Kisah Manis

4093 Kata
Tangan kanan Runa masih ada di pipi Larbi, Runa tiba-tiba membeku, tidak bisa berkata apapun. "Kamu merindukanku? Aku juga sangat merindukanmu, aku juga menahannya dan aku juga tersiksa. Apa kamu juga jatuh--" "Kata Larbi menjelaskan. dengan spontan Runa mencium bibirnya, seolah menutup mulutnya untuk tidak berkata apapun lagi untuk menghakiminya, dia sudah sangat malu karena ketahuan. Larbi terkejut matanya terus berkedip. Runa memejamkan mata, beciuman dengan Larbi bukan hal pertama baginya. Runa menggerakkan sedikit demi sedikit bibirnya untuk membasahi bagian atas dan bagian bawah bibir Larbi, Larbi mulai terpejam pelan. Tangan kanannya meraih pipi kanan dan telinga Runa. Lampu yang redup dan keheningan itu membuat mereka jujur dengan perasaan mereka masing-masing. "Aku jatuh cinta padamu Runa, aku akan selalu melindungimu!" gumam Larbi masih terus menikmati bibir yang begitu manis itu. Kedua tangan Runa meraih tengkuk Larbi dengan gerakan perlahan, tangan Larbi berpindah ke pinggang Runa sambil terus memeluknya. "Aku tidak sengaja merindukanmu dan Jatuh cinta padamu kak Larbi." Runa mengucapkan dalam hati. Mereka melepaskan bibir itu perlahan, dengan nafas yang terengah dan dengan ritme jantung yang tidak beraturan mereka saling melihat, mereka mulai tersenyum. Petir semakin menyambar, hujan lebat terjadi, Larbi bersandar di kursi dan memeluk Runa yang sudah bersandar di dadanya. Larbi terus tersenyum sangat bahagia sambil mengecup rambut Runa yang ada di pelukannya, Runa merasakan kehangatan d**a seorang pria untuk pertama kalinya. Larbi menarik selimut yang terjatuh, mereka mulai tertidur lelap sampai pagi hari. Menjelang matahari terbit, penumpang di dalam pesawat sudah bangun, lampu sudah menyala, sedangkan Runa dan Larbi masih lelap tertidur dengan tangan yang terus menggenggam, Runa masih ada di d**a Larbi. Tari dan Gandi berjalan ke kursi Runa dab Larbi untuk memberikan makanan dan minuman dari Mr Key untuk mereka. Tari dan Gandi terkejut melihat mereka semesra itu. Tari sontak mengabadikan moment itu. "Gan, apakah cinta itu sudah bersatu?" tanya Tari yang tersenyum melihat mereka berdua. "Kurasa begitu," Gandi juga tersenyum. Larbi dan Runa tidak sengaja terbangun, saat Gandi dan Tari masih memperhatikan mereka, Larbi dan Runa terkejut dan saling melihat, dengan spontan melepas pelukan itu dan duduk di tempat masing-masing. Larbi dengan polosnya bertanya, "Ada apa?" "Kami hanya mengantarkan makanan dan minuman. Kalian mesra sekali, jangan bohong! Kalian sudah jadian kan?" Tari menggoda mereka berdua. "Tidak," Larbi dan Runa berkata serentak. Kali ini Gandi, Tari dan Larbi menoleh ke arah Runa yang bisa bicara. Ah, Suaraku kembali, suaraku kembali, suaraku kembali! Runa terlihat sangat bahagia. Larbi mendengar suara hatinya, membelai rambutnya dan ikut tersenyum. Tari heran, Larbi ternyata penyayang bahkan bisa selembut itu. "Gan lebih baik kita kembali, aku iri melihat mereka berdua begitu mesra!" Tari berjalan duluan ke belakang. Gandi memberikan makanan dan minuman itu kepada Larbi, dia menatap Larbi lalu menyapa Runa di sebelahnya. "Ternyata suaramu indah Runa," Puji Gandi membuat Larbi sedikit merasakan panas. "Iya, kak aku senang sekali," tangan Runa menggapai tangan Gandi. Tangan itu ada di depan Larbi dan membuatnya sedikit kesal. "Apa kalian sudah selesai bicara?" Larbi tiba-tiba ketus. "Wajahmu kenapa, Bi?" Gandi melihat Larbi kesal. "Oh, aku mengerti kamu cemburu kan?" Ganti terus menggoda Larbi. "Ah, kembali sana!" Larbi menyingkirkan tangan Runa dan menyingkirkan tangan Gandi. Dia jadi sensitif, Larbi, Larbi. Ungkapkan perasaanmu! Jangan diam saja! Gumam Gandi kembali ke tempat duduknya. "Kamu kenapa?" Runa melihat Larbi kesal. "Aku baik-baik saja, kenapa tiba-tiba kamu bisa bicara?" Larbi penasaran. "Bukannya kamu sudah mendengar suara hatiku tadi? Ceritanya panjang, sebenarnya ada alasan kenapa kamu bisa mendengar suaraku dari awal dan aku tidak bisu sejak lahir. Ketika pulang ke negara kita, aku akan pulang ke Desa Nelayan dan membawa beberapa teman kesana! Aku akan jelaskan, jika kamu mau berkunjung ke rumahku!" jelas Runa. "Aku hanya mendengarkan sedikit, kamu masih menanyakan aku mau atau tidak, bukankah aku pacarmu sekarang? " Larbi mendekatkan wajahnya ke arah Runa membuatnya semakin mundur. "Lampunya menyala, pramugari melihatmu!" Runa mengalihkan perhatian. "Mana?" Larbi menoleh ke arah lain untuk melihat pramugari itu. Larbi tidak menemukanya. "Kamu ini," Larbi kesal lagi. Runa tertawa, melihat ke luar jendela. Larbi kembali tersenyum melihat Runa tertawa dengan bahagia, "Ternyata kamu Cantik." Larbi tiba-tiba memuji dalam hati. Wajah Runa memerah, dia pura-pura tidak mendengar lalu menoleh ke arah Larbi. "Apa kamu bilang?" tanya Runa. Dengan wajah begitu manis Larbi mengatakan lagi. "Kamu Cantik," Wajah Runa semakin merah. "Lihat! Wajahmu merah sekali," Larbi membelai wajah Runa tiba mencubit pipinya. "Aww! Sakit kak, kamu ini," Runa mengelus kedua pipinya. "Bolehkah aku memberitahu mereka dan semua orang, kalau kamu pacarku?" Larbi bertanya dengan manis. Tiba-tiba Runa membelai wajah Larbi, sambil memandang matanya. "Tidak," Runa menolak, lalu kembali ke posisi semula. "Aku kira kamu ingin bilang iya, kenapa? Kamu malu punya pacar sepertiku? Apa alasannya?" Larbi terlihat sedikit kecewa. "Banyak alasannya, kamu kejam, kamu kasar, kamu tidak punya perasaan, kamu juga sombong. Lihat! tidak ada yang bagus, kan?" Runa sedikit menggodanya. "Kamu ingin balas dendam, karena sudah mendapatkanku lalu kamu bisa bilang begitu?Jadi kamu benar-benar malu punya pacar sepertiku?" Larbi terlihat kesal. "Itu kenyataannya kan?" "Atau jangan-jangan, biar kamu bisa dekat dengan Gandi. Jadi kamu tidak mau diketahui orang lain kalau kamu sudah punya pacar?" Larbi mulai menaruh curiga. "Apa hubungannya dengan kak Gandi?Ah, aku mengerti. kamu cemburu kan?Hayo ngaku!" Runa mulai menekan Larbi untuk jujur dari dalam hatinya. "Nggak!" "Ayo ngaku!" "Nggak!" Larbi menoleh ke arah lain dengan muka memerah. "Ay--" Tiba-tiba Larbi meraih pinggang Runa dengan sangat cepat, membuat Runa terkejut karena mereka saling bertatapan. "Kalau aku memang cemburu, kamu mau apa?" Larbi menggoda Runa. "Ya, nggak papa," kata Runa dalam hati, menelan ludah dan berpaling ke arah lain "Jelaskan padaku! kenapa kamu tidak ingin aku memberi tahu mereka semua?" Larbi masih penasaran sambil meraih dagu Runa untuk melihatnya lagi. "Karena aku tidak ingin di bully lagi, aku takut mereka menyakitiku lagi, aku masih belum siap untuk itu," wajah Runa berubah sedih. "Baiklah, aku mengerti. Tapi biarkan mereka tahu dengan sendirinya, bagaimana?" Larbi memberi sedikit pendapat. "Kita tetap harus menjaga kedekatan kita di kampus, iya, biarkan mereka tahu sendiri tanpa harus kita memberitahu. Jika mereka bertanya apa kita berpacaran, kita tetap akan menjawab tidak, kamu setuju?" jelas Runa membuat kesepakatan. "Baiklah, aku setuju!" Larbi mencolek hidung Runa. "Aku merasa aneh, aku bisa bersikap seperti ini dengan seorang gadis?" Larbi kembali duduk manis di kursinya. "Aku juga heran kenapa aku suka dengan pria kejam sepertimu?" Runa bergumam mengejek dalam hatinya. Tiba-tiba Larbi menoleh ke arah Runa yang bersandar di kursinya. Runa menoleh, Larbi mendekatkan wajahnya ke arah wajah Runa. "Coba katakan lagi!" Larbi menggertak dalam hati. Runa berpaling ke arah lain, "Tidak, tidak, tidak! Kamu orang yang sangat baik." Runa meralat kata-katanya dalam hati, diam-diam memeletkan lidahnya. Larbi kembali ke posisinya, sambil tersenyum mendengar perkataan Runa. "Kenapa setelah jadian, kamu jadi begitu berani?" gumam Runa kembali ke tempat duduknya, "Akan ada hal lebih yang terjadi setelah ini!" Larbi seperti memberi peringatan dari dalam hatinya. *** Mereka semua turun dari pesawat, Hari itu pihak kampus memberikan fasilitas hotel terbaik di Berlin yang di lengkapi kolam renang dengan standart Internasional untuk bisa di gunakan mereka saat berlatih selama kompetisi. Runa akan sekamar dengan Tari dan Larbi akan sekamar dengan Gandi. Kamar mereka berhadapan. Setelah selesai meletakkan semua barang-barang selama menginap di Jerman, mereka mulai untuk pemanasan sebelum bertanding sekitar jam satu siang. Mereka telah siap dan keluar kamar menggunakan piyama mandi menuju ke kolam renang. Mr Key sudah menunggu disana. "Baiklah, anak-anak, Hari ini adalah waktunya kita berperang dan menggunakan segenap kemampuan kita, Jangan menyanyi-nyiakan latihan keras yang selama ini kalian lakukan! Menang atau kalah itu biasa tapi kalian harus berharap membawa salah satu kemenangan untuk mengharapkan nama kampus kita. Sekarang kita Mulai Latihan, kalian semua siap?" Mr Key mulai membakar semangat. "Siap!" mereka serentak menjawab. "Tunggu! Runa, kamu bisa bicara?" Mr Key sedikit terkejut. "Iya Mr, saya juga tidak tahu, tapi saya memang tidak bisu sejak lahir," Jawab Runa sambil tersenyum. Mereka melakukan pemanasan sebentar. "Suaramu ternyata indah Runa, baiklah. Bersiap di tempat kalian," Mr Key akan memulai aba-aba, semua melepas piyama mandi mereka dan bersiap untuk berenang. "Kita Mulai!" "Prittt!" Mereka mulai menceburkan diri, kompetisi kali ini menggunakan gaya bebas dan mereka mulai serius untuk berlatih. Mereka tampak sangat bersemangat, Larbi dan Runa mulai memaksimalkan kemampuan mereka. Setelah sampai di garis Finish, setelah berganti baju dan membilas tubuh. Mereka pergi ke restauran di hotel itu untuk makan siang. Mereka berempat makan dalam satu meja bersama dengan Mr Key, tampak bahagia melihat semua orang tertawa lepas sembari bercanda di meja itu. Larbi meraih tangan kiri Runa yang ada di atas paha kirinya, Runa terkejut. Apa yang kamu lakukan kak? Runa berusaha untuk tidak menoleh ke arah Larbi di sebelahnya agar tidak ketahuan. Aku hanya menggenggam tangamu, ini adalah pertama kalinya aku punya pacar, haruskah aku menahan untuk menggenggam tangan pacarku? Runa terdiam, sedikit tersipu. Larbi memainkan ibu jarinya untuk membelai punggung tangan kiri Runa. "Runa, wajahmu merah, kamu sakit?" tanya Tari. Runa menarik tangan kirinya dan mengangkat kedua tangannya untuk menutupi pipinya. "Benarkah?" Runa benar-benar malu. Larbi terkikih kecil di sebelah Runa lalu meminum segelas air disebelahnya. "Bi, kenapa kamu tertawa?" Tari penasaran dengan mereka berdua. "Aku tidak apa-apa," jawab Larbi. Tari berbisik ke Gandi, "Gan, kamu lihat! Seperti ada sesuatu diantara mereka," "Mungkin, tunggu sebentar lagi, mereka akan segera bertengkar!" Gandi sudah memprediksi. Kenapa kamu tertawa?Suka mengerjaiku? Runa menghabiskan steak dihadapannya, Kamu sangat lucu! Larbi terus tersenyum. Runa jadi sedikit kesal. "Mr, sepertinya aku ingin berjalan-jalan sebentar sebelum pertandingan. Jika kalian sudah selesai makan, telpon aku!" Runa memberitahu Mr Key. "Baiklah, menghilangkan gugup juga sangat efektif." jelas Mr Key. "Mau kemana kamu?" Tanya Larbi dalam hati, "Mau jalan-jalan, apa kamu tidak dengar? " Runa semakin jauh. "Mr, aku juga ijin sebentar. Aku ingin pergi ke toilet." Larbi ikut pergi. "Baiklah," Mr Key menyelesaikan makanannya. "Sepertinya, ada yang tidak beres." Tari mengunyah sayuran di mulutnya sambil bersandar di kursi. "Mereka berdua terlihat mencurigakan, aku tidak percaya kalau Larbi mau ke toilet." Gandi sedikit berfikir. "Aku juga sepemikiran denganmu" Ucap Tari. *** "Runa, apa kamu tidak bisa berjalan pelan?" Larbi kualahan dengan langkah kaki Runa yang sangat cepat. "Untuk apa aku pelan? Apa aku menyuruhku mengikutiku?" Runa duduk di tempat duduk sebuah taman. "Kamu tidak bisa sebentar saja, tidak mengajakku bertengkar!" Larbi duduk di sebelah Runa. "Siapa yang mengajakmu bertengkar, jelas-jelas aku mengajakmu duduk! Lihat! Kamu ikut duduk kan?" Runa melihat pemandangan disekitar. "Kamu!" Larbi mulai gemas dan meraih wajah Runa untuk segera di cubit. "Aww, sakit, Lepas! Lepas, kak!" Runa mencoba melepas tangan Larbi dari pipi kanannya. "Kamu ini, bikin aku gemas. Bagaimana cara membuatmu tidak cemberut begitu?" Larbi benar-benar bingung harus bagaimana. "Kak, aku masih heran! Kenapa aku bisa punya pacar sepertimu? Kenapa aku bisa bicara berkat kamu, kenapa harus kamu yang jad ..." Runa hampir keceplosan. "Berkat aku kamu bisa bicara? Selesaikan kalimat terakhirmu! Ceritanya, kamu menyesal pacaran dengaku! Baiklah, aku pergi!" Larbi beranjak pergi dari tempat duduknya serah menggoda Runa. "Jangan kak, jangan putus!" Runa spontan menarik baju Larbi. Larbi tersenyum lalu berbalik. Larbi menekuk kakinya di lantai agar berada dibawa Runa, dia.memandang Runa, "Apa aku barusan bilang kalau aku mau putus? Aku hanya bilang mau pergi, buat ambil minum! Kamu takut kehilangan aku kan?" Larbi menggoda Runa. Tiba-tiba Runa wajahnya memerah, memalingkan wajahnya ke arah lain. "Kamu memang selalu jahil, menyebalkan!" Runa masih memerah. Larbi tersenyum mengangkat tubuhnya sedikit untuk mencium pipi Runa yang masih menoleh ke arah lain, "CUP" lalu berbalik meninggalkannya. Mata Runa terbelalak, pipinya malah semakin merah, tiba-tiba Runa tersenyum. Beberapa menit kemudian, Larbi kembali membawa dua gelas orange jus. Larbi duduk di samping Runa lagi, "Ini diminum!" Larbi memberikan segelas orange jus. "Terimakasih," Runa menerimannya. Waktunya telah tiba, Tari dan Gandi mendatangi mereka berdua yang masih asik minum orange jus berdua. "Oh, Jadi begini! Sembunyi-sembunyi kalau kalian sudah jadian," Tari dengan iseng berkata membuat Larbi dan Runa berdiri dan memisahkan diri. "Tidak ada yang jadian, kak Tar. Dia hanya harus membelikanku orange jus untuk melayaniku karena dia sudah berjanji." Runa memutar otak untuk mendapatkan alasan itu. "Kamu pintar sekali mencari alasan, rasanya aku ingin mengaku." kata Larbi dalam hati sambil meminum segelas orange jusnya. "Jangan berbuat seenaknya, kita sudah sepakat ingat itu!" Runa mengingatkan dalam hatinya. Gandi dan Tari bingung. "Kali ini, aku berusaha mempercayai perkataan kalian. Sudah waktunya bertanding, Ayo berangkat!" Tari berjalan duluan menuju ke sebuah mobil yang sudah disiapkan. Gandi menggandeng tangan Runa dan mengajaknya pergi untuk mengikuti Tari. "Eh, main seret aja! Kamu membiarkan tanganmu dipegang pria lain! Runa jangan keterlaluan!" gumam Larbi dalam hati , mengejar mereka bertiga. Runa memeletkan lidahnya seraya mencemoohnya. Larbi tiba-tiba menggandeng tangan kanan Runa. "Kak, lepaskan! Mereka akan tahu jika kita pacaran jika kamu seperti ini!" Runa mengerang dalam hati. Larbi masih menggenggam tangan Runa, '"Biarkan saja mereka tahu! Toh pada akhirnya mereka juga akan tahu." suara hati Larbi sambil bersikap masa bodoh. Gandi melihat Larbi, "Dia tidak terima, jika aku menggandeng tangan Runa? Salah sendiri tidak mau mengakuinya, aku akan membuat kalian berdua mengaku!Entah mengapa, aku punya firasat. Kalian berdua sudah menjalin hubungan, " ucap Gandi dalam hati, masih belum melepas genggamannya. "Baiklah kalau begitu, LEPAS!" Runa berterima dalam hati. Telinga Larbi langung berdengingsangat keras seperti microfon. "Hentikan, hentikan! Telingaku bisa berdarah." ucap Larbi dalam hati dan segera melepaskan tanganya. Runa dan Gandi masih bergandengan, dengan cepat Larbi berjalan dan memisahkan tangan mereka berdua sambil lewat untuk masuk ke dalam bus. Runa dan Gandi bengong, mereka berpisah tangan setelah itu lalu naik bus dan duduk terpisah. Tari dan Gandi membuat kesepakatan untuk saling menggoda pasangan baru itu, agar mereka mau mengaku. Tari duduk di sebelah Larbi, menggandeng lengannya. "Tar, apa yang kamu lakukan! Jangan memegang lenganku disini!" Larbi mencoba melepaskan tangan Tari. "Apa kamu punya pacar? Sampai aku tidak boleh ada disampingmu?Aku dari kecil juga sudah terbiasa seperti ini," Tari berkomentar sambil memejamkan mata. Runa menatap Larbi dengan tatapan kejam, Larbi tersenyum dan membelai rambut Tari untuk membuat Runa cemburu. "Kak, sepertinya kamu minta dihantam. Baiklah terserah! Jangan sampai bilang kalau kita jadian!" Suara hati Runa terlihat kesal mencoba cuek. "Aku suka kamu cemburu," Suara hati Larbi menyindir sambil terus tersenyum. "Tidak, aku tidak punya pacar Tar, Lakukan saja sesukamu!" jawab Larbi kembali cuek menghadap ke depan. Ta memanfaatkan kesempatan, " Hahh, sepertinya tidak mau mengaku juga, lumayanlah, aku bisa bersandar." ucap Tari dalam hati. Gandi duduk di sebelah Runa, Runa menatap Gandi dengan tatapan sedih tiba-tiba menyandarkan kepalanya dibahu Gandi. Gandi tersenyum "Ada apa dengan wajahmu itu Runa?" Gandi bertanya. "Aku mengantuk, bangunkan aku ya, kak, kalau sudah sampai," Kata Runa tanpa suara dalam hati dan memejamkan mata. "Baiklah," jawab Gandi singkat sedikit melirik Larbi yang mulai duduk tidak tenang. "Gadis itu, dia?? Aku harus membalasnya nanti setelah pertandingan," Larbi mencoba menahan emosinya. Tibalah di tempat kompetisi, Runa dan Tari sudah berganti pakaian renang mereka. Larbi dan Gandi pun sama. Babak penyisihan pertama akan segera di laksanakan. Mereka telah siap di posisi masing-masing, Kelas Putra melaju duluan dan Larbi dengan gesit memimpin, gerakan tubuhnya lentur dan bersemangat membuat Mr Key berteriak-teriak terus memberi semangat, Gandi tertinggal jauh kali ini, dia terus melaju mencoba menambah kecepatannya. Putaran mulai di lakukan Larbi bergerak sangat cepat, disusul oleh swedia yang hampir menyamai langkah Larbi dan pada akhirnya. "Pritt" peluit berbunyi. Larbi lolos babak penyisihan masuk peringkat pertama, Gandi di posisi ke enam akhirnya gagal. Giliran Runa dan Tari, mereka memang wanita tangguh, gerakan mereka tidak kalah gesit dengan kelas Pria, Larbi dan Gandi menonton mereka berdua dan ikut memberi semangat, gerakan berputar akhirnya dilakukan. Tari tiba-tiba mengalami kram di kakinya dan mencoba tetap bertahan akhirnya, tertinggal jauh dengan Runa. Runa melaju dengan kecepatan yang dia miliki. "Pritt!" peluit berbunyi. Runa lolos babak pertama dan masuk peringkat pertama. Runa memapah Tari yang kakinya masih kram lalu mengoleskan salep pereda nyeri di kaki Tari. "Apa kamu baik-baik saja?" Runa bertanya sambil memijat kaki Tari. "Aku tidak apa-apa, paling setelah ini sembuh." ucap Tari yang menahan sakit. Gandi menggendong Tari dan membawanya ke dalam bus. "Kalian akan menerima pengumuman, jadi kami ke bus dulu." teriak Gandi yang berjalan sudah jauh. "Kak Gandi?" Runa bengong melihat mereka pergi. "Kenapa? Kamu kecewa, dia menggendong gadis lain?" Larbi tiba-tiba berbisik di telinga Runa. "Buat apa aku kecewa?" Runa kembali ke kursi Mr Key dan mengambil botol minumannya. Larbi mengikuti Runa dari belakang, lalu ikut duduk dan meminum air mineralnya di sebelah Runa. Pengumuman hari itu untuk penyisihan babak kedua menyingkirkan 300 orang lagi, yang akan di adakan besok pagi. Runa dan Larbi antri untuk daftar ulang, baru mereka di perbolehkan pulang ke hotel. Beberapa menit kemudian, mereka berdua kembali ke dalam bus. Melihat Gandi dan Tari sudah terlelap, hari masih sore, supir bus itu menawarkan untuk berkeliling kota di Negara Jerman dan mereka pun menikmati pemandangan itu. Runa yang duduk disamping jendela begitu kagum melihat susasana di Jerman, melihat semua orang sudah tidur, Larbi duduk mendekati Runa disampingnya. "Apa yang kamu lakukan?" Tanya Runa berbisik lirih. "Mereka semua sudah tidur, aku harus balas dendam karena ulahmu tadi." Larbi kembali melihat kedepan. "Balas dendam?" Runa bertanya dengan lirih sekaligus heran. Larbi meletakkan kepalanya di bahu Runa, Runa tiba-tiba mematung, aliran darahnya terasa di pompa lebih cepat. Menahan untuk tidak berbicara. "Suara degup jantungmu sangat terdengar lebih kencang," komentar Larbi dengan suara hatinya sambil mememjamkan matanya. Runa berulang kali mengatur nafas mercoba tidak gugup. "Ap-apa iy-ya? Itu cuma perasaanmu saja, Kak. Kamu jangan asal bicara!" Runa mengelak sendiri perasaannya. "Jika begitu--" Larbi membaringkan kepalanya di pangkuan Runa Debaran jantung Runa semakin cepat seperti mau perang. Runa diam seribu bahasa, tidak bisa berkata apapun. Larbi memandang Runa, membuat Runa sedikit salah tingkah, selalu memalingkan wajahnya ke arah lain. "Apa yang kamu lihat, kak?" Runa menutup mata Larbi. Larbi menyingkirkan tangan Runa dan menggenggamnya. "Aku hanya melihat kamu yang gugup!"Larbi sedikit tertawa. "Wah, kak, kamu mengerjaiku?" Runa mulai memandang wajah Larbi. Larbi tanpa aba-aba mengangkat badan dan kepalanya ke wajah Runa. CUP Mengecup bibir Runa dengan tiba-tiba setelah itu kembali duduk di samping Runa. Runa terkejut sampai dirinya lupa bernafas selama beberapa detik. Wajah Runa memerah, Larbi tersenyum penuh arti, membuang muka melihat ke arah lain. *** Sampailah mereka di hotel, cuaca berubah menjadi sedikit dingin dan berangin saat turun dari bus. Mereka yang barusan bangun, secepat kilat berlari masuk ke kamar mereka masing-masing. Setelah mereka semua mandi, mereka berkumpul di restauran. Mr Key membawa minuman bersoda untuk hari ini, mereka semua dengan ceria menyambut minuman-minuman itu. "Kalian semua luar biasa, babak penyisihan sudah selesai. Selamat untuk Runa dan Larbi yang berhasil menenangkan pertandingan dan lolos ke dalam babak selanjutnya, " Jelas mr Key. Mereka semua bertepuk tangan. "Untuk Gandi dan Tari, aku sudah laporkan ke kampus. Kalian tetap boleh disini sebagai suporter mereka berdua, ada sedikit akomodasi selama disini. Untuk fasilitas yang lain kalian bisa membelinya sendiri, " tambah mr Key. "Terimakasih Mr," jawab Tari dan Gandi. "Sedangkan kalian berdua, Larbi dan Runa nanti malam sekitar pukul delapan, harus berlatih di kolam renang. Sore ini kalian semua boleh memilih makanan sepuasnya, nanti Mr yang bayar. Aku ingin ke atas untuk tidur." kata mr Key meninggalkan kartu kreditnya. "Yeeee...." Semua bersorak dan memesan makanan. "Kalian berdua memang seperti ikan, terlalu gesit saat berenang." Komentar Tari meminum air bersoda di hadapannya. "Iya, aku baru sadar, kalian berdua banyak kemiripan. Kalian tidak ingin mengaku, kalau sudah jadian?" Gandi bertanya sekali lagi dengan sangat jelas. Larbi dan Runa bersikap cukup santai, dan akting mereka patut di acungi jempol. "Kami hanya teman satu tim, kalau bermusuhan seperti di kampus, kan nggak seru juga, karena kita disini kerja sama," komentar Larbi lalu menegak minuman bersoda. Runa hanya tersenyum tanpa berkomentar, "Aktingmu bagus juga, Kak Larbi." puji Runa dalam hati. "Setidaknya aku bisa aman, dari omelan srigala cerewet sepertimu!"ledek Larbi dalam hati, Larbi menghabiskan minumannya lalu mulai menyantap hidangan yang sudah dipesan. "Aku heran, selain pandai berakting. Kamu sangat pandai untuk memancing keributan,"suara hati Runa sambil ikut memakan lahap hidangan di meja. "Gan, mereka tidak terlihat seperti teman," Tari berbisik lirih sambil memakan brokoli di garpunya. "Sepasang kekasih yang sedang bertengkar, itu lebih cocok untuk mereka," jawab Gandi sambil menghabiskan pasta di depan mejanya. "Kapan mereka akan berterus terang?" Tari menggeleng-nggelengkan kepala. *** Semua orang telah kembali ke kamar masing-masing, Larbi menghampiri Runa di depan kamarnya karena waktu sudah menunjukkan setengah delapan. "Thing thong," Larbi memencet bel kamar Runa. Runa membuka pintu, "Ayo, kita berangkat!" Ajak Runa. Tiba-tiba ada kereta barang tergelincir ke arah Runa Larbi mendorong Runa ke dinding untuk menghindar dari kereta itu, lalu memeluknya dan mereka berhadapan. Jantung Runa dan Larbi berdegup sangat kencang, mereka saling melihat. Menghela nafas perlahan, sampai akhirnya. Tari dan Gandi berdiri di depan pintu kamar mereka masing-masing yang terletak didepan kamar Runa. "Iya, aku percaya kalian hanya teman," Tari menyindir sambil menggandeng lengan Gandi untuk pergi malam itu. Larbi dan Runa melepas posisi mereka, "Kita pergi ke club dulu ya, Kalian berdua, selamat berlatih!" Tari melambaikan tangan, mereka berdua meninggalkan Larbi dan Runa. "Astaga! Mereka berdua ini," Runa berjalan ke kolam renang dan Larbi mengikutinya dari belakang. Malam itu, Larbi dan Rina melatih kecepatan untuk bertempur besok pagi. Mr Key sudah bersiap di kolam Renang, peluit pun berkumandang. "Pritt!" Mereka menceburkan diri dan gerakan itu mulai gesit, meluncur bagai ikan yang lincah di dalam air. Mereka menjejakkan kaki di dinding kolam lalu berbalik, tiba saatnya Mr Key akan mematikan stopwatch untuk menghitung kecepatan mereka. "Klik." Mr Key menekan berhenti pada stopwatchnya. "Kalian berdua hebat, waktu kalian bisa lebih cepat dua belas detik dari sebelumnya, kali ini kalian seri lagi. Baiklah, kalian berenang sekali lagi, lalu kembali ke kamar kalian dan istirahat! Aku harus berbincang dengan dosen kepala, akomodasi akan di tambahkan ke saldo kita," Mr Key berlari mengangkat telpon. Runa dan Larbi masih di dalam air dan terengah-engah di pinggir kolam renang. "Sekarang tinggal kita berdua disini, bagaimana jika kita bertanding! Yang kalah akan mencium yang menang," Larbi tersenyum memandang Runa di sampingnya. "Itu hadiah yang tidak adil, menang kalah tetap berakhir dengan ciuman. Bagaimana jika kita Seri?" Runa menatap Larbi dengan sinis. "Baiklah, jika Seri tidak akan terjadi apapun," Larbi menjawab dengan mantap. "Okey, kita bertanding. Kamu tidak boleh curang!" ajak Runa. "Baiklah, aku tidak akan curang." Larbi tersenyum penuh dengan arti. Mereka akhirnya bertanding. Awal yang beraturan dan penuh irama membuat Runa berenang dengan ketakutan, tidak boleh cepat dan tidak boleh lambat. Salah satu caranya, melihat Larbi harus terus berada di sampingnya, tiba-tiba Larbi bergerak lebih cepat. Kaki Runa tiba-tiba kram, seperti biasa dia tenggelam. Larbi berlari turun dan menolong Rina, mengangkatnya keatas kolam renang. Melakukan pertolongan pertama dengan menekan dadanya, lalu melakukan nafas buatan hingga akhirnya Runa sadar dan sudah berada di hadapan Larbi. "Apa kamu sengaja kram agar aku bisa memberimu nafas buatan?" Larbi yang pandangan matanya itu masih terlalu dekat dengan Runa, tersenyum meledek. Runa yang terkejut dengan posisi itu mendorong Larbi, untuk menjauh dari pandangan matanya, hingga jauh terpelanting. "Kamu ini kasar sekali, aku ini--,"Larbi akan mengeluarkan suara yang kencang. Masih dalam posisi duduk, Runa langsung duduk ditas Larbi dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Larbi terkejut, posisi kedua siku yang menempel ke lantai, d**a yang menengadah keatas dan Runa ada di pangkuannya sekarang menggunakan pakaian renang, posisi ini membuat Larbi sedikit menghela nafas sekaligus berdebar. "Jika kamu tidak bisa menjaga ucapanmu, aku akan mengalir hubungan ini!" Runa melepaskan tangannya dari mulut Larbi. Runa yang akan berpindah dari pangkuan Larbi, akhirnya, tertangkap dalam pelukan Larbi, ketika tangan kanan Larbi berhasil menahanya untuk tidak berpindah. Larbi mendekatkan dahinya ke dahi Runa. "Kamu bisa duduk seperti ini hanya denganku, kamu tidak boleh melakukannya dengan orang lain! Posisi ini bisa membuat semua pria ingin menerkam dan menghabiskan malam bersamamu!" Larbi berbisik di kecil masih menatap Runa. Runa tidak berani berkata apapun dari dalam hatinya, jantungnya berdebar dan wajahnya langsung berubah merah. Runa mendekat ke bibir Larbi, Larbi yang melihat Runa mengganas mulai terbelalak matanya, bibir Runa semakin mendekat, membuat hawa tubuh Larbi semakin panas. Ketika Runa berhasil, "Aawww!!"Larbi berteriak cukup keras, tangan kanannya yang memeluk akhirnya lepas. Ternyata, Runa beralih ke pipi Larbi kemudian menggigitnya sampai berwarna merah dan ada bekas giginya di pipi Larbi. "Singkirkan pikiran kotormu, kak Larbi! Aku tidak akan segan-segan menyiksamu seperti ini lagi! Jika kamu berusaha menggodaku lagi," Runa berdiri disamping Larbi sudah melepas gigitannya. "Kamu ini memang gadis yang kejam, pipiku merah, apa yang harus ku jelaskan dengan mr Key? Apa aku harus mengaku? Tadi Runa menggigit pipiku, dia duduk di pangkuanku dan menyakitiku!" Larbi ingin membuat Runq takut dengan ancamannya kali ini, masih memegang pipinya yang merah. "Laporkan saja! Aku tinggal bilang padamu besok, kita putus. Selesai." Runa meninggalkan Larbi ke kamar mandi untuk membilas tubuhnya. "Hei, hei, kamu meninggalkanku?hiss kamu gadis yang kejam, harusnya yang seperti itu aku, dia selalu mengambil peranku," Larbi menggerutu kecil, sambil berjalan menyusul Runa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN