Tiba-tiba dari belakang ada yang menepuk pundaknya.
"Sayang, nenek tahu pasti kamu sangat merindukan ibumu. Dia sudah bahagia, kamu tidak perlu bersedih," Ucap nenek sambil perlahan duduk di kursi teras.
Runa yang menoleh, ikut duduk disamping neneknya, sambil bersandar di pelukannya.
"Apakah ibu mendengarkan aku, Nek? Aku sangat merindukannya." Runa sedikit meneteskan air mata.
Nenek merangkul dengan penuh kasih sayang cucunya itu lalu membelai Rambut Cucunya.
"Dia mendengarkanmu, sayang. Dia selalu tahu keadaan putrinya," Nenek juga meneteskan air mata.
"Maafkan nenek, ada sebuah rahasia yang tidak pernah terungkap sampai sekarang. Tapi aku tidak bisa mengungkapkan itu, karena itu bagian dari kemarahanku," nenek itu menggerutu dalam hati.
Tiba-tiba Larbi muncul dan mengagetkan mereka berdua, Runa bangun dari pelukan neneknya.
"Larbi?" Runa sedikit terkejut.
"Maaf, Nek, Maaf Runa, Sepertinya aku mengganggu, aku tidak bisa tidur," Jawab Larbi yang juga terkejut melihat ada Runa dan neneknya.
"Kemari! Duduklah, nak!kamu sama sekali tidak mengganggu, ada beberapa hal yang harus kukatakan padamu," Nenek itu sedikit bergeser memberi ruang duduk untuk Larbi.
Tanpa berfikir Larbi menuruti perkataan Nenek Runa untuk duduk di sampingnya,
"Apakah kamu tahu, apa yang membuat Runa bisa bicara?" Nenek Runa menanyakan perlahan sambil menggenggam kedua tangan Larbi.
Larbi melirik Runa di sebelah nenek dan Runa mengedipkan mata untuk mendengarkan nenek.
"Runa pernah bilang, dia akan memberitahu ketika aku dan Runa pulang ke Desa Nelayan setelah kami kembali dari Jerman," Larbi jujur tanpa basa-basi untuk menjawab pertanyaan itu.
Nenek itu tertawa, melirik cucunya lalu kembali melihat Larbi.
"Kedatanganmu kesini, memang tepat. Karena alasan utama Runa bisa bicara adalah karena kamu," Jelas nenek sedikit membuat Larbi bingung.
"Aku, Nek?"
"Aku pernah mengutuk Runa karena dia melanggar kepercayaan desa ini untuk tidak memasuki hutan terlarang karena dia masih perawan. Untuk itu aku berkata kepada Runa bahwa detik itu juga dia akan kehilangan suaranya sampai jodohnya datang. Jika memang benar kamu adalah kekasih Runa, kemungkinan besar kamu adalah jodoh Runa. Sehingga Runa bisa bicara," Jelas Nenek itu memandang Larbi.
Larbi masih bengong, dia berfikir sejenak.
"Jodoh?Apakah cerita ini nyata atau sebuah dongeng?" Pikir Larbi sedikit tidak percaya.
Runa dalam diam menjawab pertanyaan Larbi dalam hati.
"Ini bukan sebuah dongeng, itu adalah sebuah kepercayaan dan segala sesuatu bisa terjadi karena sebuah hal yang dilanggar, apa kamu tidak suka jika aku jadi jodohmu, Larbi?" Runa melirik Larbi tajam.
"Tatapan matamu itu, ngeri sekali. Tidak, aku suka." Jawab Larbi malu-malu memandang ke arah lain.
Nenek melihat mereka berdua saling berbicara dalam hati, akhirnya beranjak berdiri dari tempat duduknya.
"Baiklah, lanjutkan percakapan dalam hati kalian, nenek ingin istirahat." Nenek itu berlalu begitu saja.
"Tapi, Nek," Runa tidak berhasil membuat neneknya berhenti.
"Kan jadi cuma berdua," Runa meneruskan kalimatnya dalam hati.
Larbi tersenyum, " Apa kamu takut aku berbuat macam-macam, saat kita berdua? Padahal dimalam itu kamu terlihat lebih ganas,"Larbi berkomentar ketika sekilas dan samar mengingat kejadian di Jerman.
"Apa harus, kamu membahas hal itu?itu hal diluar kendaliku," Runa menjawab sedikit ketus.
Larbi tertawa, perlahan cara duduknya bergeser mendekat ke sisi Runa, sebenarnya Runa tahu, tapi dia menjoba untuk tidak tahu jika Larbi berusaha mendekatinya. Saat jarak mereka semakin dekat, Larbi yang melihat ke arah lain sambil mengusap rambutnya, tangan kanannya dengan sengaja menggenggam tangan Runa yang tergeletak begitu saja di atas kursi disamping badannya. Runa yang terkejut menoleh ke arah Larbi, Larbi membalas tatapan itu, tiba-tiba Larbi tersenyum, memandang Runa yang terlihat tersipu di depan matanya, Runa menoleh ke depan untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah saat Larbi dengan sengaja memperhatikannya sambil tersenyum.
"Apa ada yang lucu sampai membuatmu seperti itu?" Runa memulai pembicaraan untuk mengurangi rasa gugupnya.
"Tidak ada, Tanganmu berkeringat, apa kamu sangat gugup, sayang?" Larbi menggoda Rina.
Runa mencoba melepaskan tangan Larbi, tapi Larbi malah menariknya dan mereka berdua menatap semakin dekat. Jantung mereka terasa berlomba untuk berlari ditengah kedekatan itu, Larbi menatap mata Runa dengan tatapan begitu dalam. Runa seperti terbius dan angin mulai berdesir sepoi melewati rambut mereka. Angin yang terasa dingin menggoda Larbi untuk melakukannya. Tatapan mata itu turun, Runa sudah mengira, hal itu pasti terjadi, tapi dugaannya salah. Larbi mencium pipi Runa dengan Lembut dan itu terjadi beberapa detik. Ciuman itu bukan sekedar kecuali, terasa hanya dan penuh dengan rasa sayang. Runa terbelalak sebentar bingung harus bergerak dan terpaksa mematung di tempat. Larbi melepaskan ciuman itu perlahan, tatapannya kembali ke depan wajah Runa yang terlihat memerah. Mereka masih tanpa kata, tangan Runa yang di genggam Larbi mulai mengkerutkan jarinya. Larbi tersenyum tanpa berfikir panjang, dia kembali mendapatkan hal itu.
Cup
Dan kali ini di bibirnya, Runa memejamkan mata seketika karena terkejut dan mereka mulai berirama. Hal itu terjadi hanya sebentar Larbi melepas ciuman itu.
"Kamu terlihat sangat menikmati, " Larbi kembali duduk dan meregangkan ototnya sambil bersandar di kursi.
Runa masih terpaku di tempat, ekspresinya tidak bisa diartikan, dia melamut bibirnya sendiri yang masih terasa manisnya bibir Larbi untuk menciumnya.
"Kamu juga terlihat sangat menikmati, aku heran, kenapa pria bisa membius dalam hitungan detik?" Runa menyandarkan tubuhnya juga di kursi.
"Apa aku terkesan membiusmu barusan?" Larbi kembali bertanya.
"Jika tidak aku tidak akan mudah menurut, Kenapa harus kamu yang mendapatkan ciuman pertamaku?Dan kenapa aku suka padamu, aku heran. Padahal padahal kamu sangat menyebalkan dari awal," ucap Runa.
"Mungkin karena aku ganteng, populer, smart dan seorang pria idaman." Larbi mulai menyombongkan diri.
Runa mengernyitkan dahi, "Astaga, tidak bisa dipercaya, kamu sangat percaya diri." Runa melipat tangan di depan perutnya.
Larbi menggeser tubuhnya sedikit dan merangkul Runa untuk memberikan bahunya ketika Runa bersandar.
"Aku juga tidak mengerti mengapa aku menyukaimu, kamu juga gadis yang hebat mampu memikat pria sepertiku." Larbi masih memandang bulan dimalam itu.
"Aku memikatmu? Apa aku begitu cantik? Sepertinya aku cuma gadis bisu yang tidak bisa menahan emosi saat melihatmu," Runa jujur dengan perasaannya sendiri.
"Mungkin itu yang membuatku tertarik, kamu adalah orang yang berani menyakitiku, marah padaku dan bisa menamparku dengan kejam. Aku tidak pernah peduli kamu bisu atau bisa bicara dari awal kita bertemu semua terasa mengalir begitu saja. Bukannya benci yang semakin tumbuh tapi aku semakin menyayangimu. Apakah kata-kata nenek itu benar?" Larbi menganalisa perasaannnya sendiri.
"Aku tidak tahu, jodoh itu misteri dan hanya Tuhan yang tahu. Tapi sekarang yang terjadi aku bisa bicara saat tahu aku menyukaimu dan kamu menyukaiku. Jika memang kita berjodoh, aku yakin Tuhan pasti punya rencana." Jelas Runa.
Bibir Larbi mendarat di rambut Runa, mengecupnya dengan lembut.
"Kamu ternyata cukup dewasa, padahal usia kita terpaut cukup jauh," Larbi masih merangkul Runa.
Tetapi Runa tidak merespon, dia tertidur di pelukan Larbi dan terlihat sangat lelah.
"Baiklah, kamu meninggalkan aku tidur. Aku akan mengejarmu di dalam mimpi!" Larbi melepas jaketnya untuk menyelimuti Runa.
Mereka akhirnya terlelap di kursi teras.
***
Pagi harinya Leon dan Adi bangun duluan dan keluar dari dalam rumah untuk sejenak meregangkan otot mereka yang lelah,
"Huaaammmnnn, suasana disini terlihat cukup segar, Di, Bagaimana jika kita ke pantai setelah ini?" Leon mengajak Adi disampingnya.
"Iya, lainnya begitu indah." Adi tidak sengaja menoleh ke kursi teras.
Adi menarik tangan Leon,
"Ehh ada apa? Kamu menarik-narik tanganku?" Leon masih belum tahu maksud Adi.
"Sssstttttsss, mereka berduaan sepanjang malam. Astaga mereka mencuri waktu untuk berdua," Adi berkomentar sambil menggelengkan kepala.
Leon mengusap kedua matanya, "Ku kira mataku yang rabun, mereka benar-benar bisa begitu? Dulu saja sudah seperti kucing dan anjing, perang terus. Sekarang bisa semesra itu, cinta memang aneh," Leon perlahan berbalik dan melihat mereka berdua mulai membuka mata dan saling melihat.
"Apa kita semalaman disini?" Runa tampak terkejut
"Iya, kamu meninggalkan aku tidur saat au berbicara, aku tidak tega membangunkanmu yang bersandar dibahuku, akhirnya aku ikut tertidur juga," Larbi mengusap mata kirinya yang masih rabun karena baru saja terbangun.
"Nasib jomblo begini, Di. Tidak ada yang di peluk, kaya gitu," Leon merangkul Adi.
"Yang Jomblo itu aku, kamu bukan jomblo tapi playboy cab capung. Gimana mau punya pacar, simpenan wanitamu tidak muat ditaruk gudang." jelas Adi sinis berkomentar.
"Husss, kamu ini jangan buka kartu dong. Nanti kalau di dengar orang bagaimana?Setidaknya nanti ketika menikah aku akan setia," jawab Leon mencubit pelan mulut Adi.
"Setia? Jangan banyak berbohong. Dosamu sudah banyak," Adi menambahkan lagi.
"Kalian ini, pagi-pagi sudah bertengkar. Aku tidur dengan pacarku, apa ada yang aneh? Lagian ini juga tidak di ruang tertutup, aku tidak berbuat lebih," Larbi menjelaskan dengan apa adanya.
"Memang ada yang aneh, dulu perang sekarang mesra. Kalian berdua bikin iri saja," ucap Leon.
Tiba-tiba nenek keluar membawa minuman untuk semua teman-teman Runa,
"Sayang bantu nenek, untuk memberikan kepada semua teman-temanmu!" Perintah nenek untuk Runa.
"Baiklah Nek," Jawab Runa yang bersiap mengambil alih baki yang dibawa nenek.
Setelah Runa meletakkan minuman itu ke meja teras, Nenek memanggilnya untuk ke Dapur.
"Sayang, ayo ikut nenek sebentar ke Dapur!" Nenek berbicara sambil berjalan menuju ke Dapur.
"Baik Nek," Runa mengikuti dari belakang.
Setelah mereka berdua sampai ke Dapur, nenek memeluk Runa dengan begitu kuat. Air matanya menetes, membuat Runa sedikit bingung sebenarnya apa yang terjadi pada neneknya itu.
"Kenapa nenek menangis?" Tanya Runa penasaran.
"Ada satu hal yang belum nenek sampaikan padamu," Nenek melepas pelukannya dan mengusap air matanya.
Runa mencoba membantu untuk mengucapkan air mata neneknya itu.
"Apa itu nek? Jangan menangis Nek! Runa jadi ikut bersedih," Runa sedikit merasakan kesedihan mendalam dihati neneknya.
"Maafkan nenek ya sayang, harapan nenek selalu ingin kamu bahagia seumur hidupmu. Kutukan itu memang sedikit tidak adil bagi nenek dan bagimu juga, mungkin sekarang kamu bisa bicara, tapi jika Larbi tidak meninggalkanmu! Perkara jodoh itu sulit dan rencana Tuhan kita tidak pernah tahu, Cinta butuh perjuangan dan mungkin jika suatu hari Larbi berpaling darimu, kamu akan kembali menjadi bisu. Hanya kekuatan cinta kalian berdua yang bisa membuat kalian bersatu kembali, nenek percaya Larbi adalah pria baik. Tapi Firasat nenek ada hal yang besar dan sulit dihadapi setelah ini, nenek harap kamu tetap kuat sayang," Jelas Nenek membelai pipi cucunya itu dan mendekapnya lagi.
"Apakah akan seperti itu? Perasaanku tiba-tiba tidak enak, Tuhan semoga hubunganku dengan Larbi berjalan dengan baik," Harapan Runa dalam hati.
"Iya nenek, Runa akan mencoba untuk kuat dalam segala situasi," jawab Runa yang langsung memeluk Neneknya itu.