Pulang

1127 Kata
Ini adalah pengalaman yang sangat menyakitkan, bagaimana tidak? p*********n sangat berbahaya untuk kondisi psikis seseorang, Runa mengalami hal itu dan beruntung dia belum kehilangan kehormatannya. Larbi yang menggendong Runa sampai ke ruang pskiatris juga mendampingi saat dokter melakukan konseling, Runa hanya mengalami trauma ringan karena tidak menyebabkan pelaku berhasil memperkosa. "Kamu boleh beristirahat di rumah, jika hal buruk membuatmu takut, berdoa dan dekatkan diri kepada Tuhan. Minum obat ini ketika kamu merasa benar-benar tertekan."  Jelas dokter itu. "Terimakasih dok, " Jawab Larbi mewakili. Runa mengganti bajunya dan membuang baju yang di pakainya barusan dengan baju yang dibelikan Larbi di dekat rumah sakit. Setelah Runa keluar dari kamar mandi dan sudah memakai pakaian baru. Dia tersenyum. "Terimakasih," Ucap Runa sambil memandang Larbi. Larbi hanya menganggukkan kepala dan menggandeng tangan Runa. "Ayo kita pergi! Apa kamu mau es krim? Setelah itu baru kita jenguk Leon," Larbi memberi tawaran. "Aku mau, baiklah. " Jawab Runa spontan. Mereka berdua pergi dengan bergandengan tangan. Runa pelan-pelan mencoba melupakan kejadian tadi, Larbi terus mencoba mengobati trauma Runa ketika Runa melihat pria berbaju hitam padahal itu hanya orang lewat. Sekembalinya mereka membeli eskrim, Leon ditemani Gandi, Tari, Adi dan Mery. Leon terbaring lemas di tempat tidur rumah sakit. Pelipisnya baru saja selesai di jahit. Runa yang melihat hal itu, ikut sedih karena hal itu terjadi untuk menolongnya. "Maafkan aku kak Leon, aku membuatmu terluka," Runa mendekati Leon yang masih lemas dengan luka jahitan di tangan, kaki dan pelipisnya. "Bukan salahmu Runa, kamu hanya korban, setidaknya aku sedikit mengecoh mereka untuk tidak fokus padamu dan melecehkanmu, aku baik-baik saja, pria sudah biasa habis babak belur begini," Jelas Leon sambil meringis merasakan lebam di ujung bibirnya. "Tetap aku minta maaf, kak. Semoga kamu lekas sembuh ya kak," Runa mendoakan di sampingnya. "Terimakasih Runa, Di ambilkan aku minum!"  Sebelum Adi berangkat, Runa sudah menuang air minum duluan. Membantu Leon untuk duduk dan meminum air putih.  Larbi yang melihat hal itu tampak murung, menghadap kesegala tempat. Membuat Tari terkikih dan menggoda Larbi. "Ehem, ada yang cemburu guys." Tari masih terus terkikih. Semua orang sudah paham dan menatap Larbi sambil tersenyum. "Kenapa kalian semua menatapku?" Larbi memasang wajah datar untuk menutupi bahwa dia cemburu. "Kamu tenang saja, aku tidak akan mengambil kekasih sahabat sendiri. Tapi kebetulan kekasihmu lebih baik hati denganku, jadi kunikmati saja," Leon menggoda Larbi sambil meminta Runa untuk memberinya air minum lagi. "Sayang, sini gelasnya!" Larbi terlihat sedikit geram saat Runa akan berangkat mengambil minum. Dengan perlahan Runa memberikan gelas itu kepada Larbi. Dengan cekatan Larbi mengambil air putih dan membantu Leon minum air putih sampai membuat Leon hampir tersedak. "Uhukkk, uhukkk" Leon akhirnya tersedak. Semua yang ada di ruangan itu geli dan tertawa. "Larbi, Larbi." Gandi menggelengkan kepalanya. "Kamu jahat sekali, aku lagi sakit disiksa juga, emang kamu tuh nggak perhatian sama sahabat sendiri." Leon mengeluh. "Aku hanya gemas saja melihat tingkahmu!" Larbi sedikit emosi. "Dengar Runa! Kamu kok bisa suka sama orang seperti ini? Ramah nggak, baik juga nggak," Leon geram juga melihat Larbi. "Kamu..." Larbi mulai emosi tapi Runa melihat ke Larbi dan Larbi menurunkan emosinya. Leon melihat hal itu, "Aku baru sadar Runa hebat, sekali lirik Larbi menurut." kata Leon masih membersihkan mulutnya dengan tisu kering. "Yon, bisa diam tidak?" Larbi sedikit menahan emosinya. "Baiklah,  baiklah aku diam," Leon membaringkan tubuhnya lagi. Mery mendekati Runa dan berbisik, "Bagaimana keadaanmu?" Mery memberikan perhatiannya. "Aku sudah baik-baik saja, kak." Jawab Runa melegakan. "Syukurlah, jangan takut! Kamu masih ada aku, kita akan menyembuhkan trauma itu bersama, aku tahu hal itu pasti membuatmu syok," Perhatian Mery terhadap Runa. Tari juga menggenggam tangan Runa dengan tiba-tiba, "Kamu akan baik-baik saja, aku akan membantumu melupakan kejadian itu!" ucap Tari juga dengan penuh perhatian. "Terimakasih, Kak Tari dan Kak Mery," Runa menggandeng kedua tangan mereka berdua. Mereka yang melihat moment itu tersenyum bahagia. *** Tiga hari kemudian, Leon keluar dari Rumah sakit dan Liburan mereka berakhir. Mereka semua pulang ke negara asal menggunakan pesawat. Mereka semua duduk di kursi masing-masing seperti biasa Runa dan Larbi satu kursi, mereka terlihat cukup lelah dan tertidur di dalam pesawat, Tari dan Gandi duduk sebangku, mereka juga terlelap, Leon dan Adi Masih bermain teka-teki silang di meja tempat duduknya, kemudian Mery sudah lelap tertidur juga.  Sesampainya di Bandara negara asal mereka, Runa berpamitan untuk pulang kampung ke Desa Nelayan. "Setelah ini, aku langsung pulang ke Desaku, untuk satu minggu. Sampai jumpa di kampus semuanya!" Runa berpamitan. "Runa, bagaimana jika kita semua ikut kesana? Sepertinya liburanku belum puas," Ajak Leon terlihat bersemangat. "Apa kalian tidak apa-apa tinggal di gubug reotku di desa?" Runa sedikit mengeluh. "Desa Nelayan itu tempat yang indah, kita mungkin bisa juga mendirikan tenda di dekat pantai," pendapat Leon. "Aku melihat jadwalku juga masih libur minggu ini, aku bisa ikut!" Komentar Mery. "Maafkan aku ya semunya, besok ada jadwal pemotretan. Jadi aku tidak bisa bergabung!" Ucap Tari sedikit menyesal. "Oke Tari, tidak masalah. Bagaimana denganmu Larbi?" Jawab Mery. "Jadwalku longgar, aku bisa ikut." Larbi mnejawab dengan mantap. "Aku juga bisa," ucap Gandi. "Aku tidak keberatan," terakhir jawab Adi. "Baiklah jika kalian semua mau ikut," Runa terlihat pasrah. "Okey, aku dan Gandi akan mengambil mobil. Kalian semua tunggu disini!" Jelas Gandi yang saat itu beranjak ke penitipan mobil bersama Larbi. "Baiklah teman-teman, aku pergi!" Tari melamabaikan tangan lalu pergi. *** Beberapa menit kemudian, mobil mereka datang, mereka meneruskan liburan ke Desa Nelayan. Dua jam berlalu, Runa dan semuanya sampai di Desa Nelayan. Runa berlari saat melihat neneknya ada di teras depan rumahnya. Memeluknya dengan cukup hangat. "Cucuku tersayang, sudah pulang." Nenek itu memeluk Runa dengan antusias. "Nek, aku bisa bicara." Ucap Runa. "Oh Tuhan, sungguh? Terimakasih, berarti Runa sudah bertemu--?" tanya nenek masih memeluk cucuknya itu. Dari belakang Runa, Larbi berjabat tangan dengan neneknya lalu mencium punggung tangannya. "Nenek, saya Larbi. Saya kekasih Runa." dengan percaya diri Larbi memperkenalkan dirinya. "Sayang, pacarmu tampan sekali. Terimakasih nak, sudah menjaga cucu nenek dengan baik." ungkap nenek Runa berlinang air mata. Runa melepas pelukan neneknya dan menggenggam tangan kirinya,  "Nenek, Runa janji akan terus bahagia." jawab Runa. Disambut dengan jawaban Larbi juga. "Saya akan berusaha menjaganya dengan baik, Nek." Larbi mengakhiri salamannya. "Baiklah, kalian siapa?" Nenek melihat banyak orang mnegantri untuk berjabat tangan dengannya. "Mereka semua teman-temanku, Nek. Ada kak Gandi, Kak Leon, Kak Mery, Kak Adi." jelas Runa. Mereka satu persatu menjabat tangan nenek. "Baiklah, bawa mereka masuk! Aku akan menyiapkan ikan bakar dan ubi besar di dapur, Runa bisakah kamu membantuku?" jelas nenek sambil berjalan ke dapur. "Siap Nek," Runa mengikuti neneknya ke dapur. "Runa, aku akan membantumu!" Mery mengikuti Runa dari belakang. Mereka bercengkrama di dapur sambil membakar ikan dan menyiapkan ubi rebus. Mereka berdua terlihat antusias. Para pria hanya menunggu di ruang tamu sambil melepas lelah. Beberapa menit kemudian, ubi dan ikan bakar dihidangkan. Mereka semua melahap dengan antusias, Leon dan Adi terlihat sangat menikmati makanan di depan matanya. Hari itu karena rumah Runa yang sempit, nenek hanya menggelar karpet untuk mereka tidur dengan kasur tipis seadanya. Tidak terasa hari sudah malam, yang lainnya sudah tertidur di  kasur tipis itu, Larbi ternyata hanya membaringkan tubuhnya tanpa terlelap sedikitpun, Runa pergi keluar teras dan duduk menikmati malam di depan rumahnya. "Ibu, Runa bisa bicara, Runa berharap bisa bertemu dengan ibu secepatnya. Apa kabar denganmu ibu, Runa merindukanmu," sahut Runa dalam hatinya 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN