Keesokan harinya di temani Gandi dan Tari, Runa dan Larbi bertanding lagi melawan beberapa negara yang masih cukup banyak. Larbi yang masih duduk di pinggir kolam dengan Runa tiba-tiba menggenggam tangan Runa.
"Apa yang kamu lakukan, kak?" Runa bersuara dalam hati.
Nama Larbi tiba-tiba dipanggil untuk bersiap,
"Semangat, sayang!" kata Larbi dalam hati lalu melepaskan genggaman tangan itu, lalu bersiap untuk bertanding.
Runa bengong, melihat tangan kanannya yang masih tersisa hangat tangan Larbi.
"Apa yang dia katakan?Sayang? Apa aku tidak salah dengar, dia bisa selembut itu?" wajah Runa tiba-tiba memerah.
Setelah itu giliran Runa di panggil untuk bersiap, mereka berdua telah bertanding, dua orang yang sangat menyukai dunia air itu menaklukkan pesaing dengan sangat memukau, Mr Key, Gandi dan Tari, memberikan semangat kepada mereka berdua.
Larbi dan Runa masih dengan stamina yang cukup kuat di hari itu. Mereka berdua menjadi perhatian karena melesat jauh di peringkat satu, tanpa memberi celah nomor dua untuk mengejarnya.
Peluit berbunyi,
"Pritt!!"
Pengumuman telah di berikan, Larbi dan Runa menjadi juara bertahan untuk peringkat pertama dan mereka lolos ke tahap selanjutnya, mereka berhasil menyingkirkan 300 peserta dan menjadi 50 kandidat terpilih untuk babak penyisihan berikutnya. Kali ini semua orang kampus melihat pertandingan mereka di aula kampus menggunakan Layar proyektor, mereka yang ada di kampus ikut bersorak. Para mahasiswa mulai mengidolakan Runa, mereka bersorak untuk Runa, membuat penggemar Larbi menjadi sangat sinis melihat mereka bersemangat.
"Aku benar-benar kesal sekarang! Bisa-bisanya gadis itu di sukai banyak pria, jijik sekali kau melihatnya," komentar loyola geram.
"Awas saja ketika gadis itu pulang dari Jerman, aku ingin sekali merusak wajahnya." Jenita meremas tasnya sendiri di genggamannya.
Mereka berdua fokus lagi melihat Larbi di layar proyektor.
***
Runa bersanding dengan Larbi disebelahnya, mereka berdua mendapatkan hadiah dari panitia karena menduduki peringkat pertama, mereka berdua mendapatkan boneka lambang pertandingan Renang pada hari itu.
Larbi menggenggam tangan Runa dengan tiba-tiba, ditengah kamera yang berkedip begitu silau di hadapan mereka. Runa tidak melarang hal itu kali ini, wajahnya terlihat bahagia melihat Larbi ada di sampingnya hari itu.
"Aku suka melihatmu tersenyum, kamu memang kekasihku yang hebat. Mulai sekarang jangan memanggilku kak Larbi, aku merasa tidak dekat denganmu, ketika tidak ada siapapun kamu boleh memanggilku, Larbi, bi, atau sayang," Larbi tersenyum menggoda Runa masih menghadap ke kamera.
Runa tersipu, hatinya berbunga-bunga saat itu juga.
"Baiklah, Lar-bi. Terimakasih, kamu juga hebat untuk pertandingan hari ini," jawab Runa dalam hati masih menggenggam tangan Larbi dan menghadap ke kamera.
Mr Key memberi selamat kepada mereka berdua setelah turun dari panggung.
"Oh Tuhan, kalian berdua luar biasa. Aku sangat mengagumi kalian berdua, Selamat!" Ucap mr Key kepada Larbi dan Runa.
"Terimakasih, Mr." jawab mereka berdua.
Tiba-tiba Gandi dan Tari dari belakang mendatangi mereka.
"Sampai kapan kalian akan terus bergandengan tangan?" Tari bersuara lantang membuat Larbi dan Runa terkejut dan spontan melepas tangan mereka.
"Aku benar-benar bosan melihat kalian tidak mau mengakuinya," Gandi mulai kesal.
Tangan Gandi meraih tangan Runa lalu memberi Runa bunga, dengan wajah tersenyum dan sangat bahagia Runa menerima bunga itu, membuat Larbi terlihat sangat kesal, dan membuang muka ke arah lain.
"Selamat Runa," kata Gandi
"Terimakasih, kak" Runa mencium bunga itu.
Gandi menganggukkan kepala, dia melihat ke arah Larbi yang sangat cemburu melihat hal itu, "Kapan kalian berdua akan mengaku?" tanya Gandi dalam hati masih menghela nafas.
"Selamat Gan," Tari memberi selamat Larbi.
"Makasih Tar," muka Larbi tidak terlihat bersemangat.
"Bi, kamu cemburu? Kenapa mukamu kecut sekali?" Tanya Gandi spontanitas.
"Tidak, aku tidak apa-apa. Aku ingin membilas tubuhku. Lagian Runa senang juga, mendapatkan bunga itu." dengan cemberut Larbi meninggalkan semua orang.
"Selamat ya Runa," Tari memberi ucapan.
Mata Runa terus melihat punggung Larbi yang meninggalkannya pergi, dia merasa Larbi marah.
Runa tidak fokus,
"Terimakasih, kak Tari." tatapan mata Runa masih terus melihat Larbi.
"Kak Gandi, kak Tari sepertinya aku harus ke toilet," Runa berjalan cepat menuju Ke toilet untuk membilas tubuhnya dan segera menemui Larbi.
"Gan, Lihat mereka! Aku tetap terus curiga, mereka berdua ini sepasang kekasih." Tari meminum jus di tangan kanannya.
"Aku heran, sampai kapan mereka akan menyembunyikan hal itu?" Gandi menggeleng-nggelengkan kepalanya.
***
Runa selesai membilas tubuhnya, dia keluar dari ruang ganti, Larbi pun keluar dari ruang ganti. Larbi melihat bunga di tangan Runa, bergegas meninggalkan Runa pergi.
"Kenapa dia melewatiku?" gumam Runa dalam hati, mengikuti Larbi dari belakang..
Runa tidak memanggilnya ataupun berbuat sesuatu, Runa bingung harus melakukan apa, Runa hanya berjalan mengikuti Larbi dari belakang. Setelah ada ditempat yang jauh dari kerumunan orang Larbi berbalik, Runa menghentikan langkahnya dan memandang Larbi dengan wajah sedikit ketakutan.
"Apa yang kamu lakukan?" Larbi bertanya dengan ketus.
"A-aku, a-aku berjalan," Runa terbata-bata bingung, harus berkata apa.
"Kamu mengikutiku, apa kamu ada keperluan denganku?" Larbi bertanya seperti orang lain.
"E-tidak, iya,--" Runa kebingungan.
"Jika tidak. Berhenti mengikutiku! Dan kembalilah ke bus, aku ingin sendiri. Bilang pada mereka aku akan kembali malam nanti." Larbi bersikap ketus lagi.
Runa menjadi tidak enak hati, saat Larbi akan meninggalkannya, Runa berkata, "Ada, ada yang harus ku bicarakan!"
Larbi berbalik, melihat Runa dengan tatapan masih kesal karena dia cemburu.
"Apa kamu marah, karena Kak Gandi memberiku bunga?" Runa bertanya cukup polos.
"Kamu tersenyum dan kamu sangat menyukainya, apa yang bisa kulakukan? Marah? Didepan semua orang, aku bukan pacarmu, atau melarang, apa hakku melarang?Gandi berhak melakukan itu." jelas Larbi pasrah dan menahan emosinya.
Runa tahu Larbi cemburu dan tidak menyukai hal itu, dia berusaha untuk tidak seperti dulu yang menyakiti orang lain dan bertindak kasar.
Runa membuang bunga itu, di depan Larbi.
Larbi terkejut. Runa yang berjarak cukup jauh dengan Larbi akhirnya berlari dan memeluk Larbi dengan erat, bersandar di dadanya.
Larbi terdiam, emosinya tiba-tiba mereda, hatinya tiba-tiba luluh. Kedua tangan Larbi masih ada di kedua sisi badannya, dia masih terkejut dengan perlakuan Runa.
"Terimakasih, kamu sudah menahan emosi untukku, Terimakasih kamu sudah cemburu, maaf, jika kamu tidak menyukai hal itu, kamu bisa jujur padaku. kenapa kamu tidak bersuara dalam hati?" Runa masih memeluk Larbi dan mengangkat kepalanya sambil tersenyum.
Larbi bingung dan sangat malu mengakui perasaannya sendiri.
"Dasar kamu ini, lepaskan! Siapa yang cemburu?" Larbi mencoba melepas pelukan Runa.
"Aku tidak akan melepaskan!tatap mataku, dan bicaralah! Jangan marah lagi, sayang." Runa terlihat begitu menggemaskan.
Larbi semakin luluh wajahnya memerah, dia memandang wajah Runa.
"Coba ucapkan sekali lagi!" Larbi menyembunyikan senyumannya.
"Jangan marah lagi, sayang," Runa mengulanginya masih memandang Larbi yang mulai salah tingkah.
Larbi meraih punggung Runa dan mendekap Runa, di pelukannya.
"Sejak kapan, kamu bisa bersikap seperti itu?baiklah, kamu berhasil!" Larbi membelai rambut Runa yang masih sedikit basah.
"Entah, sepertinya aku harus melakukannya! Apa kamu masih marah?" Runa memeluk Larbi semakin kencang.
"Tidak, aku tidak bisa marah jika kamu seperti ini, Bagaimana jika hari ini kita jalan-jalan?" Larbi memberi tawaran Runa.
Runa melepaskan pelukannya,
"Baiklah, ayo pergi!"
"Tunggu! aku ingin melihat jadwal pertandingan." Larbi melihat di handphonenya.
Setelah membuka dan melihat di galerinya, pertandingan selanjutnya akan diadakan empat hari lagi, Larbi menutup handphonenya.
"Baiklah, kita bisa berlibur. Masih empat hari lagi, Ayo kita pergi!" Larbi merangkul Runa dan mereka pun pergi.
Di dalam bus, Mr Key dan yang lainnya menunggu,
"Kalian tahu dimana Larbi dan Runa, kenapa mereka belum kembali?" tanya Mr Key mulai cemas.
"Kami tidak tahu Mr, mereka sedang membilas tadi," jelas Tari yang duduk di bagian belakang.
Tiba-tiba handphone Gandi berdering, tanda pesan masuk.
*Kak, Runa ingin membeli oleh-oleh untuk nenek, Nanti aku akan kembali sendiri ke hotel. Tolong sampaikan ke Mr Key, Terimakasih.
Berselang kemudian Larbi memberi kabar Tari.
*Tar, aku bertemu teman lamaku di Jerman. Sampaikan kepada Mr Key, aku akan kembali sendiri nanti atau mungkin besok, karena aku ingin pergi kerumahnya.
Gandi dan Tari saling bertatapan lalu menunjukkan pesan itu kepada Mr Key.
"Baiklah, kita kembali ke hotel."
Bus berjalan dan meninggalkan tempat kompetisi.
"Gan, apa pikiranmu sama denganku?" tanya Tari yang menebak sesuatu.
"Aku yakin sama, mereka berdua bersama." Gandi menghela nafas.
***
Larbi dan Runa berbelanja di pusat kota Berlin, membeli berbagai macam merk ternama disana. Larbi yang hidup sebagai orang kaya, mengeluarkan kartu kreditnya untuk membelikan kekasihnya itu tas, baju dan sepatu.
"Pilihlah sesukamu!" Larbi mempersilahkan Runa untuk memilih.
"Ini mahal, bi." Runa mengeluh.
"Kamu pacarku, aku yang akan membayarnya. Cobalah! Aku akan menilainya." Larbi duduk di sebuah kursi melihat Runa masuk ke ruang ganti untuk mencoba dress, baju dan celana panjang yang sudah di pilih.
Beberapa kali Larbi bengong melihat Runa menggunakan gaun, dia tidak menyangka, Runa yang berkulit eksotis itu memiliki paras yang sangat cantik saat memakai gaun yang indah. Kaki yang tinggi, wajah yang manis, membuat Larbi menelan ludah dan sangat terpesona.
Hampir sepuluh kali Runa keluar masuk ruang ganti dan dia terlihat sangat lelah. Mereka selesai membungkus semuanya,
"Akan kemana lagi kita?" Runa membawa banyak barang di tangannya.
"Kita akan makan! Ayo pergi!" Larbi berjalan tanpa membawa apapun.
"Apa kamu tidak akan membantuku membawa ini semua, Bi?" Runa sedikit heran dengan sikap Larbi.
"Semua itu milikmu, kenapa aku yang membawanya. Aku tidak akan membawa barang-barang itu!" Larbi mulai bersikap seperti bos.
"Baiklah, kembalikan semuanya ke toko! Kamu ini kekasihku atau bukan, aku tidak mengerti!" Runa meletakkan semua barang bawaan itu di lantai dan berjalan meninggalkan semuanya.
"Hei, kamu jangan berjalan duluan! Gadis itu!" Larbi mengeluh dan akhirnya membawa semuanya.
Larbi memesan taksi online untuk membawa mereka ke Rumah makan,
"Begitu baru benar, sebagai pria, jika gadis berbelanja harus membawakan belanjaannya. Paling tidak menawarkan bantuan, apakah tidak ada ajaran itu di rumahmu? Sebenarnya jika tadi kamu menawarkan bantuan, kamu akan membawa sebagian saja belanjaannya, Larbi." Runa mulai cerewet menjelaskan.
"Baiklah, baiklah. Ini pertama kalinya aku menurut dengan seorang gadis, aku tidak bisa dengan kotor, apa kamu lupa? Barang-barang ini semua jatuh dilantai--" Larbi masih terlihat jijik dengan yang dia bawa.
"Jangan berlagak seperti wanita, nanti tinggal cuci tangan atau menggunakan tisu basah, Bi" jelas Runa masih terus berjalan.
"Kamu memang satu-satunya gadis yang bisa membuatku menurut, iya baiklah! Disana taksinya!" Larbi menunjukk ke arah timur.
Mereka berdua naik taksi dan turun di sebuah Rumah makan terkenal di Jerman.
Larbi membayar mahal supir taksi itu untuk mengantar barang-barang itu ke hotelnya.
Mereka berdua memilih menu makanan, Larbi dan Runa sepakat memilih steak, lalu mereka menunggu hidangan datang. Larbi tiba-tiba bergeser ke samping Rina.
"Bolehkah kita berfoto?" Larbi bertanya dan mengeluarkan hanphonenya.
"Baiklah!" Runa mulai menata posenya.
Mereka berdua mengambil beberapa foto dari Foto tertawa, cemberut, menempelkan pipi, saling mencubit dan terakhir larbi mencium pipi Runa.
"Ckrek!"
Runa terkejut dan melihat hasil foto mereka, Mereka mulai tertawa ketika melihat lucunya mereka berpose, duduk mereka semakin dekat hingga mata mereka bertemu lagi, Runa menyingkap sebagian rambut diabgian kirinya, Larbi ikut menyingkap rambut sebelah kanan Runa. Larbi memandang Runa, wajahnya mulai mendekat, Runa tahu gerakan itu akan berakhir dimana, Runa menutup mata.
"Hidangan telah siap!" kata salah seorang pelayan.
Larbi terkejut lalu kembali ke posisi duduknya dan Runa memalingkan wajahnya yang sudah tidak selamat dari rasa malu.
Mereka berdua akhirnya makan.
Hari sudah gelap, mereka berdua menikmati beberapa makanan dari rumah makan itu dan meminum lebih dari dua botol anggur merah, mereka mulai sempoyongan,
"Bi, ini pertama kalinya aku mabuk, apa kamu tahu?" Runa menanyakan hal itu, masih meminum anggur di gelasnya.
"Sudah, jangan minum lagi! Kamu sudah hampir tidak sadarkan diri Runa," Larbi pun sudah mabuk berat, menghentikan gelas Runa.
Dengan setengah sadar, menelpon taxi online untuk mengantarkan mereka kembali ke hotel. Larbi yang masih setengah sadar memapah Runa, berjalan menuju teras rumah makan, mereka menunggu sambil bergelayut di tiyang yang ada di depan Rumah makan, ketika tak itu sampai, supir taksi segera membawa mereka masuk.
Hari itu mereka diantar oleh supir taksi sampai ke teras hotel, dengan sempoyongan Larbi memapah Runa sambil meminta kunci di resepsionis. Larbi sudah membawa dua kunci sekaligus, mereka berjalan dan tiba di depan kamar Runa,
"Masuklah, aku sudah membuka pintunya!" Larbi membuka pintu sambil mempersilahkan Runa masuk.
Runa berjalan masuk tiba-tiba terpeleset dan menarik baju Larbi di sampingnya mereka berdua akhirnya masuk dalam satu kamar terbaring di lantai, pintu otomatis terkunci.
"Aww, sakit Larbi," Runa benar-benar tidak sadar.
"Aku juga, kepalaku sedikit berputar. Ayo berdiri! Kita pindah dilantai dingin," Larbi membantu Runa berdiri.
Larbi membawa Runa ke atas ranjang, mata Larbi sudah benar-benar rabun, dia tidak sadar lagi sudah berada dimana. Runa sudah berbaring, Larbi mencoba pergi dari tempat itu, tangannya ditarik Runa yang tiba-tiba bangun dan duduk di sampingnya.
Matanya memandang Larbi dengan penuh arti, Larbi tahu akan terjadi apa setelah ini. Dia mencoba benar-benar membuka matanya, agar cepat sadar tapi malah semakin buram. Runa tertawa, kedua tangannya sudah ada di kedua pipi Larbi, Runa mencium bibirnya tanpa aba-aba.
"Runa, ini berbahaya, lepaskan! Jangan membuatku tergoda," Larbi berbicara dalam hati masih mencoba sadarkan diri.
Runa tidak menjawab dia terus melumat bibir Larbi, yang akhirnya, membuat Larbi menurut dan mengikuti gerakan bibir yang semakin mengganas itu. Larbi mendorong Runa perlahan ke atas tempat tidur, memainkan lidahnya yang terus berputar dan membasahi setiap lekuk bibir Runa di depan matanya, mereka sudah terbuai, Larbi menyentuh leher Runa dengan bibirnya mengecup lembut tanpa memberi warna, desahan itu pecah, baru setelah itu Runa berguling keatas Larbi, duduk diatasnya dan membuka dua kancing atas kemeja Larbi, Runa mencium leher Larbi dengan begitu agresif, Larbi mendesah cukup menggoda. Hawa kamar itu semakin panas, tubuh mereka mulai berkeringat, saat dimana mereka sudah menanggalkan semua pakaian mereka kecuali underware yang mereka kenakan, Larbi dan Runa lelap tertidur tanpa melewati batas. Mereka berdua berpelukan dan tidur di dalam selimut yang hangat.
Keesokan harinya....
Runa terbangun masih di pelukan Larbi, gerakan Runa yang menggeliat, membangunkan Larbi seketika itu.
Mata Runa dan Larbi terbuka, mereka saling melihat masih dalam posisi berpelukan, menelusur ke dalam selimut. Mereka bingung,
"Apa yang terjadi semalam? Kenapa aku sudah tidak berpakaian?" Runa bertanya dalam hati masih clingak-clinguk tidak mengerti.
"Aku harus bagaimana? Aku juga tidak mengingat apapun," Larbi bertanya dalam hati dan memandang Runa.
Runa memandang Larbi,
Mereka berteriak bersama
"Aarrrrrgggggghhh" mereka menjauh masih ada di atas tempat tidur.
Mereka diam sejenak, membayangkan apa yang terjadi semalam, bayang-bayang mulai terlihat ketika Runa mencium Larbi duluan dan Larbi mulai tergoda lalu ....
Dari jarak cukup jauh itu mereka mulai bicara dengan suara hati.
"Larbi, maaf, ini pertama kalinya aku mabuk. Dan aku yang--"
"Tidak ada yang perlu di jelaskan, kita berdua mabuk berat, hal itu wajar terjadi, aku hanya takut merugikanmu. Apa ini pertama kali bagimu?Aku yang harusnya meminta maaf, aku tidak bisa mengontrol diriku untuk menjagamu," Larbi berkata pelan.
"Iya ini yang pertama kali, apakah jika pertama kali, aku pasti berdarah?" Runa bertanya dengan polosnya.
"Jika aku melakukannya pasti ada bercak yang tertinggal, coba kamu berdiri dan angkat selimutnya. Aku akan memakai celana panjangku!" Larbi berputar arah untuk memakai celananya di bawah.
Mereka berdua memeriksa semuanya, dan tidak ada bercak apapun disana. Mereka berdua menghela nafas dan duduk di kanan kiri tempat tidur saling membelakangi.
"Syukurlah, kita belum berbuat lebih."
Ucap Larbi menghela nafas panjang.
"Aku tetap malu, karena aku memulainya duluan." wajah Runa memerah.
Larbi tersenyum, mendengar Runa berkata begitu. Larbi mulai membayangkan ciuman Runa semalam,
"Aku menyukainya, pakailah bajumu!" ucap Larbi masih membelakangi Runa.
Wajah Runa semakin merona, Runa memakai pakaiannya lagi.
"Apa kamu sudah selesai?" Larbi yang sudah memakai kemejanya itu, memastikan Runa berpakaian.
"Iya, Sudah."
Larbi berdiri mendekati Runa dan duduk disampingnya, merangkulnya dari samping dan mencium kening Runa.
"Kamu tahu, aku akan sangat bahagia jika seumur hidupku, aku bisa bersamamu. Kamu adalah cinta pertama yang membuatku tidak kesepian lagi, maafkan aku untuk kejadian semalam." Larbi mengecup kening Runa.
"Sebegitu berartinya aku, sampai membuatmu tidak kesepian," komentar Runa disamping Larbi.
"Semenjak kakakku meninggal, aku tidak ada teman di rumah besarku, ayah dan ibuku bekerja di luar negeri, mereka tidak pernah menjengukku, jika pulang pasti jika ada kepentingan saja dan keseharianku hanya sendirian, aku gampang marah, emosi dan gampang menjadi sangat kejam, karena sebenarnya aku takut, orang akan menyakitiku karena aku sendirian. Walaupun banyak pelayan dirumah, aku tetap merasa kesepian, tapi saat bertemu denganmu, aku merasa kamu lebih kuat, lebih galak bahkan lebih kejam dariku dan itu membuatku aman. Dan itu membuatku ingin memperlihatkan sisi lemahku di depanmu." jelas Larbi mulai terbuka dengan cerita.
"Oh, jadi aku kejam, galak dan kuat? Kalau boleh tahu mengapa kakakmu meninggal?" Runa mulai penasaran.
"Karena kakakku meninggal di aquarium saat pertunjukkan, itulah kenapa aku bekerja di aquarium karena cita-cita kakakku adalah menyelesaikan pertunjukanya, alasan kenapa aku merahasiakannya? karena ibuku trauma melihat anaknya meninggal di petunjukkan aquarium, tapi aku sendiri sangat menyukai pertunjukkan aquarium. Sifatmu memang seperti itu, tapi kamu adalah gadis yang baik." jawab Larbi mulai lebih terbuka dengan Runa.
"Jadi begitu, aku baru tahu seorang Larbi yang kejam, bisa jujur juga pada orang yang dia benci sebelumnya," Runa memandang Larbi di sampingnya.
Larbi balik memandang Runa, "Apakah kamu masih merasa aku membencimu?" Larbi membelai rambut panjang Runa.
Runa tersenyum sambil menggelengkan kepala, "Mungkin, itu dulu."
Larbi memeluk Runa dengan erat, "Entah, aku sangat menyayangimu Runa,"
Tiba-tiba ada bel pintu berbunyi, Runa dan Larbi saling memandang. Runa segera beranjak dari tempat duduknya lalu mengintip.
Cukup terkejut ketika yang di depan kamar Runa adalah Tari.
"Larbi, Kak Tari diluar. Apa yang harus kita lakukan?" Runa mulai panik.
"Gawat, aku akan ke kamar mandi." Larbi masuk ke kamar mandi.
Merapikan tempat tidur dan mencoba sealami mungkin saat bangun tidur. Perlahan membuka pintu dengan wajah masih kusut.
"Krekk"
Runa membuka pintu.
"Hai kak, ada perlu apa?" Runa berakting.
"Astaga, semalam kamu minum?" Tari bertanya dengan menipas bagian hidungnya.
"Iya kak, pertama kalinya aku minum." jawab Runa berakting menguap.
"Kamu sama Larbi semalam?" tanya Tari penasaran.
"Nggak kok, ak-aku sendiri semalam berbelanja banyak barang. Tapi sepertinya aku belum menemukan oleh-oleh untuk nenek," Runa membuka pintunya sedikit untuk memperlihatkan banyak belanjaannya semalam.
"Oh begitu, Aku dan Gandi akan pergi ke pantai hari ini, apa kamu mau ikut, Runa?" tanya Tari.
"Baiklah, aku akan ikut. Biarkan aku bersiap, Kak!" jawab Runa bersemangat.
"Baiklah aku tunggu di restauran, sekalian sarapan. Aku sepertinya akan menghubungi Larbi, sedari tadi aku ketuk pintu tapi tidak diangkat juga," Tari benar-benar menelpon Larbi.
Tiba-tiba suara berdering dari tempat tidur.
"Loh kok, ada dering handphone?" Tari sedikit curiga.
"Aku harus bagaimana ini? Aku harus menjawab apa, Larbi?" gumam Runa kebingungan sambil tersenyum.
"Angkat saja telponmu, seolah ada yang menelpon, jangan lupa matikan hpku!" suara Larbi dalam hati memberikan solusi.
"Ah itu pasti nenek, aku akan mengangkatnya!" Runa berlari mengangkat telpon.
"Halo Nek, ada apa?" Runa menyimpan handphone Larbi di bawah selimut sambil mematikan handphone itu.
Runa masih terus berbicara sendiri seolah sedang bertelepon.
"Sepertinya Larbi memang belum bangun tiba-tiba mati, mungkin batrenya habis, Runa aku tunggu kamu di restauran ya!" Tarjalan ke Restaurant.
Runa menghentikan telponnya dan menutup pintu.
"Hahh....aku sesak nafas, bagaimana bisa jadi sepanik ini?" Runa berjalan menemui Larbi dikamar mandi.
Runa mengetuk pintu ternyata Larbi hendak keluar, tanpa sengaja Larbi terpeleset karena menghentikan Langkah, tangan Runa ingin menolong akhirnya ikut tertarik masuk ke dalam kamar mandi yang licin itu, tangan Larbi menyenggol tombol shower dan air pun mengucur deras, Runa menimpa badan Larbi sehingga mereka akhirnya basah. Air itu membuat baju Runa basah kuyup begitu juga Larbi, mereka saling menatap dan menelan ludah masing-masing.
Runa sedikit menarik tubuhnya lalu kembali berdiri dan Larbi pun kembali dalam posisi berdiri, air shower yang hangat itu membuat mereka bengong sesaat. Mereka berdiri masih dalam keadaan yang sangat dekat tanpa Jarak. Kaki Runa yang jenjang dan mengenakan hotpan itu terlihat basah kuyup, celana Larbi pun basah, Larbi yang bertelanjang d**a terlihat sangat seksi dengan air yang terus mengucur di tubuhnya. Mereka yang melamun akhirnya sadar, Larbi mematikan shower dan Runa berbalik, melihat bajunya sendiri transparan karena basah.
Larbi salah tingkah, melihat seksinya tubuh Runa saat itu.
"Ee-ak-aku, akan keluar duluan. Kamu bisa mandi dulu, akan aku ambilkan handuk!" Larbi segera keluar dari kamar mandi dan menutup pintu kamar mandi.
Runa bengong sesaat, "Dia tidak berbuat macam-macam padaku?" Runa heran, dia berbalik lalu mandi.
Larbi mengatur nafasnya sebentar, menghilangkan bayangan tubuh Runa tadi.
"Kenapa dia sangat menggoda?" Larbi bertanya dalam hatinya.
Larbi mengambil handuk lalu mengetuk pintu kamar mandi.
"Thok, thok, thok"
Runa membuka pintu perlahan sambil sedikit mengintip, Larbi yang menempel di dinding mengulurkan tangannya untuk memberikan handuk sambil berbalik ke arah lain.
"Terimakasih, " Runa berkata dalam hati.
"Aku akan kembali ke kamarku!" kata Larbi.
"Hemm, baiklah." jawab Runa langsung menutup pintu.
Larbi mengambil tas, handphone dan beberapa barang lain lalu keluar dari kamar Runa, di depan pintu Larbi sedikit clingak-clinguk takut ada yang melihatnya. Gandi yang masih di kamar tidak sengaja mau keluar setelah melihat Larbi mengendap-ngendap keluar dari kamar Runa. Gandi menutup pintunya lagi.
"Apa yang dilakukan Larbi di kamar Runa? Apa jangan-jangan semalam Larbi tidur di kamar Runa bukan di kamarnya? Mereka semakin mencurigakan," Gandi akhirnya keluar dari ruangan.
Sampai depan kamar Larbi dan Runa, Gandi mulai mengerutu, "Lihat saja! Aku akan membongkar status kalian yang sebenarnya, kalian tidak cukup pandai untuk berbohong dan menutupi semua ini," Gandi menyusul Tari di restauran.
***
Sesampainya di restauran, Gandi menceritakan apa yang dilihatnya kepada Tari.
"Apa suara handphone Larbi yang terdengar di kamar Runa itu memang benar? Berarti Larbi di dalam kamar Runa?" Tari bertanya seraya penasaran dengan kejadian tadi.
"Sepertinya mereka pandai untuk menutupi semuanya, itu sudah pasti 100% benar sepertinya, mereka sudah melakukan hubungan lebih jauh, aku benar-benar tidak tahan untuk segera membongkar status mereka," gumam Gandi meminum es jus yang baru saja sampai di mejanya.
"Sepertinya begitu, astaga! Larbi yang sangat polos itu bisa berbuat lebih seperti ini," Tari menggeleng-nggelengkan kepala masih heran.
"Dia sudah dewasa, mungkin memang sudah waktunya, kita jalankan rencana kita tapi nanti setelah mereka menyelesaikan kompetisi," kata Gandi sambil menyerutup jus di depan matanya.
"By the way, kenapa mereka berdua lama sekali? Keburu siang ini," Tari mulai panik, karena takut matahari terik.
"Paling sebentar lagi, nah itu mereka," Gandi melihat mereka berdua berjalan untuk makan pagi bersama mereka.
Mereka terlihat diam dan serius menyantap makanan yang sudah di pesan, Tari mulai membuka suara.
"Okey, aku udah pesan taksi didepan kita akan menikmati suasana pantai yang indah di Jerman, Ayo berangkat!" Tari sangat bersemangat dan berjalan duluan.
***
Setelah sampai di pantai, Tari menarik Runa untuk pergi ke kamar mandi.
"Kak, kamu kebelet?" Tanya Runa penasaran.
"Eh, bukan kebelet, kita pake bikini dong kesini. Masak cuma pake hotpant dan kaos, mereka nanti tinggal bertelanjang d**a untuk berenang di pantai, disini sangat seru untuk berenang." jawab Tari sambil melepas semua pakaiannya.
"Untung aku persiapan kak," Runa melepas juga pakaiannya.
Mereka berdua tampak seksi dengan bikini berwarna kuning yang dikenakan Tari dan berwarna biru yang dikenakan Runa, tubuh seorang perenang memang tidak bisa dibandingkan dengan apapun, walaupun sedikit berorot tapi tubuh mereka cukup indah dengan p******a yang montok dan terlihat begitu indah. Gandi dan Larbi terkejut melihat kedua wanita itu terlihat sangat mempesona berjalan menghampiri mereka.
"Runa, kamu cantik sekali," Puji Gandi.
Larbi terlihat tidak terima dengan pujian itu, tapi tidak mampu berbuat apa-apa.
"Terimakasih, kak." Runa menjawab dengan malu-malu.
"Hei jangan cuma melihat, buka baju kalian dan waktunya kita berenang dan berselancar disini!" Tari merangkul Runa lalu berjalan duluan.
"Kamu cantik, Runa," Suara hati larbi berkata.
"Makasih, Larbi." Jawab Runa dalam hati.
Para pria sudah melepas pakaiannya, mereka menyusul para gadis untuk berenang dan berselancar, Runa yang sudah terbisasa dengan suasana pantai, mengambil papan selancar dan melaju duluan untuk mengarungi ombak, Larbi, Gandi dan Tari begitu terpukau dengan atraksi yang dilakukan Runa.
"Gan, sepertinya dia terbiasa dengan papan itu?" Tari sedikit heran.
"Aku juga baru tahu kalau ternyata Runa bisa berselancar dengan sempurna, itu tidak mungkin, jika dia tidak terbiasa, wajahnya sangat santai dan tersenyum." Gandi masih terpukau di tepi pantai.
"Aku baru tahu, dia bisa banyak hal yang berhubungan dengan air. Ini bukan pertama kalinya aku melihatmu begitu, kamu memang kekasihku yang hebat, kenapa aku begitu bahagia menyebutnya begitu," gumam Larbi dalam hati sambil senyum-senyum sendiri memandang Runa dilaut lepas.
Gandi dan Tari menoleh ke arah Larbi tidak biasa melihatmu tertawa tanpa kejelasan itu.
"Aku baru pertama kali, melihat dia tersenyum seperti itu setelah sekian tahun,"Tari heran melihat Larbi.
"Itulah kenapa orang jatuh cinta selalu mengalami perubahan, kesimpulan mereka sudah jadian hanya menutupi saja," Gandi masih meyakini hal itu.
"Sepertinya begitu, aku jadi ingin mendekatinya!" Tari berjalan mendekat ke arah Larbi lalu mengagetkannya.
"Hei, senyum-senyum sendiri? Kamu ini terlihat mencurigakan," Tari mulai berkomentar.
"Ah, Tari kamu mau membuatku serangan jantung? Aku sedang menikmati pemandangan laut, ada apa?" Larbi berusaha sealami mungkin.
"Runa terlihat cantik kan?" Tari mencoba memancing Larbi.
"Dia cantik, kan dia seorang gadis," Larbi tahu kemana arah pertanyaan itu. " Aku mengerti maumu Tari," gumam Larbi dalam hati.
"Kamu pasti menyukainya kan?" Tari bertanya dengan spontan.
"Bagaimana jika kita berselancar sudah lama kita tidak bertanding," Larbi mengalihkan pembicaraan dan mulai mendekati bibir pantai untuk berselancar.
"Hei, Tunggu! Kamu kebiasaan mengalihkan pembicaraan," gumam Tari sedikit kesal.
Gandi akhirnya mengikuti mereka berdua, hari itu mereka berempat berselancar bersama, Runa terlihat benar-benar bahagia, dia merasa kembali ke Rumahnya di Desa Nelayan. Ketiga orang itu pun menikmati berselancar di hari itu dengan senyum dan keceriaan.
***
Tidak terasa liburan telah berakhir, tibalah hari kompetisi untuk masuk ke babak berikutnya.