Ketika keesokan harinya, mereka menghabiskan waktu untuk berbelanja di mall terkenal di Jerman, Runa yang mendapatkan rejeki yang lumayan saat itu, tidak serta merta melakukan pemborosan, dia hanya memberikan baju dan sandal untuk nenek tercinta juga syal yang sangat di butuhkan neneknya saat dingin. Sedangkan Runa hanya membeli tiga baju dan dua sepatu untuk koleksinya. Dia lebih memilih untuk mendepositokan jeripayahnya itu untuk hari yang akan datang.
"Yakin, kamu tidak akan berbelanja banyak?" Tanya Mery melihat belanjaan Runa yang begitu sedikit.
"Tidak, belanja cukup segini saja. Mungkin aku lebih ingin wisata kuliner dan aku akan lebih menggunakannya disana, aku akan membeli kamera juga nanti untuk berfoto, selebihnya aku ingin menabung untuk masa depan. Aku terkadang tidak tahu jika tiba-tiba ada kebutuhan yang sangat mendesak."Jelas Runa dengan begitu bijak.
"Wah, kamu terlihat seperti gadis yang penuh dengan rencana ya, semuanya seperti terplaning. Aku jadi iri, menggunakan uang dengan bijak memang sedikit sulit, aku akan mengurangi sebagian belanjaanku kalau begitu," Mery mengembalikan beberapa barang, sebelum menuju kebagian kasir.
"Aku juga, sepertinya kata-katamu mengingatkanku untuk tidak boros." Kata Tari yang ikut mengurangi belanjaannya.
Runa yang sudah selesai membayar di kasir menunggu di tepi toko,
"Kenapa mereka jadi ikut berhemat? Aneh, ya sudahlah, tidak usah di pikirkan!" Runa berkomentar dalam hatinya.
Tiba-tiba Larbi merangkulnya dari belakang sambil membawa es krim.
"Apa yang aneh, sayang? Ini es krimmu!" ucap Larbi yang terlihat ceria itu memberikan es krimnya ke Runa.
"Sepertinya wajahmu bahagia sekali? Eemmm, enak makasih." Runa sudah mencicipi es krim yang di berikan Larbi.
"Ya, karena ada kamu, selain itu aku tidak perlu menyembunyikan hubungan kita," Larbi kembali tersenyum.
"Kamu tetap harus menyembunyikan hal ini dari seluruh warga kampus kecuali mereka yang sudah tahu," tambah Runa.
"Itu lebih gampang, karena dengan semua orang di kampus kita tidak terlalu dekat kan?yang penting hari ini aku bahagia," Larbi mencium rambut Runa.
"Bi, di tempat umum." Runa menghentikan makan eskrimnya ketika Larbi mengecup rambutnya.
"Baiklah, baiklah." Larbi tetap merangkulnya dengan mesra.
Tari dan Mery selesai berbelanja melihat Runa dirangkul mesra mereka semua berdehem.
"Ehhemm, inget ada jomblo disini!" Ucap Mery sedikit menggoda Runa.
Runa melepaskan tangan Larbi di pundaknya,
Tari tiba-tiba tersenyum,
"Ternyata kamu sudah dewasa, Bi," kata Tari.
"Bisa di bilang begitu, itu semua berkat dia," Larbi kembali merangkulnya.
Tari tiba-tiba menggandeng lengan Mery.
"Mereka sedang di mabuk asmara, kita cari Leon, Gandi dan Adi saja. Biarkan mereka bermesraan!" Bisik Tari.
Mery menganggukkan kepala
"Baiklah, kita akan duluan! Kalian bersenang-senanglah!" Ucap Mery yang lengannya sudah di tarik Tari.
"Ah, Tunggu! Kenapa mereka pergi!" Runa ingin mengejar mereka tapi tangannya di tarik Larbi yang akhirnya menghentikan langkahnya.
"Bisakah kita pergi berdua?" Larbi meminta dengan begitu lembut.
Runa melihat tangannya dan berbalik untuk melihat Larbi.
"Terkadang tatapan matanya selalu membiusku!" Runa berkata dalam hati dan menganggukkan kepala.
Larbi tersenyum, " Apa mataku begitu cantik, hingga bisa membiusmu?" Larbi sedikit menahan tawa.
"Ah, tidak, kamu jangan kepedean sih!" Runa berjalan duluan, mencoba menampik kata-katanya sendiri.
Larbi mengikutinya dan meraih tangan kirinya untuk di genggam.
***
Larbi menutup mata Runa dan mengajaknya ke sebuah menara tertinggi di Jerman untuk melihat keseluruhan kota di Berlin.
Saat menaiki tangga dan lift.
"Sayang, kamu mau bawa aku kemana? Mataku kenapa tidak juga di buka?" Runa sangat penasaran.
"Sebentar lagi, aku yakin kamu pasti menyukainya." Larbi menariknya ke tengah dan menghadapkan bada Runa menuju ke depan.
Larbi membuka tangannya dengan perlahan, Runa mengusap matanya yang sedikit remang-remang mata Runa terbelalak tidak percaya ketika pemandangan itu begitu indah.
"I-ini, benar-benar indah." Runa melihat ke segala arah, Larbi memeluknya dari belakang.
"Kamu suka?" Larbi berbisik di telinga Runa yang membuatnya sedikit merinding.
"Iya, aku suka." jawab Runa.
Tangan Larbi mulai memilin jari jemari tangan Runa, merasakan kehangatan betapa seorang pria menggenggam kedua tangannya dengan begitu intens, dagunya yang bersandar di pundak Runa. Membuat Runa merasa ada yang siap melindunginya setiap waktu, mereka memandang kedepan.
"Aku pernah ketempat ini dengan seseorang yang sangat berarti bagiku," Tiba-tiba Larbi membuka pembicaraan.
"Boleh aku tahu, dia siapa?" Runa penasaran.
"Dia kakakku, dia adalah panutan dalam hidupku." Jawab Larbi.
"Apakah dia seorang gadis?" Tanya Runa.
"Hemm, dia seorang gadis." Larbi tiba-tiba mengambil sebuah kotak dari dalam sakunya, lalu membukanya di depan Runa masih dengan posisi yang sama yaitu memeluk dari belakang.
Terlihat sebuah kalung berwarna putih berkilau dan ada lambang menara yang mereka naiki.
Larbi mengambil kalung itu dan memasangkan ke leher Runa.
"Ini berlebihan, Bi." Runa bingung, untuk pertama kalinya dia mendapatkan barang mahal.
"Aku ingin kamu selalu mengingatku, kamu adalah orang pertama yang spesial dalam hidupku." Jelas Larbi yang semakin memeluknya dengan cukup erat.
"Terimakasih," Runa sangat terkesan dan terharu.
Setelah dari menara mereka memutuskan untuk kembali dan bergabung dengan teman-temannya di pusat kota Jerman untuk berfoto ditengah jalan yang terkenal di Jerman.
Gandi berulang kali memasang timer agar mereka bisa berfoto bersama disana, sampai akhirnya mereka memutuskan berpencar untuk mencari makanan kecil kemudian, kembali lagi ke tempat itu dan melanjutkan destinasi selanjutnya.
Larbi dan Runa berjalan bersama untuk mencari toilet umum karena Runa terlihat sangat kebelet. Setelah Runa selesai dari toilet diluar ada banyak sekali wisatawan turun dari bus alhasil Runa sulit menemukan Larbi yang duduk di kursi dekat taman.
"Bagaimana ini? Aku tidak bisa melihatmu, apa dia mendengar suaraku? Larbi! Larbi!" Runa mencoba berteriak dalam hati.
Larbi mendengar Lirih Suara Runa dari telinganya, dan dia berdiri melihat kesekeliling tapi lingkungan yang tiba-tiba penuh orang membuat Larbi kesulitan melihat arah. Tiba-tiba dari belakang Runa di bekap sapu tangan yang sudah di beri obat bius, Runa akhirnya pingsan. Saat Runa di bawa oleh sekelompok orang handphonenya terjatuh di suatu temoat dekat lubang air di pinggir jalan taman.
Wisatawan-wisatawan itu mulai pergi dan taman mulai terlihat longgar tapi sayangnya, Larbi berputar tidak menemukan Runa, Larbi kembali ke toilet juga tidak menemukannya disana.
"Runa kamu dimana?" Gumam Larbi mulai panik, matanya masih mencari dimana-mana tapi tidak kunjung menemukan Runa.
Akhirnya Larbi menghubungi semua teman-temannya dan meminta bantuan untuk mencari Runa. Tanpa berfikir mereka yang mendapatkan pesan dari Larbi langsung berangkat ke lokasi dimana Larbi berada.
"Kenapa Runa bisa hilang?" Leon penasaran bertanya pada Larbi yang mondar-mandir sangat khawatir.
"Tadi kondisinya begitu ramai, kita terpisah setelah Runa selesai dari toilet. Aku harap kalian bisa mencari Runa, Firasat tidak enak dari tadi." Larbi terlihat begitu panik.
"Kalau gitu kita berpencar, sebelum hari semakin gelap." Jelas Tari yang sudah siap maj pergi kemana.
"Ayo kita Cari!" Leon langsung berjalan ke arah selatan.
Mereka semua berpencar, Larbi berjalan menelusuri tempat yang memungkinkan di lewati Runa. Larbi menelpon handphone Rina, suara dering ponsel berbunyi sangat keras. Larbi dan Mery berjuang tidak terlalu jauh, dia juga mendengar dering ponsel.
"Suara handphone siapa?" Mery ikut penasaran melihat Larbi kebingungan.
"Aku menelpon Runa tapi kenapa suara dering ponsel ada di sekitar sini?" Larbi semakin bingung.
Hingga akhirnya Mery menemukan hanphone Runa dekat dengan lubang air.
"Iya, ini handphone Runa. Lalu kemana perginya anak itu?" Mery mencari kesegala arah.
Larbi punya firasat buruk, "Kenapa perasaanku tidak enak?" Batin Larbi.
Ketika itu juga Larbi mengambil hanphone Runa dari tangan Mery, lalu pergi berlari ke arah gedung-gedung bertingkat.
***
Didalam mobil Runa mulai mendapatkan kesadarannya, dia melihat sekelompok orang berbaju hitam dengan masker seperti pencuri. Orang-orang itu terdiri dari orang asing dan juga orang yang sama seperti Runa atau bisa di bilang masih satu negara dengan Runa.
Runa begitu gelisah, ketika dia terikat di tangan dan kakinya. Mulutnya juga di bungkam, dia melihat tas kecil di depannya kosong sudah tidak ada handphone lagi, seketika Runa bingung,
"Kok handphoneku ga ada?" Runa bertanya dalam hati serah kebingungan.
Runa sedikit meronta ketika tangannya di ikat, salah satu pria menyadari Runa sudah sadar.
"Bos, gadis ini sudah sadar, lihat! Bola matanya sangat menggoda." Pria itu membelai rambut Runa dan menyisihkan ke belakang telinga.
Runa mencoba menghindar, dia terus mengerang.
"b******n, pria ini! Jijik sekali aku disentuh seperti ini," Ruka berucap dalam hati sambil memikirkan cara untuk kabur.
Pria yang lainnya lagi mulai jelalatan melihat tubuh Runa yang sangat menggoda mata itu, tidak dapat di pungkiri jika Runa memiliki paras yang cantik dengan tubuh tinggi dan ideal walaupun kulitnya tidak putih dan terkesan eksotis itu, b*******a yang cukup berisi dan badan yang sangat membentuk tubuh itu membuat siapapun pria akan ngiler.
"Bos, rasanya panas sekali melihat tubuhnya yang begitu molek ini, apakah aku boleh sedikit mencicipinya?" kata salah seorang pria yang jelalatan tadi.
"Nikmati saja dia, lagi pula dia atlit internasional, setelah kita nikmati kita akan memerasnya habis-habisan, dia keluarga kay raya," ucap seorang pria yang di panggil Bos itu dari kursi paling depan.
"Baiklah kalau begitu,"
Dengan bringas pria itu tidak membuka tali di tangan maupun kaki Runa, dia langsung membuka bagian dadanya,
"Ah, Tidak,tidak!" Teriakan Runa dalam hati.
Air matanya menetes
"Arrggghhhh, aggrhht, hemm, henm" hanya teriakan itu yang terdengar dari suara Runa karena mulut Runa dibungkam.
Kancing runa lepas dibagian d**a, membuat d**a Runa terlihat dan terbalut dengan bra saja, Mereka berempat yang duduk tepat di hadapan Runa karena mobil itu seperti ambulan. Mulai berfikir jorok, sebagaian pria membelai d**a Runa yang membuat Runa menggulingkan badannya untuk menghindari sentuhan itu lalu terbentur lantai karena terjatuh.
"Larbi, tolong aku!tolong aku! Hanya kamu yang bisa mendengar suaraku! Tolong aku Larbi, Sayang tolong aku!" teriakan Runa dalam hati yang begitu histeris itu ternyata mengirimkan sinyal yang sedikit jelas ke telinga Larbi.
Larbi merasa mendengar suara Runa dengan suara nyaring yang menyakiti gendang telinganya, dengan tiba-tiba gendang telinganya berdarah. Setelah darah menetes dia sangat jelas mendengar.
"Larbi, Tolong aku! Tolong selamanya aku! Aku mau di perkosa, temukan aku!" Runa terus berteriak dalam hatinya.
Larbi berlari mencari suara itu, dia benar-benar menggunakan telinganya. Walaupun darah sama sekali tidak berhenti dan terasa sakit.
"Sayang, apa kamu mendengarku, jawab aku, semoga kamu mendengarku! Awww," telinga Larbi berdenging sangat menyakitkan, dia terjatuh di jalan dan menutup kedua telinganya.
Tiba-tiba dari samping kanan dan kiri ada Tari dan Gandi melihat Larbi kesakitan.
"Bi, kamu kenapa?" Tari panik melihat telinga Larbi mengeluarkan darah.
"Apa kamu bisa berdiri?" Gandi memapah Larbi untuk berdiri.
Saat sudah berdiri, Larbi mendengar suara Runa.
"Larbi tolong aku! Aku mendengarmu, aku berada di sebuah gudang tua, tadi sebelum masuk ke gudang melewati sebuah supermarket besar, tapi tidak jelas namanya apa, cari aku! Aku sangat ketakutan!" Runa terisak masih dengan tali di tangan dan kakinya.
"Tunggu aku Runa!" Larbi berkata dalam hatinya.
"Kalian bantu aku mencari supermarket besar yang ada gudang tua entah di belakang, disampingnya atau dimanapun, Runa dalam bahaya!" Larbi menjelaskan dengan singkat.
"Dari mana kamu tahu? kondisi telingamu sangat parah, darah tidak berhenti," Tari mulai khawatir.
"Alasannya panjang, yang pasti Runa dalam bahaya, Tolong bantu aku!" Larbi masih merasakan sakit di telinganya.
Tari menghubungi semua orang, mereka semua ikut mencari dan menelusuri setiap sudut di kota itu, darah di telinga Larbi mulai kering, setelah setengah jam kemudian Leon memberi kabar.
"Bi, berjalanlah 100 meter ke arah utara. Aku menemukan gudang tua yang melewati supermarket sebelumnya, aku akan mencoba masuk kesana! Kalian segera datang! Karena aku juga tidak paham dengan nasibku, nanti!" Leon mengintip dibalik dinding tembok dekat gudang, mencoba mencari celah.
"Baiklah," tanpa berfikir panjang Larbi dan Gandi segera menuju ke gudang itu.
***
Dalam ketakutan, Runa masih di bekap mulutnya dan bajunya sudah terlihat lusuh, dengan d**a yang terbuka. Di dalam mobil dirinya belum jadi di perkosa karena terus meronta hingga mereka sampai di gudang ini.
Bos penculikan itu akhirnya menemui Runa, mata yang terlihat mata keranjang dengan kilauan terlihat bengis itu. Membuka mulut Runa yang duduk melihat ke arah bos itu datang dengan mata yang sangat garang.
"Syukurlah, kamu bukan gadis yang bawel. Atlet yang sangat profesional, d**a yang sangat menonjol, tubuh yang sangat ideal, berapa harga agar aku bisa menjualmu!" Bos itu membelai d**a Runa, Tubuh Runa bahkan merah pundaknya sambil memeletkan lidanya.
"Dasar b******n! Janga sentuh aku!" Runa menghindar mundur dari sentuhan tangan bos itu.
Semua orang tertawa,
"Hahahahhaha, perkosa saja bos. Itu sangat nikmat!" kata salah seorang dari mereka yang berbaju hitam.
"Ku kira rasanya memang benar-benar manis. Bagaimana jika kita buka semua bajunya? Kita nikmati dulu untuk melihatmu telanjang, hanya menggunakan Bra dan celana dalam. Setelah itu kita nikmati bersama-sama!" Bos itu perlahan mendekati Runa.
Runa ketakutan,
"Tidak, tidak, aku tidak mau, jangan sentuh aku!" Runa terus mundur dan menghindar dari bos itu, walaupun harus menyeret Tubuhnya dengan susah payah, air matanya tidak berhenti menetes.
"Pegang dia!" Bos itu memberi perintah.
Dua orang berbaju hitam memegangi badannya. Lalu bos itu mendekat dan dengan kasat merobek baju atasnya, hingga semya terlepas.
"Berhenti! Tidak! Aku tidak mau! Jangan sentuh aku! Larbi tolong aku!" teriakan Runa terdengar oleh Leon yang saat itu memberanikan diri untuk masuk melalui pintu depan.
Bos itu menampar Runa dengan keras,
"Plak!!" setelah itu baru berbalik ketika pintu depan terbuka.
"Aku membenci pengganggu!" Bos itu berbalik.
"Leon tolong aku!Tolong aku! Tolong aku Leon!" Runa menangis ketika darah mulai keluar dari mulutnya dan orang yang memegangi badannya mulai melihat dengan liar ke arah tubuhnya.
"Runa, tunggu!"
Kata Leon yang langsung di serang dari pintu depan. Akhirnya Leon berkelahi dengan orang-orang berbaju hitam yang semakin banyak itu. Melihat kejadian itu, Runa semakin menangis, karena Leon mulai terlempar.
"Arrgggh, Leon!Ku mohon jangan lanjutkan! Leon bertahanlah." Runa menangis ketika Leon mulai di keroyok dan sudah mengeluarkan darah.
"Larbi, dengarkan aku! Leon dalam bahaya!" Runa mengulang kata-katanya.
Larbi yang sudah dekat dengan Gudang akhirnya berlari dan darah mulai mengucur dari telinganya lagi karena berusaha mendengarkan Runa dari jarak yang cukup jauh, Gandi dan Larbi berlari mennyerang sekumpulan orang itu. Melihat hal itu Bos itu mendorong Runa untuk berbaring, Bos itu membuka bajunya dan melepas ikatan di kaki Runa, kakinya di paksa di buka dan di robek rok bagian bawahnya.
"Apa yang kamu lakukan? Jangan! Tidak! Tidak, Kamu gila!" Runa yang gemetar menendang alat k*********a.
"Arrrghj, dasar gadis kurang ajar!" Bos itu tersungkur.
Runa terus meneteskan air mata, Dia memundurkan tubuhnya sampai membentur dinding. Bos itu terus mendekati Runa yang bajunya hampir sembilan puluh persen terbuka.
"Aku tidak bisa mendapatkan keuntungan darimu, berarti aku akan membuatmu menderita, dasar w***********g!" Pria itu bangkit berdiri lagi.
"Berhenti! Jangan mendekat!"
Dari arah belakang Larbi memukul kepalanya hingga pria itu pingsan di tempat.
Runa sudah terlihat ketakutan, dia terus gemetar, matanya sayu dia mulai berkurang, kunang ketika melihat Larbi datang dalam bayanganya adalah pria berbaju hitam.
"Jangan! Jangan mendekat!" Runa mulai meringkuk.
Larbi membuka bajunya dan segera menutupi tubuh Runa, Larbi terus memeluk Runa.
"Jangan mendekat! Tolong jangan sakiti aku! Jangan mendekat!Arrggggghh." Runa berteriak dan memegangi kepalanya dan menarik-narik rambutnya.
Larbi memeluknya semakin erat.
"Dengar aku Larbi! Aku bukan pria itu, sayang, aku Larbi! Tatap mataku!" Larbi menenangkan Runa menolehkan pandangan wajahnya.
Runa menangis, tidak berbicara, getir suara tangisan Runa membuat Larbi merasa sedih dan meneteskan air mata. tangannya memeluk Runa dengan cukup erat ke dadanya.
"Larbi, aku takut! Mereka ingin menyakitiku! Aku jijik dengan tubuhku!tolong aku!Jangan tinggalkan aku!" Runa menangis di pelukan Larbi.
"Maaf, aku terlambat, Sayang. Apa kamu sudah kehilangan?Aku tidak akan meninggalkanmu, kamu akan baik-baik saja! Tenanglah!" Larbi memeluk dengan erat dipelukannya.
"Mereka belum mengambilnya, tapi aku terus di paksa! Mereka melihat tubuhku dengan bengis, Aku sangat takut!!" Runa gemetar.
"Sudah, tidak usah di jelaskan! Aku bahagia kamu selamat! Tidak apa-apa, kamu tetap seorang gadis yang terhormat di mataku. Sayang." Larbi mencium kening Runa dan menggendongnya untuk dibawa kerumah sakit.
Lima menit kemudian kepolisian Jerman datang, mereka mengepung tempat itu dan menangkap mereka semua. Leon dilarikan kerumah sakit setelah ambulan datang bersama dengan Gandi, Larbi juga pergi ke rumah sakit menggunakan ambulan yang satunya. Runa masih terus memeluk Larbi dan tidak mau di baringkan di tempat tidur ambuland. Runa tampak syok, tapi dia sudah tenang.