Larbi jatuh cinta dengan gadis itu. Dia belum mengerti perasaannya sendiri, mungkin dia menyadari rasa sakit saat gadis itu berpelukan dengan pria lain. Terkadang cinta itu rumit, datang disaat sakit itu juga bisa terjadi," Adi menganalisa dengan pandangannya sendiri. Leon tiba-tiba memandang Adi,  "Kamu salah makan?" tanya Leon. "Hari ini aku makan sesuai dengan kesukaanku," jawab Adi. "Kamu terlihat seperti orang yang berpengalaman dengan kisah asmara, memangnya kamu sudah pernah pacaran?" tanya Leon sekali lagi. "Belum, kamu tahu sendiri aku sudah 49 kali di tolak."  "Lalu?" "Aku hanya membaca kisah ini di sebuah novel yang k*****a, kenapa aku jadi ikut sedih ya?" Adi menangis memeluk Leon. "Lepaskan tanganmu! Jangan lebay!" Leon sedikit jijik. "Baiklah," Adi mengusap air matanya. "Aku bahagia Larbi bisa jatuh cinta, tapi aku sedih melihatnya murung seperti ini." ucap Leon "Dia akan mengerti cinta saat sudah mengerti rasa sakit itu seperti apa? Aku lapar, ayo kekantin!" Adi menarik Leon untuk pergi ke kantin. Hujan yang masih mengguyur sangat deras, terus mengingatkan Larbi saat berada di samping Runa, saat berciuman, saat bertengkar, atau saat bersaing. Larbi belum pernah seperti ini. Runa kembali ke apartement diantar oleh Gandi. Suasana kembali ceria saat Runa mulai berhenti menangis. Runa menggerakkan tangannya, untuk mengucapkan bahasa isyarat. "Apa kamu mau masuk kak? Mungkin aku bisa membuatkan sesuatu, karena aku lihat hujan masih sangat deras." "Runa beristirahatlah! Terimakasih kamu sudah mau menceritakan kesedihanmu padaku, kamu akan baik-baik saja. Cukup ikuti kata hatimu! Dan kamu akan menemukan jawabannya. Terkadang cinta itu tidak datang disaat yang paling indah, karena cinta bisa datang disaat yang paling sakit.Aku pulang dulu Runa!" Jelas Gandi yang membelai rambut Runa lalu pergi. Mery tidak sengaja menguping dari balik dinding membuat Runa terkejut. Runa menggerakkan tangannya lagi, "Sejak kapan kakak disini!"  Tiba-tiba Mary menariknya ke sofa dan memaksa Runa bercerita. "Ayo ceritakan! Berita kampus hari ini cukup heboh, kamu akhirnya pacaran dengan Larbi? Itu membuat seisi kampus bengong, seorang Larbi di tahklukkan oleh Runa. Keren banget Rina! Aku sampai ga bisa makan tadi mendengar kabar itu, eh pulang-pulang bawa pria keren lainnya lagi. Bagi dong Hokinya Runa!"  Runa menghela nafas, Runa menggunakan bahasa isyarat. "Kak Mary terlalu berlebihan, aku tiba-tiba di paksa kak Larbi untuk jadian. Tidak ada cinta, aku hanya sebagai alat untuk mengusir wanita disekitarnya, tapi aku juga dalam bahaya sekarang, dia sangat egois, dia tidak memikirkan berada di posisiku. Aku akan di bully lagi. Aku benar-benar sial!" Runa cemberut dan terlihat sedih. "Hei, dengarkan aku! Larbi belum pernah jatuh cinta sama sekali, mungkin dia tidak tahu cara menyatakan cinta atau bahkan jujur dengan perasaannya sendiri, apa kamu sadar? Setiap takdir terukhir diantara kalian berdua, dari saling mendengar suara, bertemu dengan tidak sengaja, semua berurusan dengan dia. Jika Tuhan tidak punya rencana itu tidak mungkin, tidak ada yang kebetulan Runa. Mungkin sekarang kamu belum jatuh cinta padanya, tapi waktu yang akan menyampaikan apa yang akan terjadi dengan kalian berdua. Ayo ceria lagi! Hadapi semua ini, pasti ada hikmah setelahnya!" Mary memberi semangat. "Aku hanya heran, kenapa orang yang memiliki takdir bertemu denganku adalah orang yang galak dan kejam seperti dia? Apa aku tidak bisa menawar?" Runa menyelesaikan gerakan tangannya untuk berkomunikasi. "Runa kamu harus bersyukur, Larbi galak tapi dia ganteng. semuanya butuh proses, okey,  ngomong-ngomong pria tadi siapa?" Mary penasaran. "Masak kakak nggak tahu? Dia kak Gandi, salah satu perwakilan ke Jerman besok," Masih menggunakan bahasa isyarat, Runa sedikit heran. "What's itu yang namanya Gandi? Dia itu sudah nggak pernah kelihatan selama dua tahun ini, tapi emang sih dia cukup populer,sepertinya dua tahun kemarin Gandi ini menjadi perwakilan renang ke Inggris. Aduh! Nasibmu benar-benar luar biasa! Kamu dikelilingi pria tampan dan berprestasi. Tapi tenang hatiku tetap milik Leon," jelas Mery sambil terlihat geli sendiri. Runa menggunakan bahasa isyarat, "Kak, kak. Kalau kak Gandi sudah kuanggap kakakku sendiri, dia sangat baik dan sangat dewasa. Kak, aku istirahat dulu ya! Sepertinya aku lelah dan aku harus mandi biar nggak masuk angin." Jelas Runa  "Baiklah, selamat beristirahat!"  Runa masuk ke kamarnya  *** Larbi pulang ke rumah dan duduk seperti biasa sambil membaca komik favoritnya. Larbi tiba-tiba teringat lagi tentang kejadian tadi disaat bentakan Runa membuat dia terganggu.  "Gadis itu, bisakah pergi dari kepalaku!" gumam Larbi membanting komiknya ke dinding, lalu memecahkan Figura di meja hingga membuat para pelayan ketakutan berada di luar kamar Larbi. "Ada apa dengan Tuan Larbi, dia sangat mengerikan ketika sedang emosi. Temperamennya sangat tinggi, kali ini ada apa?" kata salah seorang pelayan yang berjaga di depan pintu. "Kenapa gadis itu selalu berputar-putar di kepalaku? Kenapa aku tidak bisa marah padanya kali ini? Sebenarnya ada apa dengan diriku?" tanya Larbi dalam hati, menutup wajahnya dengan tangan sambil terus mengusapnya. "Bik, bersihkan semuanya! Aku ingin tidur, bawakan aku aroma terapi, yang membuatku sedikit tenang!" Larbi bersiap untuk berbaring, menarik selimutnya lalu tertidur. "Baik, Tuan." Para pelayan itu berlari dan dengan segera membersihkan semuanya. Setelah beberapa menit mereka memasang aroma terapi lalu meninggalkan Larbi beristirahat dan Larbi pun tertidur. Runa selesai mandi, baru setelah itu dia berbaring untuk tidur. Ada sedikit rasa takut, ketika besok harus menghadapi siksaan atau mungkin mendapatkan perlakuan tidak adil yang menyebabkan dirinya cedera lagi. Runa mematikan lampu dan mencoba untuk terlelap. Keesokan harinya .... Runa berpamitan dengan Mery lalu berangkat kuliah. "Ada apa dengan Runa, dia tidak terlihat bersemangat hari ini? Sudahlah, mungkin dia kelelahan." Mary masuk ke kamarnya lagi untuk mandi. Runa menghela nafas panjang dan mencoba untuk ceria lagi. Hari ini, aku akan mencoba menjaga jarak sejauh mungkin dari kak Larbi, tidak memulai pertengkaran dan kalau bisa menghindar. Biar mereka percaya jika itu hanyalah gosip. Beberapa langkah Runa di koridor kampus akhirnya, berhenti setelah Larbi berjalan berlawanan ke arah Runa. Tapi Runa mencoba terbiasa seolah tidak pernah mengenal Larbi. Larbi berkebalikan dengan Runa, dia sedikit melirik melihat Runa, tapi Rina berjalan terus. Papan pengumuman di penuhi banyak mahasiswi, mereka seperti marah dan kecewa melihat apa yang tertempel di papan pengumuman. Runa tidak sengaja melihat, ternyata Foto Runa di peluk Larbi, duduk berdua bersama Larbi semua terpampang di papan pengumuman itu. Runa sudah menduga apa yang akan terjadi setelah ini, Runa hanya pasrah, ketika jalan terbuka untuk lebih mendekat ke papan pengumuman. Mereka semua seperti harimau kelaparan, Runa mencopot satu persatu foto yang terpasang. Ada yang sudah mendengar bahwa Runa berpacaran dengan Larbi, untunglah berita itu masih simpang siur dan lebih banyak orang yang tidak percaya. Tapi foto-foto itu membawa malapetaka baginya, telur dan tepung tiba-tiba melayang dari belakang punggungnya saat Runa mencopot foto-foto itu. Dia tidak bergeming, tetap membelakangi mereka dan meneteskan air mata sambil membersihkan potongan kertas foto yang menempel di papan pengumuman. "Mungkin, aku memang terlahir dengan kata Sial! Tidak bisa berteman dengan yang lainya dan tidak bisa berbicara, tidak ada gunanya untuk marah karena mereka tidak akan mendengarnya. Apa yang aku lakukan akan sia-sia," kata hati Runa sembari mengusap air matanya, dia merasa ada yang menghadang lemparan itu,  Apa itu kak Ga? Runa berbalik dan melihat seorang Larbi yang menghadang semua itu dengan punggungnya. Runa melihat ke atas dan menatap matanya, Larbi juga sama, maaf, aku tidak tahu jika--, Runa berbelok dan meninggalkan Larbi begitu saja tanpa bicara. Larbi tiba-tiba membisu, melihat Runa pergi. Saat mereka tahu Larbi menghadang lemparan telur dan tepung untuk Runa mereka berhenti, Larbi berbalik menatap mata semua gadis dengan wajah yang sangat kesal. Mereka melihat Runa sudah tidak ada disana, mereka sangat ketakutan melihat Larbi sudah mengepalkan tangan. "Apakah menjadi seperti ini, sangat menyenangkan? Jika kalian selalu seperti ini, jangan pernah menyukaiku lagi. Aku sudah muak melihat kalian semua!" pertama kalinya Larbi marah di depan banyak gadis. Mereka sangat ketakutan, tapi langkah kaki mereka berhenti  tanpa bisa bergerak. Larbi menggebrak Papan pengumuman "Brakk!"  Semua gadis itu menjerit ketakutan. kacanya retak dan tangannya berdarah lalu Larbi pergi meninggalkan tempat itu. Semua gadis bergunjing bahkan ada yang menangis, "Gadis bisu itu telah membuat Larbi menjadi sangat galak, dia tidak pernah semarah itu kepada kita. Semenjak ada dia, Larbi bisa seperti ini. Kita harus membuat perhitungan dengan gadis bisu itu!" kata Loyola yang juga berada disana. "Aku setuju!"  "Aku juga setuju!" Runa berada di kelas berenang, dia membasuh tubuhnya yang penuh dengan tepung dan telur. Baru setelah itu, Runa memakai pakaian renangnya dan mencoba lompat indah dari tingkatan paling atas. Berenang adalah pengobat gelisahnya, ketakutannya bahkan kemarahannya. Dengan berenang, semua emosinya terluapkan. Larbi sudah membilas tubuhnya di toilet kampus, sekarang hanya menggunakan kaos karena jasnya basah. Larbi berjalan menuju kelas berenang. Lagi-lagi melihat Runa lompat indah, kakinya berhenti di depan pintu. Gadis itu, dia mencoba menghindar dariku. Bukankah hal ini yang aku inginkan? Terlepas dari konsekuensi itu, dan aku tidak akan berhubungan dengan gadis itu lagi? Tapi kenapa aku tidak rela ketika gadis itu ingin menjauh dariku. Larbi memandang Runa dari kejauhan. Tiba-tiba Tari mencolek Larbi yang sedang mengintip ke dalam kelas berenang.  "Bi, kamu mengintip ada apa?" Tari penasaran ada siapa di dalam karena Larbi tidak pernah bertingkah seperti ini. Larbi mengalihkan pembicaraan, sambil mengalihkan Tari untuk tidak melihat ke kelas berenang. "Tar, tugas kuliahku belum selesai. Ada beberapa kesulitan apa kamu bisa membantu?" Larbi mendorong Tari untuk segera pergi ke kelas. "Tap-tapi Bi, aku penasaran siapa yang--" Tari terus berjalan maju karena Larbi terus mendorong. "Tidak ada apa-apa disana! Apa kamu meragukanku?" Larbi mencoba meyakinkan Tari. "Baiklah," Tari akhirnya menemani Larbi ke kelas. Karena kesibukannya yang padat Tari tidak pernah tahu gosip yang hangat terjadi di kampus. Tari bersikap biasa sampai ada teman satu kelasnya mengirimkan foto tabloid kampus hari ini. "Apa? Gadis itu? Aku harus bertanya dengan Larbi, apakah itu benar?" Tari marah, tiba-tiba berdiri dan mendekati Larbi yang ada di pojok ruangan. "Apakah ini benar? Jelaskan padaku!" Tari terlihat sangat penasaran. "Jika itu benar, apakah berpengaruh dengan kehidupanmu?" Larbi menjawab dengan sedikit ketus. "Bi, aku serius!" Tari menatap Larbi dengan tajam. "Iya, itu benar," Larbi benar-benar tidak menyangkal. "Bi, dia hanya gadis bisu! Banyak gadis lain yang lebih sempurna di banding dia. Kenapa kamu memilih dia? Dari sekian banyak gadis di kampus ini?" Tari mencoba mengontrol emosinya. "Maksudmu, gadis yang sempurna itu seperti kamu Tar? Jangan tanya alasannya, aku juga tidak tahu," Larbi menatap ke layar handphonenya. Tari tidak menjawab, dia terlihat sangat kesal, Larbi bisa jadian dengan Runa, ini tidak mungkin!gadis itu pasti yang menarik perhatian Larbi! sudah ku duga, dia ini gadis penggoda.  Tari langsung keluar dari kelas untuk mencari Runa. Runa barusan selesai lompat indah dan keluar dari kelas berenang setelah berganti pakaian olahraga, Jangan-jangan Larbi memang sengaja mengajakku ke kelas agar aku tidak melihat siapa yang Larbi intip dari luar kelas tadi?  Runa berjalan keluar untuk pulang. "Berhenti!" Tari berteriak. Runa berbalik dan melihat Tari mendekatinya, dengan sigap Tari menarik rambut Runa dan membawanya ke gudang belakang kampus. Gudang itu sama sekali tidak pernah di kunci dan ruanganya sangat gelap, Runa di tarik dan dimasukkan ke dalam gudang itu dengan paksa. Ternyata banyak gadis penggemar Larbi mengikuti Tari termasuk Loyola dengan satu gengnya. "Aku sudah pernah memperingatkan kamu untuk menjauhi Larbi, apa kamu tidak punya telinga?" Tari menatap Runa yang masih tersungkur di lantai. Runa mengambil kertas dan pena untuk menjelaskan. Aku tidak berpacaran dengannya, aku di paksa Larbi untuk jadi pacarnya. Tapi aku masih menolak! Setelah membaca tulisan itu, Tari merobek kertas itu sampai kecil-kecil lalu melempar ke kepala Runa.  "Mana mungkin Larbi memaksamu, kamu terlalu percaya diri. Aku tidak percaya dengan semua omong kosongmu! Aku akan membuatmu gagal berangkat ke Jerman! Kompetisi itu tidak pernah pantas di datangi oleh gadis sepertimu!" Tari marah besar, membuat Runa berkaca-kaca. "Jangan menjadi gadis cengeng di depan mataku!" Tari menaikkan nada suaranya. Runa mencoba bangkit berdiri, Tari mendorongnya lagi hingga luka memar di kaki kanannya robek terkena goresan paku besar. Tidak, kakiku! Runa menangis, bukan karena tidak bisa ke Jerman, tapi dia tidak bisa bekerja dengan kaki yang terluka sekarang. "Lihat! kakimu terluka, aku akan membuatnya semakin parah. Lihat saja! Aku akan membuat kakimu hancur!" Tari mengambil sebuah balok kayu besar dan sudah akan melayang ke kaki Runa. Runa terus mundur sampai menabrak dinding, Siapapun tolong aku! Aku mohon tolong aku! Aku harus bekerja, aku harus membahagiakan nenek, aku sudah bisu jika aku kehilangan kakiku juga, aku tidak bisa berbuat banyak untuk nenek!  Runa berteriak dalam hatinya sambil memejamkan matanya. Tiba-tiba Gandi memegang balok kayu yang akan di layangkan oleh Tari. "Perbuatanmu ini sudah ku rekam, aku juga bisa memastikan kamu tidak berangkat ke Jerman!" Gandi mengancam Tari. Tari sangat kesal dan melempar balok itu lalu pergi. Runa menangis karena merasakan sakit dikakinya yang terus mengeluarkan darah. Gandi menggendong Runa dan segera membawanya ke klinik untuk di obati, Luka robeknya akhirnya dibalut. "Runa, lukanya memang tidak begitu parah tapi selama dua minggu ini kamu belum bisa berenang. Kamu harus menggunakan tongkat ini sampai lukanya kering dan memarnya benar-benar sembuh, tapi kamu akan kembali normal setelah dua minggu, beristirahatlah! kamu masih bisa mengikuti kompetisi di Jerman," jelas Dokter Selvi. Runa menggerakkan tangannya, Terimakasih dokter, aku akan beristirahat! Setidaknya aku masih bisa kembali normal. "Dokter Terimakasih, aku akan mengantar Runa pulang!" Kata Gandi memapah Runa untuk berjalan. "Baiklah, hati-hati!" dokter itu mempersilahkan mereka pergi. Dengan tertatih-tatih Runa merasakan sakit di kaki kanannya untuk berjalan Gandi mercon memapahnya perlahan, Larbi mengejarnya dari belakang, karena dia mendengar Runa celaka karena penggemarnya lagi tapi dia belum tahu jika itu Tari. "Berhenti! Maafkan aku!" dengan nafas terengah-engah Larbi menghalangi Runa dan Gandi berjalan, membuat mereka berhenti. Runa menyingkirkan Larbi dan terus berjalan, Larbi masih terus berusaha meminta maaf, sepertinya hanya itu yang bisa dia lakukan. Dia terus menghalangi Runa berjalan dan terus mengucapkan maaf, Larbi masih terus berusaha keras untuk minta maaf, Jawablah aku, Rina! Runa mendengarnya tapi mencoba tidak peduli, Sampai di halaman depan Larbi menghalangi Runa lagi. Runa mencoba berdiri tegak dan melepaskan tangannya dari Gandi. Runa menatap mata Larbi seraya memberi kesempatan Larbi untuk bicara. "Runa, maaf!" Larbi berkata untuk kesekian kalinya. Semua pasang mata berkumpul mengelilingi mereka bertiga di tengah halaman. Mereka cukup terkejut ketika seorang Larbi bisa mengucapkan maaf. Runa benar-benar sangat marah. "Plak!"  Runa tiba-tiba menampar kuat pipi Larbi di depan semua orang. Emosinya tiba-tiba meningkat tapi entah mengapa, dia mampu menahannya. Runa melihat tangan Larbi mengepal. Matanya kembali menatap mata Larbi, apa kamu marah? Apa kamu mengerti arti tamparan itu? Pukul aku! Ayo pukul! Runa menunjukan pipinya ke Larbi untuk di pukul, tapi Larbi menahanya. Semua orang tercengang termasuk Gandi yang tidak bisa berbuat apa-apa, Tari dan semua penggemar merasa terkejut dengan kejadian itu. Gadis itu berani menampar Larbi, apa yang gadis itu lakukan dengan menunjukkan pipinya? apa dia meminta Larbi membalasnya? Aku baru pertama melihat Larbi mengontrol emosinya dengan baik, bahkan dia tidak pernah melakukan hal itu dengan gadis manapun, termasuk kepadaku, Gadis itu memang berbeda dan sepertinya tanpa mereka berbicara mereka saling memahami, sebenarnya apa yang terjadi? Tari sedikit penasaran, dia mencoba bersikap tenang. Kenapa diam? Sudah puas membuatku terluka? Aku sudah bilang tarik kembali ucapanmu, untuk tidak mempublikasikan kita pacaran, pada kenyataannya kita tidak saling menyukai atau mencintai, apa kamu tidak mengerti? Sejak awal aku masuk ke kampus, aku sudah dibenci banyak orang karena aku bisu, apa masih kurang kamu menambahnya dengan penyiksaan ini? Aku sudah tidak bisa punya teman di kampus,  bahkan, sekarang aku tidak bisa bekerja karena ulahmu, inilah kenapa aku bilang kamu manusia egois dan pembawa Sial!  Semua orang bengong ketika melihat mereka berdua hanya saling menatap tapi Runa terlihat sangat dramatis dengan air mata yang terus bercucuran. Larbi merasakan sakit di dadanya saat melihat Runa menangis. "Bolehkah aku bertanya? Kenapa aku merasakan khawatir saat kamu terluka? Kenapa aku tidak pernah bisa tidur setiap aku memikirkanmu? dan kenapa dadaku sakit saat melihat kamu menangis?" Larbi mengucapkan dengan nada rendah setengah menahan emosi masih mengepalkan tanganya, tapi semua orang mendengarkan ucapannya. Runa terkejut dengan semua pertanyaan itu, Runa terdiam, Gandi memahami perasaan Larbi. Sepertinya Larbi memang jatuh cinta dengan Runa tapi dia tidak mengerti dengan perasaannya sendiri, karena mungkin, ini adalah cinta pertamanya karena dia tidak pernah dekat dengan siapapun karena sifat temperamennya, mereka harus meluruskan masalah ini! Perlahan Gandi mundur meninggalkan mereka berdua di tengah banyak orang. Jantung Runa tiba-tiba berdebar, dia berbalik dan berjalan tertatih-tatih ingin meninggalkan Larbi. Tapi Larbi meneruskan pertanyaannya? Dan membuat kaki Runa berhenti. "Kenapa kamu tidak menjawab? Bisakah kamu pergi dari bayanganku! Aku selalu berusaha mengusirmu dari pandangan mataku, tapi aku semakin terus ingin melihatmu. Apa yang harus kulakukan? Awalnya aku memang mengatakan agar kamu mau menjadi pacarku hanya untuk mengusir semua penggemar tapi, setelah kamu menolak dan marah kepadaku saat itu, Aku semakin tidak ingin menarik kata-kataku lagi. Apa yang harus kulakukan, Runa? Saat melihatmu di lempar telur dan tepung. Kakiku berlari kencang untuk melindungimu? Aku tidak pernah melakukannya untuk gadis manapun? Tapi kakiku berlari untukmu tanpa aku sadari, apa yang harus ku lakukan?Aku merendahkan diriku untuk minta maaf kepada seorang gadis, itu adalah hal aneh yang dilakukan seorang pria bernama Larbi yang terkenal kejam dan temperamental. Tapi aku merasakan sesak ketika aku tidak melakukannya dan terus merasa bersalah, apalagi sekarang, dia di tampar oleh seorang gadis di depan semua orang, tapi dia bisa menahan emosinya dengan baik, apa yang harus aku lakukan? Runa, jawablah semua pertanyaanku!" Larbi sepertinya mulai menyadari sesuatu. Semua orang terperanjat dengan semua perkataan Larbi, bahkan penggemar Larbi terharu dengan kejujuran Larbi.  Mereka mulai bergunjing, "Lihat!Larbi sangat jujur! Dia sudah jatuh cinta dengan gadis bisu itu, bagaimana bisa? Sebenarnya apa yang terjadi dengan mereka?" "Larbi sedang mengutarakan perasaannya? Secara tidak langsung Larbi sudah menembak Runa hari ini, hatiku sangat sakit!Ternyata Larbi punya perasaan yang dalam dengan Gadis itu, apa yang harus aku lakukan sekarang?" Tari berlari sambil menangis meninggalkan halaman. "Tidak disangka Larbi benar-benar jatuh cinta dengan gadis itu, bagiamana ini?" Runa bingung harus berkata apa, jantungnya berdetak tidak beraturan tapi dia masih dalam emosi, Apa yang kamu katakan kak Larbi? Aku sama sekali tidak mengerti, mereka semua akan tetap membunuhku jika aku dekat denganmu, apa dengan cara kamu jujur maka mereka akan melepaskan aku? Mereka akan tetap mengambil keahlianku, kesempatanku bahkan anggota tubuhku. Mereka hanya mencintaimu dan merusak segalanya yang ada di dekatmu, aku hanya sebuah tanaman yang tumbuh di tempat yang tidak semestinya. Entah mengapa, ketika mengatakan hal ini perasaan Runa sangat sakit, Runa kembali berbalik dan berjalan tertatih untuk meninggalkan Larbi. Leon dan Adi melihat kejadian ini dari kejauhan mereka sangat terkejut dengan sifat Larbi yang lambat laun berubah. Larbi tiba-tiba berlutut, semua orang berteriak dan kembali terkejut sekali lagi. Langkah kaki Runa terhenti. Kali ini kak Mary datang, tiba-tiba melongo melihat kejadian itu. "Apa yang Larbi lakukan? Ini tidak mungkin!" "Larbi sudah berubah, demi seorang gadis. Dia berani melakukannya!"  Semua riuh bergunjing, Runa mendengar semua perkataan itu, air matanya semakin mengalir. "Aku tahu Runa, kamu menderita saat ada di dekatku. Hari ini aku hanya ingin mereka tahu, bukan kamu yang mengejarku, bukan kamu yang menginginkan aku tapi aku yang menginginkanmu. Aku hanya ingin menjauhkan mereka darimu, Runa. Aku ingin semua orang berhenti menyakitimu! Jika mereka menyakitimu berarti mereka membuat aku sangat menderita, Aku janji akan menjauh dari kehidupanmu! Aku berusaha menjaga jarak darimu, tapi tolong maafkan aku!" Larbi tidak tahu mengapa dia bisa melakukan hal ini hanya demi seorang gadis. Leon tidak tega melihat Larbi berlutut, dia ingin mendekat tapi di cegah oleh Adi. Langit tiba-tiba berubah mendung, hujan turun dengan sangat deras. Semua orang menepi dan menyingkir, tapi Larbi tidak berpindah sama sekali dari tempat itu, begitu juga dengan Runa. Mereka berdua sudah basah kuyup. Runa kembali berbalik, dia mencoba menahan air matanya untuk jatuh melihat Larbi berlutut hanya demi dirinya. Mereka yang menepi mengambil gambar mereka ditengah hujan. Sebenarnya perasaannya sama dengan Larbi, dia tidak tahu kenapa saat berusaha untuk membencinya Runa sangat menderita? Saat berusaha menjauh, Runa juga merasakan sakit. Baiklah, Aku sudah memaafkanmu, kak! Cepat berdiri! Jangan membuatku berubah pikiran! Tepati janjimu! Ini adalah jalan terbaik untuk kita berdua, mulai sekarang! Anggap kita tidak pernah mengenal dan tidak pernah dekat. Aku hanya juniormu yang bisu, kamu adalah kakak seniorku yang kejam. Kita jalani kehidupan kita masing-masing! Dengan cara itu kita berdua tidak akan pernah saling menyakiti.  Larbi berdiri. Terimakasih Runa, aku akan berusaha menepati janjiku! Petir bergemuruh dan hujan kembali deras. Runa dan Larbi berbalik ke arah yang berlawanan, mereka telah sepakat dan saling meninggalkan. Semua orang yang menepi, mengambil foto mereka saat saling menjauh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN