Hari Kompetisi

4118 Kata
setelah berselancar dengan begitu menyenangkan, tibalah hari dimana Runa dan Larbi harus menghadapi kenyataan untuk mengikuti kompetisi berenang di babak selanjutnya, mereka sudah bersiap di tempat masing-masing untuk mendapatkan tempat di semi Final berenang Internasional. Runa tampak melakukan pemanasan yang cukup matang, mata Larbi memandang jauh ke arah Runa dan bergumam dalam hati. "Semangat sayang," Suara yang terdengar dalam hati itu membuat Runa menoleh dan melihat Larbi yang sudah berpindah mata untuk melakukan pemanasan tangan. "Semangat juga, sayang." Runa masih melakukan peregangan otot. Mr Key, Gandi dan Tari tampak tegang dipinggir kolam tempat mereka berkompetisi. Akhirnya peluit pertama di bunyikan tanda bersiap dan peluit panjang berbunyi. "Pritttt,"  Runa dan Larbi seakan terbang di dalam air, kaki mereka melesat dengan sangat cepat hingga lawan kualahan untuk mengejar. Kaki Rina tiba-tiba merasa kram tapi dia tidak bisa berhenti berenang. "Aww, kaki kananku!" Runa terus berkonsentrasi dan mencoba bertahan. Kaki kananya sudah seperti mati rasa, dia tidak menghiraukan hal itu, dengan kaki kiri yang tersisa Runa berenang dengan susah payah, saat berbalik untuk menendang poros Runa menggunakan kaki kiri yang membuatnya kesulitan, sampai dititik akhir dia kehilangan tempat pertamanya dengan bertengger di nomor dua. "Prittt," Pertandingan selesai. Larbi menempati nomor satu dan tetap mendapatkan juara bertahan, Larbi menghampiri Mr Key, sekaligus mencari Runa disana tapi dia tidak mendapati Runa. Mr Key menepuk punggung Larbi. "Hebat kamu Bi, masih bertengger di posisi pertama, Runa turun peringkat dia ada di nomor dua," Mr Key sedikit kecewa tapi dia cukup lega karena mereka berdua tetap masuk ke semi Final. Larbi masih mencari kesegala sudut, Gandi juga ikut mencari Runa. "Mr, Dimana Runa?" Gandi akhirnya bertanya, "Oh iya, semenjak pengumuman aku juga belum melihatnya," Tari ikut berkomentar. "Iya, dimana dia, aku juga belum melihatnya dari tadi," Mr Key kebingungan. Larbi tanpa berbicara berlari ke kolam renang "Apa kakinya kram? Sehingga dia turun peringkat?" tanya Larbi dalam hati  Tari memanggil Larbi, "Bi, Apa yang kamu lakukan?" Tari penasaran ketika melihat Larbi clingak-clinguk melihat ke arah kolam renang. Larbi tidak menggubris, matanya terkejut ketika melihat Runa, tenggelam. Larbi menceburkan diri ke kolam renang, Tari, Gandi dan Mr Key mendekat ke sisi kolam. Cukup terkejut melihat Runa pingsan. Larbi menariknya kepinggir kolam dan membaringkannya di tepi kolam. "Runa bangun!" Larbi tampak khawatir. Mr Key, Tari dan Gandi terlihat panik. "Aduh bagaimana ini?"  Larbi melakukan CPR berkali-kali untuk mengeluarkan air dari mulutnya, tapi tidak berhasil tanpa berfikir panjang, Larbi melakukan nafas buatan, lagi-lagi sebelum terjadi Runa memuntahkan air ke muka Larbi. Runa sadar melihat Larbi yang menolongnya terkena muntahan air dari mulutnya. Tari dan Gandi terkikih geli melihat Larbi bengong merasakan wajah gantengnya di semprot air. "Sayang, kamu melakukannya lagi!" ucap Larbi dalam hati sedikit kesal.  "Maaf Bi, aku tidak sengaja," Runa mulai bisa duduk dan melihat orang di sekitarnya. Larbi mengusap wajahnya dengan handuk, lalu berdiri dan kembali ke tempat duduknya untuk meminum air. "Pacarku itu selalu siaga menolongku," Runa bergumam dalam hati sambil tersenyum. "Apa kamu baik-baik saja Runa?"  Mr Key mengambilkan Runa minum. Runa meneguk air putih lalu mulai menjelaskan," Aku tidak apa-apa Mr maafkan aku! Tadi saat pertandingan kakiku tiba-tiba kram, aku menahannya sampai akhir, tapi aku sulit untuk naik kepermukaan--" Kata-kata Runa terputus. "Sudah, tidak apa-apa, kamu selamat aku sudah bersyukur, ternyata kamu kram pantas saja peformamu menurun. Besok kamu harus melakukan pemanasan lebih matang lagi!" Nasihat Mr Key. "Baik Mr," Mr Key memijat kaki kanan Runa dan kaki kirinya yang sedikit biru karena mungkin bekerja sendirian. Larbi dengan perhatian membawa balutan es batu lalu mendekati Runa untuk menggantikan Mr Key merawat kaki Runa. "Baiklah Bi, aku tunggu kalian berdua di bus. Gendong Runa, ya! Aku akan mencari obat pereda nyeri agar besok masih bisa bertanding," Jelas Mr Key yang meninggalkan mereka berdua. Gandi dan Tari juga mengikuti Mr Key, "Aku benar-benar menunggu kalian berterus terang, Larbi, Larbi, kamu sudah berubah, jika bukan karena cinta tidak mungkin kamu seperti itu dengan seorang gadis," Gandi menambah kecepatan langkapnya. Larbi menatap Runa yang mengerang karena pijatan Larbi di kakinya,  "Aww!" "Apakah ini juga sakit?" Larbi sedikit memelankan tekanan tangannya. "Iya itu sakit," Runa sedikit meringis. Larbi menyemprotkan obat untuk pereda nyeri lalu membalutnya dengan kain. Larbi memakaikan Jaket lalu menggendongnya. "Bi, Aku masih bisa berjalan, kamu bisa turunkan aku!" Runa yang tidak berdaya di gendongan Larbi meminta dengan pelan. "Aku akan menunggu siput berjalan jika aku menurunkanmu, lagian kamu pacarku, kamu masih harus bertanding. Aku sangat khawatir saat kamu tenggelam tadi," Larbi mulai jujur dengan Runa. Runa tersenyum, dia memandang wajah Larbi dan menikmati saat Larbi menggendongnya. "Jangan melihatku dengan fokus, Tari dan Gandi bisa curiga!" Larbi bersuara dalam hati seraya mengingatkan. Runa memalingkan wajahnya ke arah lain. "Tapi kamu juga pacarku, setidaknya sebentar saja aku menikmati itu, aku juga tersiksa saat bersembunyi tapi aku malas di bully," Runa menjawab Larbi dalam hati. Larbi tersenyum masih berjalan ke depan dan akhirnya masuk ke dalam bus. "Ternyata kamu memang sangat menggemaskan, haruskah kita batalkan scenarionya?" Larbi bersuara dalam hati sambil kembali ke kursinya, setelah meletakkan Runa di kursi sebelah kiri. "Belum waktunya, ini juga pertama kali aku punya pacar, bisakah kamu jadi pria biasa yang tidak populer? Sehingga aku tidak perlu di bully sampai seperti ini, " Runa mengeluh dalam hati. Larbi tersenyum dan terkikih saat menghadap ke depan. "Saat kamu berterus terang  seperti ini, aku semakin ingin menciummu, aku baru sadar begini rasanya saling mencintai. Sangat menyenangkan." jawab Larbi masih tersenyum. "Runa, bagaimana kakimu? Apa sudah baik-baik saja?" Tari bertanya melihat kaki Runa terbalut kain. "Aku baik-baik saja, aku sudah biasa seperti ini, sering kram membuatku kehilangan keseimbangan, mungkin memang aku kurang pemanasan." Jelas Runa menahan rasa sakitnya. "Untung kompetisi dua hari lagi jadi ada waktu untuk beristirahat," Tari menghela nafas panjang. "Iya kak,"  Bus mereka sampai di penginapan dengan segera Gandi berjalan ke arah Runa untuk menggendongnya, Larbi tidak bisa berkutik. Melihat Runa langsung di gendong oleh Gandi. "Kenapa wajahmu begitu, Bi? Kalian tidak ada hubungan apa-apa kan? Jadi kalau sekarang gantian menggendong Runa, setidaknya meringankan bebanmu, aku membantumu agar tidak lelah," Jelas Gandi spontan sengaja mengerjai Larbi. "Nah kan, terlihat sekali jika kamu cemburu, Bi. Aku tunggu sampai kapan kamu akan bertahan untuk menutupi semuanya, Runa juga terlihat bingung." Kata Gandi dalam hati membicarakan mereka berdua. "Apa-apaan ini?" Larbi mengikutinya dari belakang. "Sabar, sayang." suara Runa dalam hati terdengar dan menenangkan Larbi seketika. "Kenapa beberapa hari ini, aku selalu di uji?" Larbi berjalan duluan. "Jangan macam-macam dengannya, sayang. Aku akan membunuhnya jika dia melakukan hal di luar batas!" Larbi berkata dalam hati sambil lewat. Runa tersenyum memandangnya pergi. "Iya, aku tidak akan macam-macam, Larbi." Runa menjawab dalam hati. Gandi mengantar Runa ke kamarnya ditemani oleh Tari, Gandi memberi pijatan lagi di kaki Runa.  "Aww, kak pelan!" Runa meringis. "Maaf, maaf Runa. Terlalu keras ya?" kata Gandi. Runa tidak menjawab hanya tersenyum, setelah selesai kemudian Tari membantu Runa untuk ganti baju, baru setelah itu dia menyelimutinya. "Istirahat dulu Runa, pintunya jangan di kunci! Karena aku, Gandi dan Larbi bisa mengawasimu dan membawakan makanan untukkmu," Perhatian Tari untuk Runa. "Baik kak, Makasih banyak, aku sudah lebih baik." ucap Runa yang menarik selimutnya lagi. "Okey, beristirahatlah!" Tari berpamitan. "Baik kak, Terimakasih,"  Runa mencoba untuk tidur dan beberapa menit kemudian dia terlelap. ***  Hari semakin sore, Larbi membawakan s**u kotak dan makanan untuk Runa yang di pesannya dari Restauran. Larbi melihat Runa masih lelap tertidur, meletakkan nampan di meja sebelah ranjang. Larbi duduk di pinggir ranjang sambil menunggu Runa bangun. Runa sedikit menggeliat dan berpindah tapi selimutnya tertahan, dia terpaksa membuka mata ketika sadar selimutnya di duduki Larbi. "Kak Larbi?" Runa terkejut dan mengusap matanya berkali-kali. "Kamu masih bisa memanggilku begitu?" Tanya Larbi menoleh ke arah Runa yang mencoba menyenderkan badannya di di dinding tempat tidur. "Ya, setidaknya aku masih bisa menghormati kamu yang lebih tua," jelas Runa. Tangan Larbi membelai sedikit kepala Runa. membuat Runa merasa disayang. "Apa kamu lapar?mau aku suapi?" Larbi menawarkan. "Aku bisa makan sendiri," jawab Runa bersemangat. Larbi mengambil nampan yang seperti meja kecil itu dan menyiapkannya di depan Runa. "Makanlah supnya selagi panas! Aku akan mengganti kain di kakimu, sembari mengoleskan obat yang di beri Mr. Key," Larbi beranjak mengambil peralatan di kotak P3k di tas yang di bawanya. Runa menikmati makanan yang dibawa Larbi, dia cukup heran melihat Larbi yang dikenalnya begitu sombong, kasar, gampang marah, dihadapannya bisa cukup peduli dan sangat baik. "Ternyata sebenarnya kamu orang yang baik, aku hampir tidak pernah melihat kamu marah, bahkan disaat aku memuntahkan air di wajahmu, bukankah kamu benci kotor, Bi?" Runa berkomentar. "Apa kamu kagum melihat bagian lain dari seorang Larbi? Entah mengapa, cuma sama kamu, aku bisa menahan emosiku bahkan disaat aku kotor, aku tidak merasa ada yang salah. Mungkin, Ini akibat kamu tampar beberapa kali, sehingga membuatku seperti ini," jelas Larbi sambil menyemprotkan obat ke kaki Runa lalu membalutnya. "Aku jadi mengingat betapa aku sangat membencimu waktu itu, apakah tamparanku rasanya sakit? Memangnya sebuah tampar bisa membuat orang menjadi baik?" Runa sedikit berfikir keras untuk menemukan jawabannya. Larbi mencubit kedua pipi Runa, "Sudah, makan dulu! Dihabiskan!"  Runa memasukkan suapan terakhirnya. "Amymmn, Terimakasih."  Larbi meletakkan di meja lagi nampan itu. "Kamu belum menjawab pertanyaanku tadi, Bi?" Runa sedikit manja meminta jawaban. "Apa segitu penasarannya?emmm, rasanya sedikit sakit, tapi aku cukup heran ternyata ada gadis yang berani memukulku, aku mulai sadar saat kamu tampar, kamu bisa lebih kejam dariku, " jelas Larbi. "Hahahhaha, berarti harusnya semua gadis menamparmu, Biar kamu bisa jadi baik. Apa sih susahnya jadi orang yang baik, lebih enak kan jadi seperti sekarang?kamu juga lebih banyak orang yang menyukaimu kan?" ucap Runa masih terkikih. "Aku kejam saja banyak yang mengejar, apalagi aku baik. Buktinya kamu dibully karena penggemarku kan?" Larbi mulai kepedean. "Wah, Bi, kamu harus di tampar, biar sadar nggak sombong lagi, Sini!" Runa mengangakat tangannya. Larbi memegangnya, Runa mengangkat tangan yang lain, Larbi menangkapnya lagi, mereka terus saling menyerang dan mencegah. Sampai akhirnya tangan Runa dua-duanya tidak bisa bergerak dalam posisi angkat tangan dan tertahan menempel di dinding tempat tidur, Larbi dan Runa berpandangan sangat dekat. Larbi mengarah ke bibir Runa, mereka berdua terbius dengan sendirinya, Runa menjadi berdebar saat Larbi sudah pasti akan menciumnya. Dengan perlahan Larbi menutup matanya kemudian menyentuh bibir Runa perlahan. "Cup"  Runa terdiam, bibirnya mulai basah, Larbi mulai melumat sedikit demi sedikit sampai Runa ikut menutup mata, beberapa saat kemudian tersadar dan melepas ciuman itu, mereka berdua tersenyum, Gandi dan Tari tanpa aba-aba membuka pintu dan melihat posisi mereka yang tiba-tiba berpindah posisi, Larbi tiba-tiba berdiri mengambil nampan. Runa kembali menarik selimutnya. Gandi dan Tari menjadi canggung sendiri, "Kenapa mereka jadi salah tingkah?" Pikir Tari. "Pasti terjadi sesuatu dengan mereka berdua," gumam Gandi sambil mendekati Runa. Larbi masih terlihat bingung membawa nampan, kakinya sedikit gemetar dan sangat terlihat sangat gugup. "Aku keluar duluan, mengembalikan nampan ini," ucap Larbi sembari berjalan keluar. "Ada apa dengan wajahmu, Bi. Itu pipimu merah sekali?" Komentar Gandi yang penasaran. Larbi sama sekali tidak menjawab, dia setengah berlari meninggalkan ruangan itu. "Aku tetap saja curiga, kenapa aku jadi kesal dengan mereka berdua?"Gandi sedikit mengerutu. Runa yang wajahnya juga sedikit seperti kepiting rebus itu, mencoba berakting sealami mungkin dan berharap mereka berdua tidak tahu. "Larbi demam? Wajahnya merah sekali?" Tari bertanya kepada Runa. "Aku tidak tahu, kak." Runa menjawab dengan polos. "Tunggu! Wajahmu juga merah, apa kamu juga demam?" Tari memeriksa suhu badan Runa melalui dahinya. "A-aku baik-baik sa-ja kak, mung- mungkin barusan makan sup jadi sedikit panas. Makanya wajahku memerah," Runa mencoba mencari alasan yang logis. "Oh, bisa jadi. Tapi apa Larbi juga ikut makan? Sampai wajahnya merah juga?" Tari masih terus berfikir positif. "Iya tadi makan sedikit," Runa dengan spontan berbohong. "Selamatkan aku, Tuhan!" gumam Runa dalam hati. Runa mengambil gelas berisi air putih lalu meminumnya perlahan. "Aku semakin penasaran tentang satu hal, apa kalian berdua sudah jadian?" Tari berkata dengan begitu jujur. Runa yang sedang minum langsung menyemprotkan air ke wajah Tari, karena sangat terkejut, matanya terbelalak bingung harus berkata apa. "Kalian sebenarnya sudah pacaran kan? Kenapa kalian berdua terus berbohong?" Gandi ikut mencari kebenaran. "Gawat! Larbi bantu aku! Kamu kenapa lama sekali?" Runa bergumam dalam hati. Larbi yang sudah dekat dengan pintu kamar Runa tiba-tiba mendengar suara Runa. Larbi mencari akal dengan menghentikan petugas kebersihan untuk masuk ke kamar Runa. "Permisi, saya ingin mengambil beberapa sampah dan menyapu lantai." Petugas kebersihan itu melakukan tugasnya. Semua orang yang ada di ruangan itu menganggukkan kepala. "Baiklah Runa, kamu bisa kembali beristirahat, aku dan Gandi akan kembali ke kamar dulu. Jika ada sesuatu cepat hubungi kami, ya!" Tari memberikan perhatiannya lalu pergi dari kamar itu Runa menganggukkan kepala. "Sepertinya, aku tetap harus melakukan rencana awal." gumam Gandi dalam hati. "Runa, kamu bisa panggil aku, jika ada sesuatu yang kamu perlukan!" Gandi mengingatkan. "Makasih banyak kak, pasti!"  Setelah mereka berdua keluar dari kamar, Larbi bersembunyi sebentar, sebelum akhirnya dia berdiri mengintip ke kamar Runa untuk memberikan senyuman. "Terimakasih, sayang." Runa mengucapkan dalam hati sambil tersenyum. "Aku selalu akan melindungimu dimanapun, sayang. Aku suka jika kamu membutuhkan pertolonganku," jawab suara hati Larbi, Larbi masih berdiri di depan pintu sambil tersenyum melihat kekasihnya itu. *** Setelah istirahat selama dua hari tibalah pertandingan yang akan membuat mereka cukup lelah pasalnya, pertandingan kali ini akan memakan waktu seharian full, karena setelah semi Final maka akan langsung diadakan babak Final, pengumuman juga akan diatas di hari yang sama. Hari ini adalah hari yang sangat mendebarkan, banyak pesaing berat yang terlihat ketika masuk ke babak Semi Final. Negara yang dianggap lawan paling berat adalah Korea dan Prancis. Mereka cukup kuat tidak hanya di kelas putri tapi juga di kelas putra. Kompetisi akhirnya, di mulai! Runa dan Larbi telah bersiap di posisi start masing-masing mereka memakai kaca mata renangnya dan mulai berkonsentrasi untuk menjadi pemenang. Kali ini Runa melakukan pemanasan yang cukup, agar tidak terjadi kram tiba-tiba seperti kemarin. Riuh tepuk tangan mulai terdengar, Runa dan Larbi berdoa di dalam hati mereka masing-masing. "Aku harus menahklukan kolam renang ini!" gumam Runa dalam hati. "Aku harus menang dan mempertahankan peringkat pertama," gumam Larbi yang sudah bersiap. Peluit berbunyi  "Prittt!"  Mereka menceburkan diri di kolam itu dan melesat cepat di dalam air, tanpa ada kendala yang berarti Runa dan Larbi fokus dalam pertandingan itu. Gandi dan Tari ikut mendukung mereka berdua, yang sudah mulai bertanding. "Ayo, Runa, Larbi, Runa, Larbi!" Tari terlihat bersemangat untuk bersorak di tengah seluruh penonton yang hadir disana. Tidak disangka Prancis terus memelesat hingga akhirnya Karno terselib sekitar 2 menit, Larbi masih mengontrol emosinya, dia tidak boleh lengah dan lemah disaat itu. Jika dia emosi dengan hal ini, maka dia akn kehilangan kendali. "Bi, Fokus! Jangan lengah karena terselip! Kamu bisa menyusulnya!" Gumam Mr Key memberi semangat dari kursi pelatih. Larbi sedikit bisa menyusul, disamping itu, di kelas Putri, ada yang ingin berbuat curang yaitu dari negeri Norwegia tepat di sebelah Runa, dia menjatuhkan sebuah alat yang bisa menciptakan gelembung untuk mengecoh lawan di sebelahnya agar tidak fokus, Runa merasa ini sangat berbahaya, karena tiba-tiba pandangannya kacau di dalam air. Itu juga terjadi dengan yang lainnya, dengan kemampuannya, dia berusaha untuk Fokus kedepan tanpa menghiraukan gelembung, Runa menggunakan Feeling saat berada di kedalaman Laut yang gelap. Mr Key tahu betul ada kecurangan di kolam renang kelas putri, tapi dia berharap Runa bertahan. Pada detik itu juga tanpa terkecoh Runa melesat jauh dari Norwegia, membuat Norwegia terkejut, lawan di sebelah Runa tiba-toh berhenti berenang entah mengapa dan disebelah lawan Norwegia tadi sudah lebih dulu terkecoh dengan gelembung itu. Tinggalah beberapa yang masih bertahan di kolam renang. Sampai akhirnya, "Prittt,"  Peluit berbunyi tanda pertandingan berakhir. Larbi mendapatkan posisi seimbang atau Draw dengan lawannya dari Prancis, sedangkan Runa mendapatkan kembali peringkat pertamanya dan mereka berdua masuk ke babak Final. Penonton dari kampus Runa dan Larbi tampak riuh di lapangan universitas kala itu. Mereka terus memberi semangat kepada Runa dan Larbi untuk memenangkan kompetisi itu. Ketika mereka lolos, sorak bahagia dari semua dosen dan semua mahasiswa membuat mereka terlihat sangat Lega. Istirahat di berikan yaitu satu jam, Larbi dan Runa diberi nasi kotak langsung dari panitia, Gandi dan Tari yang sempat tegang akhirnya, bergabung bersama Mr Key, Runa dan Larbi. Mereka makan bersama dimeja itu. "Bi, bisa-bisanya kamu Draw dari Prancis?" tanya Gandi penasaran. "Entah, mungkin aku kelelahan. Karena tadi kakiku juga hampir kram, jadi aku sedikit mengontrol kecepatan." Jawab Larbi sambil memakan nasi kotaknya. "Sepertinya untuk mendapatkan juara pertama akan lebih berat, bagaimana denganmu Runa? Aku tahu tadi ada kecurangan saat di dalam kolam," tanya Mr Key untuk memperhatikan Runa. "Aku baik-baik saja Mr, hal itu biasa, aku sudah bisa mengatasinya dengan baik," jawab Runa mulai menyerutup jus didepan matanya. "Baiklah, aku harap di babak final nanti kalian lebih berhati-hati karena persaingan ini semakin ketat." tambah Mr Key. "Baik Mr," Jawab mereka berdua tidak sengaja serempak. Satu jam selesai, mereka berdua kembali bersiap untuk kompetisi. Mereka berdua tampak siap dengan pemanasan yang cukup matang, akhirnya mereka bersiap di posisi masing-masing. "Sayang, berdoa dan berjuanglah!" Larbi memberi semangat dalam hati. "Sayang juga ya," Runa menjawab juga dalam hatinya. Waktu pertandingan dimulai  "Pritt!"  Terlihat sekali pertandingan ini begitu ketat dari beberapa peserta saja. Mereka berdua harus mampu menjadi juara, Larbi dan Runa terlihat sangat Fokus. Mereka berenang dengan sangat lincah, menelusuri air itu seperti ikan yang terbiasa di tengah laut, itulah mereka berdua. Ini adalah pertandingan yang akan menentukan  "Ayo, Runa semangat kamu pasti menang!" Gandi memberi semangat Runa dalam hatinya. "Semangat Bi, Runa aku yakin kalian bisa jadi juara," gumam Tari dalam hati. "Ayo anak-anak harumkan nama universitas kita!" Mr Key mengucapkan hal itu dengan keras. Kaki Runa mulai menapak pijakan didin kolam renang untuk berbalik, tanpa Jeda waktu Runa melesat lagi, menuju garis finish. Larbi baru saja berbalik, semua peserta hanya berjuang sedikit untuk saling mengejar. Mereka mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menang. Sampai akhirnya,  "Pritt!" Peluit berbunyi tanda akhir mereka selesai pertandingan. Pengumuman di bacakan, jarak antara pemenang pertama dan kedua tidak terlalu jauh dan mereka begitu deg-degan saat mendengarkan pengumuman itu. "Pemenangnya adalah Larbi dengan score tipis dengan pemenang kedua dari Prancis. Untuk kelas Putra. Kemudian untuk kelas Putri dimenangkan oleh Runa scorenya juga sangat tipis, dengan Korea Selatan. Tidak disangka Korea mampu menjadi juara kedua ketika dari awal pertandingan mereka selalu di nomor urut kelima. Tepuk tangan untuk para pemenang dan di persilahkan untuk menerima penghargaan." Jelas Mc di pertandingan itu. Semua bersorak riang, ketika mereka berdua berhasil mendapatkan medali emas, penonton di universitas juga sangat riuh karena akhirnya mereka berdua menjadi pemenangnya, Runa dan Larbi menerima penghargaan di stand masing-masing, mereka adalah pasangan yang sangat dibanggakan saat ini. Kalung medali telah di sematkan di leher mereka dan sebuah piala dan juga hadiah uang telah mereka terima, sebuah rangkaian bunga juga di kalungkan ke leher mereka. Betapa bahagianya di Hari itu mereka menjadi pemenang Internasional. "Terimakasih Tuhan, engkau berikan talenta yang luar biasa kepadaku. Hari ini aku menang, nenek, Runa menang!" Runa sedikit meneteskan air mata bergumam dalam hati sembari mencium medali. Nenek Runa yang menonton pertandingan itu melalui handphonenya menangis dan sangat terharu melihat cucunya sangat membanggakan. "Runa, kamu memang anak yang hebat." puji Nenek itu kepada Runa. Semua mahasiswa universitas bahkan dosen turut merasa bangga dengan prestasi itu. Ketika mereka turun dan menemui Mr. Key, Gandi dan Tari mereka saling memeluk. "Selamat untuk kalian berdua, aku sangat terharu," Mr. Key sedikit mengusap air matanya. "Selamat Runa kamu gadis yang hebat," Tari memeluk Runa dan saling berjabat tangan. "Bi, selamat ya! Kamu memang tidak mudah dikalahkan." Gandi merangkul Larbi dan mereka saling tersenyum. Gandi menjabat tangan Runa, dia seperti melihat Lisa di depan matanya, dengan penuh rasa bahagia Gandi menarik tangan Runa dan memeluk Runa dengan penuh kebahagiaan. Mata Larbi sedikit terbelalak, tangan kanannya sedikit mengepal tapi tidak mampu berbuat apa-apa, Runa terkejut juga saat di peluk. "Selamat Runa, kamu juga gadis yang hebat!" kata Gandi masih di pelukan Gandi. "Makasih kak," Runa ingin segera melepaskan pelukan itu, tap Gandi sengaja menahanya. "Runa, sampai kapan kamu ingin berbohong jika kamu tidak berpacaran dengan Larbi?" Bisik Gandi. "Ah- Kak it-itu--"Runa terkejut dengan perkataan itu. "Sampai kapan kamu akan berpelukan dengan Gandi?" Larbi bersuara dalam hati. "Sayang, dia menanyakan status kita dalam bisikan, jangan salah paham dulu! Aku bingung harus menjawab apa?" Runa menjawab dalam hati. "Bagaimana jika aku tidak melepaskan pelukan ini?" Gandi sengaja membuat Larbi cemburu. Tari tahu apa yang dilakukan Gandi untuk membuat mereka berdua mengaku. "Sayang, sepertinya aku tidak kuat melihat pemandangan ini, aku akan melindungimu. Aku pastikan kamu tidak akan di bully lagi!" kata Suara hati Larbi, tiba-tiba Larbi berjalan mendekat ke arah Runa yang di peluk Gandi. "Sayang, apa yang ingin kamu lakukan?" Runa menjawab dalam hati masih menebak apa yang akan Lari lakukan. Tiba-tiba tangan Runa di tarik paksa dari pelukan Gandi dan dipaksa lepas dari pelukan Gandi. Mata Larbi dan Runa bertemu mereka saling berpelukan, Larbi menarik pinggang Runa. Dan berkata dihadapan Gandi, Tari dan Mr. Key yang bengong melihat kejadian itu. "Jangan pernah memeluknya di depanku! Dia pacarku," Dengan berani Larbi menjelaskan kepada semuanya. Runa tidak bisa berkutik ketika matanya terbius dalam hitungan detik oleh tatapan Larbi. Larbi menarik kepala Runa untuk bersandar di dadanya. "Ya, Tuhan, kalian serius sudah jadian?Bi, aku tidak pernah melihatmu seromantis itu," Tari masih tidak percaya. Gandi tersenyum, "Aku cuma menunggu saat yang tepat untuk membuat kalian berdua mengaku!Aku hanya berharap Bi, jangan sakiti Runa, aku seperti melihat adikku lisa, jaga dia baik-baik!" ucap Gandi tersenyum dengan bahagia. Wajah Runa memerah dia menutup wajahnya di pelukan Larbi. "Dasar, kamu jahat! Aku merasa ada eskrim yang meleleh di kepalaku," Runa sedikit tersenyum sambil bersuara dalam hati. "Karena aku mencintaimu, aku sama sekali tidak berniat menyembunyikannya,"Tangan Larbi memeluk Runa dengan sangat lembut.  Mereka semua bersorak dan terlihat sangat bahagia. "Ciee, kalian ini, ingin membuat semua yang jomblo iri?" celetuk Tari. Larbi dan Runa tersenyum. Kebahagiaan mereka sekarang lengkap dengan paket liburan yang menyenangkan di Jerman, Tari dan Gandi juga ikut liburan dengan mereka, tapi sebelum itu mereka harus menemui pers untuk wawancara kemenangan mereka di hadapan publik dan disiarkan umum oleh tv Jerman dan Internasional, mereka juga di pertemukan oleh pemimpin negara itu dengan beberapa pejabat untuk menerima penghargaan khusus dari mereka. Hari melelahkan itu selesai, besok adalah hari dimana mereka pindah ke sebuah hotel dekat pantai di Jerman untuk berlibur, mereka juga mendapatkan kesempatan untuk berjalan-jalan di pusat kota yang riuh wisata belanja dan wisata kuliner.  *** Disisi lain Mery sepakat dengan Leon dan juga Adi untuk berangkat ke Jerman menyusul mereka disana, ini bukanlah hal sulit untuk mereka karena memang mereka bertiga ini terlahir dari keluarga kaya Raya. Keesokan harinya sampailah Mery, Leon dan Adi tanpa memberikan kabar terlebih dahulu. Kebetulan mereka sudah tahu, jika Larbi, Runa, Tari dan Gandi akan pindah ke hotel dekat pantai. Sehingga, mereka memutuskan untuk langsung ke hotel dekat pantai di Jerman. Runa dan Tari berjemur pagi itu di tepi pantai dengan menggunakan bikini super seksi dan es kelapa muda yang benar-benar menyergarkan. "Runa, bagaimana bisa kamu menahklukan hati Larbi? Dia bisa begitu romantis dan sangat baik sekarang, padahal kamu tahu dia adalah pria batu yang susah sekali tersenyum," Tari bertanya sekaligus bercerita. "Hahahaha, aku tidak berbuat apapun kak, kak Larbi yang berubah dengan sendirinya, aslinya dia orang yang baik kak," Runa menjelaskan  Dengan penuh kehatihatian. Mery yang sudah cek in di hotel, sudah berganti bikini dan menemui Runa dan Juga Tari. "Indahnya hari ini," Mery berkata dengan keras berharap Tari dan Runa mendengar. Suara itu membuat Runa menoleh dan melihat Mery. "Kak Mery?" Runa beranjak dari tempat duduknya. Mery terkejut ketika mendengar Runa bisa bicara. "Tunggu! Kamu bisa bicara? Apa aku tidak salah dengar barusan?"  Runa memeluknya dulu, "Nanti aku ceritakan, aku sangat merindukanmu," ungkap Runa.  Mery yang melihat Tari sedikit sinis, dia tahu perlakuan Tari sebelumnya kepada Runa. "Disini ada si tukang nyinyir juga?" Mery menyindir dengan suara keras. Runa menutup mulut Mery untuk membungkam mulutnya. "Ssstt kak, dia sudah jadi gadis yang baik. Dia sudah minta maaf dan sekarang kita berteman. Maaf kak Tari," Runa meminta maaf atas nama Mery. Sambil beranjak dari tempat duduknya, Tari mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Mery. "Nggak papa kok Runa, aku memang salah dulu. Maukah kita berteman?" Ajak Tari  "Oh, jadi begitu. Baiklah."  Mereka semua berteman baik sekarang. Sambil menunggu para pria datang, mereka masih meneruskan untuk berjemur.  Leon dan Adi mengagetkan Gandi dan Larbi yang sedang berjalan menuju ketepi pantai untuk bertemu dengan para Gadis. "Hei," Sapa Leon dan Adi bersamaan. Larbi dan Gandi menoleh,  "Kalian?" Larbi sedikit bengong. Mereka berdua saling merangkul sambil berjalan menuju tepi pantai. "Ngapain kalian kesini?" Tanya Gandi juga penasaran. "Kita kan juga pingin liburan, aku juga membawa Mery, dia juga ingin menemui Runa." jawab Leon yang penuh semangat. Dari atas mereka melihat betapa seksi para Gadis itu mengenakan bikini. "Pemandangan ini sungguh membuatku tidak tahan," Leon berkomentar dan ingin berjalan duluan. Adi juga melakukan hal yang sama,  Kerah bagian belakang Leon dan Adi tiba-tiba di tarik Gandi dan Larbi secara bersamaan. "Runa, pacarku kamu tidak boleh melihatnya begitu!" jelas Larbi meperlihatkan wajahnya ke Leon. "Sejak kapan kalian jadian lagi? Wah, dia sudah semakin berani," Leon bicara kepada Adi. "Gan, lepaskan!" Adi mencoba melepaskan tapi Gandi tidak melepasnya. "Mereka para Gadis yang sedang liburan, Ku harap kamu juga tidak mengganggu mereka!" Gandi memperingaktkan. "Baiklah, baiklah. Aku akan cuci mata dengan bule saja," Adi melihat ke arah lain. Mereka berempat akhirnya berjalan mendekati para gadis, Larbi dan Gandi sudah melepas kaosnya, sedangkan Leon dan Adi Masih memakai pakaian yang sama saat mereka mendarat di Jerman. "Hai leadies, teriak Leon dari kejauhan."  Para Gadis menoleh, "Akhirnya mereka datang juga, hai Leon, Adi," Sapa Runa. Adi mengusap matanya dan benar- benar terkejut mendengar suara Runa. "Di, yang bersuara Runa? Telingaku nggak salah denger kan?" Leon mencari kebenaran. "Iya, itu Runa. Kok bisa dia bicara?" Adi merasa ada yang secepat kilat mendekati Rina untuk mendengarnya lagi. "Coba, kamu katakan lagi!" Adi mendekatkan telinganya. "Halo Adi," Runa berkata dengan Lembut. "Ih, aku merinding lo, ini beneran Runa bisa bicara Leon," Adi menjauh sedikit. "Runa, kok bisa?" Leon penasaran. "Rahasia, aku memang tidak bisu sejak lahir kok, Gimana kalau kita semua berselancar!" Runa mengalihkan perhatian. "Boleh juga, ayo!" Jawab Tari. "Kamu memang bisa saja Runa, aku tahu ini karena Larbi kan? Karena dia memang jodohmu yang bisa membuatmu berbicara," Batin Mery melihat mereka semua berlari mengambil papan selancar. Barulah setelah itu Mery menyusul. Akhirnya hari itu mereka menikmati pantai dengan ceria, setelah berselancar mereka bermain air laut dan saling bercanda di pinggir pantai, Runa di lempar bersama-sama  ke air laut, kemudian gantian Tari dan Mery, mereka semua terlihat bahagia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN