Keesokan harinya, kampus di penuhi dengan Foto mereka berdua, Foto itu tertempel di papan pengumuman dengan judul Gadis bisu dan Pangeran tampan. Beberapa penggemar tiba-tiba berubah pikiran, mereka tidak lagi ingin menyakiti gadis bisu. Mereka seperti mengerti bahwa ikatan batin diantara mereka terlihat sangat kuat, tatapan mata mereka membuat semua orang yang melihatnya sangat terbawa perasaan.
"Kamu tahu, mereka terlihat sangat aneh! Kak Larbi berbicara dengan Runa, seolah meminta jawaban darinya padahal Runa bisu, tapi tiba-tiba Runa menangis terlihat sangat marah, mata mereka berbicara padahal mulut mereka diam. Kak Larbi seperti mengerti apa yang Runa inginkan, dia berubah menjadi pria yang romantis, demi Runa, rela menjauh. Apa kalian sependapat denganku?" kata Murphi teman kelas Runa yang juga menjadi penggemar Larbi.
"Aku sependapat. Kamu tahu aku seperti ingin menangis melihat mereka berdua, aku yakin mereka saling mencintai tapi sepertinya, kak Larbi menjauh dari Runa untuk melindungi gadis bisu dari serangan kita, apakah ini adil untuk kak Larbi, bagaimana pun kak Larbi berhak jatuh cinta kan? Walaupun yang terpilih bukan diantara kita," kata salah seorang penggemar.
"Kisah mereka ini, seperti drama korea. Aku ikut merasakan sedih, tapi aku merasa, kita sebagai penggemar harusnya membuat kak Larbi bahagia, kan? Bukan membuatnya bersedih? Aku rasa, apa yang kita lakukan. tidak adik baginya," pendapat penggemar yang lainnya lagi.
"Mereka mungkin berusaha untuk menjauh sekarang, hanya untuk membuat keadaan menjadi normal. Sebenarnya kita yang cemburu dengan gadis bisu itu, kan? Kenapa kak Larbi yang menjadi korban? Kita harus mendukung mereka, jangan membuat kak Larbi terluka. Apa kalian setuju?" kata penggemar yang lainnya lagi.
Tiba-tiba Loyola dan gengnya datang
"Aku tidak setuju, kak Larbi tidak boleh jatuh ke tangan gadis bisu. Bagaimanapun kak Larbi harus dimiliki seseorang diantara kita!"
Jelas Loyola.
"Tidak! Sebagai penggemar kita tidak boleh melukai idola kita, bagaimanapun idola kita adalah manusia biasa yang punya hak untuk jatuh cinta!" ucap penggemar yang lainnya lagi.
Mereka berseteru dan saling beradu mulut. Hingga para penggemar Larbi berpisah menjadi dua kubu, yang satu mendukung hubungan cinta Larbi dan yang satu tetap menentang hubungan itu.
***
Runa bangun dengan badan yang sedikit lemas.
Sementara waktu Runa tidak bisa menggunakan bahasa isyarat, dia menggunakan handphonenya untuk berbicara.
Runa mencolek Kak Mary yang pagi itu menggantikan Runa memasak, kak Mary menoleh,
Kak, maaf dua minggu ini. Aku tidak bisa bekerja jadi aku hanya punya uang sisa tabunganku masih cukup untuk sebulan, Sementara aku belum bisa membayar biaya listrik dan air.
"Kamu tidak usah khawatir, keadaanmu memang sedang tidak baik. Aku ingin mengobrol sebentar, duduklah di ruang tv!"
Runa menurut dan duduk di ruang tv.
Ketika mereka berdua duduk. Kak Mary mengusap rambut Runa yang panjang seperti adiknya sendiri.
"Runa, apa kalian berdua berpisah?" Mary bertanya pelan menjaga perasaan Runa.
Itu yang terbaik kak. Lagi pula kita tidak pernah benar-benar berpacaran, aku juga tidak akan mendapatkan kesialan seperti ini! Gara-gara dia, aku tidak bisa bekerja. Tulis Runa di handphonenya.
"Apa kamu mengerti, pertanyaan Larbi kemarin?" Mary semakin penasaran dengan perasaan Runa.
Runa terdiam, dia sebenarnya paham dengan apa yang Larbi katakan. Tapi dia takut untuk mengartikan.
"Kamu sebenarnya sudah mengerti kan?" Mary menggenggam tangan Runa.
Kenapa kak Mary menanyakan hal ini? tanya Runa lagi.
"Karena aku tahu, ada cinta diantara kalian berdua. Seorang pria pemarah, egois, sombong dan tidak bisa bersikap manis, tiba-tiba berubah sikap dan berani jujur di hadapan seorang gadis itu adalah hal yang spesial. Kamu tahu kemarin di kelas, Larbi banyak diam dan jarang bercanda bahkan dengan sahabatnya sendiri, aku bertanya pada Leon. Dia bilang, Larbi seperti itu setelah melihatmu berpelukan dengan Gandi. Larbi benar-benar tidak mengerti, tapi nalurinya selalu ingin bersamamu, makanya dia berusaha minta maaf dan ingin bicara denganmu, aku melihat dia tulus menyukaimu Runa, tapi dia belum menyadari perasaannya itu." jelas Mary
Runa terkejut, apa iya, dia benar-benar menyukaiku?
"Apa kamu benar-benar membenci Larbi?" Mary terus menekan Runa untuk jujur.
Runa diam, dia tidak berani menjawab.
"Runa, jujurlah pada dirimu sendiri! Para penggemar tidak berhak dengan perasaan dan kehidupan pribadimu, walaupun kalian berpisah, jika kalian memang benar saling menyukai, mau sekeras apapun usaha kalian untuk menjauh. Kalian akan tetap kembali lagi!" Ucap Mary yang meninggalkan Runa ke dalam kamar.
Runa berfikir sejenak, dia masih tidak mengerti apa yang dia inginkan.
Runa meninggalkan kertas di ruang tv
Kak, aku berangkat kuliah!
Sepanjang perjalanan menuju ke kampus, Runa terus berfikir, sebenarnya bagaimana perasaannya?
Sampai di Universitas
Di lorong yang cukup panjang dengan jarak yang cukup jauh Runa berjalan sambil memperhatikan langkahnya karena menggunakan tongkat, dari arah berlawanan Larbi, Adi dan Leon berjalan berpapasan dengan Runa. Larbi mencoba menahan pandangannya untuk tidak menoleh ke arah Runa, walaupun dia sangat tersiksa melihat Runa kesulitan berjalan.
Leon dan Adi memandang mereka berdua yang benar-benar berusaha untuk tidak saling mengenal. Leon dan Adi berbisik,
"Mereka berdua, benar-benaran menjauh?" tanya Leon.
"Kurasa begitu," jawab Adi.
"Apa kalian akan terus berbisik tanpa memberitahuku?" Larbi masih terus berjalan.
Leon berjalan ke depan Larbi,
"Bi, apa kamu sudah menyadari perasaanmu? Yang kamu katakan kemarin itu, sepertinya kamu sangat mencintainya?"Leon penasaran.
"Apakah aku sedang jatuh cinta? Semakin aku membencinya, semakin aku memikirkannya. Semakin aku mengingat ciuman itu semakin aku tidak bisa tidur," jelas Larbi sambil berjalan ke ruangan khusus mereka.
"Berciuman!" adi dan Leon sangat terkejut hingga membuat Larbi berhenti.
Astaga aku keceplosan! Larbi terlambat menyadari. Larbi berjalan lagi.
"Bi, Tunggu! Jelaskan pada kami! Jangan melarikan diri!" mereka berdua mengejar Larbi.
Sesampainya di ruangan khusus, Larbi duduk di kursinya kemudian, Leon dan Adi berada di depannya minta untuk dijelaskan!
"Kalian ini! Baiklah, baiklah! Sangat menyebalkan!"
Larbi menjelaskan panjang lebar kepada mereka berdua sampai-sampai mereka berteriak.
"Dua kali berciuman?" Adi dan Leon menyenderkan tubuhnya di kursi dengan bersamaan.
"Kamu sangat keterlaluan, ternyata benar dugaanku ada apa-apa diantara kalian berdua." Leon menghela nafas.
"Dengan pekerjaan itu, aku harap kalian tidak menceritakan kepada siapapun! Sejak ciuman terakhir dan aku bisa mendengar suaranya itu, aku mulai tidak bisa tidur, aku selalu menggunakan aroma terapi untuk membantuku tidur. Aku merasa aneh dengan diriku sendiri, emosi yang meluap-luap, sifat temperamenku tiba-tiba bisa tertahan saat aku bertemu dengan gadis itu. Semakin lama aku terus penasaran dengannya dan diam-diam melihatnya dari kejauhan. Apakah ini yang namanya jatuh cinta?" Larbi bisa curhat untuk pertama kalinya.
"Sudah pasti, kamu jatuh cinta. Aku lebih suka kamu yang sekarang dari pada kamu yang dulu, Bi. Apa kamu mau menyerah?" pendapat Adi.
"Tidak, aku hanya ingin mengalah dan membuatnya tenang." jawab Larbi memainkan kuku tanganya.
"Baguslah! Kamu harus berjuang, Bi. Aku lihat kemarin sorot mata kalian terlihat sama, aku yakin kalian saling mencintai." Leon berpendapat.
Seandainya hal itu benar, disaat dia menderita seperti sekarang, aku sangat ingin berada di sampingnya. Larbi berjalan keluar ruangan.
"Bi, mau kemana?" tanya Leon.
"Aku ingin ke perpustakaan!" Larbi berlalu begitu saja.
Setelah sampai di depan pintu perpustakaan, mereka berdua bertemu lagi, berjalan kearah yang berbeda tapi mereka tetap tidak bisa lewat. Sampai akhirnya Larbi diam di tempat dan membiarkan Runa lewat, setelah selesai dari perpustakaan, Larbi pergi ke kantin untuk makan. Larbi melihat Runa memesan makanan dan kesulitan membawanya, Larbi ingin menolong tapi Gandi datang dan membawakan makanan itu. Larbi kembali ke posisi antri dan mengurungkan niatnya. Larbi terus mengikuti Runa, saat Runa sedang mengerjakan tugas sendirian di taman, tiba-tiba penanya jatuh ke tanah dan Runa kesulitan untuk turun. Larbi lewat diam-diam memberikan pena di kursi taman lalu pergi. Runa terkejut ketika tiba-tiba ada pena di kursinya, menoleh ke kanan dan ke kiri tapi tidak ada orang. Akhirnya Runa memakainya juga.
Larbi tersenyum di balik dinding, lalu pergi. Dari jarak jauh Gandi melihat yang di lakukan Larbi, Dia tidak benar-benar pergi menjauh dari Runa. Larbi sepertinya mulai berubah semenjak ada Runa. Gumam Gandi yang berada jauh di sudut yang lain.
Larbi selalu mengikuti Runa kemanapun dan memberikan segala macam bantuan yang Runa tidak ketahui. Sampai akhirnya, Runa harus menggunakan tangga untuk naik ke lantai dua karena kelasnya berada disana, Runa tergelincir dan jatuh kebawah. Larbi sangat terkejut dan berusaha mendapatkan Runa. Larbi menangkap Runa, Runa mendapatkan pundak Larbi. Larbi terus mundur sampai terbentur dinding dan mereka berhenti dengan posisi berpelukan.
Jantung mereka sangat berdebar, mereka sama-sama terengah disamping sangat terkejut karena kecelakaan itu, mereka juga terkejut karena berpelukan. Tangan Larbi masih ada di pinggang Runa dan Runa mulai mengangkat wajahnya dari pelukan Larbi, mata mereka bertemu, mereka tidak berani berfikir ataupun berkata dalam hati. Mereka semakin terengah, pemandangan itu ketahuan oleh penggemar pendukung. Mereka sangat bahagia melihat mereka seperti itu. Tiba-tiba Adi dan Leon lewat dan melihat mereka, masih dalam posisi berpelukan dan saling menatap.
"Eehemmm ..." Adi dan Leon berdehem.
Mereka berdua tersadar, melepaskan pelukan itu. Larbi mengambil tongkat Runa dan menbantunya berdiri, wajah Runa memerah, Terimakasih
Akhirnya Larbi mendengar suaranya, Larbi hanya tersenyum dan Runa naik ke atas, Larbi mengawasinya sembari memastikan Runa akan sampai ke lantai dua tanpa terjatuh lagi.
Larbi turun ke bawah menghampiri kedua sahabatnya, kemudian, mereka pergi ke kantin.
"Sudah berhasil mengambil hatinya? Bagaimana keadaanmu dengan posisi tadi?" Leon mulai penasaran.
"Itu hanya kecelakaan, aku hanya menolongnya," Larbi masih terus tersenyum.
"Di, wajahnya memerah." Leon mulai menggoda Larbi.
"Kalian sangat cerewet! Aku lapar," Larbi sangat bersemangat pergi ke kantin.
Di sisi lain, Runa tiba-tiba senyum-senyum sendiri di kelas. Tunggu! Kenapa aku tersenyum? Apa aku memikirkan kejadian tadi? Sepertinya semakin kita menjauh, maka intensitas bertemu malah semakin sering. Aku menahan untuk tidak berbicara dengannya, Kenapa terasa begitu sulit, sekarang?
Tidak terasa satu bulan telah berlalu, Runa sudah kembali dalam keadaan normal tanpa tongkat dan lukanya sudah sembuh. Runa dan Larbi masih terdiam, tapi banyak kejadian manis yang tidak pernah mereka duga sebelumnya.
Waktu tinggal setengah bulan mereka harus bersiap untuk ke Jerman, Tari dan Gandi merasa aneh melihat Runa dan Gandi hari-hari ini. Mereka tidak pernah saling menatap lagi, bahkan ketika berpapasan mereka berjalan seolah tidak melihat siapa-siapa. Tari sedikit bisa berdamai dengan keadaan, termasuk berdamai dengan gadis bisu itu. Tapi dia tetap gadis pencemburu.
Larbi dan Runa sedang dilatih Mr Key untuk kecepatan waktu, sambil menunggu giliran Tari duduk disamping Gandi melihat mereka berdua.
"Gan, aku ingin bertanya kepadamu, sebenarnya mereka jadian atau tidak?" Tari memastikan karena mereka terlihat cukup membingungkan.
"Nggak pernah jadian, Kenapa? masih marah dengan Runa, terus mau menghancurkan kakinya lagi?" Gandi sangat to the point untuk berbicara dengan Tari.
"Tidak, aku hanya ingin memastikan. Apa kamu menyukai Runa?"
"Iya, aku menyukainya. Kenapa?" Gandi bertanya lagi.
"Nggak papa, kenapa kamu nggak cemburu melihat mereka?" tanya Tari lagi.
"Karena aku menganggapnya seorang adik perempuan. Kamu masih ingat Lisa kan adikku? Dia sudah kuanggap seperti Lisa." Jawab Gandi meminum air mineralnya.
"Kenapa Larbi bisa jatuh cinta dengan gadis bisu itu?" Tari masih heran sampai sekarang.
"Cinta datang tanpa alasan, cinta selalu menembus batas yang tidak terduga sebelumnya. Aku tidak tahu pasti bagaimana mereka saling jatuh cinta tapi itu sangat terlihat dari sorot mata mereka berdua," jelas Gandi sambil meminum lagi air mineralnya.
"Haruskah aku menyerah, untuk mendapatkan Larbi? Sudah bertahun-tahun aku menunggunya tapi Larbi tidak pernah melihatku!" Tari sedikit putus asa.
"Kamu cantik, kamu juga smart! Untuk apa kamu menyia-nyiakan waktumu menunggu Larbi yang tidak bisa melihatmu! Kamu tidak bisa memaksakan perasaan orang lain, kamu hanya memacu dirimu sendiri untuk berbuat jahat karena kecemburuanmu. Kamu mau hanya karena cinta, berakhir di meja hukum?" Gandi memberikan nasihat positif untuk Tari.
"Jadi begitu ya? Memangnya ada pria ganteng selain Larbi yang bisa aku sukai?" Tari bertanya lagi.
"Ketika kamu memutuskan untuk membuka hatimu untuk orang lain, pujaan hatimu akan datang dengan sendirinya. Kamu bisa mencobanya!" Gandi memberi saran.
"Benarkah?" Tari mencoba menerima saran itu.
"Hmm, lakukanlah! Oh ya, berusaha berteman dengan Runa dan minta maaf kepadanya! Itu juga akan memperlancar semua keinginanmu! Aku ingin ikut berlatih!" Gandi menyusul Larbi dan Runa di kolam renang.
Tari mengikuti mereka bertiga dan memikirkan saran Gandi tadi. Selama setengah bulan mereka terus berlatih Runa dan Larbi sementara waktu tidak bekerja di aquarium, mereka mengajukan cuti selama satu bulan untuk kompetisi di Jerman.
Tibalah di Hari keberangkatan.
Runa mempersiapkan koper besarnya setelah kemarin berbelanja. Runa berpamitan dengan Mary,
Kak aku berangkat ya!
Runa menyelesaikan gerakan tangannya.
"Kamu harus jaga kesehatan dan jangan lupa memberi kabar, aku pasti akan sangat merindukanmu, Runa." Mary memeluk Runa sangat erat.
Kaka juga ya, aku juga pasti akan sangat merindukanmu. Jika selama dua minggu kita kalah maka kita akan langsung pulang, tapi jika dalam dua minggu kita menang. Kita akan dua minggu lagi berada disana untuk berlibur dan melakukan wawancara. Doakan aku kak! Runa menyelesaikan gerakan tangannya.
"Baiklah, hati-hati dijalan!" jawab Mary.
Hari itu Nenek sudah sering menerima surat dari Runa, dia begitu bahagia dengan cucu kesayangan itu. Nenek juga sudah bisa menggunakan handphone jadi, Runa bisa selalu memberi kabar melalui pesan.
Nek, aku berangkat ke Jerman hari ini. Jaga kesehatan ya, Nek! setelah aku kembali, aku akan langsung mengunjungi nenek di rumah. Aku sangat merindukanmu! Doakan aku menang ya nek, aku akan mengenalkan nenek dengan semua teman-temanku disini!
Menerima pesan itu, nenek sangat bahagia. Dia sampai meneteskan air mata karena bangga dengan cucunya.
Sayang, jangan lupa makan ikan dan sayuran, jaga tubuhmu dengan baik! Jangan sampai kamu terluka! Doaku selalu menyertaimu, sayang. Pulanglah dengan kemenangan dan kebahagiaan! Jika kamu gagal tidak usah menangis, nenek tidak akan kecewa, nenek akan selalu mendukungmu. Berdoa dulu sebelum berangkat!
Runa menerima jawaban nenek. Sebelum berangkat, dia melakukan perintah nenek untuk berdoa.
Aku menyayangimu nenek, Terimakasih.
Runa mengirimkan emoji Senyum dan semangat untuk nenek, membuat nenek tertawa bahagia.
Runa membuka pintu dan keluar dari apartement, di halaman apartement, Gandi sudah memarkir mobil merahnya untuk menjemput Runa.
Penampilan Runa hari ini sangat berbeda, dia sudah mengerti mode dan trend. Hari ini dia menggunakan topi coklat dengan aksen strawbery di kanan topinya, hotpant biru laut dengan kemeja putih disertai kalung panjang didadanya, mengenakan sepatu ket putih dengan aksen warna biru yang membuat penampilannya menjadi sangat imut.
Gandi kagum dengan penampilan Runa hari ini, dia tidak menyangka Runa pandai juga untuk berdandan, rambut ikal coklat yang tergerai alami membuat kecantikan Runa terpancar tanpa di buat-buat.
Setelah masuk ke mobil,
"Sudah siap!" Tanya Gandi bersiap untuk berangkat.
Runa tersenyum menganggukkan kepala, Setelah memasang sabuk pengaman.
"Kamu cantik, Runa. Aku terkejut melihat penampilanmu hari ini!" Puji Gandi sambil fokus menyetir.
Runa hanya menggerakkan tangannya.
Terimakasih kak,
Tari dan Larbi sudah siap di kampus untuk meminta doa restu kepada seluruh dosen dan semua teman-teman di lapangan. Mereka menunggu Runa dan Gandi yang belum juga datang.
Larbi begitu gelisah, mondar-mandir di halaman depan kampus menunggu mereka berdua.
Beberapa menit kemudian, mobil mereka sampai tepat di halaman Kampus.
Gandi dan Runa turun dari mobil, Larbi menoleh ke arah Runa yang tampil berbeda hari ini. Wajahmu terlihat cerah, Dia ... Cantik. gumam Larbi masih bengong melihat Runa berjalan ke arahnya.
Runa melihat Larbi sedikit tersenyum, kemudian menoleh ke arah Gandi dan mereka bertiga masuk bersama. Di perjalanan menuju ke lapangan Tari muncul, mereka berempat berjalan ke tengah lapangan.
Sambutan dari Kepala Universitas kemudian perwakilan dari Dosen.
"Kami memberikan restu untuk kalian berempat kami berharap, kalian membawa salah satu medali, Semangat untuk kalian berempat dan hati-hati di jalan!" kata dosen perwakilan itu.
Semua mahasiswa dan mahasiswi bertepuk tangan. Mereka berdua berjalan ke tengah untuk memberi hormat kepada semuanya, kemudian, mereka berempat berpamitan.
Dosen dan semua staf bersalaman dengan ke empat perwakilan ini. Terpancar kebahagiaan di raut wajah mereka.
Tibalah waktunya mereka berangkat. Mr Key mendampingi mereka selama kompetisi di Jerman,
"Baiklah, lakukan yang terbaik! Semangat!"
Semua tangan bertumpu dan mereka ucapkan.
"Yess,"
Mereka semua berangkat dengan bus kampus untuk ke Bandara, mobil Gandi dan Mobil Larbi di titipkan di kampus.
Tiba-tiba Tari mendekati Runa di kursi depan lalu duduk di sampingnya.
"Runa," panggil Tari sedikit canggung.
Runa sedikit terkejut, ketika Tari duduk disampingnya, bisa tersenyum dan memanggilnya dengan ramah.
"Aku ingin minta maaf padamu! Maaf membuatmu cedera, maaf membuatmu dan Larbi saling berjauhan. Aku sudah menunggu Larbi bertahun-tahun bahkan, sejak kecil agar dia bisa menyukaiku, tapi dia tidak pernah melihatku! Aku hanya seorang teman masa kecil baginya, aku menyerah setelah mendengar perkataannya, saat di halaman depan kampus waktu itu. Larbi tidak pernah seperti itu, dia belum pernah merasakan jatuh cinta sebelumnya jadi, dia bertanya padamu. Dia banyak berubah berkat kamu, aku harap kalian tidak berjauhan lagi. Aku juga berharap kamu bisa berteman denganku, Aku juga ingin mencari pria yang mencintaiku." Jelas Tari sambil menggenggam tangan Runa di sampingnya.
Runa sedikit terkejut, dia masih belum bisa percaya.
"Ini memang terdengar aneh bagimu, tapi Gandi bilang dengan cara ini aku bisa mendapatkan orang yang mencintaiku dan semua keinginanku akan terkabul jika aku meminta maaf dengan orang yang pernah aku sakiti," tambah Tari.
Runa mengeluarkan notesnya, menulis jawaban untuk Tari.
Aku sudah lama memaafkanmu, Terimakasih atas semua perhatianmu. Aku masih belum mengerti bagaimana perasaanku terhadap Larbi, dari awal kita berteman. Aku tidak pernah menganggapmu musuh, bagaimanapun kita adalah satu tim. Aku mendoakan yang terbaik untukmu, semoga kamu mendapatkan orang yang mencintaimu.
Runa tersenyum, Tari terlihat sangat bahagia.
"Bolehkan aku memelukmu?" Tanya Tari
Runa menganggukkan kepala.
"Sudah kuduga kamu memang gadis yang sangat baik. Terimakasih Runa." Tari tersenyum dan kembali ke tempat duduknya.
Larbi ada di belakang kursi Runa, dia menikmati pemandangan dan melihat Tari dan Runa sekarang lebih akrap, dia hanya tersenyum.
Semua berubah tanpa aku duga, kehidupanku yang terlihat sulit, lambat laun semakin terlihat mudah, Terimakasih Tuhan. Walaupun aku tetap harus berjuang, Rasanya ingin kembali ke masa kecil dimana aku masih bisa berbicara dan bernyanyi, jika bukan karena aku merindukan ibu, aku tidak akan kehilangan suaraku. Aku sangat merindukan suaraku, aku ingin mencintai seseorang bukan karena aku menginginkan suaraku. Aku ingin mencintainya dengan tulus! Tapi, kapan Jodoh itu datang kepadaku?
Larbi sedikit terkejut, mendengar suara hati Runa. Dia menahan untuk berfikir dan berkata dalam hatinya, dia takut Runa akan tahu jika mendengar suaranya.
Aku tidak boleh berfikir, aku tidak mendengar apapun! Larbi mencoba menjaga privasi Runa.
Runa terkejut, Apa yang sudah kamu dengar? Runa sedikit menggertak.
Ak-aku akan melupakannya, a-aku tidak mendengar apapun! Anggap saja begitu! Larbi terlihat sangat gugup.
Kenapa kamu di belakangku? Kamu sengaja ingin mendengar suaraku? Runa menaruh curiga.
"Ti-tidak, tidak! Aku tidak sengaja, aku akan pindah. Aku tidak bermaksud mendengar semuanya. Maafkan aku!" Larbi berbicara dengan keras membuat semua orang terkejut. Larbi menutup mulutnya, kenapa aku bersuara? Ini semua gara-gara kamu? Sudah ku bilang, aku tidak mendengarnya dan aku akan melupakannya, kamu tidak percaya!
"Bi, apa kamu mengigau?" tanya Mr Key berdiri di kursi belakang.
"Tidak Mr, a- aaku sedang menelpon," Larbi tiba-tiba berbohong.
Runa tersenyum dan terkikih dalam hati, Sudah lama kita tidak bertengkar,Sepertinya aku mulai merindukannya.
Bus sampai di Bandara, Runa turun duluan baru mereka semua turun. Larbi sedikit bengong, dia turun disaat terakhir. Apa yang dia maksud, merindukanku? Jangan berfikiran macam-macam!
Waktunya boarding, mereka berempat belum tentu bisa sebangku, saat waktunya menaiki pesawat, mereka berjalan berurutan untuk melihat nomor kursi. Runa dan Larbi berhenti di larik yang sama. Runa melihat tiketnya dia mendapatkan nomor tempat duduk delapan, sedangkan Larbi mendapatkan tempat duduk nomor sembilan.
Runa langsung duduk, tanpa menyadari jika di sebelahnya adalah Larbi, Larbi melihat Runa duduk, Larbi melihat lagi nomor tempat duduk di dalam tiketnya, Ini Tidak salah kan? Larbi sedikit canggung untuk duduk, walaupun akhirnya Larbi duduk.
Tari dan Gandi mendapatkan nomor lima belas dan enam belas, mereka sebangku tapi di bagian belakang.
Setelah Runa memasang sabuk pengaman dia baru sadar. Larbi ada disampingnya, Kamu? Larbi sengaja menutup setengah wajahnya dengan jaket agar Runa tidak tahu, aku sudah menutupi wajahku kenapa masih ketahuan? Runa menghela nafas, Apa kamu selalu mengikutiku? Atau bertukar tempat dengan yang lain untuk duduk di sampingku? Sepertinya aku selalu gagal menjauh darimu! Gumam Runa mencoba duduk dengan tenang.
Larbi mengernyitkan dahi, kamu jadi terlalu percaya diri, aku menepati janjiku untuk menjauh, kurang apa lagi coba? Aku juga sudah diam! Tapi kamu juga selalu ada disekitarku, contohnya hari ini kamu duluan kan, yang mengajakku bicara! Runa mulai cemberut.
Kamu memang selalu mudah mengajakku bertengkar, Dasar! Lihat tiketmu kak, aku tidak percaya. Runa sedikit kesal. Larbi memberikan Tiket itu kepada Runa Ternyata benar? Larbi mengambil lagi tiketnya dengan kasar. Dasar, gadis berisik! Kamu tidak berbicara tapi selalu menjengkelkan di telingaku! Aku benar-benar membencimu disaat seperti ini. Runa melirik ke Larbi lalu kembali menatap kearah depan, Lalu kenapa kamu terus memikirkan aku jika aku menjengkelkan, kak?Kenapa kamu mengkhawatirkan aku jika kamu membenciku? Kenapa kamu juga tidak bisa tidur--
Larbi menarik pundak Runa, membuat Runa terkejut dan menoleh. Larbi mencium bibir Runa tanpa memainkannya sama sekali, jantung Runa tiba-tiba seperti kuda yang berlari sangat kencang, nafasnya seperti tertahan. Larbi menarik ciumannya pelan. Larbi menjadi malu ketika memandang Runa lalu kembali duduk melihat kearah yang lain.
Runa terpaku, matanya tidak mampu melihat Larbi dan ikut duduk bersandar menoleh ke arah lain. Wajah Runa benar-benar memerah, dia tidak mampu berfikir, bahkan membayangkan yang terjadi barusan.
Mereka menenangkan pikiran mereka masing-masing, Itu karena kamu sangat berisik! Inilah yang di katakan seorang pria jika mereka malu, nadanya akan berubah menjadi ketus. Runa sedikit terkikih, Larbi mendengar tawa di dalam hatinya, Apa yang kamu tertawakan? tanya Larbi sedikit kesal, Tidak, tidak ada! Baiklah biarkan aku tidur. Semakin melelahkan berdebat denganmu kak. Beberapa detik kemudian Runa terlelap, Larbi pun ikut terlelap.
Di Tengah malam, Runa pergi ke kamar mandi karena ingin buang air kecil. Gerakan kaki Runa melangkah membuat Larbi bangun, Sepertinya dia pergi ke kamar mandi, lampu di pesawat di redupkan dan hampir sembilan puluh persen dari penumpang tertidur. Larbi masih belum bisa membuka mata sepenuhnya, dia masih membiarkan matanya tertutup. Melihat Runa kembali, Larbi berpura-pura masih tertidur lelap.
Runa menoleh ke arah Larbi dan melihat selimut dan bantalnya hampir jatuh,
Runa menyingkirkan pembatas kursi di tengah, dia membetulkan kepala Larbi dengan tangannya seperti gerakan memeluk dan meletakkan bantal agar tidak menyakiti lehernya. Dia mengambil selimut yang terjatuh, lalu menyelimuti Larbi sampai ke dadanya. Runa memandang Larbi cukup lama, jarinya sangat penasaran melihat sosok pria di depan matanya, Kenapa dia kadang kejam padaku? Dia memiliki wajah dan kulit yang sempurna, jemari Runa menyentuh wajah Larbi, menyentuh pipi dengan telapak tangannya, pantas saja dia sangat di sukai banyak gadis, kata-katamu kemarin, mungkin hanya untuk menolongku agar aku tidak di siksa lagi. Makanya kamu bilang begitu, mana mungkin seorang Larbi bisa jatuh cinta padaku. Aku masih sulit mempercayainya, tapi aku percaya, jika sebenarnya dia orang baik. Aku merindukanmu saat kita bertengkar, ternyata saling berjauhan dan saling diam bisa menyiksaku juga. Saat akan mengangkat tangannya dari wajah Larbi, tangan Larbi menahanya.
Bagaimana jika aku benar-benar jatuh cinta denganmu Runa? Mata mereka bertemu dalam jarak yang begitu dekat, Runa terkejut.